
Suara sirin mobil ambulans menggema sepanjang jalan menuju rumah sakit. kecelakaan sangat parah dan beruntung pengendara lain tidak mendapat sasaran hanya mobil Brayen dan mobil pelaku yang hanya mengalami kerusakan parah.
Sammy yang mendapat kabar bahwa bos nya kecelakaan langsung menuju TKP, mengurus dan menyelidiki motif tabrakan di lampu merah tersebut.
Sedangkan dirumah sakit nyonya Indri sudah menangis terisak diperlukan Sherin karena sang suami harus mengurus segala sesuatu.
Bu Ratna dan nenek juga sama menangis terisak dengan saling berpelukan.
Mereka baru saja sarapan dan mengobrol bersama tapi malah mendapat kabar bahwa putri dan menantunya kecelakaan. Sungguh kabar yang sangat mengejutkan bagi keluarga Abraham. Mereka sedang berbahagia ketika akan menyambut cucu pertama keluarga Abraham tapi malah musibah yang menimpa mereka.
Pak Rudi datang setelah mengurus semua keperluan dirumah sakit dirinya juga sudah menandatangani surat untuk dilakukan nya operasi kedua pasien.
"Pah." Nyonya Indri tidak kuat menahan rasa sakit dan sedihnya tubuh nya gemetar sambil menagis.
"Sabar Mah, kita doakan yang terbaik untuk anak dan cucu kita." Sebenarnya pak Rudi juga tidak kalah sedih dan menahan air mata, dirinya yang harus menguatkan ke empat wanita yang sedang bersamanya, Sherin menangis sesenggukan dirinya mendekati Bu Ratna dan juga memeluknya.
"Ibu sabar ya, kakak sama Abang dan ponakan Sher, bakalan baik-baik saja." Meskipun bibirnya berucap tetapi air matanya terus mengalir.
"Kita sama-sama Berdoa agar mereka semua selamat." Ucap Bu Ratna.
Sudah tiga jam mereka semua menunggu didepan ruang operasi. Zaa yang berada didalam ruang operasi bersalin sedangkan Brayen diruang operasi yang berada bersebelahan.
Mereka semua harap-harap cemas menunggu kabar dari dalam.
Dari arah lorong Sammy datang bersama sekertaris Brayen yaitu Sendy.
"Tuan." Sapa Sam menunduk hormat, begitupun juga Sendy.
__ADS_1
"Apa kamu sudah mendapatkan titik terangnya?" tanya pak Rudi, setelah mengajak Sam sedikit menjauh dari keluarganya.
"Sudah tuan, kecelakaan terjadi disebabkan pelaku sedang mabuk yang sengaja mengendarai mobil" Ucap Sam dengan menunduk, dirinya juga merasa sedih apa yang sudah menimpa sahabat sekaligus bosnya itu.
"Jadi siapa pelaku yang tega menabrak anak dan menantu saya." Ucap pak Rudi geram mendengar bahwa pelaku sedang mabuk malah berkeliaran dijalan dengan mengendarai mobil.
"Nona Monika, beliau juga sedang diruang UGD karena mengalami patah kaki." Ucap Sam.
"Kurang a*jar! ternyata wanita sialan itu yang melakukannya." Pak Rudi menggeram marah mengetahui siapa pelakunya.
"Urus semua, dan pastikan dirinya mendapat balasan yang setimpal." Setelah mengatakan itu pak Rudi kembali berjalan menghampiri anak dan istrinya juga besan nya.
Sam hanya patuh, dirinya akan melakukan apapun untuk menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada pelaku tersebut tak lain adalah Monika mantan Brayen sendiri.
Sendi yang melihat Sammy memberinya kode untuk ikut dengan nya pun segera pamit dan pergi mengikuti tangan kanan bosnya itu.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya pak Rudi segera berdiri setelah melihat dokter dari ruangan Zaa itu keluar.
"Alhamdulillah operasinya lancar, _Dan mereka semua bersyukur setelah mendengar ucapan dokter, _Bayinya laki-laki dia sangat kuat bertahan meskipun sang ibu sudah sangat lemah, maka dari itu pasien mengalami pendarahan hebat dan sekarang pasien mengalami koma." Ucap dokter itu dengan wajah sedih karena pasien nya mengalami koma.
Mereka semua menutup mulut demi mendengar ucapan sang dokter.
"Tapi anak saya tidak apa-apa kan dok?" tanya Bu Ratna yang begitu syok mendengar putrinya mengalami koma.
"Sampai saat ini kondisi pasien masih belum stabil, tapi pasien sudah melewati masa kritis, kita semua hanya berdoa semoga pasien akan segera sadar kembali."
Mereka semua tidak bisa membendung tangisan meluapkan rasa sedih, meskipun cucu mereka terlahir selamat dan sehat tapi kedua orang tua bayi itu masih dalam keadaan kritis.
__ADS_1
Perhatian mereka teralihkan ketika seorang suster membawa box bayi dari dalam.
"Maaf pihak keluarga bisa mengazani sang bayi dahulu." Ucap suster tersebut.
"Baik suster saya kakek nya." Ucap pak Rudi mengikuti suster tersebut keruangan bayi.
"Sementara pasien masih diruang ICU karena kondisinya belum stabil." Ucap dokter, setelah itu pergi yang mendapat ucapan terimakasih dari keluarga pasien.
Kini mereka berada diruang khusus bayi, memandang cucu pertama mereka yang lahir sangat tampan dan menggemaskan, andai anak dan menantunya tau jika mereka sudah menjadi orang tua makan sudah dipastikan mereka semua akan sangat bahagia.
Tapi Tuhan berkehendak lain, memberi cobaan untuk menguji seberapa kuat hambanya untuk menerima cobaan itu.
"Dia sangat tampan Pah, persis seperti Ray kecil." Ucap nyonya Indri yang sedang mendekap mahluk mungil itu.
"Iya Bu, dia sangat tampan." Bu Ratna tersenyum meskipun air mata tak berhenti mengalir.
Nenek sendiri sudah pulang diantar sopir dan ditemani Sherin, karena beliau sudah tua dan tidak memungkinkan untuk ikut menunggu lama berada dirumah sakit. Jadi pak Rudi menyuruh sopir dan Sherin untuk menemani nenek pulang.
"Mama temani cucu kita, aku akan menunggu Ray." Ucap pak Rudi seraya mengelus pipi halus cucunya. beliau sangat bahagia melihat cucu pertamanya lahir dengan selamat meskipun anak dan menantunya harus mengalami kecelakaan, tapi beliau yakin jika dibalik musibah ini akan ada hikmahnya.
Berusaha dan berdoa yang bisa mereka panjatkan sisanya biarlah Tuhan yang menentukan.
LIKE
KOMEN
mampir karya author "PEMBANTUKU CANDUKU" 🥰🥰
__ADS_1