
Ibu Asih dan ibu Retno datang ke rumah sakit setelah mengetahui kabar soal Alena pingsan. Lalu ibu Asih dan ibu Retno masuk ke dalam ruangan Alena, mereka terlihat khawatir.
Terutama ibu Retno, beliau begitu panik saat mengetahui kabar kalau Alena masuk rumah sakit. Setelah mengetahui keadaan Alena, ibu Retno pun akhir nya tenang.
Lalu Damar pergi keluar untuk mengambil obat serta vitamin di apotek, tinggalah ibu Asih dan ibu Retno di ruangan Alena.
"Gimana keadaan kamu, Ndok? Mamah kaget pas denger kamu masuk rumah sakit!" ucap ibu Retno
"Alhamdulilah... Alena udah baik baik aja Mah, Mamah tenang ya!" sahut Alena
"Alena, sebener nya kamu sakit apa? kok bisa sampe pingsan gitu si?" tanya ibu Asih
Alena terdiam sebentar seraya menatap ibu Asih dan ibu Retno. "Aduh... gue harus jawab apa nih? apa gue kasih tau aja sama mereka kalo gue gak sakit, tapi gue hamil!" batin Alena
"Alena? kok malah bengong!" sambung ibu Asih membuyarkan pandangan Alena.
Alena tersenyum. "Em... kata dokter tadi Alena cuma kecapean sama masuk angin biasa kok bu!"
"Oh..." sahut ibu Asih, namun ibu Asih kurang yakin dan kurang percaya dengan jawaban dari Alena. "Em... tapi kamu beneran cuma masuk angin biasa, Na? gak ada keluhan lain gitu?" sambung ibu Asih untuk memastikan kalau jawaban Alena memang benar.
"Iya Bu, Alena cuma kecapean aja sama masuk angin doang kok, karna dari kemaren emang kerjaan Alena lagi banyak!" jawab Alena
Tak lama kemudian, Damar datang lalu masuk ke dalam ruangan Alena. Damar datang seraya membawa bungkusan plastik berisikan vitamin dan obat yang telah Ia ambil di apotek rumah sakit tersebut.
Saat itu Alena terlihat panik karena vitamin dan obat untuk kehamilan nya ada di dalam plastik yang Damar pegang. Alena langsung berpikir kalau Damar telah mengetahui soal kehamilan nya dari obat tersebut, namun ternyata Damar belum mengetahui soal kehamilan nya.
Lalu ibu Asih memperhatikan obat dan vitamin yang di pegang oleh Damar. Saat ingin di ambil oleh ibu Asih, tiba tiba saja Alena mengambil kantung plastik yang berisi vitamin serta obat tersebut dari tangan Damar.
"Makasih ya Dam, udah di ambilin obat nya!" ucap Alena
"Iya sama sama!" sahut Damar
Tiba tiba saja Dokter datang lalu masuk ke dalam ruangan Alena, Dokter itu memeriksa kembali kesehatan Alena lalu mengatakan kalau Alena sudah boleh pulang.
...
Di perjalanan pulang.
"Aduh... ini kenapa si jalanan macet?" omel Damar
"Sabar dong Damar, nama nya juga jalan umum ya begini lah!" sahut ibu Asih
"Iya bu Damar tau, tapi kan kasian Alena, Dia harus cepet cepet istirahat di rumah!" omel Damar seraya melihat ke arah depan mobil.
Alena hanya terdiam menatap Damar. "Ya Allah Damar, sampe segitu nya ya kamu peduli sama kesehatan aku. Makasih ya, karna kamu selalu berusaha buat jadi suami yang baik buat aku, tapi maaf... aku belom bisa ngasih tau kamu soal kehamilan aku ini, mungkin nanti Dam!" batin Alena
Namun tiba tiba saja Damar menoleh ke arah Alena lalu menatap nya. "Kenapa Na? kamu ngomong apa?"
"Hah? enggak! aku gak ngomong apa apa kok!" ucap Alena lalu mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Tapi kok perasaan aku tadi kamu kayak lagi ngomong ya sama aku Na, aku ngerasa!"
Alena bingung. "Hah? ngomong apa si? aku gak ngomong apa apa Dam, mungkin cuma perasaan kamu aja kali!"
"Masa sih? tapi kenapa ya kok aku kek ngerasa aja kalo kamu lagi ngomong sesuatu gitu sama aku Na, cuma aku gak bisa ngejelasin nya!''
Alena pun bingung, begitu juga dengan Damar. Mereka berdua saling bertatap mata di tengah kemacetan, lalu ibu Retno mulai menanggapi perkataan Damar.
"Itu nama nya ikatan batin Damar, mungkin aja kalian berdua emang punya ikatan batin!" ucap ibu Retno
__ADS_1
"Ikatan batin? maksud nya gimana bu?" tanya Damar penasaran
"Maksud nya itu tuh kalian berdua punya ikatan batin yang kuat, maka nya salah satu di antara kalian pasti bisa ngerasain kalo misal nya ada ucapan di hati yang gak di ungkapin langsung, contoh nya ya tadi!" jelas ibu Retno
Lalu Damar menatap Alena seraya tersenyum, Damar senang setelah mendengar penjelasan dari ibu mertua nya itu.
"Oh... pantesan aja tadi aku kayak ngerasa kalo Alena lagi ngomong sama aku, walaupun Alena gak ngomong secara langsung sama aku tapi aku bisa ngerasa!" ucap Damar.
Alena pun mengelak. "Tapi aku gak ngomong apa apa, Dam!" ucap Alena mulai panik. "Udah deh, kamu jangan percaya sama hal begituan, mana ada!" sambung Alena lalu mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Kok bisa ya? apa kita berdua emang beneran punya ikatan batin? masa sih!" batin Alena
....
Setiba nya di rumah, Damar dan Alena masuk ke dalam rumah bersama ibu Asih dan juga ibu Retno. Lalu ibu Asih dan ibu Retno berbincang di ruang tamu.
Sementara Damar, Ia langsung pergi menemani Alena masuk ke dalam kamar nya. Saat berada di dalam kamar, Damar menyuruh Alena untuk segera beristirahat.
"Istirahat ya Na, aku mau pergi sebentar. Aku mau nganterin ibu kamu pulang sekalian mau balikin mobil kantor!" ucap Damar seraya menyelimuti tubuh Alena.
Alena pun hanya menganggukan kepala nya saja sebagai bentuk persetujuan nya. Setelah itu, Damar keluar dari kamar dan membiarkan Alena untuk beristirahat.
Beberapa jam kemudian, Damar pulang seraya membawa beberapa buah segar untuk Alena. Namun saat masuk ke dalam kamar, Ia melihat Alena sudah tidur.
Lalu Damar berjalan menghampiri Alena, Ia pun memperhatikan wajah Alena. Karena tak ingin menganggu Alena, akhir nya Damar pun keluar dari kamar nya.
Saat keluar dari kamar nya, tiba tiba saja ibu Asih memanggil Damar. "Damar!"
Damar menoleh. "Iya bu!"
"Dia ada di kamar bu lagi tidur, emang ada apa bu?"
"Em... enggak ada apa apa si, ibu cuma mau ngasih bubur kacang ijo ini buat Alena!"
"Yaudah ibu masuk aja, Damar mau keluar bentar!"
Setelah itu, ibu Asih masuk ke dalam kamar seraya membawa bubur kacang hijau untuk Alena. Namun Alena masih tertidur, lalu ibu Asih meletakan bubur tersebut di atas meja. Setelah itu, beliau mulai melihat isi obat serta vitamin milik Alena.
Karena penasaran dengan obat Alena, ibu Asih pun langsung mengambil gambar obat milik Alena dengan menggunakan kamera ponsel milik nya lalu bergegas pergi keluar dari kamar Alena.
Ibu Asih pergi ke rumah sakit tempat Alena di rawat sebelum nya. Beliau ingin menanyakan soal obat dan vitamin milik menantu nya pada perawat yang bertugas di apotek rumah sakit.
Perawat tersebut langsung menjelaskan pada ibu Asih mengenai obat dan vitamin kehamilan milik Alena.
Ibu Asih terkejut. "Apa? jadi ini bukan obat buat masuk angin mbak? tapi ini vitamin buat orang hamil?"
"Iya bu, ini vitamin buat janin!"
Ibu Asih merasa tak percaya. "Mbak, jangan bohongin saya dong, ini beneran vitamin buat orang hamil? bukan obat masuk angin?"
Perawat tersenyum. "Iya bu, buat apa saya bohongin ibu, ini beneran vitamin buat orang hamil supaya janin nya sehat!"
"Oh... gitu ya mbak, makasih ya mbak!"
Setelah itu, ibu Asih pergi ke rumah ibu Retno. Beliau berencana ingin memberitahukan pada besan nya itu soal kehamilan Alena.
Sesampai nya di rumah ibu Retno, ibu Asih pun langsung menceritakan soal kehamilan Alena. Pada saat itu perasaan ibu Asih dan ibu Retno bercampur aduk menjadi satu.
Ibu Asih dan ibu Retno begitu senang dengan kabar kehamilan Alena, namun mereka juga sedih karena Alena sengaja menyembunyikan kabar kehamilan nya.
__ADS_1
....
Di kediaman rumah Damar.
Alena terbangun dari tidur nya lalu melihat ada bubur kacang hijau di atas meja. Ia tersenyum lalu mengambil bubur tersebut, bubur kacang hijau itu masih terasa hangat. Ia pun langsung menyantap bubur tersebut.
Tiba tiba saja Damar datang lalu masuk ke dalam kamar, Ia tersenyum saat melihat Alena menyantap bubur kacang hijau buatan ibu nya. Damar berjalan menghampiri Alena lalu duduk di samping nya.
"Gimana keadaan kamu? udah enakan?" tanya Damar seraya mengusap lembut kepala Alena
"Iya, udah enakan!" jawab Alena seraya kembali menyantap bubur tersebut dengan lahap.
"Alhamdulilah kalo udah enakan!" ucap Damar
Lalu Damar memperhatikan Alena, Ia merasa heran karena Alena terlihat lahap menyantap bubur tersebut. Padahal biasa nya Alena tidak mau makan sama sekali jika sedang sakit.
Namun hari itu Alena terlihat berbeda, Alena begitu menikmati bubur tersebut hingga habis. Lalu Damar melihat ada sedikit sisa bubur yang menempel di samping bibir Alena.
Damar tersenyum lalu menyingkirkan sisa bubur tersebut dengan cara mengusap sisa bubur itu dengan tangan nya. "Mau nyisain buat lebaran ya Na sampe blepotan gini?"
Seketika Alena langsung terdiam dari gerakan lalu menatap Damar. Begitu pun dengan Damar, Ia menatap Alena. Mereka saling menatap satu sama lain.
Lalu Damar mendekatkan wajah nya ke arah wajah Alena, perlahan lahan jarak dari kedua nya makin dekat. Rupa nya Damar mencoba untuk mencium Alena.
Namun saat Damar ingin mencium bibir Alena, tiba tiba saja Alena mengalihkan wajah nya ke arah samping. "Maaf Dam, aku mau istirahat!" ucap Alena
Seketika Damar pun langsung terdiam dari gerakan saat tahu ada penolakan dari Alena. Setelah itu, Damar merangkum wajah Alena lalu menatap nya dengan lekat.
Damar mendekatkan wajah nya lagi ke arah wajah Alena, Damar mencoba untuk mencium Alena. Namun Alena tak bisa menghindar lagi, Alena hanya bisa terdiam seraya memejamkan paksa kedua mata nya.
Saat itu Alena sudah berpikir kalau Damar akan mencium bibir nya dengan cara paksa, namun ternyata dugaan nya salah. Damar sama sekali tidak memaksa Alena tapi Damar hanya ingin mencium dahi nya saja.
Setelah mencium dahi Alena, Damar berbisik di telinga Alena. "Aku sayang kamu, Alena!"
Lalu Alena membuka kedua mata nya, Ia pun menatap Damar. Begitu juga dengan Damar, Ia menatap Alena.
"Na, kamu masih marah sama aku?" tanya Damar
"Aku gak marah kok sama kamu, Dam!"
"Kalo kamu gak marah sama aku trus kenapa kamu jauhin aku? apa kamu udah gak percaya lagi sama aku, Na?"
Alena terdiam sebentar menatap Damar. "Aku-" belum sempat bicara, Damar langsung bangun dari duduk nya lalu beranjak pergi dari hadapan Alena.
"Damar, bentar!" ucap Alena yang langsung menghentikan langkah kaki Damar.
Damar menoleh. "Kenapa? bukan nya kamu udah gak percaya lagi ya sama aku? yaudah, kalo gitu aku pergi aja, itu kan mau nya kamu?" ucap Damar lalu kembali melanjutkan langkah nya meninggalkan Alena.
Dengan cepat Alena langsung beranjak turun dari atas kasur, Ia berlari mengejar Damar lalu memeluk nya dari belakang hingga membuat Damar bingung dengan sikap Alena.
Pelukan Alena begitu erat memeluk tubuh Damar. "Jangan pergi!" pinta Alena. "Aku gak mau kamu pergi, Dam!" sambung nya.
Lalu Damar memegang kedua tangan Alena, Ia berbalik arah menghadap ke arah Alena. Damar menatap kedua mata Alena lalu mengusap pipi Alena dengan lembut.
"Trus buat apa aku ada di sini kalo kehadiran aku aja gak kamu harepin Na? kamu mau aku kayak gimana? kalo kamu mau nya aku pergi, ya aku pergi. Tapi kalo kamu mau aku tetep di sini, ya aku bakal tetep di sini!"
Kedua mata Alena terlihat berlinang. "Inti nya aku gak mau kamu pergi!" ucap Alena menatap Damar. "Aku sayang sama kamu Damar, maafin sikap aku!"
Damar tersenyum mendengar perkataan Alena, Ia pun langsung memeluk Alena dengan penuh cinta. "Aku juga sayang sama kamu Na, sayang banget. Maafin aku ya karna selalu buat kamu kesel!" ucap Damar seraya mengusap kepala Alena dengan lembut.
"Iya Dam!"
Akhir nya Damar dan Alena pun berdamai, lalu Damar melepas pelukan nya pada Alena. "Na, kamu percaya kan sama aku? aku gak pernah berbuat hal keji begitu sama Elsha, aku berani sumpah Na, aku-"
__ADS_1
Alena langsung menutup bibir Damar dengan telapak tangan nya. "Jangan ngomong begitu lagi Dam, aku gak suka. Aku percaya sama suami aku!"