Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Mencoba Berubah


__ADS_3

Pagi hari.


Ibu Retno tengah merapihkan bahan gado gado di rumah nya. Sementara Alena, Ia masih berada di dalam kamar nya. Alena tengah bersiap siap untuk berangkat ke tempat kerja nya. Lalu Alena keluar dari kamar, Ia duduk bersama dengan ibu Retno di sana.


Tanpa sengaja Alena melihat ada potongan martabak dengan rasa keju di atas meja. Alena tersenyum dan langsung mengambil potongan martabak keju itu. Alena duduk bersama ibu Retno seraya menyantap satu persatu potongan martabak tersebut. Ibu Retno hanya terdiam seraya memperhatikan tingkah Alena. Alena terlihat suka dengan martabak keju itu.


"Gimana? enak?" tanya ibu Retno


Alena menggangguk. "Iya Mah, martabak nya enak banget, Alena suka!"


"Syukur deh kalo kamu suka sama martabak nya, martabak itu dari Damar, semalem dia bawa khusus buat kamu!" jelas ibu Retno.


Alena pun terkejut, Ia langsung berhenti mengunyah. Alena terdiam menatap ibu Retno, Alena meletakan kembali potongan martabak yang ada di tangan nya. Reaksi aneh Alena membuat ibu Retno bingung.


"Kamu kenapa, Ndok?" tanya ibu Retno.


Tanpa menjawab pertanyaan ibu nya, Alena langsung bangun dari duduk nya lalu pergi ke toilet. Ibu Retno pun mengekori Alena dari arah belakang. Di sana Alena langsung mengeluarkan semua sisa martabak yang masih berada di mulut nya. Ibu Retno pun tampak terkejut dengan aksi Alena, pasal nya Alena dengan sengaja mengeluarkan makanan tersebut dari mulut nya.


"Alena! kenapa kamu muntahin martabak di mulut kamu?"


"Mah, martabak ini dari cowok aneh itu kan? iya kan? Alena benci sama dia, Mah!"


"Alena! kamu gak boleh gitu, lelaki itu punya nama, nama nya Damar!" omel ibu Retno.


"Alena gak peduli, Mah! yang jelas Alena gak suka sama dia, mendingan buang aja tuh martabak dari dia!"


"Alena! kalo emang kamu gak suka sama Damar, yaudah! cukup dia aja, tapi jangan benci makanan nya, makanan nya gak salah apa apa! hargain pemberian orang lain!"


"Terus aja Mamah belain dia" ucap Alena lalu pergi keluar dari toilet. "Udah! Alena mau berangkat sekarang! assalamualaikum!" Alena pergi dengan perasaan kesal dan marah. Ibu Retno hanya terdiam seraya mengusap dada nya untuk menahan emosi nya.


Alena pergi ke rumah Tiara dengan berjalan kaki. Namun saat di tengah jalan, dari jauh Alena melihat Tiara berjalan ke arah nya. Ia pun berdiri di sana menunggu kedatangan Tiara. Tiara menyapa Alena dari jauh seraya tersenyum ke arah nya. Setelah itu, mereka berangkat bersama sama menaiki mobil transportasi umum.

__ADS_1


Mereka berdua duduk di sebuah halte untuk menunggu mobil transportasi umum. Saat di sana, Tiara memperhatikan wajah Alena. Alena terlihat kesal, hal itu membuat Tiara penasaran.


"Na, lu kenapa si? muka lu jelek amat di tekuk gitu dih!" ucap Tiara


"Gue lagi kesel sama nyokap gue, Ra!" jelas Alena


"Loh, kenapa?"


Alena pun langsung menceritakan semua permasalahan yang terjadi di rumah tadi. Lalu Tiara berupaya menasehati Alena, apa yang di katakan oleh ibu Retno benar. Alena tak boleh terus menerus bersikap seperti itu, sikap Alena memang sudah berlebihan.


Sebenar nya Alena tak ada maksud untuk membenci Damar, namun Ia kesal karena Damar terus mendekati diri nya. Padahal Alena memiliki rasa trauma terhadap pria. Dan Damar tak mengerti akan rasa takut Alena. Alena memang menyadari kalau sifat trauma nya itu sangat lah buruk, Ia merasa tak pantas dengan siapapun.


Terkadang Tiara merasa bingung dengan Alena, rasa takut akan di sakiti pria begitu besar hingga membuat Alena menutup diri dan tak mau dekat dengan pria. Tiara pun bertekad akan membantu menyembuhkan rasa trauma Alena, Tiara meyakinkan Alena kalau semua nya akan baik baik saja.


"Na, lu gak boleh terus terusan kayak gini, lu harus berubah! cepat atau lambat nyokap lu udah pasti makin tua, mau sampe kapan lu kayak gini, Na? mau sampe kapan lu takut mulu?" nasehat Tiara pada Alena.


Alena pun hanya terdiam mendengarkan Tiara. Memang benar, Alena harus merubah asumsi nya dan penilaian nya mengenai sifat pria. Namun bayangan buruk masa kecil nya terus menerus menghantui Alena.


"Na, dengerin gue, gak semua cowok sifat nya kayak bokap lu, gue kan udah pernah bilang waktu itu sama lu, Damar tuh beda Na. Dia orang nya baik, ramah, sopan, trus ganteng lagi! gue yakin lu pasti suka deh sama kepribadian dia!"


Alena menoleh. "Ra, kenapa harus Damar? gue gak peduli sama dia!"


"Na, tapi gue ngerasa si Damar itu suka deh sama elu, soal nya keliatan banget kalo dia tuh deketin lu terus, bahkan sampe bawain martabak kesukaan elu segala!"


"Ah ngaco lu! gak mungkin lah, kita kan baru ketemu beberapa hari doang, masa iya bisa langsung suka, aneh!" tampis Alena


"Na, tapi emang bener apa yang gue bilang ini, lu percaya gak si cinta pada pandangan pertama? lu kan sering baca novel romantis tuh masa gak percaya" ucap Tiara. "Na, coba deh lu buka hati lu buat nerima perasaan orang yang lagi deketin lu sekarang ini, ya si Damar itu!" sambung nya.


Alena terdiam mendengar ucapan Tiara, Alena mulai berpikir mungkin memang benar juga apa yang di katakan sahabat nya itu, Alena juga berpikir mungkin sudah waktu nya ia mulai mencoba untuk membuka hati nya perlahan.


"Apa mungkin bakal berjalan baik, Ra? apa Damar mau nerimain keadaan gue? apa dia mau nerima segala kekurangan gue?"

__ADS_1


"Na, semua manusia punya kekurangan, kita semua cuma manusia biasa, ya udah pasti kita punya kekurangan!" ucap Tiara. "Pokok nya lu gak boleh berpikiran negatif dulu Na, lu harus coba berdamai sama diri lu sendiri, lu harus coba buka hati lu!" sambung Tiara.


Alena menghela nafas. "Iya Ra mungkin lu bener, udah saat nya gue berubah! gue gak mau kayak gini terus Ra!"


"Nah gitu dong, itu baru sahabat gue!" Tiara memeluk Alena.


.......


Di tempat Damar.


Seperti biasa, Damar dan semua anggota keluarga nya tengah sarapan pagi bersama. Lalu ibu Asih menceritakan soal kedatangan Riska, Riska merupakan teman satu sekolah Damar waktu di SMA. Damar pun terkejut saat mendengar nama Riska, pasal nya dulu Riska pernah menyukai Damar. Riska juga pernah mengutarakan perasaan nya pada Damar, namun Damar menolak perasaan Riska mentah mentah.


Damar tak menyukai perempuan seperti Riska, karena menurut nya Riska itu terlalu agresif. Selesai sarapan, Damar berniat ingin mengantar Putri ke sekolah.


"Mas, hari ini gue berangkat bareng sama temen gue, jadi lu gak usah nganterin gue!" ucap Putri


"Siapa temen lu? cewek apa cowok?" Damar memang protektif terhadap adik perempuan nya, karena sudah menjadi naluri alamiah nya sebagai seorang kakak melindungi adik nya.


"Temen gue cowok Mas, nama nya Angga, dah ah gue mau berangkat ntar telat!" ucap Putri lalu ingin beranjak pergi dari hadapan Damar, namun tangan Putri di tarik oleh Damar. "Apa'an lagi si, Mas?"


"Angga pacar lu? jangan pacaran lu masih bocil juga!" ucap Damar


"Ih apa'an sih? orang kita cuma temenan doang, lagian juga gue udah gede inih!" sahut Putri sedikit kesal. "Udah ah, gue mau berangkat!" Putri pun mencium punggung tangan Damar.


"Iyaudah sono, ati ati!"


"Iya Mas, assalamualaikum!"


"Waalaikum salam!" Damar pun masuk ke dalam rumah.


Namun tak lama adik nya pergi, tiba tiba saja ada suara seseorang mengucapkan salam. Damar pun keluar dari rumah nya seraya menjawab salam tersebut. Namun Damar di buat terkejut dengan sosok tamu yang datang. Rupa nya tamu itu seorang wanita. Wanita itu terlihat cantik, bertubuh sedikit gemuk dan berkulit putih.

__ADS_1


"Hai, Damar!" sapa wanita itu.


__ADS_2