Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Kehilangan


__ADS_3

Damar datang menghampiri meja kerja Daffa dalam keadaan kesal. Tanpa basa basi lagi, Ia pun langsung menarik kerah kemeja Daffa lalu membawa nya ke tempat sepi dari pantauan rekan kerja nya.


Di saat bersamaan, Daffa juga berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Damar yang mencengkram kencang kerah baju nya, namun tidak berhasil.


Setelah itu, Damar melepaskan cengkraman tangan nya lalu mendorong Daffa. "Maksud lu apaan si ngedeketin istri gue mulu? hah!" ucap Damar dengan kesal


"Dam, maksud lu apa si? gue gak ngerti!"


"Gak usah munafik lu, gue udah liat sendiri tadi lu ngajak Alena ketemuan kan di Caffe depan? iya kan? ngaku lu!"


Saat itu Daffa masih berusaha untuk bersikap tenang, walaupun sebenar nya Ia juga sangat ingin marah pada Damar. Lalu Daffa menghela nafas. "Oke gue akuin, gue emang ketemuan tadi sama Alena, tapi gue gak ada maksud apa apa, Dam. Lu jangan salah paham dulu!"


Damar menyeringai. "Gak ada maksud apa apa tapi megang megang tangan istri gue? lu nyari kesempatan kan?"


"Dam, gue sama Alena beneran gak ada apa apa. Lagian juga gue ngajak Dia ketemuan ya karna emang ada hal penting yang lagi kita omongin, Dam!" jelas Daffa.


"Hal penting apa? hah? emang nya harus ya lu pegang pegang tangan istri orang? enggak kan, Daff?" ucap Damar dengan kesal. "Gue ingetin ya sama lu, jaga jarak lu sama Alena, ngerti!" ucap Damar lalu pergi meninggalkan Daffa.


"Dam! Damar!" pekik Daffa namun panggilan nya tak di hiraukan oleh Damar. Damar benar benar marah pada Daffa.


....


Di tempat berbeda.


Alena melamun di dalam mobil, lalu tiba tiba saja terlintas di dalam pikiran nya untuk pergi ke rumah Elsha. Saat itu, Ia ingin menanyakan beberapa hal pada Elsha.


"Pak, puter balik ya ke jalan anggrek no. 5!" ucap Alena pada supir taxi tersebut.


"Iya bu!" jawab pak supir lalu mulai putar arah ke arah rumah Elsha.


Setiba nya di rumah Elsha, Alena pun langsung memencet bel di samping pintu rumah Elsha. Tak lama kemudian, Elsha membuka pintu nya dan terkejut ketika melihat Alena.


"Elu? mau ngapain lu ke sini?" tanya Elsha


"Gue ke sini karna ada hal penting yang mau gue omongin sama lu!" ucap Alena


"Gue gak mau denger, udah deh mendingan lu pulang sana!" Elsha ingin menutup pintu nya namun di halangi oleh tangan Alena.


"Kita harus bicara, Elsha!" pekik Alena yang kesal dengan sikap Elsha. "Gue langsung aja ke inti nya, lu kan yang udah malsuin surat tes DNA ini? iya kan?" sambung nya lagi seraya memberikan surat tes tersebut pada Elsha.


"Mana bukti nya?"


"Oh... jadi lu mau bukti? ini bukti nya!" Alena langsung membuka rekaman suara perawat yang di perintahkan Elsha untuk memalsukan hasil tes DNA Damar.


Setelah mendengar rekaman tersebut, Elsha pun terkejut. Reaksi terkejut di wajah Elsha membuat Alena makin yakin kalau hasil tes DNA tersebut benar benar telah di manipulasi oleh Elsha.


"Kenapa? lu pasti kaget kan?" ucap Alena. "Jadi udah jelas kalo anak yang lu kandung itu bukan anak nya Damar tapi anak nya orang lain yang gak mau tanggung jawab!" sambung nya lagi.


"Jangan fitnah ya!" Elsha masih mengelak dan tidak mau mengakui kalau Ia memang sudah memalsukan surat tes tersebut. "Bisa aja kan itu orang yang lu suruh buat bikin pengakuan palsu!" sambung nya.


Alena menyeringai. "Lucu ya, udah ketauan gini tapi lu masih bisa ngelak? hebat!" ucap Alena. "Denger ya, lu gak bakal bisa ngerebut Damar dari gue, karna Damar itu suami gue dan akan tetep begitu!" sambung nya lagi lalu pergi dari hadapan Elsha.


Elsha pun terdiam seraya mengepal kencang kedua tangan nya. Lalu Elsha mengejar Alena, Elsha berusaha untuk merebut ponsel Alena.


"Eh, apa apaan sih lu? lepas gak!" ucap Alena

__ADS_1


"Sini hape lu, gue bilang sini!" Elsha merebut paksa ponsel Alena.


Rebut rebutan ponsel pun terjadi di jalan, Alena berupaya untuk mempertahankan ponsel milik nya namun Elsha tidak mau kalah, Ia berusaha merebut ponsel yang di genggam oleh Alena.


Di saat bersamaan, muncul sebuah mobil yang melintas di jalan tersebut dengan kecepatan lumayan. Dan...


"Bruak!"


....


Sore itu, Damar pulang ke rumah setelah lelah bekerja seharian. Namun saat tiba di rumah, Ia tak melihat keberadaan Alena di rumah. Damar pun menoleh ke arah kanan dan kiri nya seraya memanggil nama Alena namun Alena tak ada di rumah.


"Ya allah, kenapa ya tiba tiba perasaan gue gak enak gini?" gumam Damar.


Lalu terdengar suara ponsel berbunyi, rupa nya ada panggilan masuk dari nomor yang tidak di kenal oleh Damar. Tanpa basa basi, Damar pun langsung menerima panggilan masuk tersebut.


Damar terkejut. "Apa? kecelakaan? oke, saya kesana sekarang!"


Damar bergegas pergi menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Alena. Setiba nya di rumah sakit, Damar menoleh ke arah kanan dan kiri nya untuk mencari keberadaan Alena.


Karena bingung, Damar pun menanyakan Alena pada seorang perawat di rumah sakit tersebut. Setelah mengetahui ruangan nya, Ia langsung bergegas pergi.


Damar langsung membuka pintu nya begitu saja lalu masuk ke dalam ruangan. "Alena!" pekik Damar. Namun Damar tercengang saat melihat orang yang berada di ruangan tersebut ternyata bukan Alena.


"Elsha? kok lu ada di sini? Alena mana?" tanya Damar lalu berjalan menghampiri Elsha yang kala itu hanya terdiam melihat Damar datang. "Gue tanya, Alena mana? jawab!" sambung nya lagi dengan nada cukup tinggi.


Elsha mulai ragu ragu. "Gue, gue-"


"Gue apa? hah?" tukas Damar kesal. "Pasti lu kan yang udah buat masalah lagi? kalo sampe terjadi sesuatu sama Alena, gue gak akan pernah maafin elu!"


Setelah itu, Damar langsung bergegas pergi meninggalkan Elsha lalu masuk ke dalam ruangan Alena yang berada di lantai dua.


"Alena!" panggil Damar


Alena pun menoleh ke arah Damar lalu kembali melihat ke arah lain. Damar mengusap kepala Alena lalu mencium kening nya. Namun reaksi Alena terlihat biasa saja, Alena hanya terdiam dengan tatapan kosong.



"Na, gimana keadaan kamu?" tanya Damar seraya menatap Alena.


"Aku udah gagal, Dam!" ucap Alena lalu melihat ke arah Damar dengan mata berlinang. "Udah gagal!" sambung nya lagi.


Damar bingung dengan perkataan Alena, Ia pun berusaha untuk mencerna maksud dari ucapan Alena. "Gagal? apa maksud kamu, Na? aku gak ngerti!"



"Calon anak kita udah gak ada lagi, Damar. Dia udah gak ada di dunia ini!" ucap Alena seraya menahan tangis nya.


"Apa? apa maksud kamu udah gak ada?" ucap Damar yang masih tidak percaya kalau Alena mengalami keguguran. "Kamu pasti bohongin aku kan Na? iya kan?" sambung nya.


Alena memegang tangan Damar. "Damar, aku gak lagi bohongin kamu, aku keguguran!" ucap Alena.


"Gimana bisa semua ini terjadi Na?"


Alena langsung menceritakan semua kejadian yang terjadi sebelum nya hingga membuat diri nya dan Elsha berada di rumah sakit. Setelah mendengar cerita Alena, Damar pun kesal dan marah.

__ADS_1


"Aku bakal bikin Dia nyesel karna udah ganggu keluarga kecil kita, Na!" ucap Damar kesal


Lalu Alena memegang tangan Damar, rupa nya Alena berusaha untuk menenangkan amarah Damar. "Damar, janji ya sama aku kalo kamu gak bakal bales dendam sama Dia, udah biarin aja biar Allah yang bales!"


Tak lama setelah itu, Dokter datang ke ruangan Alena. Dokter itu meminta Damar untuk segera ikut dengan nya masuk ke ruangan nya. Damar pun mengikuti Dokter yang ingin berbicara hal penting pada nya.


Lalu Dokter tersebut menjelaskan kalau Alena mengalami keguguran akibat benturan yang cukup keras hingga membuat dinding rahim nya bermasalah. Alena di vonis Dokter kalau Alena tidak akan bisa memiliki keturunan lagi.


Sontak saja penjelasan Dokter itu membuat Damar terkejut dan tak percaya. "Apa? Alena gak bisa hamil lagi, Dok? maksud Dokter?"


Dokter itu menjawab. "Iya pak Damar, ibu Alena gak bisa hamil lagi!"


"Tapi kenapa istri saya gak bisa hamil lagi dok? apa penyebab nya?"


"Maaf saya harus bilang ini pak Damar, tapi ibu Alena gak bisa hamil lagi karna benturan yang di alami ibu Alena membuat dinding rahim nya bermasalah, kehamilan ibu Alena juga lemah jadi ibu Alena kemungkinan gak bisa memiliki keturunan!" jelas Dokter


.....


Damar keluar dari ruangan Dokter itu dengan raut wajah syok dan terkejut nya. Ia masih tak percaya dengan penjelasan Dokter. Padahal Ia sangat mendambakan sosok anak kecil yang sebentar lagi hadir di hidup nya kelak, namun semua nya harus hancur seketika.


Lalu Damar masuk ke ruangan Alena, reaksi di wajah Damar membuat Alena jadi penasaran. Alena pun mulai bertanya tanya pada Damar soal hasil pemeriksaan diri nya. Namun Damar hanya terdiam dan tak bisa mengatakan hasil nya pada Alena.


"Dam, apa semua nya baik baik aja? tolong kasih tau sama aku Dam, aku mohon!" pinta Alena seraya menatap Damar. "Gimana hasil nya?"


Damar terdiam menatap Alena. "Gimana cara nya aku ngasih tau kamu Alena kalo kamu itu gak akan bisa hamil lagi, aku gak bisa liat kamu sedih!" batin Damar


"Damar, gimana?" tanya Alena lagi


Damar tersenyum. "Alena, hasil nya biasa aja kok. Lagian gak penting hasil nya gimana, yang lebih penting sekarang itu kesehatan kamu Na, kita berdua harus bisa ikhlas nerima kalo calon anak kita di ambil lagi sama Allah!"


"Aku minta maaf ya Damar karna aku gak bisa mempertahankan calon anak kita!" ucap Alena sedih. "Ini semua emang salah aku karna aku gak bisa jaga calon anak kita, Dam!" sambung nya


"Ini bukan salah kamu, Na. Berhenti nyalahin diri kamu sendiri, semua ini udah takdir!" ucap Damar. "Udah, mendingan sekarang kamu tidur ya, aku mau keluar sebentar!" sambung nya lalu mencium kening Alena.


Alena menuruti perkataan Damar, lalu Damar memperhatikan wajah Alena. "Ya Allah, kasian Alena, pasti ini semua berat banget buat Dia, aku janji sama kamu Alena, aku gak akan pernah ninggalin kamu dalam keadaan apapun!" batin Damar.



"Ini semua ulah Elsha, kalo aja dia gak mulai duluan, semua ini gak bakal terjadi. Gue gak akan tinggal diem, gue harus ketemu sama Dia buat kasih pelajaran!" gumam Damar lalu pergi ke ruangan nya Elsha.


Elsha pun terkejut saat melihat Damar masuk ke dalam ruangan nya secara tiba tiba. Saat itu raut wajah Damar terlihat kesal, Damar berjalan menghampiri Elsha lalu mencengkram lengan nya hingga membuat Elsha meringis kesakitan.


"Lu tau gak? akibat perbuatan konyol lu, Alena hampir kehilangan nyawa nya, dan yang lebih parah nya lagi, elu udah bikin Alena kehilangan calon anak nya, dimana hati nurani lu? hah?!" pekik Damar


Elsha pun menangis. "Dam, aku beneran gak sengaja, aku khilaf!"


Damar mendekatkan wajah nya pada Elsha lalu menatap nya dengan tatapan kebencian. Ia tak ada rasa kasian sedikit pun pada Elsha. Karena perbuatan Elsha, Ia dan Alena kehilangan calon buah hati mereka.


"Khilaf lu bilang? khilaf lu udah terlalu banyak, gue gak akan pernah maafin elu Elsha, akibat perbuatan lu ini, gue harus kehilangan calon anak gue yang selama ini gue tunggu!" pekik Damar. "Gue udah muak sama semua drama yang udah lu buat, kali ini lu udah kelewatan!"


"Aku minta maaf, Dam. Aku bener bener minta maaf!" rengek Elsha seraya memegang tangan Damar.


Dengan cepat Damar pun menampis tangan Elsha. "Emang nya lu pikir maaf lu ini bisa bikin semua nya baik lagi? enggak kan!" ucap Damar lalu menghela nafas. "Lu tau gak? gue pengen banget bales perbuatan busuk lu ini, tapi karna permintaan Alena, gue urungin niat gue. Harus nya lu bersyukur kalo hidup lu sekarang masih aman, kalo bukan karna permintaan dari Alena sendiri gue bakal bikin lu nyesel seumur hidup bahkan bikin lu gak mau hidup lagi, ngerti lu!"


Elsha hanya terdiam seraya menangis di depan Damar.

__ADS_1


__ADS_2