Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Cinta Apa Ada nya


__ADS_3

Malam hari.


Alena tengah duduk termenung di anak tangga rumah nya, rupa nya Alena tengah memikirkan perkataan ibu Asih. Perkataan ibu Asih selalu terngiang ngiang di dalam kepala Alena.


("Alena itu perempuan yang gak sempurna, Dia gak bisa ngasih kamu keturunan, Damar!" )


("Semua ini gak bakalan mungkin terjadi kalo bukan kecerobohan dari Alena sendiri, Ibu gak bakalan kehilangan calon cucu ibu, Damar!")



Semenjak mengalami keguguran dan di vonis tidak bisa mempunyai keturunan lagi, Alena hanya berdiam diri dan tidak mau pergi keluar rumah. Ia lebih suka mengurung diri di dalam rumah.


Lalu Damar memperhatikan Alena, Ia datang menghampiri Alena seraya membawa sebuah piring yang berisikan nasi dan lauk pauk untuk Alena.


"Alena, makan dulu yuk!" ajak Damar lalu duduk di samping Alena.


Alena hanya menoleh sekilas saja lalu kembali melihat ke arah depan. Alena tidak menjawab ajakan Damar, namun kedua mata nya terlihat memerah karena menangis.


Damar mengerti dengan tangis Alena. "Alena, aku tau semua ini pasti berat banget buat kamu. Tapi kamu harus makan Na, dari siang kamu belom makan, kamu gak boleh nyiksa diri kamu sendiri!" ucap Damar lagi


Alena masih terdiam dan menangis karena tidak kuat menahan kesedihan. Lalu Damar memperhatikan wajah Alena, Ia juga sedih melihat Alena sedih. Namun hidup harus tetap berjalan, Damar pun yakin kalau suatu saat nanti Alena pasti bisa hamil lagi.


"Alena, aku sayang sama kamu. Aku gak mau kamu sakit, jadi aku minta sama kamu, kamu makan ya?" pinta Damar lalu mulai menyuapi Alena dengan mengarahkan sendok yang berisi nasi tersebut ke arah mulut Alena.


Namun Alena menolak suapan Damar. "Aku gak mau makan, Dam. Kamu aja yang makan!" ucap Alena


"Tapi kenapa, Alena?"


Alena menatap Damar. "Aku bilang aku gak mau makan, kamu gak denger?" Alena mulai kesal dengan Damar.


"Na, kenapa kamu marah? aku kan cuma minta kamu makan doang, gak lebih. Lagian juga kan kamu emang belom makan dari siang!"


"Iya tapi aku gak mau, kenapa si kamu maksa? aku bukan boneka kamu ya yang bisa ngikutin semua kemauan kamu, Damar!" ucap Alena kesal.


Damar bingung dengan ucapan Alena. "Apa si maksud kamu?"


Alena pun langsung meluapkan semua emosi nya, Ia menghela nafas dengan kasar. "Kamu sama ibu kamu itu sama aja, selalu maksain kehendak!" ucap Alena kesal.


"Kenapa kamu bawa bawa ibu aku?"


"Oh jelas, kamu tau gak? omongan ibu kamu udah bikin aku sakit ati Dam. Ibu kamu bener, aku ini udah gak sempurna karna aku udah gak bisa ngasih kamu keturunan, tapi kamu masih bisa Damar, kamu masih bisa nikah lagi dan punya keturunan!" ucap Alena


"Apah? Alena, jangan pernah ngomong kayak gitu, itu gak baik!" ucap Damar yang berusaha untuk tenang. "Buat aku, kamu itu sempurna, punya istri kayak kamu udah lebih dari cukup Na, mau punya anak atau enggak itu semua pilihan Na, bukan suatu kewajiban!" sambung nya.


"Damar, kenapa si kamu masih gak ngerti juga? ibu kamu pengen punya cucu. Di sini aku yang gak bisa, tapi kamu bisa Damar, kamu masih bisa punya keturunan dengan cara menikah lagi sama orang lain!"


Damar pun terkejut saat mendengar ucapan Alena, Ia langsung bangun dari duduk nya. "Na, kalo misal nya hal ini terjadi nya sama aku, apa kamu masih mau nikah lagi?" tanya Damar


Alena tidak bisa menjawab pertanyaan yang di ajukan oleh Damar. Alena hanya terdiam seraya menahan tangis, bahkan Alena tidak berani menatap kedua mata Damar.


"Alena, coba liat aku dan jawab aku!" ucap Damar menatap Alena. "Apa kamu masih mau nikah lagi kalo misal nya hal itu terjadi sama aku?" sambung nya.


Alena pun bangun dari duduk nya lalu menatap Damar, dengan berat hati Alena pun menjawab. "Iya!" ucap Alena lalu meneteskan air mata.

__ADS_1


Damar hanya terdiam menatap Alena, Ia juga tidak mengatakan apapun lagi pada Alena. Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Alena di tangga lalu masuk ke dalam kamar.


"Maafin aku Damar, aku tau kamu pasti marah sama aku, tapi aku cuma pengen liat kamu bahagia!" batin Alena.


....


Alena masuk ke dalam kamar, Ia pun melihat Damar sudah tertidur di atas kasur. Lalu Alena berjalan menghampiri Damar seraya menatap wajah nya. Setelah itu Alena masuk ke dalam kamar mandi, Ia berniat membasuh wajah nya sebelum tidur.


Namun kejadian tak terduga terjadi, tiba tiba saja ada seekor kecoa yang terbang di dalam kamar mandi hingga membuat Alena terkejut dan panik. Ia pun berteriak lalu berlari keluar untuk menghindari binatang menjijikan yang paling Ia takuti itu.


Saat tengah berlari keluar, Alena menabrak Damar hingga membuat kedua nya terjatuh bersama. Alena pun menatap Damar dengan tatapan terkejut nya.


"Damar!" ucap Alena lalu segera bangun dari atas tubuh Damar.


Damar pun ikut bangun juga sembari menahan sakit di tubuh nya karena telah di tabrak oleh Alena. "Alena, kenapa si kamu lari lari gini trus teriak? bikin aku kaget!" ucap Damar


"Aku ini lagi ketakutan, soal nya ada kecoa yang terbang di dalem kamar mandi!" jelas Alena


"Apa? kecoa?" Damar langsung berjalan ke arah kamar mandi lalu mengecek nya, Ia melihat ke arah sudut kamar mandi untuk mencari kecoa yang di maksud oleh Alena.


Cukup lama Damar berada di dalam kamar mandi, rupa nya Ia sedang mencari binatang tersebut. Namun binatang yang di maksud oleh Alena itu rupa nya sudah tidak ada.


Lalu Damar keluar. "Mana? gak ada tuh kecoa nya!" ucap Damar lalu berjalan menuju ke arah kasur, Ia pun merebahkan kembali tubuh nya di atas kasur dengan santai. "Kamu bohong ya?" sambung Damar


"Aku gak bohong Damar, tadi tuh beneran ada kecoa nya, kenapa si kamu gak percaya?" omel Alena




Alena pun jadi kesal. "Apa? aku ini beneran lagi ketakutan Damar, tapi kamu malah ketawa dan nganggep ini cuma candaan doang? di mana si pikiran sama hati kamu?" oceh Alena



Damar pun langsung terdiam dari tawa nya lalu menatap Alena. "Pikiran sama hati aku ada di kamu, Alena. Kamu selalu ada di dalam pikiran sama hati aku!" ucap Damar lalu tersenyum.


Perkataan Damar makin membuat Alena kesal di buat nya. "Omong kosong!" Alena langsung pergi keluar dari kamar.


Alena kesal dan marah pada Damar karena Damar menganggap ketakutan nya hanya lah sebuah lelucon. Padahal Ia memang benar benar takut pada binatang tersebut.


Lalu Alena duduk sendirian di sebuah kursi yang tidak jauh dari rumah nya. Padahal jam sudah menunjukan pukul 23.00 WIB, namun Alena masih belum tidur dan malah berada di luar rumah.


"Kenapa si semua orang nyebelin banget? gak Damar, gak ibu, semua nya nyebelin, gak ada yang bener bener peduli sama aku!" oceh Alena



"Siapa bilang gak ada yang peduli? aku peduli sama kamu!" sahut Damar yang tiba tiba saja muncul lalu berjalan mendekat menghampiri Alena. "Kenapa kamu pergi gitu aja? ini udah malem, cuaca di luar juga dingin, Na. Aku gak mau kamu sakit!"


Damar langsung duduk di samping Alena lalu menutupi tubuh Alena dengan selimut yang Ia bawa dari rumah. Damar menutupi tubuh Alena dengan selimut agar Alena tidak kedinginan karena berada di luar.


Alena memperhatikan sikap perhatian Damar pada nya. "Kenapa kamu malah nyusul aku ke sini? biarin aku sendiri!" Alena masih kesal.


"Alena, aku minta maaf kalo candaan aku tadi bikin kamu marah, aku gak bermaksud begitu. Aku cuma mau bikin kamu ketawa dan lupa sama masalah yang terjadi, tapi sayang nya candaan aku malah bikin kamu tambah marah, maaf!" jelas Damar lalu menggenggam tangan Alena.

__ADS_1


Alena menatap Damar. "Dam, kenapa si kamu masih mau bertahan sama aku? padahal kan kekurangan aku tuh banyak, aku ngambekan, emosian, dan juga udah gak sempurna, kamu bisa dapetin yang lebih baik dari aku Damar, kamu-"


"Sssstttttt..." Damar langsung menutup mulut Alena dengan jari telunjuk nya agar Alena tidak berbicara lagi. "Udah, aku gak mau denger apa pun lagi, aku udah pernah bilang kan kalo aku tuh gak peduli sama kekurangan yang kamu punya Na, inti nya aku cinta dan sayang sama kamu apa ada nya!" sambung Damar menatap Alena.


Setelah itu, Damar memeluk Alena dengan penuh kasih sayang. Damar begitu mencintai dan menyayangi Alena walaupun Ia tahu Alena tidak sempurna.


Damar selalu bisa memberikan kenyamanan dan keamanan pada Alena hingga membuat Alena merasa di cintai dan di butuhkan.


.....


Pagi itu.


Alena tengah bersiap siap untuk pergi ke kantor lama nya. Ia pun bercermin di sebuah cermin yang menempel di dinding kamar nya seraya merapihkan pakaian dan hiasan make up di wajah nya.


Tak lama kemudian, Damar keluar dari dalam kamar mandi lalu melihat Alena. Ia bingung karena pagi itu Alena berpakaian formal dan rapih.


"Kamu mau kemana, Na? kok rapih banget?" tanya Damar


"Aku mau pergi ke kantor lama ku, aku mau lanjutin kerjaan aku, Dam!" jawab Alena lalu kembali melihat ke arah cermin. "Aku kan udah gak hamil lagi, jadi aku mutusin buat masuk kerja lagi!" sambung nya.


Damar sedikit terkejut. "Apa? kerja lagi? tapi Na biar aku aja yang kerja, kamu gak usah!" pinta Damar


Alena menoleh lagi ke arah Damar. "Damar, aku mohon sama kamu, tolong ijinin aku buat kerja lagi, aku bosen di rumah sendirian. Lagian aku juga kangen banget sama Tiara, udah lama aku gak ketemu dan ngobrol sama Dia!"


Dengan berat hati, Damar pun memberikan izin pada Alena untuk bekerja lagi di kantor lama nya. Alena memang sempat berhenti bekerja di kantor lama nya karena pada saat itu Ia sedang hamil.


Setelah itu, Damar berangkat bersama Alena menuju ke arah kantor JPB. Mereka berdua memang sempat bekerja di kantor yang sama, namun beda bagian dan ruangan.


Setiba nya di kantor, Damar menyuruh Alena untuk masuk ke dalam ruangan pak Fandi. Alena pun masuk lalu meminta pada pak Fandi untuk memberikan nya kesempatan bekerja lagi di kantor JPB tersebut.


Kebetulan Alena memang sudah bekerja lama di kantor tersebut, dan Ia juga memiliki banyak keahlian dalam bidang tersebut. Hasil kinerja Alena juga di kenal bagus. Oleh karna itu, pak Fandi pun memberikan Alena kesempatan untuk bekerja lagi di kantor nya.


Alena tersenyum seraya menjabat tangan pak Fandi. "Makasih banyak ya pak, saya seneng bisa bergabung lagi di kantor ini!"


"Iya sama sama Alena, selamat bergabung di kantor kami!" ucap pak Fandi lalu tersenyum.


"Iya pak makasih!"


Setelah itu, Alena pun keluar dari ruangan pak Fandi. Ia pergi ke bagian ruangan Damar untuk memberitahukan kabar gembira tersebut pada nya, namun Damar tidak ada.


Tiba tiba saja..


"Alena!"


Alena pun menoleh. "Tiara?" Alena langsung memeluk Tiara dengan erat hingga membuat Tiara tak bisa bernapas.


"Aduh ya Allah Na, gila leher gue ini ke cekek coeg!" Tiara berupaya melepaskan pelukan erat Alena.


Alena pun langsung melepaskan pelukan nya pada Tiara. "Ya Allah Ra maafin gue ya, soal nya gue kangen banget sama lu!"


"Iya sama Na, gue juga kangen bet sama lu ya Allah, eh tapi lu lagi ngapain si di sini, Na? lu lagi nyari Damar ya? kok pakaian lu rapih amat si? tumben. Eh, apa jangan jangan lu udah mulai kerja lagi ya di sini? ya Allah, seriusan Na? ih gila, gue seneng banget!" cerocos Tiara


"Ra, kenapa si lu nyerocos mulu? mendingan kita ngobrol aja deh di kantin, ntar gue ceritain dah sama lu!" Alena langsung mengajak Tiara ke kantin belakang kantor.

__ADS_1


__ADS_2