
Alena buru buru masuk ke dalam kamar nya lalu duduk di depan cermin seraya menatap diri nya sendiri. 'Damar ngomong apaan si tadi? maksud nya apa? kok tiba tiba gue jadi deg deg kan gini ya?' gumam nya.
Tak lama setelah Alena masuk, Damar pun masuk ke kamar lalu menghampiri Alena. Damar berdiri di belakang Alena lalu memegang kedua bahu Alena. Kedua mata Alena langsung membulat seraya menatap Damar di cermin. Damar tersenyum pada Alena hingga membuat Alena salting sendiri karena tatapan Damar.
Wajah Alena langsung memerah seperti kepiting rebus kala mengingat perkataan Damar. Lalu Alena bangun dari duduk nya, Alena mencoba untuk menghindari Damar, namun tangan Alena langsung di pegang oleh Damar.
"Hey, mau kemana si? buru buru banget, sini aku mau ngomong" goda Damar lalu menarik tangan Alena hingga membuat Alena masuk ke dalam pelukan Damar. Alena pun hanya terdiam menatap Damar.
Lalu Damar menyelipkan anak rambut Alena ke belakang telinga Alena, perlakuan lembut Damar membuat Alena bergidik geli. Raut wajah Alena makin memerah karena malu dengan perlakuan suami nya.
Damar tersenyum melihat reaksi Alena, lalu Damar menatap bibir merah alami yang di miliki Alena. Damar mendekatkan wajah nya ke arah wajah Alena.
"Damar, kamu mau ngapain?"
Damar menatap bibir merah alami milik Alena. "Alena, aku mau...." Damar sengaja menjeda ucapan nya seraya mendekatkan wajah nya ke arah wajah Alena. Alena pun langsung memejamkan kedua mata nya seraya memanyunkan bibir nya di depan Damar.
Lalu Damar terkekeh. "Kamu ngapain si Na manyun manyunin bibir nya kayak gitu?" seketika mata Alena langsung terbuka saat mendengar tawa Damar.
Alena pun bingung. "Lah? bukan nya tadi kamu mau-" Alena menghentikan ucapan nya karena bingung melihat Damar masih tertawa dengan geli nya.
"Siapa yang mau nyium kamu si Na? orang aku mau ngambil hape aku nih di belakang kamu, dih... udah geer aja!" ledek Damar lalu mengambil ponsel milik nya. Karena sudah terlanjur malu, Alena pun langsung pergi keluar meninggalkan Damar.
.....
Alena duduk seorang diri seraya menonton televisi, rasa kesal di hati nya masih ada. Lalu Damar datang menghampiri Alena, Damar duduk di samping Alena. Kedatangan Damar tentu saja di sadari oleh Alena, Alena hanya menoleh sekilas lalu memutar jengah bola mata nya.
Alena bangun lalu beranjak pergi dari sana, namun tangan Alena di tarik oleh Damar hingga membuat Alena jatuh duduk di atas pangkuan Damar. Alena langsung menatap Damar dengan jutek nya.
"Kamu mau ngapain sih, Dam? aku mau tidur!" Alena mencoba untuk bangun dari sana namun pinggang Alena di tarik lagi oleh Damar. "Lepas! aku ngantuk, mau tidur!"
"Yaudah, ayo!" ajak Damar seraya menatap Alena dengan wajah santai nya. "Aku juga ngantuk, yuk kita tidur sekarang!" sambung nya.
__ADS_1
Alena langsung memalingkan wajah nya ke arah lain. "Enggak! kamu aja sana tidur sendiri!" jawaban dari Alena membuat Damar gemas. Namun Damar menanggapi ucapan Alena dengan senyuman.
"Cie.... ngambek nih cerita nya!" ledek Damar lalu mencubit hidung Alena
"Apa sih!" Alena menanggapi Damar dengan jutek. Rupa nya Alena masih marah karena kejadian tadi di kamar. Lalu Damar menarik pinggang Alena, Damar memeluk Alena lalu menempelkan kepala nya di dada Alena.
Damar memejamkan kedua mata nya seraya merasakan detak jantung Alena. "Hmm.. rasa nya nyaman!" ucap Damar.
Cukup lama Damar menyandarkan kepala nya di dada Alena, Alena hanya terdiam dan membiarkan Damar bersandar di dada nya. Lalu Alena mengusap lembut kepala Damar, usapan lembut tangan Alena rupa nya membuat Damar tersadar.
Damar pun menguraikan tangan nya dari pinggang Alena lalu menatap nya. Wajah cantik natural Alena mampu menghipnotis Damar, Damar merangkum wajah Alena lalu mencium bibir nya tanpa aba aba hingga membuat Alena sedikit terkejut. Pasal nya ciuman itu begitu tiba tiba, dengan spontan Alena langsung mendorong dada Damar hingga membuat dua bibir itu terpisah.
Alena bangun dari atas pangkuan Damar, di ikuti oleh Damar yang ikut bangun juga dari tempat duduk nya. "Kenapa?" Damar kembali menarik pinggang Alena agar mendekat ke arah nya.
"Aku ngantuk, aku mau tidur duluan!" Alena melepas tangan Damar yang menempel di pinggang nya lalu berjalan pergi begitu saja meninggalkan Damar.
Damar berjalan mengekori Alena dari arah belakang sampai tiba di pintu kamar, Damar memegang tangan Alena lalu menarik nya sampai Alena jatuh ke dalam pelukan Damar.
Alena terkejut. "Damar!"
Damar mendorong Alena sampai Alena jatuh di atas kasur nya, Damar membiarkan Alena berbaring atas sana. Setelah itu, Damar pun melepas ciuman nya pada Alena, Damar membuka pakaian nya lalu kembali ke atas kasur dan menindih sebagian tubuh Alena.
"Dam, kamu-"
"Sssstttt" Damar langsung menutup bibir Alena dengan jari telunjuk nya. "Aku punya cara tersendiri dalam nyelesain masalah!" sambung nya lalu tersenyum.
Damar mulai mencium kening Alena, hidung, lalu ke bibir Alena. Damar mencium bibir Alena dengan penuh kelembutan. Alena pun mengikuti gerakan bibir Damar. Lalu ciuman Damar berpindah ke bagian leher, Damar membuat beberapa tanda kepemilikan di sana. Setelah itu, mereka pun melakukan hubungan layak nya pasangan suami istri.
.....
Pagi begitu cerah, Damar tengah bersiap siap berangkat ke kantor. Lalu Alena keluar dari kamar mandi seraya mengusap usap rambut nya yang masih basah dengan handuk kecil.
__ADS_1
Tanpa sadar, rupa nya ada sepasang bola mata yang sedari tadi memperhatikan Alena di ujung sana. Damar memperhatikan Alena dari atas kepala sampai ujung kaki, tatapan mata nya berakhir di bagian leher Alena, ada banyak sekali tanda kepemilikan buatan Damar.
'Cantik' gumam nya, Damar menghampiri Alena yang kala itu tengah mengeringkan rambut nya dengan hair dryer di depan cermin.
Tiba tiba saja Damar memeluk Alena dari belakang lalu mencium tekuk leher nya. Damar membenamkan wajah nya di bahu Alena, sikap Damar tentu saja membuat Alena bingung. "Kenapa?" tanya Alena
Damar hanya menggelengkan kepala nya saja tanpa menjawab. Lalu Alena memutar tubuh nya menghadap ke arah Damar, Alena menatap Damar. "Ada apa, Dam?"
"Engga ada apa apa sayang, aku cuma mau bilang makasih buat semalem, kamu hebat main nya" ledek Damar lalu terkekeh
Alena memukul pelan dada Damar karena telah menggoda nya. "Ih, apaan si Dam? gak usah ngeledek, aku malu ih" Alena langsung menutup wajah malu nya di depan Damar.
Damar menurunkan tangan Alena yang menutup wajah nya, lalu Damar menatap Alena dengan lekat. Damar mendekatkan wajah nya ke arah wajah Alena. Rupa nya Damar ingin mencium bibir Alena, namun dengan cepat tangan Alena menutup bibir Damar. "Stop! udah sana berangkat, belom puas semalem? liat nih leher aku, banyak banget lukisan yang kamu buat!"
Damar memperhatikan leher Alena lalu terkekeh. "Gak apa apa, bagus kan lukisan yang aku buat, kan aku udah bilang kalo aku punya cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah!"
"Oh... dengan cara melukis di sini gitu?" Alena memperlihatkan tanda yang Damar buat semalam di leher nya.
Damar tersenyum. "Aku bisa kok nambahin lagi kalo kamu mau!" ledek Damar
"Gak! udah sana berangkat!" titah Alena seraya mendorong tubuh Damar.
"Ah.. males! lagi gak semangat"
Alena langsung mencium pipi Damar. "Nih biar semangat"
"Nah gitu dong, tapi masih ada yang kurang nih!"
Alena menyilangkan kedua tangan nya di depan Damar. "Apa lagi?"
"Ini" Damar menunjuk nunjuk bibir nya di depan Alena. "Aku mau nya di cium di sini, baru aku semangat!" sambung nya.
__ADS_1
Alena menyipitkan mata nya. "Ogah!" Alena beranjak pergi dari hadapan Damar namun tangan nya di tarik oleh Damar. Tanpa aba aba, Damar langsung mencium bibir nya.