Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Alena tengah menunggu Damar di depan teras rumah, tiba tiba saja terdengar suara seseorang yang mengucapkan salam dari balik gerbang rumah. Alena pun langsung menjawab salam tersebut lalu bergegas membuka pintu gerbang.


Alena terkejut melihat tamu yang datang, rupa nya pak Joko dan ibu Asih yang datang berkunjung ke rumah. Senyum hangat dari pak Joko membuat Alena ikut tersenyum. Alena langsung mencium punggung tangan pak Joko dan ibu Asih lalu mempersilakan kedua orang tua nya Damar untuk masuk ke dalam.


"Ibu, bapak! gimana kabar nya?"


"Alhamdulilah sehat, Damar mana? belom pulang ya?" tanya pak Joko


"Iya pak, mungkin sebentar lagi!" jawab Alena. "Tunggu sebentar pak, bu!" sambung nya lalu beranjak pergi menuju ke dapur. Alena menyiapkan teh hangat serta cemilan ringan untuk pak Joko dan ibu Asih.


Setelah itu, Alena membawa satu nampan yang berisi teh hangat dan sedikit cemilan untuk kedua orang tua Damar. "Silakan pak, bu! teh nya di minum!"


"Oh iya iya, makasih ya Alena!" ucap pak Joko lalu mulai menyeruput teh hangat tersebut. "Emm.. kamar mandi dimana ya? bapak mau ke toilet sebentar, boleh?" sambung nya lalu bangkit dari tempat nya duduk.


"Oh boleh pak, ada di sebelah sana" Alena mengarahkan tangan nya ke arah toilet di dekat dapur rumah nya. Pak Joko pun langsung beranjak pergi dari sana.


Suasana nya tiba tiba berubah saat pak Joko tak ada, ibu Asih hanya diam menatap Alena dengan tatapan datar nya. Alena pun ikut terdiam lalu menunduk. Tak lama, ibu Asih pun memulai percakapan nya dengan Alena.


"Kapan pulang nya? kok tau tau udah ada di sini aja, ibu denger kamu pergi dari rumah? kok balik lagi?" tanya ibu Asih dengan sinis.


"Emm.... iya bu, Alena di jemput sama Damar kemaren"


Ibu Asih menatap sinis. "Di jemput? manja banget di jemput, kenapa sih kamu selalu nyusahin anak ibu? kamu pergi sendiri ya pulang nya juga harus sendiri dong, jangan manja, apalagi nyusahin Damar"


Ucapan ibu mertua nya langsung membuat Alena sakit hati, menyusahkan? bukan kah Damar itu suami nya? sudah seharus nya bukan Damar mencari diri nya? lalu di mana letak kesalahan nya? mengapa ibu Asih lupa pada kejadian waktu itu, padahal perkataan beliau lah yang membuat Alena sakit hati lalu pergi meninggalkan rumah.


Perkataan ibu Asih selalu menyakiti hati nya, namun Alena hanya diam menahan semua rasa sakit di hati nya. Mengapa ibu mertua nya itu bisa tega mengatakan hal itu pada diri nya? apa salah nya? lagi lagi hati Alena di lukai oleh perkataan ibu mertua nya itu.


"Maafin Alena bu, Alena salah" hanya kata itu yang terucap dari mulut Alena. Alena hanya tak ingin memperpanjang masalah, apalagi ribut dengan ibu dari suami nya sendiri. Hal itu pasti memalukan sekali bila sampai di dengar bahkan di lihat oleh orang lain.


Lalu Alena menyibakan rambut nya ke arah belakang hingga membuat tanda merah di leher nya terlihat jelas. Kedua mata ibu Asih langsung membelalak karena melihat tanda merah di leher Alena. Ibu Asih pun paham dengan tanda merah di leher Alena, apa lagi tanda merah itu tak hanya satu tapi ada banyak.

__ADS_1


"Kamu tuh harus nya punya malu, tanda merah di leher kayak gitu kok di pamerin sih" ucap ibu Asih dengan pandangan mata yang masih mengarah ke arah leher Alena. Dengan cepat Alena pun langsung menguraikan kembali rambut nya ke arah depan sampai tanda merah tersebut tertutup.


Tak lama kemudian, pak Joko datang setelah selesai dengan urusan nya di toilet. Pak Joko duduk kembali di ruang tamu bersama istri dan menantu nya, mereka berbincang sembari menunggu Damar pulang dari kantor.


Saat tengah membicarakan Damar, tiba tiba saja terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Rupa nya Damar sudah pulang dari tempat nya bekerja. Damar pun masuk ke dalam rumah lalu mengucapkan salam.


Semua mata langsung tertuju ke arah pintu rumah. Alena bergegas bangun menyambut kedatangan suami nya, Alena menghampiri Damar lalu mencium punggung tangan nya. Pak Joko tersenyum saat melihat putra nya itu, Damar berjalan menghampiri pak Joko dan ibu Asih lalu mencium punggung tangan mereka.


"Bapak sama ibu kapan dateng? kok gak ngasih tau Damar kalo mau kesini?" tanya Damar lalu duduk bersama Damar.


"Iya soal nya dadakan, bapak pengen maen ke rumah baru kamu, emang gak boleh?" jawab pak Joko.


"Ya boleh lah, siapa yang ngelarang? Gimana kabar bapak sama ibu? sehat? Putri mana? kok gak ikut?"


"Iya alhamdulilah sehat, adek kamu itu udah gede jadi mana mau ikut ke sini, dia banyak tugas!" jawab pak Joko


"Oh... iya juga si, di tambah lagi si Putri udah mau lulus sekolah jadi pasti nyari kerja nih!" jawab Damar. "Em... yaudah, kalo gitu Damar mau mandi dulu ya pak, bu. Soal nya udah gerah banget nih!" Damar beranjak pergi dari ruang tamu lalu masuk ke kamar nya.


"Alena, kamu urusin dulu suami kamu sana, mungkin Damar butuh sesuatu" titah pak Joko lalu di jawab Alena dengan anggukan kepala dan senyuman. Alena pun beranjak pergi dari sana lalu masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar.


Alena merapikan kemeja dan celana milik Damar yang berserakan di atas kasur. "Ya Allah, berantakan banget sih!" oceh Alena seraya memasukan kemeja kerja dan celana Damar ke dalam tempat khusus.


Setelah selesai, Alena duduk di atas kasur seraya mengingat kembali perkataan ibu mertua nya itu. Lagi lagi air mata nya keluar dari sudut mata nya tanpa di minta, Alena memang tak bisa menahan air mata nya lagi.


Saat tengah menangis, tiba tiba saja Damar keluar dari dalam kamar mandi lalu berjalan menghampiri Alena. Dengan cepat, Alena pun langsung mengusap air mata nya.


Damar memegang pundak Alena. "Na, kamu kenapa? kamu abis nangis ya?"


"Engga kok!"

__ADS_1


Damar merangkum wajah Alena. "Bohong! itu kenapa mata nya merah? kamu tuh gak bisa bohong Alena, kamu kenapa?"


"Aku beneran gak apa apa, Damar. Aku cuma lagi kangen aja sama mamah aku" Alena sengaja mencari alasan lain agar Damar tidak bertengkar dengan ibu nya. Karena hari ini adalah moment spesial untuk Damar. Damar berulang tahun hari ini, dan Alena tak ingin merusak moment tersebut.


Damar tersenyum seraya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Alena. "Udah ya sayang jangan sedih lagi, cukup kita doain aja. Aku janji, apapun yang terjadi aku bakal jagain kamu, bagaimana pun keadaan kamu, aku janji!" Damar memeluk Alena dengan lembut.


Alena hanya tersenyum mendengar ucapan Damar. Memang benar, berada di pelukan Damar begitu nyaman dan menenangkan, Alena merasa tenang jika Damar berada di sisi nya. Semua hal yang terasa melelahkan dan berat bagi nya rasa nya lepas begitu saja saat di peluk oleh Damar. Lalu Alena menguraikan pelukan nya pada Damar seraya menatap Damar.


"Em... kamu mau makan apa, Dam? biar aku masakin, sekalian buat makan malem bapak sama ibu!"


"Apa aja deh"


"Ih, kok apa aja si? aku bingung kamu mau makan apa, Damar? ntar kalo misal nya aku masakin udang pedes kamu gak doyan?"


"Doyan!" jawab Damar. "Oh iya, kamu gak lupa kan hari ini hari apa?" sambung nya.


"Hari apa ya? oh iya, hari kamis!" ucap Alena dengan santai nya. Damar pun langsung mengecup bibir Alena hingga membuat Alena sedikit terkejut. "Ih... apa sih!"


"Itu hukuman karna kamu lupa sama ultah suami kamu sendiri!" ucap Damar.


"Iya iya maaf, sayang ku!"


"Kata nya mau masak? yaudah masakin apa aja bebas aku mah, apapun yang mau kamu masak pasti enak!" sambung Damar.


Perkataan Damar membuat kedua pipi Alena merah merona karena menahan malu telah di puji, Alena pun langsung memukul manja dada bidang Damar. Damar tersenyum lalu menyelipkan lagi anak rambut Alena ke arah belakang telinga Alena. Damar memajukan kepala nya ke arah telinga Alena, Alena pun memejamkan kedua mata nya.


"Aku sayang kamu, Alena" bisik pelan Damar di telinga Alena, bisikan itu membuat Alena tersenyum. Alena pun membuka mata nya, Damar dan Alena saling bertatap mata. Lalu Damar merangkum wajah Alena, kedua mata Alena terpejam, Damar langsung mencium bibir Alena.


Lalu kedua tangan Damar beralih ke arah pinggang Alena, Damar memeluk Alena. Namun saat Damar ingin melakukan lebih jauh lagi, tiba tiba saja Alena menghentikan semua aksi nya hingga membuat Damar berhenti.


"Kenapa, Na?"

__ADS_1


"Aku lupa, Dam! di bawah kan ada bapak sama ibu kamu lagi nunggu kita, gak enak kalo kita kelamaan di sini, ayo turun!" Alena pergi meninggalkan Damar.


"Yaelah, Na!" dengan raut wajah kesal nya, Damar pun menuruti Alena.


__ADS_2