Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Penjelasan Alena


__ADS_3

Damar dan Alena kembali satu rumah lagi, semua kembali beraktifitas seperti biasa nya. Namun ada sedikit perubahan pada Damar, sejak Alena menerima hadiah cincin dari Bagas sikap nya langsung berubah.


Biasa nya Damar selalu hangat menyapa Alena setiap pagi, kini semua berubah. Damar lebih banyak diam dan cuek pada Alena. Perubahan Damar tentu saja di sadari oleh Alena, namun Alena hanya bisa diam melihat perubahan sikap suami nya itu.


Hari itu Alena tengah memasak di dapur, Ia memasak makanan kesukaan Damar, nasi goreng. Alena mencoba untuk memperbaiki hubungan nya dengan Damar.


Sementara Damar, Ia tengah bersiap siap di kamar nya untuk berangkat ke kantor. Lalu Damar keluar dari dalam kamar, Ia berjalan ke arah ruang tengah.


Saat itu Damar melihat Alena di ruang tengah. Alena sedang menyiapkan sarapan pagi untuk nya. Kebetulan Alena sedang tidak bekerja karena masih jadwal cuti nya. Alena tersenyum ke arah Damar lalu menghampiri Damar.


Alena memegang tangan Damar. "Dam, kita sarapan dulu yuk!" ajak Alena. Namun ajakan Alena malah di abaikan oleh Damar, Damar hanya terdiam menatap Alena dengan datar lalu melepas genggaman tangan Alena.


Dengan enteng nya Damar berjalan pergi begitu saja meninggalkan Alena. Sikap acuh Damar tentu saja membuat hati Alena sakit, namun mau bagaimana lagi? toh Damar bersikap seperti itu juga karena kesalahan nya juga.


Alena hanya terdiam melihat punggung belakang suami nya yang sudah lenyap dari pandangan mata nya. Damar benar benar marah pada Alena, bahkan Damar tidak menoleh sedikit pun ke arah belakang.


.....


Damar mulai mengerjakan pekerjaan nya seperti biasa, Damar terlihat fokus di depan komputer nya. Lalu Rayhan datang ke ruang kerja Damar seraya membawa beberapa lembar tugas yang harus Damar kerjakan.


"Dam, ini gue taro sini semua ya?" Rayhan meletakan tugas Damar di atas meja kerja Damar.


"Hmm" hanya itu saja yang keluar dari mulut Damar, sikap Damar yang aneh membuat Rayhan bertanya tanya pada diri nya sendiri, ada apa dengan Damar? apa dia telah melakukan kesalahan? begitu lah kira kira isi kepala Rayhan saat Damar mengacuhkan diri nya.


"Dam, lu kenapa si? tumben amat muka lu kek kesel gitu, lu marah ya sama gue? gitu amat jawab nya" Rayhan menghujani Damar dengan pertanyaan karena Damar tidak seperti biasa nya.


Lalu Damar menoleh ke arah Rayhan, Damar menatap Rayhan dengan datar. "Siapa juga yang marah sama lu, gue tuh lagi gak mood tau, udah sana keluar!"


"Idih, ngusir. Eh Dam, gimana? Alena udah ketemu belom? gue denger Dia pergi dari rumah, emang bener?"


"Hmm"


"Trus gimana? udah ketemu?"


"Iya, udah"


"Alhamdulilah kalo udah ketemu, trus dia di mana sekarang, Dam? kok gak keliatan? apa dia gak masuk? emang kenapa si dia pergi dari rumah, Dam? pasti gara gara lu kan?" Rayhan terus menghujani Damar dengan pertanyaan menyebalkan hingga membuat Damar kesal.


"Han, bisa gak si berhenti nanya nanya? kepo banget lu, gue tuh lagi pusing nih!" Damar mulai kesal karena sepupu nya begitu ingin tahu soal Alena.


Rayhan tertawa kecil saat melihat reaksi kesal di wajah Damar. "Yaudah si santai aja kali, gue kan cuma nanya doang" ucap Rayhan. "Oh iya, kemaren tuh bu Deh nanyain elu tau, lu kenapa lagi si sama bu Deh, Dam? berantem lagi ya?" sambung nya


Damar menatap dingin. "Gak usah kepo deh Han, udah sana keluar!" Damar mengusir sepupu nya itu untuk keluar dari ruangan nya.


"Iya iya ini gue keluar, buset dah galak amat udah kayak orang lagi PMS aja lu, Dam" ledek Rayhan. "Nih ya gue kasih tau, jaga dia selagi ada, kalo gak di jaga baik baik lu bakalan nyesel nanti nya!" sambung nya


Damar tak menjawab, Ia hanya menatap Rayhan dengan tatapan datar nya. Tatapan datar sepupu nya itu seperti mengartikan bahwa Rayhan harus segera keluar dari ruang kerja nya. Jika tidak, entah apa yang akan di lakukan oleh Damar.


"Oke broh, gue keluar nih" Rayhan langsung pergi dari ruangan Damar.


....


Sepulang kerja, Damar pergi mengunjungi sahabat nya, Rifki. Rupa nya Rifki masih setia bekerja di tempat lama nya, tempat di mana pertama kali Damar bekerja.

__ADS_1


"Ki, apa kabar lu?" ucap Damar melambaikan tangan lalu menghampiri Rifki yang kala itu tengah memperbaiki motor customer. Rifki pun tersenyum ketika melihat sahabat lama nya datang menemui nya.


Rifki langsung menghampiri Damar, mereka berjabat tangan seperti biasa. Lalu mereka duduk di kantin belakang. "Kabar gue baik Dam, lu gimana kabar nya? dah lama lu gak maen ke sini"


"Iya nih Ki, alhamdulilah gue baik cuma akhir akhir ini gue lagi sibuk sendiri, lu tau lah ya tanpa gue jelasin" ucap Damar.


Rifki hanya menganggukan kepala nya saja karena Rifki sudah mengetahui kesibukan Damar akhir akhir ini, yaitu sibuk mencari Alena.


"Trus gimana hasil nya? Alena udah ketemu?" tanya Rifki.


Damar hanya mengangguk, namun raut wajah Damar terlihat sedih karena saat ini hubungan kedua nya sedang tidak baik baik saja. Damar kesal jika mengingat kembali kejadian di rumah nenek Dharmi. Kejadian saat Alena dengan mudah nya menerima hadiah cincin dari pria lain yang bukan lain adalah Bagas, kakak angkat Alena.


"Dam, lu kenapa? bukanya seneng Alena udah ketemu? kok lu malah sedih gini, ada apa si broh?" tanya Rifki


"Hubungan gue sama Alena lagi gak baik baik aja nih Ki, biasalah ada sedikit masalah" jelas Damar


"Emang nya kenapa lagi, Dam?" Rifki makin penasaran dengan sahabat nya itu, hal apa yang membuat Damar sampai sedih seperti itu? Lalu Damar pun mulai menceritakan kejadian pada saat Alena tinggal di rumah nenek Dharmi.


Setelah mendengar cerita dari Damar, Rifki pun memberi nasihat bijak pada sahabat nya itu agar tidak terlalu berlebihan dalam menanggapi suatu hal. Namun Damar hanya terdiam mendengarkan setiap nasihat yang Rifki katakan.


Langit terlihat mendung, pertanda akan turun hujan deras. Damar pun buru buru menyudahi perbincangan nya dengan Rifki, Ia bergegas pergi menuju ke arah rumah.


Suara petir dan gemuruh di langit membuat Alena sedikit takut, pasal nya Damar belum juga pulang. Alena mengkhawatirkan suami nya itu, rintikan hujan mulai membasahi bumi.


Alena hanya berdiri di depan jendela kamar nya seraya menatap ke langit. "Ya Allah, udah jam segini Damar belom pulang juga, mana ujan nya deres banget!" gumam Alena


Alena terus memegangi ponsel nya, Alena ingin sekali menghubungi Damar namun Ia tahan. Akhir nya Alena hanya diam pasrah menunggu dan mendoakan keselamatan Damar.


Beberapa menit kemudian, Damar pulang. Alena pun langsung segera membukakan pintu rumah nya, namun Alena terkejut ketika melihat Damar pulang basah kuyup.


Namun lagi lagi Damar acuh, Ia hanya diam menatap Alena, lalu Damar bergegas masuk ke kamar nya. Damar seperti tidak peduli dengan Alena, padahal Alena begitu khawatir dengan Damar. Perubahan sikap Damar membuat Alena sedih.


"Mau sampe kapan si Dam kamu diemin aku kayak begini?" gumam nya seraya menatap punggung belakang Damar sebelum akhir nya bayangan Damar lenyap.


Selesai mandi, Damar merebahkan tubuh nya di atas kasur seraya bermain game di ponsel nya. Lalu Alena datang membawa makanan untuk Damar. Damar menoleh sekilas lalu kembali acuh pada Alena, Damar kembali melanjutkan game nya di ponsel.


Alena meletakan makanan tersebut di atas nakas. Lalu Alena duduk di samping Damar, Alena memperhatikan Damar yang kala itu tengah fokus bermain game di ponsel nya.


"Damar, bisa gak kita bicara sebentar? ada hal penting yang mau aku omongin sama kamu" Alena memulai percakapan dengan Damar.


Damar menoleh sekilas. "Hmm" Lalu kembali melihat layar ponsel nya. Hanya itu yang keluar dari mulut Damar, rupa nya Damar masih marah pada Alena. Damar benar benar mengacuhkan Alena, Damar tidak peduli dengan keberadaan Alena.


Sebegitu marah nya kah Damar pada Alena hingga membuat Damar langsung berubah seketika? sikap Damar yang acuh membuat Alena kesal.


"Damar, kamu kenapa si berubah gini? aku tau aku salah, aku minta maaf" ucap Alena. "Aku udah lepas cincin dari kak Bagas, aku simpen, sekarang kamu gak perlu marah lagi cuma karna hal sepele!" sambung nya


Seketika Damar pun menghentikan aktifitas bermain game nya, Damar menatap Alena dengan datar. "Sepele? mungkin buat kamu itu hal sepele, tapi buat aku enggak, Alena!" Damar kesal, Ia bangun dari duduk nya lalu kembali menoleh ke arah Alena. "Asal kamu tau, Dia tuh suka sama kamu!"


Damar langsung pergi meninggalkan Alena begitu saja, lalu Alena berlari mengekori Damar dari belakang. Alena memeluk Damar dari belakang lalu membenamkan wajah nya pada punggung Damar.


"Damar, aku mohon jangan kayak gini". pinta Alena. "Aku minta maaf!"


Rasa sakit di hati Damar membuat Damar berubah, yang membuat Damar sakit hati adalah saat Alena menerima hadiah cincin mahal dari pria yang tak lain adalah Bagas. Walaupun hanya sebuah cincin, namun tak mungkin jika Bagas hanya memberi hadiah saja tanpa maksud bukan?

__ADS_1


Damar juga seorang pria, jadi Dia tahu betul bagaimana sikap seorang pria saat jatuh cinta pada wanita. Dan hal itu Damar lihat sendiri dari sikap dan tatapan Bagas pada Alena. Mungkin Alena hanya menganggap Bagas sebagai kakak nya saja, namun dari tatapan mata Bagas tidak bisa bohong, terlihat jelas di mata Bagas kalau Bagas menyukai Alena.


Pernikahan mereka sudah berjalan sekitar dua tahun, namun rasa nya banyak sekali ujian pernikahan yang mereka hadapi. Ada saja masalah yang muncul dalam rumah tangga nya dengan Alena.


"Damar" lirih Alena


Damar melepas perlahan tangan Alena yang melingkar di perut nya lalu memutar tubuh nya menghadap Alena. "Aku butuh waktu buat sendiri dulu" ucap Damar


Kedua mata Alena terlihat memerah, rupa nya Alena tengah menahan tangis nya namun air mata tak bisa di bendung lagi. Air mata nya pun jatuh membasahi pipi.


"Apa maksud kamu mau sendiri dulu, Dam? apa kamu udah gak nganggep aku lagi? apa kamu mau kita akhirin pernikahan kita? atau kamu udah gak sayang lagi sama aku? apa maksud kamu?"


"Kenapa kamu berubah Dam? apa kesalahan aku sampe bikin kamu berubah gini? apa karna aku pergi dari rumah? atau karna aku nerima hadiah cincin itu?" pertanyaan Alena membuat Damar terdiam, diam nya Damar adalah jawaban bagi nya.


"Oke, sekarang aku paham" Alena mengerti dengan perubahan sikap Damar, walaupun Damar tidak mau menjawab, namun Alena sudah tahu. Damar marah karena kejadian kemarin di rumah nenek Dharmi.


Lalu Alena melangkah mundur ke belakang menjauhi Damar. "Kamu tau, aku pergi dari rumah bukan kemauan aku, tapi karna ibu kamu, ibu kamu gak suka sama aku hanya karna aku gak bisa ngasih kamu anak, dan soal hadiah cincin itu, aku minta maaf, kamu tenang aja aku bakal balikin cincin itu sama kak Bagas!" Alena keluar dari dalam kamar.


Mendengar perkataan Alena barusan, Damar pun terdiam seraya berpikir dengan asumsi nya sendiri. "Apa? ibu nyuruh Alena pergi? tapi kenapa ibu tega ngelakuin hal itu sama Alena? apa sikap aku udah berlebihan sama Alena?" gumam Damar.


.....


Damar keluar dari dalam kamar, Ia melihat Alena tidur di sofa ruang tengah. Damar pun menghampiri Alena lalu menatap wajah nya. "Kenapa dia tidur di sini?" ucap nya lalu berjongkok di depan Alena, Ia menatap wajah Alena lalu mengusap nya dengan lembut.


Rupa nya usapan Damar membuat Alena terbangun, Alena mengerjapkan mata nya lalu segera bangun dari tidur nya. Alena langsung mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


"Kenapa kamu tidur di sini?" tanya Damar, namun pertanyaan Damar tidak di jawab. Alena bangun dari duduk nya lalu beranjak pergi dari sana, namun Damar menarik tangan Alena. "Kenapa kamu gak jawab?"



"Buat apa aku jawab? bukan nya kamu sendiri yang bilang kalo kamu pengen sendiri? yaudah!" Alena berusaha melepas genggaman tangan Damar.


Memang benar, Damar sendiri yang ingin seperti itu, namun entah mengapa rasa nya sulit jika harus berjauhan seperti ini dengan Alena.



Damar menatap Alena. "Aku minta maaf Na, mungkin kamu bener, aku udah berlebihan!"


Alena hanya terdiam mendengar perkataan Damar, bukan kah Damar sendiri yang ingin sendiri? lalu kenapa tiba tiba dia berubah?



"Lepasin tangan aku, lebih baik kamu ikutin kata ibu kamu!" titah Alena


Damar menatap Alena lekat. "Ibu bilang apa sama kamu?"


"Ibu kamu mau cucu Dam, tapi aku gak bisa nurutin kemauan ibu kamu, karna aku gak bisa, tapi kamu bisa!"


"Yaudah kita turutin kemauan ibu"


"Maksud kamu?"


__ADS_1


"Ayo, kita coba sekali lagi Na, kamu siap?"


Sontak saja perkataan Damar membuat Alena terkejut, kedua mata Alena langsung membulat sempurna. Apa ini? apakah Damar menginginkan nya saat ini? apa kah kita harus mencoba nya lagi? entahlah, tapi memang sudah seharus nya bukan mereka mencoba lagi?


__ADS_2