
Sesampai nya di depan rumah, Alena langsung turun dari motor Damar lalu berjalan ke arah rumah nya. Sementara Damar, Ia tengah sibuk memarkirkan motor nya di dekat rumah Alena. Lalu Damar melihat Alena hanya berdiri saja di depan rumah nya, Ia tidak masuk ke dalam.
"Alena, kenapa diem di sini?" tanya Damar
"Emm... Dam, aku lupa kalo kunci rumah ku masih ada di Mamah, sekarang kan Mamah ku lagi di jalan belom nyampe, trus gimana dong?" ucap Alena
"Yaudah kita tungguin aja Mamah kamu sama orang tua ku dateng, dari pada kita berdiri di sini mendingan kita duduk aja di situ tuh, yuk!" ucap Damar langsung mengajak Alena untuk duduk di kursi depan rumah nya.
Alena pun duduk di samping Damar, namun tiba tiba saja Damar bangun dari duduk nya, Ia pergi ke arah motor nya untuk mengambil bungkusan nasi uduk yang belum sempat di makan oleh mereka. Lalu Damar kembali duduk di samping Alena, Ia memberikan bungkusan nasi uduk tersebut pada Alena.
"Nih, makan dulu!" ucap Damar sembari memberikan bungkusan nasi uduk tersebut
Lalu Alena menganggukan kepala nya sembari menerima bungkusan nasi tersebut, mereka berdua pun menyantap nasi uduk itu bersama sama.
Tak lama kemudian, ibu Retno dan kedua orang tua nya Damar datang. Mereka melihat Damar dan Alena tengah duduk di depan rumah sembari menyantap nasi uduk.
"Damar! Alena!" panggil ibu Retno yang berjalan menghampiri mereka berdua. Damar dan Alena pun langsung menoleh ke arah ibu Retno.
"Kok kalian berdua makan di luar sih?" tanya ibu Retno
"Kan kunci rumah nya ada di Mamah, jadi Alena gak bisa masuk ke dalem!" ucap Alena
"Oh... iya, yaudah yuk masuk!" ajak ibu Retno seraya membuka pintu rumah nya.
Kedua orang tua nya Damar dan ibu Retno pun duduk di ruang tamu, lalu ibu Asih langsung membahas soal hubungan putra nya dengan Alena. Ibu Asih juga meminta maaf pada ibu Retno atas semua kesalahan yang pernah di lakukan oleh nya dulu.
Sementara Alena, Ia masuk ke kamar nya untuk mandi dan bersiap siap. Selesai mandi, Alena pun keluar dari kamar nya lalu berjalan menuju ke arah dapur untuk membuatkan teh hangat dan kopi untuk kedua orang tua nya Damar.
Lalu Damar meminta izin pada ibu Retno untuk pergi ke toilet, ibu Retno pun mengizinkan Damar. Damar langsung berjalan menuju ke arah dapur, kebetulan juga toilet nya berdekatan dengan dapur.
Saat itu Damar melihat Alena tengah menyiapkan teh hangat dan kopi untuk kedua orang tua nya. Ia pun tersenyum lalu berjalan mendekat ke arah Alena. Ia mengendap endap seperti seorang maling, Ia berniat ingin menjahili Alena.
Karena merasa ada sesuatu yang aneh di belakang nya, Alena pun langsung menggengam sendok dengan kencang. Kemudian Ia berbalik badan ke arah belakang lalu mengarahkan sendok tersebut ke arah Damar. Ia menyabet Damar dengan sendok yang ada di tangan nya itu.
"Aw!" suara Damar yang kesakitan karena terkena sabetan ujung sendok.
Alena terkejut "ya allah Damar!" pekik nya. "Kamu gak apa apa?" sambung Alena sembari memegang lengan Damar.
Lalu Damar menoleh ke arah Alena, sontak Alena pun terkejut ketika melihat ada darah yang keluar di bagian pelipis alis Damar.
__ADS_1
"Ya allah, pelipis kamu berdarah!" ucap Alena
Damar pun langsung menyentuh pelipis alis nya, dan ternyata benar, Ia melihat ada darah yang keluar dari pelipis alis nya. Rupa nya sendok yang di arah kan oleh Alena tadi langsung mengenai pelipis alis nya.
"Ya allah Damar, aku minta maaf. Aku bener bener gak sengaja, aku pikir tadi siapa eh ternyata kamu!" ucap Alena yang panik seraya menyentuh wajah Damar.
Damar tersenyum "iya, aku gak apa apa. Lagian juga tadi niat nya aku emang mau ngerjain kamu, tapi aku malah kena batu nya sendiri hahaha..." ucap Damar lalu tertawa
Alena langsung memasang wajah jutek nya "lagian kamu ngapain sih ngendap ngendap segala, udah kayak maling ajah!" Alena mengomel
Damar tersenyum lagi "ya maaf sayang, kan aku mau ngajak bercanda tapi malah jadi begini. Yaudah kalo gitu aku ke toilet dulu bentar, aku mau pipis sekalian mau bersihin luka nya juga!" Damar langsung berjalan masuk ke dalam toilet.
Setelah itu, Alena bergegas keluar dari dapur sembari membawa nampan yang berisi teh hangat, kopi dan juga cemilan untuk kedua orang tua nya Damar dan ibu nya. Alena menyiapkan semua nya lalu duduk di samping ibu nya.
Tak lama kemudian, Damar pun datang. Ia duduk di samping ibu nya. Lalu Alena memperhatikan Damar, Ia melihat bagian pelipis alis Damar. Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di hati nya, sebenar nya Ia merasa bersalah karena telah melukai Damar tanpa sengaja.
Saat itu kedua orang tua nya Damar dan juga ibu Retno tidak menyadari kalau pelipis alis Damar sedang terluka, karena kedua orang tua nya Damar dan ibu Retno tengah fokus membahas soal pertunangan Damar dengan Alena.
"Ya kalo saya sih terserah sama anak nya aja, kalo emang Damar masih sayang sama Alena, ya saya sih setuju aja, bu Asih!" ucap ibu Retno
"Ya saya juga setuju!" ucap ibu Asih lalu melihat ke arah Damar. " Jadi gimana Damar menurut kamu soal rencana pertunangan ini? kamu mau tunangan sama Alena kapan?"
"Bapak, ibu... Damar gak mau tunangan!" ucap Damar.
"Damar, maksud kamu apa sih? jangan main main kamu sama Alena!" ucap pak Joko tegas
"Iya Damar, kenapa kamu gak mau tunangan sama Alena?" tanya ibu Asih
"Pak, bu... tenang dulu ya. Damar kan belom selesai ngomong!" ucap Damar pada kedua orang tua nya, lalu pandangan mata nya langsung beralih ke arah Alena.
Ia tersenyum pada Alena "Damar sayang sama Alena, dan Damar mau nya langsung menikahi Alena, jadi gak usah tunangan segala, kelamaan. Lebih cepat lebih baik kan?" Damar masih fokus menatap Alena.
Sontak perkataan Damar membuat Alena terkejut, Ia pun tersenyum pada Damar seraya menatap nya. Lalu kedua orang tua nya Damar dan ibu Retno juga ikut tersenyum ketika mendengar perkataan Damar.
...
Malam hari.
Akhir nya rencana pernikahan pun mulai di bahas oleh kedua orang tua nya Damar dan juga ibu Retno. Lalu pandangan mata Damar berfokus pada Alena, Ia tak mau mengalihkan pandangan mata nya pada wanita yang selama ini telah membuat hati nya bergulat hebat.
__ADS_1
Menyadari tatapan mata Damar, Alena pun tersenyum sebentar lalu Ia menundukan sedikit kepala nya untuk menghilangkan perasaan gugup nya karena di tatap oleh Damar. Sikap malu Alena membuat Damar makin gemas, Damar pun tersenyum dengan tatapan mata yang masih berfokus pada Alena.
Lalu tiba tiba saja Alena bangun dari duduk nya, Ia pergi keluar dari rumah nya. Pandangan mata Damar pun masih menatap ke arah Alena.
"Alena, kamu pergi ke mana?" tanya ibu Retno
"Alena mau pergi ke warung bentar, Mah. Ada yang mau Alena beli!" sahut Alena
"Oh... yaudah!"
"Bentar Na, aku ikut kamu!" Damar langsung bangun dari duduk nya lalu berjalan bersama Alena.
"Alena, emang nya kamu mau beli apa?" tanya Damar
"Mau beli obat luka buat kamu, liat tuh pelipis kamu kan luka gara gara aku!"
"Udah gak usah, kayak nya di mobil bapak ku ada obat luka sama hansaplast deh!" Damar langsung mengajak Alena menuju ke mobil pak Joko.
Damar masuk ke dalam mobil nya, Alena pun menunggu nya di luar sembari memperhatikan Damar.
"Ada gak?" tanya Alena
"Mana ya, coba deh bantuin aku nyari!" ucap Damar yang masih sibuk mencari
Alena pun langsung membuka pintu mobil nya lalu masuk ke dalam untuk mencari obat luka nya. Damar pun duduk di kursi kemudi sembari mencari cari obat luka nya, dan akhir nya obat luka tersebut di temukan oleh Alena.
"Damar, nih udah ketemu obat nya. Yaudah sini, aku mau olesin obat nya sama pasangin hansaplast nya!"
Damar tersenyum "Oke!" ucap Damar seraya menatap Alena dari jarak dekat. Kedua mata Damar rasa nya tak mau berkedip, entah kenapa jantung nya terasa berdetak dengan kencang saat Ia memandangi wajah Alena.
"Alena, kenapa ya kok rasa nya jantung aku berdetak nya kenceng banget?" tanya Damar
"Ya karna kamu itu manusia hidup Damar, jadi jantung nya berdetak lah, gimana sih!" ucap Alena dengan polos nya.
Damar pun hanya terdiam sembari tersenyum ketika mendengar perkataan Alena, lalu Ia menatap seluruh wajah Alena dengan lekat.
__ADS_1
"Kenapa si kamu ngeliatin aku kayak gitu? mau aku colok mata nya? iya?" ucap Alena dengan memasang wajah jutek nya seraya menatap Damar
Lalu Damar tertawa "ya Allah, galak banget si calon istri hamba ini, tapi walaupun kamu galak dan jutek aku tetep sayang kok sama kamu, Na!" ucap Damar menatap Alena