Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Beradu Argument


__ADS_3

Damar duduk di sebuah kursi, tiba tiba saja ada seorang wanita yang datang menghampiri Damar lalu memanggil nama nya.


"Hai Damar!"


Damar pun menoleh ke arah sumber suara, Ia tercengang saat melihat orang yang berdiri di samping nya.


"Rani?"


Rani hanya tersenyum lalu duduk di samping Damar, Rani juga terlihat membawa makanan untuk Damar. Lalu mereka berbincang sebentar di kantin kantor.


Di waktu yang sama, rupa nya Alena sudah melihat Damar dan Rani dari arah kejauhan. Mereka berdua terlihat akrab dan juga dekat, padahal saat itu Alena ingin menjelaskan pada Damar soal pertemuan nya kemarin dengan Daffa.


Namun Alena mengurungkan kembali niat nya itu setelah melihat Rani. Alena memperhatikan Damar dan Rani dari jauh, Damar dan Rani asik berbincang hingga terlihat senyuman dan juga tawa di wajah Damar.


Setelah puas memperhatikan, akhir nya Alena pun pergi dan membiarkan Damar berbincang dengan Rani. Alena masuk ke dalam ruangan kerja nya, Ia duduk sejenak di depan komputer lalu menangis.



Setelah itu, Alena mulai kembali melanjutkan pekerjaan nya. Lalu Tiara datang menghampiri meja kerja Alena. Tiara memperhatikan wajah Alena yang kala itu terlihat sedih.


"Na, lu kenapa?" tanya Tiara


"Gue gak kenapa napa kok, cuma lagi bete aja!"


"Serius?"


"Iya!"


Saat tengah asik berbincang, tiba tiba Riska datang ke meja kerja Alena. Riska langsung memberitahu Alena dan Tiara kalau mereka di panggil oleh pak Fandi.


Bukan hanya Alena dan Tiara saja yang di panggil oleh pak Fandi, namun ternyata semua karyawan yang berada di kantor juga ikut di panggil oleh pak Fandi dan masuk ke ruangan khusus.


Setelah semua karyawan berkumpul, pak Fandi langsung memperkenalkan seseorang yang akan bergabung di perusahaan nya tersebut. Rupa nya orang itu merupakan keponakan dari pak Fandi sendiri.


Banyak yang belum mengetahui dengan jelas sosok keponakan pak Fandi. Tak lama setelah itu, Rani pun masuk ke dalam ruangan khusus hingga membuat pandangan mata tertuju pada nya.


"Perkenalkan, ini keponakan saya nama nya Rani, Dia akan ikut bergabung di perusahaan ini sebagai wakil saya, dan Dia akan membantu kalian semua jika di perlukan!" ucap pak Fandi


Sontak saja kehadiran Rani di kantor tersebut membuat Alena terkejut dan tercengang. Pasal nya Alena tidak mengetahui sama sekali kalau ternyata Rani adalah keponakan pak Fandi.


Semua karyawan tersenyum sembari bertepuk tangan menyambut Rani. Lalu Alena melihat ke arah Damar, rupa nya Damar juga ikut bertepuk tangan sembari tersenyum ke arah Rani.


Hal itu tentu saja memancing rasa cemburu Alena. Namun Alena berusaha untuk tetap bersikap tenang dan biasa saja walaupun sebenar nya Ia sedikit kesal.


Lalu Tiara menyenggol tangan Alena seraya berbisik. "Eh Na, gue baru tau loh kalo ternyata pak Fandi punya ponakan, soal nya gue baru liat Na!"


"Iya gue juga baru tau!"


"Oh... lu baru ketemu dia juga Na?" bisik Tiara


"Iya Ra!"


Padahal Alena sudah pernah bertemu dengan Rani sebelum nya saat berkunjung ke rumah ibu mertua nya. Namun Alena malah berpura pura belum pernah bertemu dan kenal dengan Rani di depan Tiara. Hal itu sengaja Ia lakukan agar Tiara tidak penasaran dengan sosok Rani.


.....


Jam kerja telah usai, semua karyawan keluar dari kantor. Namun Alena masih terlihat sibuk di meja kerja nya, rupa nya masih ada beberapa lembar pekerjaan lagi yang harus Ia cek. Lalu Tiara datang ke meja kerja Alena, Ia mengajak Alena untuk pulang namun Alena menolak.

__ADS_1


"Yaudah, gue duluan ya Na takut anak gue nangis di rumah!" ucap Tiara


"Iya Ra, ati ati ya!"


"Iya Na, lu juga ya Na!" Tiara langsung pergi keluar meninggalkan Alena.


Tak lama setelah Tiara keluar, tiba tiba saja ada yang mengetuk kaca ruangan hingga membuat Alena menoleh ke arah sumber suara. Seketika Alena pun langsung menghentikan pekerjaan nya saat melihat orang yang mengetuk kaca ruangan.


"Damar!" ucap Alena


Damar masuk lalu duduk begitu saja dengan raut wajah masam. Alena pun hanya terdiam seraya memperhatikan raut wajah Damar. Rupa nya Damar masih marah dengan Alena namun di tahan.


"Kalo kamu udah selesai, kamu pulang duluan aja, aku nanti!" ucap Alena seraya melanjutkan pekerjaan nya.


Namun Damar tak bergeming, Ia hanya terdiam seraya bermain game di ponsel nya. perkataan Alena tak di dengar, hal itu tentu saja membuat Alena jadi kesal.


"Dam, aku masih lama pulang nya, mendingan kamu pulang duluan aja!" ucap Alena seraya melihat ke arah Damar namun Damar tetap tak mau dengar, Damar seperti acuh pada ucapan Alena. "Kamu tuh dengerin aku ngomong gak si?!"


Lalu Damar menoleh ke arah Alena, Ia hanya menatap Alena dengan tatapan datar nya lalu kembali fokus dengan game di ponsel nya. Hal itu membuat Alena makin kesal, Ia bangun dari duduk nya lalu menghampiri Damar.


Alena langsung mengambil ponsel milik Damar lalu memasukan nya ke dalam kantung celana nya. Seketika perhatian Damar tertuju ke arah Alena. Namun Alena tak mempedulikan reaksi Damar, Ia langsung berjalan pergi ke meja kerja nya untuk melanjutkan pekerjaan nya.


"Balikin hape aku, Na!" pinta Damar


"Gak!"


Damar pun bangun dari duduk nya lalu pindah duduk di depan Alena. Damar menatap Alena, namun pandangan mata Alena malah fokus pada komputer di depan nya.


"Lagi ngambek aja keliatan cantik, maka nya aku suka liat kamu ngambek gini Na, gemes!" batin Damar


"Gimana aku bisa pulang, orang hape aku aja kamu ambil!" ucap Damar


"Ini bentuk protes aku sama kamu karna kamu gak dengerin aku ngomong, abis aku kelar aku balikin!"


Setelah selesai dengan pekerjaan nya, Alena pun langsung menonaktifkan komputer nya lalu menatap Damar dengan tatapan jutek nya.


"Ngapain kamu masih di sini?" tanya Alena


"Nungguin hape aku balik, emang kenapa?"


"Oh... jadi kamu lebih mentingin hape kamu di banding aku? gitu?"



Damar tersenyum. "Kamu juga sama kan, Na? lebih mentingin ego kamu di banding perasaan aku?"



"Jadi maksud kamu, aku ini egois gitu?" tanya Alena lalu menghela nafas dengan kasar. "Trus kamu apa nama nya? kamu juga egois Damar, tiba tiba kamu marah sama aku, kamu cuekin aku, apa kamu masih mau bilang kalo aku doang yang egois di sini, hah?" sambung nya


"Aku marah sama kamu ya karna ada alesan nya Na!" ucap Damar.


"Ya aku juga sama, aku punya alesan kenapa aku ketemuan sama Daffa!" jelas Alena tak mau kalah dari Damar. "Kamu nya aja yang cemburuan!" sambung nya kesal.


Damar tersenyum. "Coba kasih tau sama aku, ada gak suami yang gak ada rasa cemburu nya sama sekali sama istri nya? ada gak? kalo pun ada berarti suami nya itu gak sayang dan cinta sama istri nya dengan tulus, tapi kalo aku gak, aku sayang sama kamu, maka nya aku punya rasa cemburu, jelas?"


"Ya tapi cara kamu udah berlebihan Damar, kamu gak perlu mukul Daffa!"

__ADS_1


"Berlebihan gimana? kamu tanya aja sendiri sama Daffa, kemaren dia ngomong apa? dia sengaja mancing emosi aku Na, seolah olah dia tuh lebih tau segala nya tentang kamu daripada aku, trus menurut kamu sikap aku ini udah berlebihan gitu? wajar kalo aku cemburu!"


Lalu Alena memegang tangan Damar. "Ya tapi-" seketika ucapan Alena langsung terhenti saat mengetahui suhu tubuh Damar yang panas lewat tangan nya.


Raut wajah Alena mulai panik, Ia pun menatap Damar lalu memegang dahi serta wajah Damar. Rupa nya Damar demam akibat luka sayatan pisau di lengan kanan nya.


"Damar, badan kamu kok panas gini si? kamu demam, ini pasti karna luka ini!" ucap Alena


"Iya, emang agak puyeng juga si ini kepala!"


"Yaudah ayo, kita ke dokter aja sekarang. Aku gak mau kamu kenapa napa!" Alena langsung menarik tangan Damar lalu pergi dengan ke klinik terdekat.


Sikap khawatir yang di tunjukan oleh Alena malah membuat Damar senang. Pasal nya karena luka tersebut Alena jadi perhatian pada Damar dan lupa dengan permasalahan yang terjadi pada mereka berdua.


Dari raut wajah Alena terlihat jelas kalau Alena benar benar khawatir pada kesehatan Damar. Saat itu Damar hanya terdiam menatap Alena, lalu pandangan mata Alena beralih melihat ke arah wajah Damar, Ia pun menangkap tatapan mata Damar yang tengah menatap diri nya.


"Alena kalo lagi panik gini, gemesin juga!" batin Damar


"Kenapa kamu liatin aku begitu? kamu mau aku colok mata nya?" ucap Alena


Damar pun langsung tertawa seraya mencubit hidung. "Dari dulu sampe sekarang kamu tuh gak berubah ya Na, masih aja galak sama aku, padahal aku ini suami kamu loh!"


Alena langsung terdiam lalu mengalihkan mata nya dari Damar. Setiba nya di klinik, Damar dan Alena masuk ke dalam lalu mendaftar keluhan. Selesai mendaftar, Damar dan Alena duduk di kursi menunggu giliran untuk di panggil.


Dan tak lama, Damar pun di panggil petugas klinik. Damar dan Alena langsung masuk ke dalam ruangan dokter untuk di periksa luka nya. Dokter pun mulai memeriksa luka di lengan Damar.


Setelah itu, Dokter menjelaskan pada Damar dan Alena kalau luka tersebut yang membuat Damar jadi demam. Luka Damar sudah infeksi, infeksi yang di sebabkan oleh bakteri dan juga virus dari luar membuat luka tersebut makin parah.


"Tapi ibu sama bapak tenang aja, luka nya gak terlalu dalem jadi bisa cepet sembuh nya!" ucap Dokter tersebut.


"Iya Dok, makasih banyak!" sahut Alena lalu mengajak Damar pergi dari klinik. Kini Alena sudah tenang karena luka yang di alami oleh Damar sudah di obati oleh dokter.


.....


"Kamu masih bisa gak bawa motor nya?" tanya Alena.


"Masih bisa kok, emang kenapa? kamu yang mau bawa?"


"Ya gak juga, kalo kamu gak bisa bawa motor kita naik mobil aja, soal nya kamu lagi demam kan!"


Damar tersenyum seraya merangkum wajah Alena hingga membuat nya terkejut. "Ternyata kamu masih peduli ya sama aku!"


Alena memukul pelan dada Damar. "Yaiyalah jelas aku peduli, orang aku sa-" Alena langsung menghentikan ucapan nya seraya menatap Damar.


Saat itu Alena lupa kalau diri nya tengah bertengkar dengan Damar. Oleh karena itu, Ia tidak mau mengucapkan kata "Sayang" pada Damar. Lalu Damar pun tersenyum menunggu kelanjutan dari perkataan Alena.


"Sa apa? satuan indonesia?" ledek Damar lalu tertawa


"Ih apa si? peka dong!" Alena malu mengatakan nya.


"Ya maaf, aku beneran gak tau Na. Sa apa si?" Damar pura pura tidak tahu maksud Alena.


"Sayang!" teriak Alena


Damar pun langsung memeluk Alena dengan erat hingga membuat Alena terkejut dan diam mematung. Damar memeluk Alena di tempat umum.


"Aku tau kok, I love you Alena!" bisik Damar

__ADS_1


__ADS_2