
Nenek Dharmi adalah nenek angkat Alena, beliau sudah kenal dengan keluarga Alena sedari Alena kecil, beliau sudah menganggap Alena seperti cucu nya sendiri.
Saat itu Alena tengah berdiri di halaman belakang rumah nenek Dharmi. Ia melamun sembari memikirkan Damar.
"Gimana ya keadaan kamu sekarang? apa makan kamu teratur? sebener nya aku kangen banget sama kamu!" gumam nya.
Saat tengah melamun, tiba tiba saja bahu nya di pegang oleh seseorang dari arah belakang hingga membuat Alena sedikit terkejut.
"Alena, kamu lagi ngapain di sini?"
Alena menoleh ke arah belakang. "Kak Bagas? aku gak ngapa ngapain kok, aku cuma lagi liatin pemandangan alam aja dari sini!"
"Oh... jangan sedih mulu, biarin semua nya berjalan semesti nya!" ucap Bagas. "Oh iya, kamu kan belom makan, aku udah bikin nasi goreng tuh, makan yuk!" sambung nya
Alena tersenyum. "Ayo!"
Bagas adalah cucu nenek Dharmi, Bagas juga tinggal dengan nenek Dharmi di Bekasi. Bagas merupakan teman kecil sewaktu Alena tinggal di Bekasi dulu.
Namun kedua orang tua Bagas telah wafat akibat kecelakaan saat Bagas berusia lima tahun. Oleh karena itu, Bagas di rawat dan di asuh oleh nenek Dharmi.
Alena dan Bagas mulai berpisah saat kedua orang tua Alena bercerai, Alena dan ibu nya pindah ke Jakarta. Namun hubungan kedua nya masih terjalin dengan baik sampai saat ini.
Bagas selalu melindungi Alena, oleh karena itu Alena menganggap Bagas sebagai kakak nya karena selalu melindungi diri nya dari apapun.
"Oh iya Na, apa kamu yakin mau pisah sama Damar?" tanya Bagas
Alena terdiam sejenak seraya menatap Bagas, Ia bingung harus menjawab apa. Karena saat ini pikiran nya masih belum jernih. "Aku gak tau kak, aku bingung!"
"Pas aku denger cerita kamu kemaren, aku kesel Na! ada ya ibu mertua yang modelan kayak gitu, padahal dia juga perempuan, gak pantes sesama perempuan ngejatuhin gitu, di tambah lagi Damar mana? gak ada batang hidung nya, kek gak ada niat gitu buat nyari kamu!" omel Bagas kesal. "Tapi Alena, sebelum kamu ngambil keputusan, pikirin semua nya bener bener!"
"Iya kak, aku tau kok!" ucap Alena. "Makasih ya kak udah mau nerima aku buat tinggal di sini!"
Bagas langsung mengusap kepala Alena dengan lembut. "Iya Alena, kapan pun kamu butuh aku, aku ada!"
Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan makan mereka. Selesai makan, Bagas pergi keluar karena ada urusan mendadak. Bagas meninggalkan Alena sendirian di rumah, lalu Alena mulai merapihkan dapur dan rumah nenek Dharmi yang terlihat berantakan.
Beberapa menit kemudian, nenek Dharmi pulang. Beliau masuk seraya mengucapkan salam. "Assalamualaikum..."
Alena pun menjawab. "waalaikum salam!" lalu Alena berjalan menyambut nenek Dharmi. "Eh nenek udah pulang, mau aku masakin-" Alena langsung menghentikan perkataan nya saat melihat orang yang berada di samping nenek Dharmi, langkah kaki nya langsung terhenti.
Alena terkejut. "Damar!"
Damar pun tersenyum lalu berlari memeluk Alena. "Alhamdulilah kamu baik baik aja Alena, aku kangen banget sama kamu, aku udah cari kamu kemana mana ternyata kamu ada di sini!"
Alena berupaya melepaskan pelukan Damar, Ia terus meronta ronta agar pelukan Damar terlepas. Lalu Alena terdiam seraya menatap Damar dengan tatapan kesal, Ia seperti tak suka dengan kedatangan Damar.
"Kamu mau ngapain ke sini? hah!" ucap Alena kesal seraya menjauhi Damar. "Aku gak mau ketemu sama kamu!" sambung nya.
Damar pun mendekat, namun Alena malah terus menjauh. "Na, aku ke sini karena aku mau ketemu sama kamu, aku mau ajak kamu pulang!"
__ADS_1
"Gak! aku gak mau!" jawab Alena tegas lalu melihat ke arah nenek Dharmi, Ia berjalan menghampiri nenek Dharmi. "Nek, aku kan udah bilang sama nenek kalo aku gak mau ketemu sama dia, tapi kenapa nenek malah bawa Dia ke sini?"
"Alena, kamu gak boleh ngomong kayak gitu, biar gimana pun juga Damar ini masih suami kamu dan kamu masih sah istri nya, masalah nya bukan di Damar tapi di ibu nya Damar, jadi selesain masalah rumah tangga kamu secara baik baik!" nasehat nenek Dharmi
"Na, ayo kita pulang!" pinta Damar
Alena langsung menatap Damar dengan tatapan sinis. "Gak! aku gak mau!" Alena langsung pergi keluar meninggalkan nenek Dharmi dan juga Damar.
Lalu nenek Dharmi menoleh ke arah Damar. "Kalo emang kamu sayang sama Alena, kenapa kamu diem di sini? ayo kejar dia!"
Damar pun mengangguk lalu berlari keluar mengejar Alena. Damar menoleh ke arah kanan dan kiri nya untuk mencari Alena, Ia terus berlari mengejar Alena namun Alena sudah tidak ada, Damar kehilangan jejak Alena lagi.
Nafas Damar mulai terengah engah karena berlari mencari Alena. "Alena, kamu di mana? tolong jangan kayak gini!" gumam nya.
Karena tidak menemukan jejak Alena, akhir nya Damar pun kembali ke kediaman rumah nenek Dharmi. Ia berdiam diri di rumah nenek Dharmi untuk sementara hingga malam hari.
Malam hari telah berlalu, namun Alena tak kunjung terlihat batang hidung nya. Karena khawatir dengan Alena, akhir nya Damar pun memutuskan untuk pergi keluar mencari Alena.
Damar mencoba untuk menghubungi Alena, namun panggilan nya di tolak. Rasa khawatir Damar akan keberadaan Alena membuat nya tak sabaran untuk melihat Alena. Damar pun terus mencari Alena meskipun sebenar nya Ia tidak tahu daerah Bekasi.
Damar mencari Alena sembari membawa foto Alena, Damar menanyakan Alena pada setiap orang yang di temui nya di jalan. Damar pun memperlihatkan foto Alena dengan maksud agar orang orang yang di temui nya tahu soal keberadaan Alena.
Saat tengah memperlihatkan foto Alena pada orang lain, tiba tiba saja foto Alena di rebut oleh preman di daerah tersebut.
"Bang, tolong bang balikin foto istri saya!" pinta Damar
Preman itu memperhatikan foto Alena. "Istri lu cakep juga, mendingan buat gue aja foto nya!" ledek preman itu lalu tertawa
Lalu Damar meminta pada preman itu untuk mengembalikan foto Alena, namun preman itu tetap menolak untuk mengembalikan foto Alena, foto Alena malah di masukan ke dalam kantung jaket nya.
Damar terus di pukuli oleh preman itu hingga Damar terkapar lemas tak berdaya, Ia terus mempertahankan foto Alena yang kini berada di tangan nya. Setelah puas memukuli Damar, preman preman itu langsung pergi.
Damar berupaya untuk bangkit, Ia mengalami luka luka di wajah dan juga memar di bagian tubuh nya. Saat itu tidak ada seorang pun di jalan yang Ia lewati, beruntung Ia hafal jalan ke rumah nenek Dharmi. Ia berjalan perlahan untuk sampai ke rumah nenek Dharmi.
Setiba nya di rumah nenek Dharmi, Damar mengetuk pintu rumah nenek Dharmi. Pintu pun di buka, namun saat pintu terbuka Ia di buat terkejut karena yang membuka pintu rumah adalah Alena.
"Alena?" spontan Damar langsung memeluk Alena untuk yang kedua kali nya, Alena pun berupaya untuk melepaskan pelukan Damar namun pelukan Damar sangat erat. "Tolong jangan benci aku, Aku sayang sama kamu!" bisik Damar seraya menangis dalam pelukan.
perkataan Damar langsung membuat Alena terdiam, Ia tidak meronta ronta lagi. Ada rasa tidak tega dengan Damar, apa lagi saat Alena melihat sendiri kondisi Damar yang terluka dan juga berantakan.
Lalu Damar melepas pelukan nya, Ia menatap Alena seraya merangkum wajah Alena. Damar tersenyum melihat Alena dalam keadaan baik baik saja. Alena pun ikut memandangi wajah Damar yang di penuhi oleh luka dan lebam.
"Kamu ngapain ke sini lagi? kamu pasti abis berantem kan? kamu gak usah bikin drama, mendingan pulang sana!" ucap Alena kesal
Damar menggeleng. "Aku abis nyari kamu Na, tapi aku di pukulin tadi sama preman di jalan, preman itu mau coba ambil foto kamu dari tangan aku, trus aku coba pertahanin foto kamu!" jelas Damar
"Itu cuma foto Damar, buat apa? gak usah berlebihan!" ucap Alena kesal.
"Mungkin bagi kamu itu cuma foto, tapi buat aku gak!"
"Udah deh, mendingan sekarang kamu pulang ini udah malem, gak enak sama tetangga di sini, kasian nenek Dharmi juga lagi tidur!" ucap Alena lalu beranjak pergi dari hadapan Damar.
__ADS_1
Namun Damar malah menarik tangan Alena lalu memeluk nya dari belakang, hal itu tentu saja membuat Alena terkejut. "Na, apa kamu benci sama aku? sampe sampe kamu gak mau ngeliat aku!"
Alena berbalik badan seraya menatap Damar, kedua mata Alena mulai berkaca kaca lalu air mata nya menetes di pipi. "Iya, kamu puas? sekarang pergi!" ucap Alena seraya mengusir Damar keluar. "Aku bilang, pergi!" sambung nya.
Damar hanya terdiam menatap Alena, Ia tidak mau beranjak pergi dari rumah nenek Dharmi. Lalu Alena pun mendorong tubuh Damar agar Damar keluar dari rumah nya, namun Damar tetap tak mau pergi, Ia hanya terdiam seraya menatap Alena dengan tatapan sedih.
Karena kesal, Alena pun memukul mukul dada Damar seraya menangis. "Aku bilang pergi! ya pergi sana! kamu gak denger? hah!" bentak Alena seraya terus memukul dada Damar.
Damar hanya meringis kesakitan karena luka dan memar di tubuh nya. Ringisan di wajah Damar membuat Alena berhenti memukul.
Damar memegang tangan Alena lalu memeluk nya dengan lembut, Damar mengusap kepala Alena lalu mencium kening nya. "Aku gak mau pergi Alena, aku mau tetep di sini sama kamu!"
"Omong kosong! sekarang pergi!" Alena tetap mengusir Damar dengan menyuruh nya pergi keluar dari rumah nenek Dharmi. "Ayo pergi!" pekik Alena
Suara Alena membuat nenek Dharmi bangun dari tidur nya. Lalu nenek Dharmi berjalan keluar dari kamar untuk melihat sesuatu yang terjadi di rumah nya. Rupa nya Alena tengah mengusir Damar dari rumah nya.
Nenek Dharmi pun langsung menghentikan Alena, Ia berjalan menghampiri kedua nya. "Ada apa ini ribut ribut?" tanya nenek Dharmi lalu melihat ke arah wajah Damar. "Muka kamu kenapa Damar? ayo obatin!" nenek Dharmi menarik tangan Damar lalu menyuruh nya untuk duduk di sofa.
"Nek, nenek mau ngapain? mendingan nenek istirahat, Damar juga udah mau pulang!" ucap Alena
"Kamu gak liat muka suami kamu luka gini? kenapa malah nyuruh dia pergi? ayo obatin!" nenek Dharmi memberikan kotak P3K pada Alena. Alena hanya terdiam seraya menatap Damar dengan tatapan jutek nya.
"Loh... kenapa malah diem? ayo ndok obatin!" perintah nenek Dharmi
Sebenar nya Alena tidak mau mengobati luka Damar, namun karena perintah nenek Dharmi akhir nya Ia pun mau membantu mengobati luka Damar.
"Obatin luka nya Damar, abis itu suruh Dia istirahat di sini!" perintah nenek Dharmi.
"Apa? tapi nek-"
"Udah gak usah protes!" tukas nenek Dharmi. "Ayo di obatin luka nya, nenek mau istirahat di kamar!" nenek Dharmi pergi meninggalkan Damar dan Alena di ruang tamu.
Alena mulai mengobati luka di wajah Damar, Ia menutulkan obat luka secara perlahan seraya meniupi luka di wajah Damar agar tidak perih.
Saat itu Damar hanya terdiam menatap Alena, apalagi jarak wajah dari kedua nya sangat lah dekat hingga membuat Damar tidak bisa mengalihkan pandangan mata nya pada Alena.
Alena tengah fokus mengobati luka Damar, namun tanpa sengaja ekor mata nya melirik ke arah Damar, pandangan mata mereka pun tak bisa terhindarkan. Mereka saling menatap satu sama lain.
Dengan cepat Alena langsung mengalihkan pandangan mata nya ke arah lain. Ia bangun dari duduk nya setelah selesai mengobati luka di wajah Damar.
Lalu Alena melihat ke arah Damar, rupa nya Damar tengah kesusahan membuka pakaian nya, Alena pun mencoba untuk membantu Damar melepaskan pakaian nya. Seketika raut senyum melintas sekilas di bibir Damar, hal itu tertangkap oleh Alena.
"Kenapa kamu senyum senyum gitu? aku cuma mau bantu kamu doang ya, jadi jangan GR!" ucap Alena jutek
Damar tersenyum. "Iya, aku tau. Makasih!" jawab Damar lalu mulai merebahkan tubuh nya di atas sofa.
Alena masuk ke dalam kamar nya. Namun beberapa menit kemudian, Ia keluar lagi dari kamar nya seraya membawa selimut untuk Damar. Alena langsung melemparkan selimut itu pada Damar.
"Pake nih selimut nya, di sini kalo malem suka dingin, aku gak mau kamu sakit karna nanti kalo kamu sakit, bakal nyusahin!" ucap ketus Alena
"Ngadepin udara dingin malem kek gini aja aku bisa apalagi ngadepin dingin nya hati kamu Na, aku pasti bisa!" Damar tersenyum ke arah Alena lalu merebahkan kembali tubuh nya dengan menggunakan selimut.
Alena hanya terdiam seraya menatap jutek ke arah Damar, setelah itu Ia masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat.
__ADS_1
Visual Bagas👇