
Satu bulan kemudian.
Karena sedang hamil muda, Damar menyuruh Alena untuk beristirahat di rumah. Damar tidak mengizinkan Alena bekerja lagi karena Damar tidak ingin terjadi sesuatu dengan kehamilan Alena. Alhasil, Alena pun hanya berdiam diri di rumah sendirian.
Damar dan Alena memang sudah tidak tinggal di rumah kedua orang tua Damar lagi karena Damar dan Alena telah memutuskan untuk pindah dan tinggal di rumah sederhana milik mereka sendiri yang baru di beli oleh Damar beberapa waktu lalu.
"Alena, aku berangkat ya? kamu di rumah aja jangan kemana mana. Trus inget, kalo misal nya ada apa apa langsung telpon aku, oke?" ucap Damar
Alena tersenyum. "Iya Damar, kamu hati hati ya di jalan!"
"Iya udah!" Damar langsung berjalan pergi dari hadapan Alena, namun tiba tiba saja langkah kaki nya terhenti. Damar berbalik badan seraya menatap Alena. "Ada yang lupa!" sambung nya lagi lalu berjalan mendekat ke arah Alena.
Alena pun bingung. "Apa yang lupa? ada yang ketinggalan? mau aku ambilin?"
Damar hanya tersenyum menatap Alena, Ia pun langsung mencium bibir Alena hingga membuat Alena terkejut di buat nya. Setelah itu Damar melepas ciuman nya pada Alena.
"Itu yang ketinggalan tadi!" ucap Damar lalu tersenyum menatap Alena. "Dah ya, aku mau berangkat!" sambung nya lalu berjalan pergi dari rumah.
Saat itu Alena tidak berkata apapun, Ia hanya tersenyum malu seraya menatap punggung belakang Damar. "Ya Allah... tolong lindungi suami hamba!" batin Alena
....
Alena mulai memperhatikan keadaan rumah nya yang terlihat sedikit berantakan. Karena tidak nyaman dengan keadaan tersebut, akhir nya Ia pun merapihkan rumah nya sendiri.
Mulai dari menyapu, mencuci piring, mengepel lantai, dll. Semua Ia kerjakan pekerjaan rumah dengan senang hati dan ikhlas. Setelah semua pekerjaan rumah selesai, Ia pun duduk di sofa ruang tamu seraya menonton televisi.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu yang di iringi dengan salam. Alena pun langsung membuka pintu rumah nya. Rupa nya itu hanyalah seorang pengantar surat.
Alena menerima sebuah surat yang Ia sendiri tidak tahu dari siapa. Setelah itu, Ia membuka surat tersebut. Rupa nya surat itu berasal dari rumah sakit tempat Damar dan Elsha melakukan tes DNA.
Alena pun membaca surat hasil tes DNA milik Damar dan Elsha, dan Ia pun terkejut setelah membaca isi dari surat hasil tes tersebut.
....
Di tempat berbeda.
Damar tengah fokus melakukan pekerjaan nya. Namun saat Damar tengah fokus bekerja, tiba tiba saja Ia terbayang oleh wajah cantik Alena. Ia pun tersenyum dengan sendiri nya.
Lalu tanpa sengaja Damar melihat sebuah foto di atas meja kerja Alena, rupa nya itu foto lama Alena bersama dengan teman teman satu tim nya.
Damar mengambil foto tersebut seraya terus memandangi wajah cantik Alena. Saat tengah memandangi foto jadul Alena, tiba tiba saja Tiara datang dan memergoki Damar.
"Cie cie... yang lagi asik mandangin foto istri tercinta, ampe segitu nya di pandangin terus foto nya!" ledek Tiara seraya meletakan berkas tugas di atas meja kerja Alena.
Damar pun tersenyum. "Iya nih Ra, padahal baru tadi gue tinggal Alena di rumah eh udah kangen lagi aja gue ma Dia!"
__ADS_1
"Ya nama nya juga cinta, ya gitu deh!" ucap Tiara. "Oh iya Dam, lu bisa gak ngerjain tugas punya Alena? kalo gak bisa sini gue bantuin!" sambung nya lagi.
"Belom begitu bisa si Ra, yaudah sini lu ajarin gue dah!"
"Iya oke!"
Setelah itu, Tiara pun membantu Damar untuk menyelesaikan tugas milik Alena. Sedikit demi sedikit akhir nya Damar paham dengan tugas dan pekerjaan yang sering di lakukan oleh istri nya.
Waktu berjalan dengan cepat, Damar pun mulai mempercepat pekerjaan nya karena Ia sudah merindukan Alena di rumah. Apa lagi semenjak Alena hamil, sikap Damar banyak berubah jadi lebih perhatian pada kesehatan Alena.
Saat itu, Tiara dan Riska datang menghampiri Damar. Rupa nya mereka ingin berkunjung ke rumah baru Damar dan Alena. Dengan senang hati Damar pun memperbolehkan mereka main ke rumah nya.
Riska di bonceng oleh Rayhan, sementara Tiara di bonceng oleh Rifki. Mereka semua berjalan secara beriringan mengikuti Damar dari arah belakang.
Setiba nya di rumah, mereka semua langsung masuk ke dalam rumah baru milik Damar dan Alena. Kedatangan mereka semua di sambut hangat oleh Alena.
Lalu Alena pergi ke dapur, Ia membuatkan teh dan kopi untuk teman teman kerja nya. Tak lama berselang, Damar datang menghampiri Alena lalu memeluk nya dari arah belakang.
"Na, aku kangen banget tau sama kamu!" ucap Damar lalu mengecup bahu Alena. "Kamu kangen juga gak si sama aku?" sambung nya.
Alena hanya terdiam seraya fokus membuat teh dan kopi untuk teman teman nya. Alena tak menghiraukan perkataan Damar, tentu saja hal itu membuat Damar jadi bingung dengan perubahan sikap Alena yang tiba tiba.
Lalu Damar menatap Alena dari arah samping, Ia memperhatikan raut wajah Alena. Dari raut wajah Alena terlihat jelas kalau Alena sedang tidak baik baik saja. "Na, kamu kenapa?"
Alena tetap terdiam lalu beranjak pergi seraya membawa nampan yang berisikan teh dan kopi untuk teman teman nya yang berada di ruang tamu. Alena meninggalkan Damar begitu saja di dapur.
Alena terlihat senang dan bahagia dengan candaan dan gurauan yang di lontarkan oleh Tiara dan teman teman lain nya. Tentu saja sikap Alena makin membuat Damar bingung.
Damar merasa ada sesuatu hal yang membuat sikap Alena jadi berubah. Damar pun mencoba untuk bersikap tenang walaupun sebenar nya Ia merasa tak nyaman dengan perubahan sikap Alena.
Damar berusaha untuk berfikir positif, Ia tidak mau membuat Alena marah karena kecurigaan nya itu. Lalu Tiara, Rifki, Riska, dan Rayhan pun pamit pulang karena memang hari sudah mulai larut.
"Na, sorry ya gue gak bisa maen lama lama di sini, soal nya kasian anak gue di rumah!" ucap Tiara seraya memeluk Alena lalu melepaskan kembali pelukan nya. "Kapan kapan gue maen lagi deh ke sini!"
Alena pun tersenyum. "Iya Ra gak apa apa, lu bisa maen kapan pun lu mau!"
"Iya Na itu pasti!" ucap Tiara. "Oh iya, jaga diri lu baik baik, apa lagi sekarang lu lagi hamil jadi mesti ati ati Na!"
"Iya Ra, makasih ya udah mau maen ke sini!"
"Iya Na selow aja si!" ucap Tiara lalu beralih melihat ke arah Damar. "Dam, gue balik dulu ya. Gue titip Alena nih, tolong jagain Dia baik baik ya apa lagi sekarang Dia lagi hamil jadi mood nya pasti gampang berubah, lu harus sabar aja!" sambung Tiara
Damar tersenyum. "Iya Ra itu mah pasti, gue pasti bakal jagain Alena dan calon anak gue!"
"Bagus deh, yaudah ya gue pamit. Riska ma Rayhan dah nunggu!"
Tiara dan Rifki langsung pergi menyusul Riska dan Rayhan yang sudah lebih dulu menunggu mereka di depan gerbang rumah. Setelah itu, mereka semua pun pergi dengan motor sport nya masing masing.
__ADS_1
Lalu Damar melihat ke arah Alena. "Na, kamu kenapa?"
"Aku gak kenapa napa kok, Dam!"
"Jangan bohong Na, aku ngerasa sikap kamu tuh berubah. Apa aku udah buat kesalahan ya sama kamu? ngomong aja Na!"
Alena hanya terdiam. "Enggak Dam, bukan itu masalah nya, tapi ada hal yang lagi aku pikirin sekarang. Pokok nya aku harus pergi ke rumah sakit sekarang buat masti'in kebenaran surat tes itu, buat sementara Damar gak boleh tau dulu sama hasil tes itu!" batin Alena
Alena tak menjawab apapun, Ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Damar. Ia berniat ingin pergi ke rumah sakit untuk menanyakan keakuratan hasil tes DNA tersebut, namun di buntuti oleh Damar.
Lalu Alena menoleh ke arah belakang, rupa nya benar Damar masih mengikuti nya. Alena terus mendiamkan Damar dengan cara menghindari nya terus menerus. Namun sikap dingin Alena tak membuat Damar kesal, Damar mencoba untuk mengerti perubahan sikap istri nya itu.
Dalam pikiran Damar, perubahan sikap Alena di sebabkan oleh bawaan kehamilan nya. Seperti yang sudah di katakan oleh Tiara, kalau orang hamil pasti mengalami perubahan mood yang aneh.
Saat itu, Damar terus mengikuti Alena kemana pun Alena pergi. Sampai pada akhir nya Alena kesal sendiri. Alena langsung menghentikan langkah kaki nya seraya menatap kesal ke arah Damar.
"Kenapa si kamu ngikutin aku terus?" tanya Alena kesal
Damar tersenyum. "Ya emang kenapa? aku kan suami kamu, aku lagi jagain istri aku lah!"
"Gak usah Dam, aku mau pergi sebentar, kamu pulang aja sana!"
Damar menggelengkan kepala nya. "Gak mau, aku mau ikut kamu Na, emang nya kamu mau pergi kemana si? pokok nya kamu gak boleh pergi sendirian, bahaya!"
Alena tidak mendengarkan perkataan Damar, Ia langsung pergi meninggalkan Damar begitu saja. Namun Damar tetap mengikuti Alena lalu menghadang nya.
"Damar!" omel Alena
Damar tersenyum di depan Alena. Sementara Alena, Ia menatap Damar dengan tatapan kesal. "Kenapa si kamu-"
Damar langsung mengusap lembut wajah Alena seraya menatap nya hingga membuat Alena seketika menghentikan kata kata nya, Ia pun terdiam menatap Damar.
"Alena, aku gak tau salah aku apa sama kamu, tapi aku minta maaf sama kamu kalo emang aku salah. Aku cuma mau kamu terbuka sama aku, jangan kamu pendem sendirian kalo ada masalah. Aku ini suami kamu, jangan pernah ngerasa kalo kamu sendiri, ada aku Na!" ucap Damar menatap Alena
"Inget Na, kamu itu lagi hamil sekarang jadi gak boleh mikirin hal yang gak penting ya, aku gak mau kamu kenapa napa karna kesehatan kamu nomor satu!" sambung Damar
"Hal yang gak penting gimana? jelas jelas ini masalah penting, ini menyangkut masa depan calon anak kamu, Damar!" batin Alena
"Damar, tapi aku-"
"Na, udah yuk kita pulang!" tukas Damar. "Liat tuh langit, udah sore banget. Kamu lagi hamil dan aku ngelarang kamu pergi sendirian, oke!" sambung Damar seraya menarik tangan Alena
Alena pun hanya bisa terdiam mengikuti ajakan Damar untuk kembali ke rumah. Sebenar nya pada saat itu Alena ingin pergi ke rumah sakit tempat Damar melakukan tes DNA dengan Elsha.
Alena ingin mengetahui dengan jelas mengenai keakuratan hasil tes tersebut. Namun Damar malah melarangnya untuk pergi. Akhir nya mau tidak mau Alena pun harus menuruti perkataan Damar. Jika tidak, Damar akan curiga dengan rencana nya untuk membongkar kebusukan Elsha.
__ADS_1