
Satu bulan kemudian.
"Dam, hari ini kita maen yuk ke rumah ibu kamu!" ucap Alena di sela sarapan pagi nya. Damar pun terdiam sejenak seraya menatap Alena. Lalu Alena memegang tangan Damar dengan lembut. "Dam, ayo lah! aku gak mau hubungan aku sama ibu kamu jauh, mau ya Dam?" sambung nya.
Damar menghela nafas nya. "Iyaudah" hanya itu yang keluar dari mulut Damar. Sebenar nya Damar enggan menuruti permintaan Alena. Mengunjungi ibu nya? yang benar saja, seperti nya Damar harus pikir panjang soal itu, mengingat perlakuan dan sikap ibu nya begitu jahat pada Alena. Hal itu lah yang membuat Damar tak ingin bertemu dengan ibu nya sendiri.
Namun Alena sama sekali tak menyimpan dendam pada ibu Asih, justru Alena malah meminta Damar untuk senantiasa bersikap baik pada ibu Asih, Alena selalu menasehati Damar saat emosi melanda diri nya. Damar merasa sikap ibu nya telah berlebihan, ibu Asih selalu menuntut Alena untuk segera hamil.
"Makasih ya, Dam!" ucap Alena lalu tersenyum
.....
Damar dan Alena datang ke rumah ibu Asih dan pak Joko, mereka mengucapkan salam lalu masuk ke dalam rumah. Kedatangan Damar dan Alena di sambut baik oleh pak Joko dan ibu Asih. Rupa nya bukan hanya mereka saja yang datang berkunjung, di sana sudah ada Rayhan dan Riska, mereka tengah berbincang di ruang tamu. Damar dan Alena pun ikut bergabung bersama mereka.
"Han, kapan dateng nya?" tanya Damar lalu menyapa Riska dengan senyuman saja. Dan Riska membalas senyuman Damar.
"Baru aja dateng, sini duduk!" ajak Rayhan
Setelah itu, Damar dan Alena ikut bergabung bersama mereka di ruang tamu. Lalu Alena menatap Riska, Riska pun tersenyum pada Alena, namun Alena langsung mengalihkan pandangan nya ke arah lain, Alena seperti enggan berbicara atau berbasa basi dengan Riska.
"Apa kabar lu, Han? dah lama ya kita gak ketemu" ucap Damar
"Alhamdulilah baik, wajar kita jarang ketemu kan sekarang gue udah gak tinggal bareng lagi sama bu Deh di sini" jelas Rayhan
"Oh... pantesan" ucap Damar lalu pandangan nya melihat ke arah Riska. Riska duduk di samping Rayhan dengan posisi kepala yang menyandar di bahu Rayhan. Riska terlihat nyaman berada di samping Rayhan. Damar memperhatikan kedekatan Rayhan dengan Riska, mereka seperti memiliki hubungan spesial karena terlihat dekat. "Han, lu sama Riska-"
"Iya Dam, gue sama Riska udah pacaran!" tukas Rayhan lalu merangkul bahu Riska. "Gue kesini mau ngasih kabar bahagia sama bu Deh dan pak Deh, eh kebetulan lu juga dateng, yaudah sekalian aja gue kasih tau kabar bahagia gue" sambung nya.
"Kabar bahagia? apa tuh?" sahut Alena
Rayhan tersenyum. "Gue sama Riska ada rencana mau tunangan Na bulan depan"
Damar dan Alena terkejut saat mendengar kabar tersebut. Pasal nya kabar tersebut cukup mengejutkan mereka, sejak kapan Rayhan dan Riska berpacaran? apa sudah lama? entah lah, namun Damar dan Alena senang mendengar nya.
Damar tersenyum. "Alhamdulilah Han, akhir nya" Damar memberi selamat pada Rayhan dengan menjabat tangan nya. "Selamat ya bro! lu gak jomblo lagi" Damar terkekeh.
"Iya makasih, Dam!" sahut Rayhan. "Eh, tapi ngomong ngomong lu berdua tumben amat ke sini? ada apa nih? kepo nih gue!"
__ADS_1
"Em... ada deh, ntar juga lu tau!" ucap Damar lalu melihat ke arah Alena. "Jangan kasih tau Rayhan dulu ya Na, biarin dia penasaran!" Damar terkekeh bersama Alena.
.............
Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, di sana sudah ada pak Joko dan ibu Asih. Lalu Rayhan meminta izin dan restu pada pak Joko dan ibu Asih mengenai hubungan nya dengan Riska, Rayhan ingin melangsungkan acara pertunangan nya dengan Riska.
Restu dari pak Joko dan ibu Asih sangat penting bagi Rayhan. Walaupun pak Joko dan ibu Asih bukan orang tua kandung Rayhan, namun kedua orang tua Damar itu sudah di anggap seperti orang tua kandung bagi Rayhan. Lagi pula ibu Asih merupakan kakak kandung dari ibu nya Rayhan, kedua orang tua Rayhan masih ada dan lengkap, Rayhan juga sudah lebih dulu meminta izin pada kedua orang tua nya.
Oleh karena itu, Rayhan ingin meminta izin dan restu pada pak Joko dan juga ibu Asih. Rayhan ingin melangsungkan pertunangan nya di rumah ibu Asih. Rayhan dan Riska memang belum lama menjalin hubungan, namun rasa suka Rayhan pada Riska sudah tumbuh sejak pertemuan pertama mereka di kantor.
Kabar tersebut membuat semua anggota keluarga yang tengah berkumpul senang. Lalu pak Joko dan ibu Asih memberikan restu nya untuk Rayhan, karena bagaimana pun juga Rayhan yang menjalani kehidupan rumah tangga, Rayhan yang memutuskan semua nya. Pak Joko dan ibu Asih hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Rayhan dan Riska.
Setelah itu, Damar bangun dari duduk nya, Damar berniat memberitahu kabar bahagia nya juga pada kedua orang tua nya. Damar langsung mengumumkan kabar kehamilan Alena pada semua anggota keluarga di sana. Seketika pandangan mata ibu Asih langsung melihat ke arah Alena, ada rasa tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Damar, namun kabar tersebut memang lah benar ada nya. Ibu Asih bangun dari duduk nya lalu memeluk Alena.
Alena pun balik memeluk ibu mertua nya itu, Damar dan pak Joko hanya tersenyum melihat pemandangan indah di depan nya. Damar merasa bahagia karena akhir nya ibu nya bisa berdamai dengan Alena. Ibu Asih menangis dalam pelukan Alena, beliau telah menyadari kalau selama ini Ia bersikap jahat pada Alena hanya karena Alena belum hamil lagi pasca mengalami keguguran.
Ibu Asih menguraikan pelukan nya. "Alena, ibu mau minta maaf sama kamu karna ibu udah jahat sama kamu, ibu bener bener minta maaf!" ibu Asih menangis seraya memegang tangan Alena.
Alena tersenyum. "Bu, Alena udah maafin ibu kok jauh sebelum ibu minta maaf sama Alena, Alena juga mau minta maaf ya bu kalo Alena belom bisa jadi menantu yang baik di sini!"
"Alhamdulilah, semua kabar bahagia ini pasti udah di atur sama Allah, kita semua harus bersyukur karna udah di kasih kebahagiaan sekaligus kayak gini" ucap pak Joko
Damar tak bisa berkata kata lagi, rasa nya semua ini seperti mimpi, Damar tak pernah menyangka kalau kabar kehamilan Alena membuat keluarga nya menjadi damai. Tak henti henti nya Damar mengucapkan rasa syukur nya, semua kebahagiaan yang ada di hidup nya kini patut Ia syukuri.
'Alhamdulilah, makasih ya Allah' batin Damar
..........
Damar dan Alena tengah berada di dalam kamar lama milik Damar dahulu, kamar itu sudah tak di tempati lagi oleh Damar karena kini Damar telah mempunyai rumah sendiri. Kamar lama milik nya masih layak pakai, di sana tak ada satu benda milik Damar yang di pindahkan dari tempat nya, semua masih tertata rapih. Lalu Alena berjalan mengitari area kamar Damar seraya memperhatikan kamar Damar.
"Dam, kamar kamu gak berubah ya" ucap Alena seraya melihat foto sewaktu Damar masih bujangan.
"Iya begini lah, ibu aku emang rajin bersihin kamar ini Na, barang punya aku aja gak di pindahin ke gudang, ini masih ada semua" sahut Damar
Semenjak menikah, Damar memutuskan untuk membeli rumah sendiri dari hasil tabungan nya. Kini Damar dan Alena tidak tinggal bersama dengan pak Joko dan ibu Asih lagi. Mereka memilih untuk menempati rumah baru mereka yang tak jauh dari rumah orang tua nya.
Lalu Damar mencari gitar milik nya di dalam lemari khusus milik nya. Gitar itu masih ada di sana, Damar mengambil gitar milik nya lalu duduk di atas kasur. Damar pun mulai memainkan gitar tersebut seraya bernyanyi dengan suara khas nya. Lalu Alena melihat ke arah Damar, perhatian Alena mengarah ke arah Damar. Suara Damar terdengar enak dan bagus di dengar, Alena duduk bersama Damar seraya mendengarkan lagu yang di nyanyikan oleh Damar.
__ADS_1
Damar menyanyikan sebuah lagu ciptaan nya sendiri, lagu yang dahulu Ia khususkan untuk Alena. Lalu Alena memperhatikan gitar Damar, di bagian ujung gitar terdapat foto seorang wanita. Namun foto itu terlihat tak jelas wajah nya, Alena bangun dari duduk nya lalu menatap Damar dengan tatapan jutek nya.
Alena berdiri tepat di depan Damar seraya menyilangkan kedua tangan nya. "Oh... Jadi bener ya kata Putri, selama ini kamu masih nyimpen foto mantan kamu!" ucap Alena
Damar langsung berhenti memainkan gitar dan nyanyian nya. Damar terlihat bingung dengan apa yang di katakan oleh Alena, lalu Damar meletakan gitar nya. "Na, kamu lagi ngomong apa si? mantan? Aku gak nyimpen foto mantan aku, jangan dengerin si kucrit itu Na" sambung nya.
"Ini apa?" Alena langsung mengambil gitar Damar lalu memperlihatkan foto wanita itu pada Damar. Foto itu masih menempel di sana, namun foto nya terlihat buram karena foto itu memang sudah lama menempel di gitar tersebut. "Ini pasti mantan kamu kan? Iya kan?" Alena mulai terlihat kesal dengan foto itu. Damar masih bingung lalu melihat foto yang di maksud oleh Alena.
Setelah melihat foto itu, Damar tersenyum sebelum akhir nya tertawa geli. Lalu Damar menatap Alena hingga membuat Alena makin kesal di buat nya. "Na, jadi maksud kamu foto ini foto mantan aku?" Damar pun kembali tertawa. "Na, coba deh kamu liat baik baik, kamu perhatiin foto ini, kira kira ini tuh foto siapa si?" sambung nya lagi.
Alena pun memperhatikan kembali foto lama tersebut. Jika di perhatikan kembali, seperti nya foto itu terlihat tidak asing bagi Alena, kedua mata Alena seketika membulat, rupa nya foto itu adalah foto Alena sewaktu masih SMA dahulu, foto cantik itu Damar dapatkan dari Tiara. Lalu Alena melihat ke arah Damar, Damar hanya tersenyum seraya memainkan alis nya naik turun untuk meledek Alena.
Kini Alena telah menyadari kalau foto yang Ia curigai itu rupa nya foto diri nya sendiri. Alena pun merasa malu. "Em... Ini foto aku ya Dam? Foto pas masih SMA dulu" ucap Alena
Damar mengangguk pelan. "Ini foto mantan pacar aku nama nya Alena, sekarang orang yang ada di foto ini udah sah jadi istri aku" Damar memegang tangan Alena seraya menatap nya.
"Kamu dapet foto ini dari siapa Dam? aku aja udah lupa sama foto jelek ini"
"Aku dapet foto cantik ini dari Tiara, Na" jelas Damar lalu bangun dari duduk nya, Damar berdiri tepat di depan Alena. "Kata siapa foto ini jelek? Foto ini cantik tau, aku suka"
"Foto ini kayak nya udah lama deh nempel di sini, sejak kapan Dam kamu nyimpen foto ini di sini?"
"Udah lama Na, sejak pertemuan pertama kita di klinik itu, aku udah mulai suka sama kamu, aku berusaha buat nyari tau tentang kamu, semua hal tentang kamu, walaupun respon kamu galak tapi aku gak peduli, aku gak nyerah, aku tetep nekat buat deketin hati kamu, mungkin kalo bukan karena rem motor aku yang blong waktu itu, kita gak akan pernah ketemu dan bersatu kayak sekarang ini, Na" jelas Damar seraya mengusap lembut rambut Alena.
Alena tersenyum. "Mungkin kalo dulu aku gak ketemu sama mas ganteng ku ini, aku juga gak bakal bisa ngilangin rasa trauma masa kecil aku, sekarang aku udah happy karna trauma aku udah sembuh, makasih ya Damar"
Damar menyelipkan anak rambut Alena ke belakang telinga Alena. Damar dan Alena saling beradu pandang. "Aku bersyukur punya kamu, Na" ucap Damar
"Aku juga Damar, aku bersyukur banget di kasih suami baik dan sabar kayak kamu, aku juga bersyukur banget karna sekarang kita udah gak berdua lagi Dam, tapi kita udah bertiga"
Alena merangkum wajah Damar lalu mulai mencium pipi Damar. Damar pun merespon ciuman Alena, Damar langsung merangkum wajah Alena lalu mulai mencium bibir Alena dengan lembut. Mata Damar terpejam saat bibir mereka saling bertaut satu sama lain, pagutan demi pagutan menyatukan dua bibir itu. Lalu Alena menguraikan sejenak penyatuan bibir mereka, Damar ingin maju untuk melanjutkan kembali ciuman mereka, namun di tahan oleh Alena.
Alena tersenyum seraya memegang tangan Damar, Alena mengarahkan tangan Damar ke arah perut nya. Damar mulai mengusap lembut perut Alena, Damar tersenyum lalu menatap Alena. "Na, sekarang keluarga kita udah lengkap, kamu gak perlu khawatir, aku bakal jaga kalian berdua sampe maut yang misahin kita, Na" Damar langsung memeluk Alena dengan penuh cinta, Alena pun balik memeluk Damar. "Aku sayang kamu, Alena" sambung nya.
"Aku juga sayang kamu, Damar" ucap Alena
Bonus :
__ADS_1
......"""""""""TAMAT"""""''''......