
Damar dan Alena pulang ke kediaman rumah nya. Lalu Damar dan Alena masuk ke dalam rumah mereka setelah lelah bekerja seharian. Damar duduk di atas kasur menunggu giliran untuk mandi.
Tak lama kemudian, Alena keluar dari dalam kamar mandi. Selesai mandi, Alena bercermin di cermin kamar nya seraya mengeringkan rambut nya yang masih basah.
Damar memperhatikan Alena melalui cermin di depan nya. Sontak saja pandangan Damar membuat Alena sedikit malu.
"Kamu ngapain si ngeliatin aku mulu? mau aku colok ya mata nya!" omel Alena
Damar pun tertawa mendengar ucapan Alena, Damar tahu betul bahwa ucapan itu lah yang akan keluar dari mulut Alena jika Ia menatap nya terus menerus.
"Yaelah galak banget, emang gak boleh ya kalo aku natap kamu, Na?" Damar mulai berjalan mendekat ke arah Alena
"Lagian ngeliatin nya begitu banget, berasa kek ada yang salah aja sama aku!" Alena menyilangkan kedua tangan nya seraya mengerucutkan bibir nya.
Lalu Damar menarik pinggang Alena hingga membuat Alena terkejut, kedua mata Alena pun membulat menatap Damar. Perlahan lahan wajah Damar mendekat ke arah Alena, semakin dekat dan dekat. Alena pun mulai memejamkan kedua mata nya.
Namun saat Damar ingin mencium bibir Alena, tiba tiba saja ponsel Alena berdering hingga membuat kedua nya terkejut. Suara ponsel Alena membuat kedua nya langsung membuyar.
Alena pun mengambil ponsel nya lalu segera menerima panggilan masuk tersebut.
"Apa! mamah di bawa ke rumah sakit?! aku kesana sekarang, makasih ya mbak!" Alena langsung memutuskan panggilan masuk tersebut lalu bergegas pergi ke rumah sakit bersama Damar.
....
Setiba nya di rumah sakit, Alena dan Damar mencari ruangan tempat ibu Retno di rawat. Setelah menemukan ruangan beliau, Alena dan Damar duduk untuk menunggu hasil pemeriksaan dari Dokter.
Setelah beberapa menit kemudian, Dokter keluar dari ruangan, Damar dan Alena pun langsung menghampiri Dokter tersebut.
"Dok, gimana keadaan mamah saya? mamah saya baik baik aja kan? iya kan?" ucap Alena seraya menangis.
Dokter itu belum menjawab, namun terlihat dari raut wajah dokter tersebut seperti ada yang tidak baik baik saja.
"Dok, jawab!" bentak Alena
"Maaf, kami sudah berusaha semampu kami, tapi kami tidak bisa menyelamatkan nyawa ibu Retno, sekali lagi maaf!"
Deg! bagai petir menyambar di siang bolong, Alena begitu terkejut mendengar perkataan Dokter yang menangani ibu nya, begitu juga dengan Damar.
"Innalilahi waina ilaihi rojiun!" ucap Damar
"Astagfirullah, gak mungkin kan Dok? mamah saya pasti masih hidup kan? iya kan dok? jawab!" Alena menangis sejadi nya di rumah sakit.
Dokter itu pun menggeleng. "Maaf, tapi beliau sudah meninggal dunia, pendarahan yang di alami beliau membuat darah di bagian kepala nya menggumpal dan tidak mengalir dengan baik!" jelas Dokter
Seketika kedua lutut kaki Alena melemas saat mendengar penjelasan dari dokter tersebut. Alena hampir jatuh pingsan, namun dengan sigap Damar langsung memegang tubuh Alena dan menahan nya.
Alena menangis sejadi nya saat tahu bahwa ibu nya telah wafat akibat terpeleset di kamar mandi. Luka di bagian belakang kepala ibu Retno membuat ibu Retno meninggal dunia.
Alena langsung berlari masuk ke ruangan ibu Retno di ikuti oleh Damar dari belakang. Lalu Alena memeluk tubuh ibu Retno yang kini telah menjadi mayat. Alena menangis sejadi nya di atas tubuh ibu nya.
"Mamah! mamah! jangan tinggalin Alena, Mah!" tangisan histeris Alena membuat Damar ikut bersedih. Namun itu lah kenyataan nya, ibu Retno telah meninggal dunia karena benturan di kepala nya.
Alena masih menangis, Damar pun berusaha untuk menenangkan Alena. "Sabar Alena, ini semua udah takdir dari Allah, kita harus bisa ikhlas nerima nya!" ucap Damar
"Engga! aku gak percaya mamah aku udah gak ada Dam, aku gak percaya!" Alena masih menyangkal. "Mah, ayo mah bangun! jangan tinggalin Alena!" sambung nya lagi seraya memeluk jasad ibu Retno.
Lalu Damar memeluk Alena, Alena menangis di pelukan Damar. Namun tiba tiba saja tangisan Alena berhenti, tubuh Alena melemas, rupa nya Alena jatuh pingsan. Dengan cepat Damar pun langsung menahan tubuh Alena agar tidak terjatuh.
"Alena! Alena!" pekik Damar
__ADS_1
Lalu Damar membopong tubuh Alena dan membawa nya ke sebuah ruangan. Setelah itu, Damar langsung menghubungi keluarga nya dan juga Tiara, sahabat Alena. Beberapa menit kemudian, Tiara dan Rifki tiba di rumah sakit.
"Damar, gimana keadaan Alena?" tanya Tiara
"Dia kek nya sedih banget Ra, gue bener bener gak tega liat Alena sedih kek gitu!" ucap Damar
"Hmm sabar ya Dam, gue sama Rifki turut berduka cita, gak ada yang nyangka banget kalo ibu nya Alena bakal meninggal cepet banget kek gini, Dam!"
"Iya, nama nya juga udah takdir!"
"Kita doain aja, semoga beliau di tempatkan di tempat orang orang yang beriman, amin!"
"Amin ya Allah!"
Saat tengah berbincang, Alena mulai siuman dari pingsan. Perlahan Alena membuka kedua mata nya, Ia menoleh ke arah kanan dan kiri nya. Hanya ada Damar, Tiara dan juga Rifki di dalam ruangan tersebut.
Lalu Alena mencoba untuk bangun dari tidur nya, Damar pun langsung membantu Alena. Alena menyenderkan kepala nya di bahu Damar.
"Damar, kepala aku rasa nya pusing banget!" ucap Alena
"Iyaudah, mendingan sekarang kamu istirahat aja ya Na di sini, ada Tiara sama Rifki juga ikut nemenin kamu kok!" ucap Damar lalu melihat ke arah Rifki. "Ki! gue minta tolong ya, beliin air putih di luar!" sambung nya.
"Oke bentar!" Rifki langsung pergi keluar
Lalu Damar merebahkan kembali tubuh Alena, Alena masih terisak tangis dalam tidur nya, Alena benar benar terpukul atas meninggal nya ibu Retno, ibu yang paling Ia sayangi.
.....
Kedua orang tua Damar dan beberapa kerabat dekat Alena datang ke pemakaman, termasuk ayah Alena. Mereka datang untuk memberikan doa dan mengantarkan almarhum ibu Retno ke tempat peristirahatan terakhir.
Langit terlihat mendung, di susul dengan suara gemuruh di langit yang menandakan akan turun hujan. Satu persatu air hujan pun turun membasahi, beberapa kerabat dekat dan juga tetangga Alena mulai meninggalkan area pemakaman.
Alena hanya duduk terdiam sembari menahan tangis di depan makam ibu nya. Lalu Tiara memegang bahu Alena, Ia berusaha untuk menenangkan Alena.
"Na, yang sabar ya, ikhlasin kepergian mamah lu biar mamah lu tenang di sana, gue turut berduka cita!" ucap Tiara
Alena bangun dari duduk nya. "Iya, makasih ya Ra!" Alena langsung memeluk Tiara, seraya menangis. Alena masih sedih dan terpukul atas meninggal nya ibu Retno.
Lalu Tiara mengusap punggung belakang Alena, Ia berusaha memberikan sedikit ketenangan untuk Alena. Setelah itu, Tiara dan Rifki pamit pulang. Kedua orang tua Damar juga pulang karena hujan semakin deras.
Tinggalah Damar dan Alena di pemakaman, lalu Damar memegang tangan Alena. "Na, kita pulang yuk!" ajak Damar
"Aku gak mau pulang Dam, aku mau di sini sebentar lagi!"
"Tapi Alena-"
"Aku mohon!" tukas Alena seraya melihat ke arah Damar dengan kondisi kedua mata Alena yang terlihat sembab. "Aku masih mau di sini, aku masih mau ngeliat mamah sebentar aja!" sambung nya.
Damar pun mengangguk. "Yaudah!" Damar berdiri di samping Alena seraya memayungi Alena, Ia dengan sabar menemani Alena di tengah deras nya air hujan yang mengguyur area pemakaman.
Setelah merasa sedikit tenang, Alena pun mau di ajak pulang oleh Damar. Damar berjalan di samping Alena seraya memayungi Alena, Ia tidak memperdulikan baju nya yang sudah basah karena terkena air hujan.
Malam semakin larut, hujan juga mulai reda. Lalu Damar mengajak Alena pergi ke suatu tempat, tempat dimana Alena bisa merasa tenang dan damai. Baju yang tadi nya basah karena terkena air hujan akhir nya kering dengan sendiri nya.
"Na, makan yuk! dari kamu pulang kerja tadi kan belom makan!" ajak Damar
__ADS_1
"Aku gak pengen makan, Dam!"
"Alena, kamu gak boleh kek gini, seenggak nya kamu peduli'in kesehatan kamu, aku tau ini semua berat buat kamu, kamu sedih karna ibu kamu meninggal, aku juga sama Na sedih, tapi kita harus ikhlas nerima takdir Allah!"
Alena hanya terdiam seraya menangis, lalu Damar memeluk Alena dengan lembut. Ia tak tega melihat Alena sedih berlarut seperti itu.
Setelah itu, Damar mengajak Alena ke rumah kediaman orang tua nya. Rupa nya pak Joko dan ibu Asih sudah menyiapkan semua untuk acara pengiriman doa atau tahlilan meninggal nya ibu Retno.
Damar dan Rayhan yang mengatur semua nya, Damar sengaja melakukan itu semua agar Alena tidak merasa sendiri. Karena Alena tidak memiliki sanak saudara lagi selain ayah nya. Kebetulan ayah Alena juga turut hadir di acara tahlilan tersebut.
Lalu Alena di ajak masuk oleh Putri ke dalam kamar nya, Damar dan Rayhan membantu pak Joko dan ayah Alena untuk menyiapkan acara tersebut.
Pembacaan doa pun di mulai, Alena dan Putri berada di dalam kamar. Saat itu Alena hanya terdiam seraya mendengarkan pembacaan doa untuk almarhum ibu nya.
Tak di sadari air mata nya jatuh membasahi kedua pipi nya, Alena menangis dalam diam. Melihat kakak ipar nya bersedih, Putri pun berusaha untuk menenangkan kakak ipar nya itu.
"Yang sabar mba Alena, mbak Alena pasti kuat kan ada mas Damar!" ucap Putri
Alena pun tersenyum lalu memeluk Putri. "Put makasih banyak yah!"
....
Beberapa hari kemudian.
Sejak ibu Retno meninggal, Alena jadi banyak diam, Ia sering menyendiri dan melamun. Saat itu Alena tengah duduk sendirian di depan teras rumah nya sembari melihat ke arah pemandangan yang ada di depan nya.
Tanpa di duga duga ada tamu yang datang ke rumah kediaman Damar dan Alena, tamu itu membuat Alena terkejut.
"Elsha?" Alena langsung bangun dari duduk nya. Ia begitu terkejut melihat kedatangan Elsha. Elsha tampak berbeda, perut nya juga terlihat membesar, Elsha tengah mengandung anak Rian, mantan pacar nya sekaligus teman sekolah Alena dulu.
"Mau ngapain lagi lu ke sini? apa gak puas lu udah bikin gue kehilangan calon anak gue? trus sekarang apa lagi? hah?!" emosi Alena tak terbendung lagi, Ia marah melihat Elsha.
Elsha pun langsung bersujud di depan Alena seraya menangis, hal itu tentu saja membuat Alena terkejut dan juga bingung dengan maksud sikap Elsha.
"Alena, gue tau gue udah banyak salah sama lu dan juga Damar, gue dateng ke sini bukan mau cari masalah, tapi gue mau minta maaf sama lu, gue nyesel udah jahat sama lu, gue bener bener minta maaf!" Elsha bersimpuh meminta maaf pada Alena.
Alena pun langsung memegang tangan Elsha, Ia membantu Elsha untuk berdiri. "Bangun Sa, lu ngapain si sujud sama gue?"
Elsha menangis tersedu sedu di depan Alena, rupa nya Elsha benar benar ingin meminta maaf pada Alena, Ia menyadari perbuatan jahat nya terdahulu.
"Gue mohon Alena, maafin kesalahan gue, gue bener bener nyesel, sekali lagi maafin gue!"
Hati Alena pun terenyuh melihat Elsha, Ia tak tega melihat keadaan Elsha sekarang. Perut nya terlihat membesar karena mengandung tanpa seorang suami. Lalu Ia menganggukan kepala nya. "Iya, gue udah maafin lu Sa!"
Elsha pun langsung memeluk Alena, Ia begitu senang karena Alena telah memaafkan nya. Alena juga senang karena Elsha sudah benar benar taubat dan mengakui kesalahan nya.
Setelah itu, Elsha mulai menceritakan semua nya pada Alena, asal muasal Ia hamil oleh Rian dan nekad memfitnah Damar, rupa nya Elsha sudah benar benar putus asa saat tahu kalau diri nya tengah berbadan dua.
Pada saat itu Rian sakit hati karena Elsha telah berani berselingkuh dari nya, akhir nya Rian pun tega menghamili Elsha. Elsha di beri obat dan tak menyadari perbuatan sang kekasih.
Namun setelah beberapa hari, barulah Elsha menyadari kalau diri nya tengah hamil dua bulan. Elsha meminta pertanggung jawaban dari Rian, namun Rian malah menyuruh nya untuk menggugurkan kandungan nya.
Elsha tak mau melakukan hal itu, akhir nya Ia pun bingung, dan kebetulan pada saat yang sama Ia tengah dekat dengan Damar. Akhir nya Ia pun memutuskan untuk memfitnah Damar, Ia sengaja memfitnah Damar agar anak yang di kandung nya mempunyai ayah.
Elsha sengaja membuat skenario seolah olah Damar lah yang telah menghamili nya agar sang calon anak mempunyai ayah. Elsha sengaja melakukan hal itu agar anak nya tidak menjadi seperti diri nya, tidak memiliki ayah.
Di tambah lagi Elsha juga baru kehilangan ibu nya, Ia tidak memiliki siapa siapa lagi di dunia, ibu nya telah meninggal dunia karena sakit.
Setelah mendengar cerita dari Elsha, Alena pun merasa kasihan pada Elsha, Alena juga baru kehilangan sang ibu. Tentu saja Ia tahu bagaimana rasa nya hidup tanpa orang tua lengkap.
__ADS_1
Memang Elsha telah melakukan kesalahan yang fatal, namun Elsha juga telah berani mengambil resiko yaitu mempertahankan anak yang tengah di kandung nya, bahkan nekad membesarkan nya seorang diri.