
Pukul 03.00 WIB, Alena melakukan sholat tahajud. Alena berdoa kepada Tuhan seraya menangis meminta pada Tuhan agar cepat di berikan kesempatan menjadi seorang ibu. Alena benar benar sudah putus asa dan lelah, berbagai cara sudah Ia lakukan, mulai dari rutin mengkonsumsi susu khusus ibu hamil, sudah minum jamu, dan terakhir Ia di urut pada bagian perut nya oleh mbah Sum, tetangga almarhum ibu nya.
Namun hasil nya tetap sama, sampai saat ini Alena belum hamil juga. Ada satu hal yang belum Alena lakukan, yaitu mengikuti terapy herbal. Sebelum nya Alena memang belum pernah mencoba terapy, maka dari itu Alena ingin mencoba saran dari ibu mertua nya itu.
Selesai sholat, Alena langsung mencari informasi mengenai tempat terapy herbal yang di maksud oleh ibu mertua nya itu melalui media sosial dan internet. Setelah berhasil menemukan nya, Alena buru buru menyimpan alamat tersebut.
Lalu Alena menoleh ke arah samping nya, Ia melihat Damar tengah tertidur dengan lelap. Alena mengusap lembut wajah Damar lalu mencium kening Damar. 'Maafin aku Damar, tapi aku bakal berusaha sendiri' batin Alena.
.....
Alena menyiapkan sarapan di atas meja, ada sayur bayam, ada tempe goreng, dan masih banyak lagi menu tambahan lain nya. Damar tampak bingung, pasal nya tak seperti biasa nya Alena memasak banyak. Namun Damar tak ambil pusing, Damar hanya terdiam lalu menikmati sarapan pagi nya. Damar enggan berbincang dengan Alena karena Ia masih kesal dengan Alena.
"Dam, cobain deh sayur nya" Alena terlihat antusias menyendokan sayur bayam untuk Damar, namun Damar menghentikan aksi Alena. Damar menolak sayur bayam yang ingin di tuangkan oleh Alena. Sontak saja sikap dingin Damar membuat Alena diam sejenak mencerna maksud dari penolakan nya itu, Alena menatap Damar penuh heran, namun Damar menatap nya dengan datar lalu bangun dari duduk nya.
"Aku kenyang, aku berangkat" ucap Damar lalu pergi begitu saja tanpa melakukan hal yang biasa nya Damar lakukan pada Alena, padahal biasa nya Damar bersenda gurau lebih dulu dengan Alena sebelum berangkat ke kantor. Namun hari ini berbeda, sikap nya dingin pada Alena, bahkan tatapan mata nya terlihat datar menatap Alena.
Sebegitu marah nya kah Damar pada Alena sampai enggan untuk berbicara? apa karena masalah semalam? seperti nya pembahasan mengenai terapy herbal membuat Damar marah dan tersinggung. Alena tahu bahwa apa yang di katakan nya semalam itu salah, namun di balik itu semua sebenar nya Alena hanya ingin yang terbaik.
Terkadang pemikiran nya dengan Damar tak sejalan, hal itu lah yang membuat Alena jadi bingung sendiri. Alena menghela nafas lalu duduk termenung di ruangan meja makan, Alena melihat semua makanan di atas meja yang telah Ia siapkan untuk Damar, namun makanan yang telah Ia siapkan berakhir sia sia.
Saat tengah melamun, tiba tiba saja ponsel Alena berdering, lamunan Alena membuyar, Alena langsung melihat nama orang di layar ponsel nya, rupa nya panggilan masuk dari Tiara, sahabat lama nya.
"Iya Ra?"
("Alena! apa kabar lu? ya Allah gue kangen banget sama lu Na") ajak Tiara via telepon
"Alhamdulilah gue sehat, lu gimana kabar nya Ra? anak lu sehat?"
("Iya Na alhamdulilah, ya Allah gue kangen Na sama lu, udah lama nih gak hangout, yuk temenin gue ke Mall") oceh Tiara
"Em... gimana ya? gue sebenernya lagi ada sedikit masalah Ra, jadi-"
("Lu kenapa Na? lu baik baik aja kan? ada masalah apa sih? sini cerita sama gue Na, jangan lu pendem sendiri Na") tukas Tiara yang langsung memotong ucapan Alena. Tiara terdengar panik mendengar sahabat nya di landa masalah, Tiara begitu peduli dan sayang pada Alena.
__ADS_1
"Iya, gue emang mau cerita sama lu, lu bisa maen ke rumah gue? soal nya gue gak ada motor Ra"
("Iya bisa Na, bentar ya gue siap siap dulu, gue gak ngajak anak gue ya Na, ntar dah gue ceritain")
Setelah cukup berbincang, Tiara langsung memutuskan panggilan telepon nya. Tiara langsung bergegas menuju ke rumah Alena, kebetulan saat ini rumah nya dengan Alena tak begitu jauh.
.....
"Apa?!" pekik Tiara setelah mendengar cerita Alena mengenai terapy herbal yang ingin di lakukan oleh Alena. "Lu udah gila Na? lu mau ikut terapy herbal begituan?" sambungnya tak percaya.
"Iya Ra, abis gue udah putus asa banget Ra, gue harus kayak gimana lagi coba? ibu nya Damar pengen punya cucu, sedangkan lu tau sendiri kan kemaren gue abis kehilangan calon anak gue, dan gue di vonis dokter kata nya gak bisa hamil lagi, makin di buat gila gue Ra, sumpah gue bingung, gue marah, gue kesel!" Alena mulai menangis karena tak kuasa menahan rasa sedih nya yang sudah menumpuk di hati nya. Tiara pun ikut sedih mendengar cerita Alena, apa lagi Tiara sudah lama tak bertemu dengan Alena. Saat ini Alena terlihat kurus, tak seperti dulu kala.
"Na, gue minta maaf ya kalo omongan gue bikin lu tersinggung, gue gak bermaksud buat-"
"Engga Ra, mungkin gue nya aja yang lagi baper!" Alena menyeka air mata nya lalu menghela nafas nya. "Oh iya, kenapa Rafa gak lu ajak?"
(fyi Rafa adalah nama anak nya Tiara)
Seketika Alena pun langsung tertawa ketika mendengar ocehan sahabat nya itu, pasal nya ibu nya Tiara itu memang terkenal tegas pada anak, dahulu saja Tiara pernah di pukul di bagian b0k0ng nya karena bolos sekolah. Bukan pukulan aniaya, melainkan sebuah bentuk didikan ibu nya Tiara pada Tiara. Hal itu yang Alena ingat, rupa nya sampai saat ini perlakuan ibu nya tetap sama, walaupun Tiara sudah menikah tak membuat ibu nya bersikap berbeda. Tiara beruntung memiliki ibu yang masih peduli pada nya.
"Ra, beruntung lu masih di sayang sama dua ibu sekaligus, gak kek gue nih... gak di anggep sama sekali sama ibu mertua gue"
"Na, lu gak boleh ngomong kek gitu, lu gak boleh banding bandingin hidup lu sama gue, atau pun sama orang lain, kita sama!" ucap Tiara menampis penilaian Alena. "Dah yuk kita keluar, kita jalan jalan kemana kek, mumpung anak gue anteng sama emak gue nih di rumah" sambung nya lalu menarik tangan Alena agar ikut bersama nya pergi.
Mereka pun pergi berdua, berjalan jalan dan membeli beberapa pakaian di Mall, Alena dan Tiara tampak senang menikmati waktu luang mereka. Tiara dan Alena seperti mengulang masa masa gadis dulu, dari zaman sekolah sampai saat ini, persahabatan mereka masih terjalin baik. Alena sudah menganggap Tiara seperti saudara kandung nya sendiri, begitu juga dengan Tiara.
"Ra, abis ini temenin gue ke toko buku ya? gue mau beli novel" ucap Alena
"Iya Na, lu tenang aja pasti gue temenin lu ke toko buku" ucap Tiara di tengah aktifitas nya yang tengah memilih pakaian di salah satu toko pakaian di Mall.
Alena pun duduk seraya memperhatikan Tiara dari jauh, Tiara memang tidak pernah berubah, Tiara suka sekali berbelanja di Mall. Termasuk belanja pakaian, bukan karena Tiara suka pakaian yang mewah, tapi karena ingin sekalian jalan jalan menikmati indah nya isi Mall. Karena saat ini mereka sudah sama sama menikah, jadi akan sangat sulit mengatur pertemuan. Maka dari itu, selagi bisa pergi berdua, mereka langsung pergi hari itu juga.
Saat tengah membaca novel milik nya, tiba tiba saja perut Alena terasa mual. Alena pun menutup mulut nya dengan telapak tangan nya, rasa nya seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam mulut nya. Dengan cepat, Alena pun pergi menuju ke arah toilet meninggalkan Tiara yang saat itu tengah membayar pakaian di dekat kasir.
__ADS_1
Beruntung Tiara sempat menoleh ke arah Alena, saat ingin memanggil Alena, Tiara sudah di panggil lebih dulu oleh kasir yang berada di sana. Alhasil Tiara pun kehilangan jejak bayangan Alena.
'Mau kemana si tuh bocah, kenapa gue di tinggal ya?' gumam Tiara
....
Alena mengeluarkan semua isi perut nya di toilet khusus wanita. Entah mengapa tiba tiba saja kepala nya terasa pusing dan perut nya juga mual. Apa Alena salah makan? rasa nya tidak mungkin jika Ia salah makan. Pasal nya Alena baru menyantap sarapan pagi saja.
Lalu mengapa perut nya mual seperti ini? rasa nya semua isi perut nya bergejolak ingin keluar semua dari dalam perut nya. Setelah mual nya hilang, Alena duduk lemas di dalam toilet seraya membersihkan mulut nya dengan air. Lalu ponsel nya berdering, rupa nya Tiara yang menghubungi nya. Alena pun segera menerima panggilan masuk tersebut.
"Iya Ra?"
("Na, lu pergi kemana si? kok maen kabur aja gue di tinggal")
"Iya Ra maaf, gue lagi di toilet inih"
("Lu kenapa si Na? lu sakit? gue kesitu bentar") Tiara langsung memutuskan panggilan telepon nya lalu bergegas pergi ke toilet tempat Alena berada.
Dan benar saja, setiba nya di toilet Mall Tiara melihat Alena duduk lemas di dekat wastafel seraya di temani oleh petugas kebersihan di sana. Tiara terkejut melihat keadaan Alena, Tiara pun langsung menghampiri Alena.
"Na, lu kenapa?" Tiara langsung memegang Alena lalu membantu nya berdiri. Alena pun mencoba untuk berdiri walaupun sebenar nya Ia tak kuat. Tiara di bantu oleh petugas kebersihan yang kebetulan sedang berada di toilet tersebut.
Setelah itu, Alena duduk di kursi yang tak jauh dari toilet. Wajah Alena terlihat pucat, tubuh nya dingin dan berkeringat. Tiara makin panik di buat nya, Ia pun berniat untuk menghubungi Damar, namun Alena malah melarang nya.
"Kenapa Na? Damar harus tahu lu sakit" ucap Tiara
"Jangan kasih tau dia Ra, tolong anterin gue ke klinik"
Tiara pun mengantar Alena ke sebuah klinik yang tak jauh dari Mall, Alena berbaring di atas ranjang klinik. Lalu Tiara menghampiri dokter yang memeriksa Alena, Tiara begitu khawatir dengan keadaan sahabat nya itu.
"Dok, gimana hasil nya? temen saya sakit apa?" tanya Tiara
"Em... begini, ibu Alena gak sakit, tapi ibu Alena positif hamil!"
__ADS_1