
Dengan cepat Alena langsung melepas paksa pelukan Damar. Lalu Alena memperhatikan pakaian Damar secara menyeluruh, pakaian Damar terlihat basah karena air hujan. Keadaan Damar saat itu telah membuat Alena merasa kasihan pada nya, namun lagi lagi Ia menutupi perasaan nya itu.
Lalu Alena menyilangkan kedua tangan nya sembari menatap Damar dengan tatapan jutek nya. Namun Damar tersenyum pada Alena, perasaan nya saat ini sudah lega ketika melihat Alena dalam keadaan baik baik saja.
"Alhamdulilah... kamu gak apa apa, aku lega banget!" ucap Damar sembari memegang kedua pundak Alena. Namun Alena langsung menampis kedua tangan Damar yang berada di pundak nya.
"Udah, gak usah banyak basa basi, langsung ke inti nya aja. Lu mau ngomong apa'an sama gue?" tanya Alena yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Damar hanya terdiam, lalu Ia menggandeng tangan Alena. Ia mengajak Alena duduk bersama di sebuah kursi warung kopi yang berada di pinggir jalan raya.
"Mau ngapain si lu ngajak gue ke sini?" tanya Alena sedikit kesal.
Damar tersenyum "sayang, aku mau ngopi bentar di sini, tapi sambil ngobrol sama kamu!" jawab Damar.
"Sebenernya Damar mau ngomong apa'an sih sama gue?, bikin penasaran aja nih kutil beras..." (batin Alena bergumam).
Lalu Alena menyilangkan kedua tangan nya. Raut wajah nya terlihat kesal, karena Damar sengaja mengulur waktu nya. Setelah itu Damar memesan segelas kopi hangat di warung tersebut, Ia juga memesan teh hangat untuk Alena, namun Alena enggan meminum teh nya.
"Na, kenapa gak di minum teh nya?. Tenang aja, teh nya gak ada racun nya kok!" ucap Damar tersenyum sembari menyodorkan teh nya.
"Gak mau!. Udah buruan lu mau ngomong apaan? gue gak punya banyak waktu buat ngeladenin elu!" jawab Alena dengan ketus.
"Iya iya sabar..." ucap Damar. "Jadi gini... aku cuma mau bilang sama kamu kalo aku masih sayang banget sama kamu, dan aku gak mau hubungan kita berakhir kayak gini, Na!"
"Apa? jadi lu ke sini cuma mau ngomongin hal kayak gitu doang sama gue?. Buang buang waktu gue aja lu!" ucap Alena kesal. "Udah, gue mau pulang sekarang!"
Lalu Alena beranjak bangun dari tempat duduk nya, Ia berjalan meninggalkan Damar di warung tersebut.
__ADS_1
"Na, tunggu...."
Damar berusaha untuk menghentikan Alena, namun Alena tetap saja pergi meninggalkan nya. Damar terus mengejar Alena, lalu Ia menarik tangan Alena dari belakang. Langkah kaki Alena pun terhenti ketika Damar memegang tangan nya. Ia langsung menoleh ke arah Damar.
"Apa'an lagi sih? ini tuh udah malem, dan gue harus pulang sekarang, nanti martabak gue keburu dingin tau!" ucap Alena yang melepas paksa tangan nya.
"Yaudah, kalo gitu aku anterin pulang!"
"Gak usah, gue bisa kok pulang sendiri, mendingan lu pulang aja sono!" suruh Alena. "Liat tuh! baju lu udah basah semua, kalo gak buru buru ganti baju ntar masuk angin!" sambung nya lagi sembari melihat ke arah jaket Damar yang terlihat setengah basah.
Damar pun tersenyum ketika mendengar perkataan Alena, Ia tahu kalau sebenarnya Alena masih peduli pada nya. Namun karena kesalahan yang sudah di lakukan oleh ibu nya membuat Alena jadi marah pada nya.
"Kenapa lu malah senyum? udah sono pulang ngapain sih ngeliatin gue mulu, mau gue colok mata lu?" ucap Alena sembari membesarkan kedua mata nya.
Damar pun tertawa "galak banget dih, abis nya aku tuh gemes liat kamu ngomel ngomel begini Na, aku kangen sama ocehan kamu!"
"Apa'an sih, modus banget..." Alena langsung mengalihkan pandangan mata nya ke arah lain.
"Gue bawa motor sendiri, jadi gak usah di anterin pulang sama lu!" ucap Alena lalu berjalan pergi menuju ke arah motor nya. Damar pun membuntuti Alena dari belakang.
Sesampai nya di tempat motor, Alena terkejut ketika melihat kondisi motor nya yang terlihat sudah rusak parah di bagian depan nya. Saat itu Ia lupa kalau motor nya tadi tertimpa oleh batang pohon beringin besar. Alena pun menghela nafas dengan kasar, Ia berusaha untuk menahan amarah nya.
"Ya Allah... gue lupa, motor gue kan ancur gara gara ke timpa pohon tadi!" ucap Alena sembari menepuk dahi nya.
Lalu Damar datang, Ia pun memperhatikan keadaan motor Alena yang terlihat sudah hancur parah di bagian depan nya. Ia mencoba untuk menyalakan motor Alena, Ia melakukan nya secara berulang. Namun hal itu percuma saja, karena motor Alena tetap tidak bisa menyala.
Setelah itu Damar membawa motor Alena ke bengkel terdekat, namun sayang nya bengkel tersebut sudah tutup. Dengan terpaksa, akhir nya Alena menitipkan motor nya yang sudah rusak parah ke sebuah penitipan motor. Karena memang motor nya benar benar tidak bisa menyala sama sekali.
__ADS_1
Jam sudah menunjukan pukul 21.00 WIB, Alena pun benar benar kebingungan dengan situasi nya saat ini. Tak lama kemudian, ibu Retno menelfon Alena. Ia menanyakan keberadaan nya saat ini.
"Halo mah?"
π"Alena, kamu ada di mana sekarang? kenapa belom pulang?"
"Iya mah, ini juga mau pulang kok bentar lagi!"
π"Yaudah, ati ati di jalan..."
"Iya mah..."
Lalu panggilan pun berakhir. Saat itu Alena tidak berani menceritakan soal kejadian yang sedang di alami nya saat ini karena Ia tidak mau membuat ibu nya jadi khawatir dengan nya. Alena terlihat kebingungan, lalu Damar menawarkan tumpangan pada Alena.
"Ayo, aku anterin pulang sekarang!" ucap Damar sembari menaiki motor nya. "Ini kan udah malem, Kalo misal nya kamu naek angkot sendirian juga bahaya!"
"Naek motor sama lu tuh, lebih bahaya!" sahut Alena dengan wajah juteknya.
Namun Damar tidak marah dengan ucapan Alena, karena Ia paham dengan kemarahan kekasih nya saat ini.
Damar tersenyum "Alena, aku gak mau kamu kenapa napa, ayo naik!" pinta Damar.
Alena pun terdiam sembari berpikir, sebenar nya Ia tidak mau di antar pulang oleh Damar. Karena Ia masih kesal dengan perlakuan keluarga nya Damar yang telah membatalkan rencana pertunangan nya secara sepihak pada diri nya. Namun karena keadaan yang mendesak, akhir nya dengan terpaksa Ia pun menerima ajakan Damar.
"Oke!, tapi gue nerima ajakan lu bukan berarti gue itu lemah atau takut, gue nerima ajakan lu karna terpaksa!" ucap Alena yang langsung naik ke motor Damar.
Di sepanjang perjalanan Alena hanya terdiam, Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Alena juga tidak seperti biasa nya, karena biasa nya ketika sedang naik motor bersama dengan Damar, kedua tangan Alena akan selalu menyelinap masuk ke dalam saku depan jaket milik nya.
__ADS_1
Namun sayang, saat ini keadaan nya telah berubah. Alena tidak mau melakukan hal kecil itu lagi pada nya. Ternyata perubahan kecil itu telah berdampak pada Damar. Ia menangkap dengan jelas perubahan sikap Alena pada nya. Sebenar nya ada perasaan sedih di dalam hati nya, namun Damar hanya bisa menahan perasaan nya itu.
"Sampe segitu nya Na lu marah sama gue, kenapa lu gak mau meluk gue lagi, padahal gue kangen sama moment kebersamaan kita..." (gumam hati Damar).