
Damar terus melajukan motor sport nya dengan kecepatan tinggi. Ia berkendara di bawah rintikan air hujan yang sudah membasahi seluruh pakaian nya. Ia tidak peduli dengan cuaca nya atau pun keselamatan nya. Karena yang Ia pikirkan hanya lah Alena. Entah kenapa wajah Alena selalu muncul di dalam pikiran nya.
"Kenapa Alena?! kenapa?!" teriak Damar. "Aku ini beneran sayang sama kamu, tapi kenapa kamu malah nyuruh aku lupain kamu! kenapa?!!"
Damar terus saja mengoceh di sepanjang perjalanan sembari melajukan motor sport nya dengan kencang di jalan raya. Setelah puas mengoceh sendiri, Ia pun menangis hingga membuat nya kehilangan fokus. Dan tiba tiba saja...
"Ngung... Bruaakk!!..." suara hantaman motor Damar yang terbanting dengan kencang di jalanan aspal hingga membuat nya terjatuh. Ia pun terseret dan tergeletak tak sadarkan diri di tengah tengah jalan raya yang sepi kendaraan.
Beberapa warga sekitar yang melihat kecelakaan tersebut langsung berlarian dan berdatangan ke tengah jalan raya untuk menolong Damar. Kemudian tubuh Damar di gotong bersama sama oleh warga sekitar, Damar langsung di larikan ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan pertolongan medis.
****
Sementara itu, di tempat berbeda dan di waktu yang sama. Kedua orang tua nya Damar tengah menunggu kedatangan Damar di ruang tamu. Pak Joko dan ibu Asih terlihat khawatir dengan Damar, karena putra nya belum juga pulang ke rumah.
Padahal sudah larut malam, tapi Damar belum juga terlihat batang hidung nya. Ibu Asih terus saja mondar mandir tak tentu arah di depan pak Joko hingga membuat nya kebingungan dengan sikap istri nya.
"Bu, kenapa mondar mandir terus sih? ada apa?"
"Pak, perasaan ibu kok gak enak ya? udah jam segini kenapa Damar belom pulang juga? ibu takut kalo Damar kenapa napa, pak!"
"Mungkin itu cuma perasaan ibu aja kali, udah! jangan punya pikiran yang jelek, bu!"
Lalu bu Asih menghubungi teman teman Damar untuk menanyakan keberadaan nya, namun sayang nya teman teman Damar tidak ada yang mengetahui keberadaan Damar.
Saat sedang menunggu, tiba tiba saja ponsel ibu Asih berdering, ternyata Damar yang menghubungi ibu Asih. Dengan cepat Ia pun langsung menerima panggilan masuk tersebut. Namun Ia merasa aneh, karena yang menghubungi nya bukan suara Damar melainkan suara orang lain.
Orang tersebut langsung memberitahukan pada ibu Asih bahwa Damar mengalami kecelakaan dan saat ini sedang berada di rumah sakit. Setelah mendengar kabar tersebut, ibu Asih pun terkejut dan seketika Ia langsung melepaskan ponsel nya dari genggaman tangan nya.
"Bu, ibu kenapa?!" pekik pak Joko
Ibu Asih pun menangis, Ia langsung memberitahu kabar buruk itu pada pak Joko hingga membuat nya ikut terkejut juga. Setelah itu, kedua orang tua nya Damar langsung bergegas pergi menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Damar.
__ADS_1
****
Keesokan hari nya.
Alena duduk sendirian di kantin kantor tempat nya bekerja. Namun tiba tiba saja muncul nama Damar di pikiran nya. Seperti nya nama Damar muncul begitu saja di dalam kepala nya. Padahal baru satu hari Ia tidak bertemu dengan Damar, tapi rasa nya seperti sudah setahun.
Sebenarnya Ia sangat merindukan Damar, namun Ia harus menelan mentah mentah rasa rindu nya itu di dalam hati nya. Saat sedang melamun, tiba tiba saja Ia di kejutkan dengan tepukan pelan di pundak nya hingga membuat lamunan nya langsung membuyar.
Alena pun menoleh ke arah belakang. Rupa nya Tiara yang sudah mengejutkan nya. Ia pun tersenyum pada Tiara. Lalu Tiara duduk berhadapan dengan Alena.
"Na, lu kenapa? sakit?" tanya Tiara
Alena menggelengkan kepala nya "gak kok Ra, gue gak kenapa napa!" jawab Alena
"Serius, lu baik baik aja?" tanya Tiara yang masih tidak percaya dengan perkataan Alena.
"Iya..."
Sebenar nya Tiara tahu bahwa saat ini Alena sedang tidak baik baik saja, namun sepertinya Alena berusaha untuk menutupi nya. Padahal terlihat dengan jelas di wajah Alena kalau Ia sedang bersedih.
"Gak ada Ra, orang gue baik baik aja kok, udah deh gak usah berlebihan!"
"Gue gak percaya sama lu, Na!"
Alena tertawa "lagian siapa juga si yang nyuruh lu percaya sama gue, jangan... ntar musyrik!"
"Alena, gue serius! cerita sama gue!"
Alena pun menghela nafas, lalu perlahan lahan Ia mulai menceritakan soal pembatalan pertunangan nya dengan Damar yang sudah di lakukan oleh ibu nya Damar secara sepihak.
Selama ini, Alena tidak pernah berani menceritakan masalah hidup nya dengan siapa pun. Karena tidak ada lagi orang yang bisa Ia percayai selain ibu nya dan juga Tiara. Jika Ia sudah menceritakan masalah hidup nya dengan seseorang, itu berarti orang tersebut sudah mendapatkan kepercayaan nya.
__ADS_1
Setelah mendengar semua cerita dari Alena, Tiara pun terkejut. Ia langsung berpindah tempat duduk di samping Alena lalu memeluk nya dengan penuh kasih sayang. Tiara mengusap lembut punggung belakang Alena untuk memberikan nya dukungan.
Lalu Alena menangis di pelukan Tiara, Tiara pun ikut menangis juga. Entah kenapa Ia ikut menangis ketika melihat sahabat nya menangis di pundak nya. Seperti nya Ia ikut terbawa oleh perasaan Alena saat ini.
"Damar... lu utang penjelasan sama gue karna lu udah berani nyakitin Alena. Pokok nya gue harus ketemu sama lu nanti!" (ucap batin Tiara).
...
Sore itu, Alena dan Tiara merapihkan meja tempat nya bekerja. Rupa nya mereka berdua tengah bersiap siap untuk pulang ke rumah masing masing. Saat tengah merapihkan meja kantor nya, tiba tiba saja ponsel Tiara berdering. Ia pun segera mengecek ponsel nya, rupa nya Rifki yang menghubungi nya.
Tiara pun tersenyum dan langsung menerima panggilan masuk tersebut. Lalu Rifki langsung memberitahukan nya kabar mengenai kecelakaan yang di alami oleh Damar semalam. Sontak kabar tersebut membuat Tiara terkejut.
"Apa? Damar kecelakaan?!" pekik Tiara
Alena pun terkejut ketika mendengar ucapan Tiara. Ia langsung merebut ponsel Tiara begitu saja untuk berbicara langsung dengan Rifki. Setelah itu, Alena menangis sembari menutup mulut nya dengan telapak tangan nya. Rupa nya Ia sedang berusaha untuk menahan kesedihan nya.
Dengan cepat Alena dan Tiara langsung menuju ke rumah sakit tempat Damar di rawat. Mereka menaiki transportasi umum, karena kebetulan motor Alena sedang rusak akibat tertimpa batang pohon semalam.
Setelah tiba di rumah sakit, Alena dan Tiara langsung berjalan dengan terburu buru menuju ruangan Damar. Dari kejauhan Tiara melihat Rifki dan juga Putri, mereka sedang duduk di kursi rumah sakit. Alena dan Tiara langsung segera menghampiri mereka berdua.
Melihat Alena datang, Putri pun berlari ke arah Alena dan langsung memeluk nya. Ia menangis di pelukan Alena.
"Putri, gimana keadaan mas kamu?" tanya Alena sembari menangis juga ketika melihat Putri menangis.
"Kata nya mas Damar mengalami patah tulang di bagian tangan kiri nya. Trus sekarang mas Damar masih belum sadar juga mbak, Putri takut..."
Lalu Alena melihat kondisi Damar dari balik kaca pintu ruangan Damar. Ia pun menangis ketika melihat Damar terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
"Maafin gue Damar, semua ini terjadi gara gara gue..." (ucap batin Alena).
Setelah itu, Alena menoleh ke arah Putri. Lalu Putri langsung memeluk Alena. Alena pun memeluk nya balik sembari mengusap lembut punggung belakang Putri untuk memberikan nya ketenangan.
__ADS_1
"Putri, kamu tenang dulu ya? mendingan sekarang kita sholat maghrib di mushola, kita doain mas kamu mudah mudahan cepet sadar!" ucap Alena
Putri menganggukan kepala nya "Iya mbak..."