Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Khawatir


__ADS_3

Selesai sholat maghrib, Alena pergi keluar menaiki sepeda motor nya untuk membeli martabak keju kesukaan nya di dekat jalan raya yang tak jauh dari rumah nya. Namun saat di perjalanan, entah kenapa Ia terus memikirkan Damar.


Sesampai nya di tempat penjual martabak, Alena pun mengaktifkan kembali ponsel nya. Ternyata ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Damar. Sebenarnya Ia ingin sekali menghubungi Damar, namun Ia mengurungkan kembali niat nya itu.


Lalu Alena duduk di kursi yang telah di sediakan oleh penjual martabak tersebut. Ia langsung memesan martabak keju kesukaan nya. Saat tengah menunggu martabak pesanan nya, tiba tiba saja ponsel nya berdering. Ternyata ada panggilan masuk dari Damar.


"Damar?, mau ngapain lagi si Dia nelfonin gue? angkat gak ya?" (ucap batin Alena).


Telepon dari Damar telah membuat hati dan pikiran Alena bergulat dengan keras. Di dalam pikiran nya Alena mengatakan "tidak" untuk Damar. Namun di dalam hati nya Alena mengatakan "ya" untuk Damar. Hati dan pikiran nya berjalan tak searah, Ia pun jadi kesal dengan diri nya sendiri.


"Kenapa hati si sama pikiran gue jadi gak sinkron gini?. Udah lah... dari pada bingung, mendingan gue tolak aja deh, Dia pasti gak bakal nelfon gue lagi!"


Lalu Alena menarik nafas lewat hidungnya kemudian membuang nya lagi melalui mulut untuk membuatnya jadi tenang. Ia langsung memutuskan panggilan telfon dari Damar. Namun Damar terus menelepon Alena, hingga membuat nya jadi merasa terganggu. Saat ingin menonaktifkan lagi ponsel nya, tiba tiba saja Damar mengirimi nya sebuah pesan.


πŸ“©"Alena... please!, angkat telfon nya. Aku mau ngomong sebentar sama kamu..."


Pesan singkat dari Damar membuat Alena merasa kasihan pada nya, namun jika Ia mengingat kembali soal pembatalan pertunangan nya yang telah di lakukan oleh ibu nya Damar secara sepihak, membuat nya jadi kesal dan marah. Lalu Damar kembali menelepon Alena, namun lagi lagi Alena menolak telepon nya


πŸ“©"Na, aku mohon banget sama kamu. Tolong angkat telfon nya, aku mau ngomong sebentar sama kamu. Sebentaaaarrrrr aja..."


Karena kesal, akhir nya Alena pun membalas pesan Damar.

__ADS_1


πŸ“©"Gue gak mau ngomong lagi sama lu, mendingan lu gak usah gangguin gue lagi, karna hubungan kita udah berakhir sampe di sini, ngerti!"


Setelah mengirim balasan pesan seperti itu untuk Damar, Alena pun merasa puas. Namun Ia juga tidak tenang, karena ada perasaan bersalah pada Damar. Dan sesekali Alena melihat ke layar ponsel nya untuk mengecek balasan. Entah apa yang ada di dalam pikiran Alena saat itu. Tapi seperti nya, Ia sangat berharap kalau pesan nya akan di balas oleh Damar.


Beberapa menit kemudian, martabak keju pesanan Alena sudah siap. Ia pun langsung bergegas pulang ke rumah nya. Namun saat dalam perjalanan pulang, tiba tiba saja hujan deras. Dan akhir nya Ia pun meneduh dulu di sebuah halte. Karena pada saat itu Ia juga tidak membawa jas hujan.


Lalu ponsel nya berdering lagi, ternyata Damar yang menelepon nya. Melihat hal itu Alena pun hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Dengan terpaksa akhir nya Ia menerima panggilan masuk dari Damar.


"Apa'an sih lu nelfonin gue mulu? ganggu tau gak!" ucap Alena dengan ketus


πŸ“ž"Assalamualaikum... Alena cantik, galak banget sih hehe... aku cuma mau ngomong sebentar sama kamu, jadi please... jangan di mati in dulu!" ucap Damar dengan suara lembut


"Wa'alaikum salam..." jawab Alena. "buruan kalo mau ngomong!" sambung nya lagi.


"Bawel banget si lu!, sayang! sayang! emang nya lu siapa gue? hah?" tanya Alena dengan kesal. "Udah, langsung ke inti nya aja, lu mau ngomong apa'an?"


πŸ“ž"Ya Allah... galak banget sih calon istri hamba. Na, sekarang kamu ada di mana? aku mau ketemu sama kamu. Ada hal penting yang mau aku bahas sama kamu!"


"Gak usah ketemu, mendingan bahas sekarang aja di telfon!" sahut Alena ketus.


πŸ“ž"Gak mau, aku mau nya ketemu langsung sama kamu. Na, kamu ada di mana sekarang?" Damar menegaskan bicara nya.

__ADS_1


"Pala batu banget sih lu!"


πŸ“ž"Biarin..."


Lalu Alena menghela nafas dengan kasar. Dengan terpaksa akhir nya Ia pun memberitahukan lokasi keberadaan nya saat ini. Dengan cepat Damar langsung keluar dari rumah untuk menemui Alena di halte, Ia tidak peduli dengan cuaca nya atau pun kesehatan nya. Yang Ia pedulikan hanya Alena, itu saja.


Pada saat itu angin mulai bertiup dengan kencang dan di selingi dengan suara petir juga yang menggelegar di langit hingga membuat Alena jadi ketakutan. Kebetulan hanya ada beberapa orang saja yang meneduh di sana. Namun satu persatu orang yang berteduh di halte tersebut pergi dan hanya tinggal Alena sendiri.


"Ya Allah... ini ujan kapan berenti nya si, sekarang gue sendiran di sini, gue takut banget nih...." ucap Alena. "Mana angin nya kenceng banget lagih..." sambung nya lagi sembari mendekap tubuh nya sendiri karena kedinginan.


Saat angin tengah bertiup kencang, tiba tiba saja pohon beringin besar yang berada di sisi jalan raya tumbang menimpa halte dan juga semua motor yang sedang terparkir di dekat halte tersebut.


Sontak kejadian itu membuat Alena terkejut dan berusaha untuk menghindar, beruntung nya Ia tidak apa apa hanya mengalami luka lecet saja di tangan. Namun sayang nya sepeda motor nya sudah hancur tertimpa oleh pohon beringin yang tumbang itu.


Beberapa menit pasca kejadian, Damar pun tiba di lokasi tempat Alena berteduh. Ia terkejut ketika melihat ada kejadian pohon tumbang di jalan raya yang menimpa halte tempat Alena berteduh. Pikiran jelek nya langsung mengarah pada Alena, Ia sangat mengkhawatirkan Alena.


Lalu Damar berlari meninggalkan motor sport nya di pinggir jalan. Ia langsung mencari Alena di sekitar halte, namun belum menemukan nya juga. Damar bertanya pada warga sekitar mengenai Alena namun tidak ada yang tahu. Lalu Ia mencoba untuk menghubungi ponsel Alena. Tapi tidak ada jawaban.


Damar semakin khawatir pada Alena, Ia pun berdiri di depan halte yang sudah hancur sembari memandangi halte tersebut. Lalu tiba tiba saja pundak Damar di pegang oleh seseorang dari belakang. Ia pun langsung menoleh ke arah belakang.


Damar terkejut ketika melihat Alena. Dengan spontan, Ia langsung memeluk Alena dengan erat hingga membuat Alena terkejut dengan sikap Damar. Alena hanya diam mematung saat di peluk oleh Damar. Ia hanya merasakan kalau tubuh Damar saat itu sedang gemetaran karena panik.

__ADS_1


"Kenapa badan nya Damar bisa gemetaran gini, apa Dia khawatir sama gue?" (ucap batin Alena).


__ADS_2