
Beberapa hari kemudian.
Alena tengah duduk sendirian di dekat jendela kamar nya sembari melihat pemandangan luar dari dalam kamar nya. Lalu tiba tiba saja Ia tersenyum dengan sendiri nya ketika Ia mengingat ingat kembali soal perkataan ibu Asih pada nya.
(Flashback on)
"Alena, ibu Asih sayang banget sama Damar, jadi ibu minta sama kamu, tolong cintai dan sayangi Damar dengan sepenuh hati kamu, jangan pernah sia siain Damar, karena Damar itu anak nya kalo udah sayang sama seorang wanita pasti dalem banget!"
"Iya bu... Alena bakal sayang dan cintai Damar dengan sepenuh hati Alena!"
(flashback off)
"Alena!"
Seketika panggilan dari ibu Retno langsung membuyarkan lamunan Alena, Ia pun segera menghampiri ibu Retno yang tengah berjalan masuk ke dalam kamar nya.
"Kenapa, Mah?" tanya Alena
"Alena, tadi Mamah dapet telfon dari kantor polisi kata nya bapak kamu jatoh di kamar mandi, trus sekarang lagi di rawat di rumah sakit!" ucap ibu Asih
Alena terkejut "hah? bapak masuk rumah sakit?"
"Iya, ndok!"
"Yaudah Mah, mendingan sekarang kita jenguk bapak ke rumah sakit, sekalian Alena mau minta izin sama bapak!"
Ibu Retno pun mengangguk "yaudah, yuk!"
Alena dan ibu Retno langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk pak Ari, bapak nya Alena. Mereka pergi menaiki mobil transportasi umum, karena motor Alena sudah rusak dan tidak bisa di perbaiki lagi akibat tertimpa oleh batang pohon besar pada bulan lalu.
Tak lama kemudian, Tiara dan Rifki datang ke rumah Alena untuk memberikan undangan pernikahan mereka. Mereka berdua pun berdiri di depan pintu rumah Alena, lalu Tiara mulai mengetuk pintu rumah Alena beberapa kali di selingi dengan ucapan salam, namun tidak ada jawaban dari dalam rumah.
Saat itu Tiara dan Rifki nampak bingung, mereka berdua pun saling beradu pandang lalu kembali mengintip dari balik kaca gelap rumah Alena. Namun tiba tiba saja ada salah satu tetangga dekat rumah Alena keluar dari rumah nya lalu memberitahukan pada Tiara dan juga Rifki kalau Alena dan ibu nya sedang pergi ke rumah sakit.
"Rumah sakit? apa jangan jangan ibu Retno lagi sakit?" ucap Tiara mulai panik. "Ki, kita susul Alena yuk ke rumah sakit sekarang? aku takut nya ibu Retno yang sakit!" sambung nya lagi
"Yaudah ayo, Ra!" ajak Rifki yang langsung naik ke atas motor sport nya bersama dengan Tiara
Tanpa banyak pikir lagi, Rifki langsung melajukan motor sport nya dengan cepat menuju ke arah rumah sakit untuk menyusul Alena, lalu Tiara mencoba untuk menghubungi ponsel Alena.
π"Apa'an, Ra?"
"Na, lu di mana sekarang? kata tetangga lu, elu lagi di rumah sakit, emang nya nyokap lu sakit apa, Na?" Tiara panik
π"Siapa yang sakit si? orang nyokap gue sehat wal'afiat gini di bilang sakit, ngaco lu Ra!"
"Lah? trus lu ngapain Na ke rumah sakit? yang sakit siapa si?"
__ADS_1
π"Bokap gue yang sakit Ra, sekarang lagi di rawat di rumah sakit!"
"Hah? bokap lu sakit Na? yaudah deh kalo gitu gue ma Rifki mau nyusul elu nih ke rumah sakit sekarang, tunggu gue di sana ya Na!" ucap Tiara lalu memutuskan panggilan telepon nya begitu saja.
Beberapa jam kemudian, Tiara dan Rifki pun tiba di rumah sakit tempat pak Ari di rawat. Lalu Ia melihat Alena dan ibu Retno tengah duduk di kursi tunggu.
"Alena!" pekik Tiara
Sontak Alena pun langsung menoleh ke arah sumber suara, rupa nya Tiara dan Rifki yang tengah berlari menghampiri nya. Lalu Tiara duduk di samping Alena dan ibu Retno.
"Lah kamu ngapain ke sini, Neng?" tanya ibu Retno
"Aku ke sini mau jenguk bapak nya Alena, bu!" jawab Tiara. "Nih, aku udah bawain buah pisang buat bapak nya Alena, bu!" sambung nya lagi lalu memberikan buah buahan tersebut pada ibu Retno
"Makasih neng.." ucap ibu Retno
"Makasi ya Ki, Ra. Lu berdua udah mau dateng ke sini buat jengukin bokap gue!" ucap Alena sembari melihat ke arah mereka secara bergantian
"Iya, sama sama Na!" jawab Tiara
"Ngasih undangan nya ntar aja deh, gak enak kalo sekarang mah, waktu nya gak tepat!" (batin Tiara)
Saat itu Rumah Sakit tempat pak Ari di rawat di jaga ketat oleh beberapa anggota kepolisian. Mereka menjaga dan membatasi orang yang ingin menjenguk pak Ari. Tak lama kemudian, dokter yang menangani pak Ari keluar dari ruangan.
Lalu Alena dan ibu Retno langsung menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan kondisi pak Ari. Namun pak Ari masih belum sadar, beliau masih dalam perawatan.
Mendengar hal itu, Alena dan ibu Retno pun terkejut. Begitu juga dengan Tiara dan Rifki, mereka berdua pun ikut terkejut kala mendengar perkataan Dokter yang menangani pak Ari.
Lalu Alena berjalan menghampiri ruangan tempat pak Ari di rawat, Ia berniat ingin melihat kondisi bapak nya. Namun hal itu di larang oleh anggota polisi yang sedang berjaga di depan ruangan pak Ari.
Alena dan ibu Retno pun akhir nya kembali duduk di kursi ruang tunggu, mereka di temani oleh Tiara dan Rifki. Lalu Tiara meminta pada Rifki untuk segera menghubungi Damar, Rifki pun langsung menghubungi Damar. Ia menyuruh Damar untuk datang ke rumah sakit sekarang juga.
Cukup lama Alena dan ibu Retno berada di rumah sakit hingga mereka lupa untuk makan. Lalu Tiara dan Rifki meminta izin untuk pergi keluar, mereka pergi untuk membelikan makanan untuk Alena dan juga ibu Retno.
Saat keluar dari rumah sakit, Tiara melihat Damar dari arah kejauhan. Ia pun langsung menghentikan langkah kaki nya sembari melihat ke arah Damar.
"Yang, ayo! kenapa berhenti?" Rifki bingung
"Bentar Ki, liat deh itu Damar kan yang lagi jalan ke arah sini?" ucap Tiara sembari menunjuk ke arah Damar. Pandangan mata Tiara pun masih melihat ke arah Damar.
Lalu Rifki mengikuti arah tangan Tiara menunjuk, Ia pun melihat Damar tengah berjalan menghampiri mereka. "Lah iya tuh, Damar!"
Lalu Damar berdiri di depan mereka berdua. "Ra, Alena mana?" tanya Damar
"Dia ada di dalem sama mamah nya tuh!" jawab Tiara sembari menunjuk ke arah dalam rumah sakit
"Lu kesini ama siapa, Dam? sendirian?" tanya Rifki
__ADS_1
"Iya Ki, gue dateng sendirian. Ibu sama Bapak gue lagi jagain warung, mereka gak tau kalo gue mau ke sini!" jawab Damar. "Yaudah ya, gue masuk dulu mau cari Alena!" sambung nya lagi
"Yaudah gih!" sahut Tiara
Lalu Damar berjalan masuk ke dalam rumah sakit, sementara itu Tiara dan Rifki langsung berjalan ke arah kantin rumah sakit untuk membeli makanan.
Saat itu Damar melihat Alena tengah duduk di kursi rumah sakit bersama ibu Retno. Ia juga melihat ada beberapa anggota polisi yang sedang berjaga di area ruangan. Ia pun langsung menghampiri Alena dan ibu Retno.
"Alena!"
Seketika Alena dan ibu Retno pun menoleh ke arah Damar, Alena terkejut ketika melihat kedatangan Damar. Lalu Damar langsung menyodorkan tangan nya ke arah ibu Retno, Ia mencium punggung tangan ibu Retno.
"Bu, gimana kabar nya? sehat?" tanya Damar pada ibu Retno
Ibu Retno pun tersenyum "iya, alhamdulilah ibu sehat, kamu sendiri gimana kabar nya, Damar?"
"Alhamdulilah, Damar juga sehat!" sahut Damar
Lalu Alena bangun dari tempat duduk nya, Ia menatap Damar dengan tatapan terkejut nya.
"Damar? kamu ngapain ke sini?" tanya Alena
"Aku kesini mau jenguk bapak kamu, Na!" jawab Damar
Lalu ibu Retno pun ikut bangun juga dari tempat duduk nya. "Damar, kamu kesini sama siapa? trus tau dari mana kalo bapak nya Alena lagi sakit?" tanya ibu Retno
"Damar ke sini sendiri kok bu, trus Damar dapet info dari Tiara kalo bapak nya Alena lagi sakit, gitu!" Damar menjelaskan
"Oh... gitu!" ucap ibu Retno. "Yaudah duduk di sini Damar, ibu mau ke toilet sebentar!"
"Mah, mau Alena temenin?" tanya Alena
"Udah gak usah, mendingan kamu temenin Damar aja di sini!" jawab ibu Retno lalu berjalan pergi ke arah toilet rumah sakit.
Damar pun memandangi wajah Alena, Ia melihat raut wajah Alena terlihat sedih. Lalu Ia memegang tangan Alena.
"Alena, semua nya pasti bakal baik baik aja, kamu yang sabar ya, karna sekarang Allah lagi nguji kamu!" ucap Damar lalu tersenyum, Ia mencoba untuk menenangkan Alena
Lalu kedua mata Alena terlihat memerah, seperti siap untuk menangis namun Alena berusaha untuk menahan air mata nya agar tidak jatuh ke pipi nya.
Damar masih menatap Alena, Ia tahu kalau saat ini Alena ingin menangis namun sedang di tahan tahan oleh nya. Dengan cepat Damar langsung memeluk tubuh Alena sembari mengusap lembut punggung belakang nya, Ia berusaha untuk menenangkan nya.
"Kalo kamu mau nangis, nangis aja Alena gak apa apa. Keluarin semua yang kamu rasain sekarang, karna bahu aku selalu siap untuk jadi penopang kesedihan kamu!" ucap Damar sembari mengusap lembut kepala Alena.
__ADS_1
Sontak ucapan Damar telah membuat hati Alena tersentuh, Ia pun langsung menangis begitu saja di bahu Damar. Ia mengeluarkan semua kesedihan yang ada di dalam hati nya.