
Keesokan hari nya.
Alena berada di dapur, Ia tengah bersiap siap untuk memasak. Lalu nenek Dharmi datang dari pasar seraya membawa daun sirih. Nenek Dharmi pun mulai menghaluskan daun sirih tersebut sebagai obat tradisional, lalu nenek Dharmi memberikan racikan obat tersebut pada Alena.
"Ini buat siapa, Nek?" tanya Alena
"Obat ini buat Damar, dia kan lagi sakit!" jawab nenek Dharmi. "Olesin daun sirih ini ke badan nya Damar yang lagi memar, sama sekalian obatin juga lecet di muka nya!" sambung nya.
Alena terdiam sejenak seraya memperhatikan racikan daun tersebut. Dengan berat hati, Ia pun menuruti perkataan nenek Dharmi. Ia berjalan ke arah ruang tamu, tempat Damar tidur semalam.
Namun Damar tidak ada di tempat, Alena pun menoleh ke arah kanan dan kiri nya untuk mencari Damar. "Damar kemana sih?" gumam nya lalu berjalan ke halaman belakang rumah nenek Dharmi.
Rupa nya Damar tengah berdiri menghadap ke arah matahari terbit seraya merentangkan kedua tangan nya. Ia melakukan nya sambil memejamkan kedua mata nya. Cukup lama Ia berjemur hingga tubuh nya mengeluarkan keringat.
Lalu Damar mulai menarik nafas kemudian membuang nya kembali, Ia melakukan hal tersebut secara berulang. Alena pun hanya terdiam memperhatikan Damar, rupa nya ada banyak luka memar di bagian belakang tubuh Damar.
"Kenapa luka lebam nya banyak? kenapa si dia harus bertindak bodoh kayak gini?" batin Alena
Sebenar nya Alena ingin sekali kembali pulang bersama Damar. Namun jika di ingat kembali, perkataan ibu Asih membuat hati nya terluka. Karena hal itu lah Ia pun memutuskan untuk pergi dan menjauh dari Damar.
Ibu Asih menginginkan Alena untuk berpisah dengan Damar karena Alena telah di vonis bahwa Ia tidak akan bisa hamil lagi. Hal itu tentu saja membuat hati nya sedih, sebisa mungkin Ia pun berusaha untuk ikhlas menerima kenyataan tersebut.
"Alena!" panggilan Damar membuyarkan lamunan Alena, Ia pun menatap Damar yang kala itu sudah berdiri di depan nya. "Kamu kenapa ngelamun?"
Alena menggelengkan kepala nya. "Gak kenapa napa kok!" jawab nya lalu memberikan racikan obat daun sirih itu pada Damar. "Nih, obatin luka memar nya pake ini, aku mau balik lagi ke dapur!" Alena langsung beranjak pergi meninggalkan Damar.
Damar hanya terdiam memperhatikan Alena dari jauh. "Aku gak akan nyerah, Alena. Gak akan nyerah!" gumam nya
.....
Terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah nenek Dharmi. Alena pun segera membukakan pintu, Ia tersenyum saat melihat orang yang berada di depan nya.
"Kak Bagas!"
Bagas langsung memeluk Alena begitu saja, setelah itu mereka berdua duduk di ruang tamu. Bagas membawakan sebuah hadiah untuk Alena. Sebuah kotak kecil namun indah, Alena pun terlihat menyukai hadiah yang di berikan oleh Bagas.
Damar memperhatikan Alena dan Bagas dari arah kejauhan. Ada rasa cemburu dalam diri Damar yang menggebu gebu, apalagi saat melihat Bagas memeluk Alena.
Lalu Alena membuka kotak hadiah tersebut, kedua mata Alena langsung berbinar saat melihat isi kotak tersebut. "Wah.... ini beneran buat aku kak? indah banget!"
"Iya, kamu suka?"
Alena mengangguk lalu memakai nya. Cincin itu terlihat indah di jemari tangan Alena, Alena pun menyukai nya.
Merasa berlebihan, Damar pun langsung menghampiri Alena dan Bagas. Lalu Bagas dan Alena menoleh saat melihat kedatangan Damar. Raut wajah Damar terlihat kesal, rupa nya Ia tengah menahan rasa cemburu nya.
Damar menatap Alena dengan tatapan tajam, hal itu tentu saja membuat suasana nya jadi memanas. Damar langsung menarik paksa tangan Alena lalu membawa nya pergi dari hadapan Bagas.
"Damar, lepas!" pinta Alena seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Damar. Hal itu tentu saja memancing rasa emosi Bagas, Ia pun menghentikan langkah Damar dengan berdiri di depan Damar.
"Heh, lu siapa si? maen tarik paksa aja!" ucap Bagas kesal. "Bisa kan gak usah kasar sama cewek!" sambung nya.
"Masalah buat lu? Alena ini istri gue, apa hak lu? hah?!" jawab Damar yang semakin kesal dengan perkataan Bagas.
"Oh... jadi elu yang nama nya Damar? cowok macam apa lu udah berani nyia nyiain Alena? masih punya muka lu dateng ke sini?"
Damar langsung menarik kerah baju Bagas seraya menatap tajam ke arah Bagas. "Tau apa lu soal rumah tangga gue? lu tuh gak tau apa apa jadi jangan sok tau, harus nya elu yang tau malu, Alena itu istri gue, paham lu!"
Situasi yang memanas membuat Alena sedikit takut, Ia pun memegang tangan Damar lalu berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Damar yang mencengkeram kerah baju Bagas.
"Damar, lepasin baju kak Bagas!" pekik Alena. Seketika cengkraman tangan Damar langsung terlepas.
__ADS_1
Lalu Damar menatap Alena. "Kamu lebih belain dia dari pada aku, suami kamu!" pekik Damar
"Iya, karna sikap kamu udah berlebihan, Dam!"
Kekesalan Damar makin memuncak saat Alena lebih membela Bagas daripada diri nya. Rasa cemburu yang Ia tahan pun tak bisa padam lagi. Ia langsung memegang tangan Alena lalu menarik nya pergi dari hadapan Bagas. Bagas pun hanya terdiam saat melihat Alena di bawa pergi oleh Damar.
"Damar, lepas!" Alena berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Damar, namun Damar tetap membawa paksa diri nya jauh dari rumah nenek Dharmi. Kebetulan jalan yang mereka lalui tengah sepi dari keramaian.
Alena masih berupaya untuk melepaskan diri dari genggaman tangan Damar, namun tetap tidak bisa. Damar membawa Alena ke sebuah Gang kecil. "Damar, lepasin gak! kalo gak, aku bakal teriak!" ancam Alena
Lalu Damar mendorong pelan tubuh Alena hingga tubuh nya menempel ke dinding, Ia mengunci Alena seraya menatap nya. Seketika mulut Alena pun terkunci saat melihat wajah Damar mendekat ke arah wajah nya.
"Kamu mau teriak? teriak aja! aku gak takut, lagian aku ini suami kamu, biarin aja warga sini liat, kalo warga sini liat kita ribut begini, mereka juga gak bakal ikut campur, karna ini masalah rumah tangga kita!"
"Warga sini pasti bakal mukulin kamu karna kamu udah narik paksa tangan aku, aku bisa aja laporin kamu ke polisi atas tindakan KDRT!" ancam Alena
"KDRT? apa aku pernah mukul kamu? apa aku udah siksa kamu? kapan aku lakuin KDRT, Na? yang aku lakuin sekarang ini bukan KDRT, tapi sebagai bentuk tanggung jawab aku sebagai suami buat jauhin kamu dari selingkuhan kamu itu, emang salah?!"
Alena pun terkejut. "Selingkuhan? jadi kamu nuduh aku selingkuh? aku gak selingkuh!" emosi Alena mulai memuncak
"Trus laki laki itu siapa? pasti ada something kan sama kamu? bukti nya aja dia ngasih kamu hadiah cincin mahal segala, maksud nya apa Na? apa?!"
"Jangan asal ngomong, Dia itu kakak aku Dam nama nya Bagas, cucu nya nenek Dharmi, dan dia bukan selingkuhan aku!" Alena berupaya menjelaskan detail status Bagas pada Damar.
"Sejak kapan kamu punya kakak? kamu itu anak tunggal, Alena. Anak tunggal!"
"Iya aku tau, tapi kak Bagas udah aku anggep sebagai kakak aku sendiri, Dam. Emang salah? lagian emang kenapa si kalo kak Bagas ngasih hadiah buat aku? itu cuma cincin doang Dam cuma cincin, kamu nya aja yang berlebihan!"
Damar kesal. "Berlebihan kamu bilang? wajar kalo aku marah, aku berhak marah karna aku suami kamu Na, dengan kamu nerima hadiah mahal kek gitu dari cowok laen itu sama aja kamu tuh gak ngehargain aku sebagai suami kamu, rasa nya aku kayak gak mampu beliin hadiah mahal kek gitu buat kamu!"
"Damar, aku gak mungkin nolak hadiah yang udah di kasih sama kak Bagas, aku cuma menghargai aja, maka nya aku terima hadiah itu, kamu terlalu nganggep hal itu serius!"
Alena terdiam sejenak seraya menatap Damar, Ia memang sudah tak memakai cincin nya lagi karena cincin pernikahan nya mulai sempit di jemari nya. Akhir nya Ia pun melepas cincin tersebut.
"Cincin pernikahan kita masih ada, tapi aku simpen!"
"Kenapa gak di pake cincin nya? cincin itu sebagai bukti kalo kamu udah nikah, Alena!"
"Iya aku tau Damar, tapi cincin nya emang udah sempit jadi aku lepas, lagian juga kak Bagas tau kok kalo aku udah nikah, kenapa si kamu selalu besar besarin masalah, masalah cincin aja kamu permasalahin!" ucap Alena.
"Mungkin buat kamu ini cuma hal sepele, tapi buat aku cincin pernikahan itu segala nya Na!" ucap Damar dengan tegas. "Udah cukup, aku gak mau ribut di sini! sekarang kamu harus ikut aku pulang ke Jakarta!" sambung nya
"Aku gak mau!"
"Oh... jadi kamu gak mau? sekarang pilih, mau pake cara kasar atau cara halus? aku udah cukup sabar loh Na ngadepin sifat egois nya kamu ini!" ucap Damar seraya menatap Alena dengan jarak cukup dekat. "Jangan kamu pikir omongan aku ini gak serius!" sambung nya.
Alena hanya terdiam menatap Damar, Alena tampak ketakutan saat Damar menatap diri nya dengan tatapan tajam. Damar memang jarang sekali marah, bahkan tidak pernah. Namun kali ini berbeda, dari raut wajah nya tampak jelas kalau Ia benar benar sedang marah.
"Oke aku bakal pulang, tapi nanti!"
"Kenapa harus nanti kalo bisa sekarang?!" Damar menatap Alena tegas. "Sekarang kita ke rumah nenek Dharmi, beresin semua baju kamu, besok minta ijin sama nenek Dharmi, abis itu kita langsung pulang, titik!"
"Tapi Damar-"
"Gak ada tapi tapian, kita pulang!" tukas Damar lalu beranjak pergi dari hadapan Alena, Ia meninggalkan Alena di belakang nya. Saat itu Damar benar benar marah pada Alena.
.....
__ADS_1
Keesokan hari nya.
Alena meminta izin pada nenek Dharmi dan Bagas untuk kembali ke Jakarta. Pada awal nya nenek Dharmi keberatan, namun Alena memberi penjelasan pada nenek Dharmi mengenai masalah yang tengah terjadi.
Setelah itu nenek Dharmi pun mengizinkan Alena untuk kembali pulang ke rumah suami nya, namun raut wajah Bagas terlihat sedih saat tahu kalau Alena akan kembali pulang ke Jakarta.
Setelah itu Bagas menatap Damar, Damar pun balik menatap Bagas. Tatapan Bagas dan Damar terlihat tidak ramah, apalagi saat mengingat kejadian kemarin yang membuat kedua nya bertengkar.
"Kak Bagas, nenek Dharmi! makasih banget ya udah mau nampung aku, Aku seneng banget bisa tinggal bareng sama nenek Dharmi, insha allah di lain waktu aku maen lagi ke sini!" ucap Alena seraya memeluk nenek Dharmi.
"Iya Alena sama sama, semoga hubungan kamu sama Damar bisa lebih baik lagi ya!"
"Iya nek amin, makasih Nek doa nya!" Alena menghampiri Bagas yang kala itu berdiri di samping nenek Dharmi. "Kak, maaf ya kalo selama ini aku udah ngerepotin kakak sama nenek Dharmi, sekali lagi makasih buat semua bantuan nya!"
Bagas menggangguk lalu tersenyum. "Iya Na, santai aja!" ucap Bagas
Setelah berpamitan dengan nenek Dharmi dan Bagas, Damar dan Alena pun langsung pergi dari rumah nenek Dharmi.
Saat itu Bagas menatap punggung belakang Alena, ada rasa keberatan yang tiba tiba saja muncul di benak Bagas, Ia seperti tak rela jika Alena pergi bersama Damar.
"Semoga kita bisa ketemu lagi ya, Na!" batin Bagas
........
Damar dan Alena pulang naik kereta, namun kereta yang ingin mereka naiki telah terisi penuh. Kebetulan hanya kereta itu yang tersisa, akhir nya dengan terpaksa mereka pun menaiki kereta tersebut.
Damar dan Alena tidak kebagian tempat duduk karena tempat duduk nya sudah penuh hingga membuat Damar dan Alena harus rela berdiri dan berdesak desakan dengan penumpang lain.
"Argghh!" lirih suara Alena yang menahan rasa sakit karena terhimpit oleh orang di samping nya.
Seketika pandangan mata Damar langsung tertuju ke arah Alena, lalu Ia menatap tajam pria yang berada di belakang Alena, rupa nya pria itu sengaja menempelkan tubuh nya ke arah tubuh Alena.
Melihat hal itu Damar pun tak tinggal diam, Ia langsung menarik tangan Alena seraya memberikan perlindungan pada nya. Damar sengaja menjauhkan Alena dari pria kurang ngajar tersebut.
Kini tubuh Alena saling berhadapan dengan Damar, jarak kedua nya juga sangat dekat. Lalu Alena menatap Damar, Damar pun balik menatap Alena. Alena merasa tenang saat berada di depan suami nya, Ia merasa di lindungi oleh Damar.
Lalu Alena tersenyum pada Damar, namun reaksi Damar malah biasa saja, raut wajah nya terlihat datar. Damar seperti enggan membalas senyuman Alena, Ia langsung mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
Seketika senyum di bibir Alena langsung hilang, ada sedikit rasa kecewa saat Damar tak membalas senyuman nya.
"Damar, kamu masih marah?"
Damar hanya terdiam menatap Alena. Tak lama kemudian, kereta yang mereka naiki berhenti di salah satu stasiun. Damar dan Alena pun turun dari kereta tersebut. Damar masih saja bersikap acuh tak acuh pada Alena.
"Dam, aku mau ke toilet sebentar!" Alena langsung pergi meninggalkan Damar.
Damar pun hanya terdiam seraya menatap layar ponsel nya, Ia terlihat fokus dengan ponsel nya. Lalu Damar menoleh ke arah kanan dan kiri nya, rupa nya Ia baru menyadari kalau Alena tak berada di samping nya.
Damar langsung segera mencari Alena namun Alena tidak terlihat, lalu Damar mencoba untuk menghubungi ponsel Alena namun tidak ada jawaban.
Lalu tiba tiba saja ada seseorang yang memegang bahu Damar, Damar pun langsung menoleh ke arah belakang.
"Alena!" Damar langsung memeluk Alena hingga membuat Alena terkejut dan juga bingung, lalu Damar menatap Alena. "Kamu pergi kemana si Na? aku tuh panik tau gak nyari'in kamu, aku telpon kamu tapi gak di jawab, kamu tuh seneng banget si bikin orang panik?! kalo mau pergi tuh bilang!" omel Damar
Alena pun menatap Damar dengan tatapan terkejut nya. "Kan tadi aku udah bilang sama kamu kalo aku mau ke toilet, emang kamu gak denger?"
Damar makin kesal. "Enggak! aku gak suka ya kamu ngilang tiba tiba kayak tadi, bikin orang khawatir aja!"
"Maaf!" ucap Alena
__ADS_1
Damar langsung pergi meninggalkan Alena begitu saja, Damar benar benar marah pada Alena.