
Lalu Tiara dan Rifki datang menghampiri Damar dan Alena. Menyadari kedatangan sahabat nya itu, Alena pun langsung segera melepaskan pelukan nya seraya menyeka air mata nya. Damar hanya terdiam memandangi wajah Alena.
"Na, lu kenapa? lu baik baik aja kan?" tanya Tiara.
"Iya Ra, gue baik baik aja kok!" sahut Alena
"Nih, gue beli in nasi bungkus buat lu sama nyokap lu, yuk kita makan bareng bareng!" ajak Tiara sembari memberikan bungkusan nasi pada Alena
"Makasih, Ra..."
Alena pun menerima bungkusan nasi tersebut, lalu mereka semua duduk bersama sama di kursi tunggu sembari menyantap nasi bungkus tersebut. Tiara, Rifki dan juga Damar langsung menyantap nasi bungkus tersebut.
Sedangkan Alena, Ia hanya terdiam memperhatikan mereka semua. Ia tidak menyantap nasi bungkus yang ada di tangan nya. Lalu Damar memperhatikan Alena, Ia menyuruh nya untuk segera menyantap nasi bungkus tersebut.
"Alena, kenapa gak di makan nasi nya?" tanya Damar sembari mengambil nasi bungkus milik Alena lalu membukakan nya untuk Alena. "Mau aku suapin?" sambung nya lagi menatap Alena
Alena pun hanya terdiam sembari menatap Damar, lalu Ia menggelengkan kepala nya. "Gak mau, lagian aku gak laper kok!" jawab Alena lalu pandangan nya beralih ke arah Tiara dan juga Rifki. "Lu berdua makan duluan aja, gue mah nanti!"
"Tapi dari pagi lu tuh belom makan, Na!" ucap Tiara dengan tegas. "Udah, pokok nya sekarang lu harus makan, gue udah beli in loh Na. Kalo gak di makan gue marah nih sama lu!"
"Iya, tapi..."
"Alena, makan!" tukas Tiara penuh penekanan seraya menatap Alena.
"Iya..." Alena mengambil nasi milik nya yang ada di tangan Damar lalu menyantap nya.
Tak lama kemudian, ibu Retno datang menghampiri mereka semua yang tengah duduk menyantap nasi bungkus.
"Eh... ada Tiara, kok belom pulang? kirain ibu kamu udah pulang, neng?" ucap ibu Retno sembari memegang pundak Tiara.
Tiara pun menoleh lalu tersenyum "iya nih bu, aku pulang nya ntar aja!" jawab Tiara. "Oh iya bu, duduk sini. Aku udah beli nasi bungkus tadi buat ibu, ayo bu makan dulu!" sambung nya lagi sembari memberikan nasi bungkus tersebut.
Ibu Retno pun tersenyum sembari menerima nasi bungkus tersebut "aduh... makasih ya, neng!"
"Iya bu, sama sama..." ucap Tiara. Lalu mereka semua menyantap nasi bungkus tersebut bersama sama.
__ADS_1
Selesai makan, tiba tiba saja ponsel Tiara berbunyi. Ia mendapat panggilan masuk dari ibu nya, ibu nya meminta pada nya untuk segera pulang ke rumah karena ada beberapa hal yang harus Ia urusi sebelum hari pernikahan nya dengan Rifki tiba.
Dengan berat hati akhir nya Tiara pun meminta izin pada ibu Retno untuk pamit pulang. Ia pergi dengan Rifki meninggalkan rumah sakit. Lalu ibu Retno menyuruh Damar untuk segera pulang juga karena memang hari sudah mulai malam dan Ia takut akan merepotkan Damar nanti nya. Namun Damar tidak mau pulang, Ia tetap menemani Alena dan juga ibu Retno di rumah sakit.
Lalu tiba tiba saja dokter yang menangani pak Ari datang menghampiri ibu Retno, Alena dan juga Damar. Dokter itu memberitahu pada mereka kalau saat ini kondisi pak Ari masih memburuk dan harus segera di lakukan tindakan operasi.
Alena dan ibu Retno pun terkejut ketika mendengar pernyataan dari dokter tersebut. Lalu ibu Retno pergi ke bagian administrasi untuk menandatangani surat persetujuan agar operasi bisa segera di lakukan.
Lalu Damar memperhatikan Alena yang tengah duduk di samping nya, Ia melihat ada kesedihan di mata Alena. Namun Ia juga tidak bisa berbuat banyak, Ia hanya bisa mendoakan agar pak Ari bisa cepat pulih.
"Na, kamu yang sabar ya. Kita doain aja bapak kamu semoga bapak kamu cepet sembuh!" ucap Damar
"Amin ya Allah, semoga aja begitu!" jawab Alena lalu menghela nafas. "Kamu tau gak Dam? selama ini aku gak pernah mau ketemu sama bapak ku, karna aku masih benci sama bapak ku!"
Damar pun bingung "emang nya kenapa? kok kamu bisa benci sama bapak kamu sendiri?"
Alena pun langsung menceritakan pada Damar soal kejadian terburuk sewaktu Ia kecil dulu. Ia melihat dan merekam dengan jelas di dalam ingatan nya soal kejadian buruk pada saat pak Ari memukul wajah ibu Retno.
Dulu bapak nya juga kerap bersikap kejam pada ibu nya hingga membuat Alena jadi benci pada bapak nya sendiri. Karena hal itulah yang membuat nya jadi takut untuk mengenal dan bergaul dengan laki laki. Ia takut kalau nanti menikah maka nasib nya akan sama dengan ibu nya, di perlakukan dengan buruk oleh laki laki.
"Oh... jadi karna hal itu yang bikin kamu jadi benci sama laki laki? termasuk aku, gitu?" tanya Damar
"Iya Dam tapi itu dulu, karna dulu aku pikir semua laki laki itu sama aja, sifat nya juga pasti gak jauh beda kayak bapak ku, orang nya kasar dan jahat sama perempuan!" jawab Alena lalu melihat ke arah Damar. "Tapi aneh, gak tau kenapa semua nya bisa langsung berubah gitu aja pas aku kenal sama kamu!"
Damar menatap Alena sembari tersenyum "serius? bagus dong, itu berarti aku adalah pria yang selama ini kamu cari cari, ya kan?"
Alena tersenyum "mungkin..." ucap Alena menatap Damar, begitu juga dengan Damar. Mereka berdua pun saling beradu pandang.
"Alena, aku sayang banget sama kamu..."
"Iya, aku tau..."
"Terus?" Damar langsung mengangkat satu alis nya seraya menatap Alena untuk meminta jawaban balik dari ucapan nya.
Lalu Alena tersenyum "Iya Damar, aku juga sayang sama kamu..."
__ADS_1
"Nah... gitu dong, kan jadi nya seimbang!" ucap Damar seraya merangkul pundak Alena
Tak lama kemudian, Dokter dan juga perawat yang tengah menangani pak Ari tiba tiba saja keluar dari ruangan sembari mendorong ranjang pasien dengan terburu buru hingga membuat pandangan Alena langsung mengarah ke arah ranjang pasien yang tengah di dorong oleh dokter dan perawat tersebut.
Mereka mendorong ranjang pak Ari menuju ke arah ruangan lain untuk di lakukan nya tindakan operasi. Polisi yang berjaga pun ikut pergi bersama dengan dokter tersebut. Lalu Alena berjalan mengikuti para dokter dan perawat tersebut, Damar pun mengikuti Alena dengan berjalan mengekor di belakang nya.
Namun saat ingin melihat bapak nya, tiba tiba saja langkah kaki Alena di hentikan oleh salah satu perawat yang bertugas
"Maaf mbak, mbak gak boleh masuk ke dalem!" ucap salah satu suster tersebut
"Tapi, Sus bapak saya..."
"Iya mbak, pak Ari akan segera kami tangani. Mohon untuk tunggu di luar, terima kasih!" perawat itu langsung masuk ke dalam ruangan tempat operasi.
Alena masih berdiri di depan ruangan operasi, Ia memandangi pintu ruangan. Lalu Damar menyentuh bahu Alena, Alena pun menoleh ke arah nya. Damar mengajak nya duduk di kursi yang berada di dekat ruangan.
"Damar, mendingan sekarang kamu pulang aja gih, ini kan udah malem!" ucap Alena
"Lah emang nya siapa yang bilang ini masih pagi?" Damar tertawa meledek
"Ih... Damar! aku serius tau, jangan bercanda ah" ucap Alena sembari mencubit pelan perut Damar hingga membuat nya hanya meringis kesakitan saja.
"Hehe... iya iya maap!" sahut Damar
"Kamu pasti capek kan? yaudah, mendingan kamu pulang aja, besok kan bisa ke sini lagi!"
"Kamu gak suka ya kalo aku ada di sini?"
"Bukan nya gitu, Damar. Kamu kan udah dari tadi nemenin aku di sini, pasti kamu capek kan?"
"Engga tuh, biasa aja!" jawab Damar cengengesan lalu menepuk nepuk pundak nya sendiri "udah sini senderan di pundak aku, pasti kamu kan yang capek banget hari ini?"
Alena pun mengangguk, lalu Ia mulai menyenderkan kepala nya di pundak Damar sembari memejamkan kedua mata nya. Sementara Damar, Ia menatap Alena sembari tersenyum tipis.
__ADS_1