Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Meluapkan Isi Hati


__ADS_3

Shubuh.


Damar bercermin seraya memperhatikan wajah nya yang masih terlihat lebam. Luka lebam nya hanya sedikit dan perlahan hilang setelah Ia mengompres lebam nya dengan air hangat.



Lalu Damar melihat ke arah Alena yang kala itu masih tertidur lelap di atas kasur. Ia berjalan menghampiri Alena lalu menatap nya. Damar merapihkan selimut Alena agar menutupi semua bagian tubuh Alena.


"Kenapa si Na kamu gak pernah mau terbuka sama aku? apa aku udah gak penting lagi buat kamu? kenapa harus Daffa?" gumam Damar


Setelah itu, Damar memakai baju lalu bersiap siap berangkat ke kantor. Sebelum keluar dari kamar, Damar memperhatikan Alena. Rupa nya Alena masih tertidur lelap. Karena kasian pada Alena, akhir nya Damar pun membiarkan Alena tidur lebih lama.


Lalu Damar menuju ke dapur, Ia membuatkan sarapan untuk diri nya dan juga untuk Alena. Selesai memasak, Damar kembali masuk ke dalam kamar seraya membawa sarapan.


Rupa nya Alena sudah bangun dan tengah berdandan di depan cermin. Alena menatap Damar, begitu juga dengan Damar. Lalu Damar meletakan sepiring nasi goreng di atas meja.


"Nih sarapan buat kamu, aku tunggu di bawah!" ucap Damar lalu berjalan pergi begitu saja dari hadapan Alena.


Saat itu Alena hanya terdiam seraya menatap Damar, Alena merasa aneh dengan perubahan sikap Damar. Beberapa menit kemudian, Alena keluar dari kamar nya seraya membawa piring kotor bekas sarapan nya.


Alena mencuci semua piring kotor yang ada di dapur. Damar hanya memperhatikan Alena dari arah kejauhan. Selesai mencuci piring, Alena menghampiri Damar lalu memperhatikan luka lebam di wajah Damar.


"Damar, gimana luka kamu?" tanya Alena


"Udah mendingan!" Damar tidak mau melihat ke arah Alena. "Yuk berangkat!" Damar bangun dari duduk nya lalu berjalan pergi begitu saja meninggalkan Alena, Alena pun hanya terdiam seraya mengikuti Damar dari belakang.


Saat di perjalanan, Damar dan Alena pun sama sama diam. Mereka tak saling bicara, Damar hanya fokus mengendarai motor sport nya. Sedangkan Alena hanya memperhatikan pemandangan di sekitar nya.


Namun ternyata Damar memperhatikan Alena secara diam diam melalui kaca spion di motor nya. Ia mencuri curi pandang saat Alena lengah dan tak menyadari tatapan Damar di spion.


"Jujur, aku gak nyaman banget Na kalo cuekin kamu kayak gini, tapi aku ngelakuin ini semua supaya kamu nyadar kalo kamu udah nyakitin hati aku!" batin Damar


Lalu tiba tiba saja Alena melihat ke arah spion, Damar pun langsung mengalihkan pandangan nya ke arah jalan raya di depan nya.


"Damar, sebenernya kamu kenapa? kenapa tiba tiba kamu cuekin aku kayak gini? apa aku udah buat salah sama kamu? tolong jangan cuekin aku!" batin Alena


Setiba nya di kantor, Damar langsung menuju ke arah parkiran khusus motor yang berada di belakang kantor. Parkiran yang baru di bangun oleh pihak kantor nya membuat Damar harus memarkirkan motor nya cukup jauh.


Setiba nya di parkiran, Damar pun memarkirkan motor nya selaras dengan motor karyawan lain nya. Saat baru memarkirkan motor nya, tiba tiba saja Ia mendengar suara teriakan seorang wanita di area gedung parkiran.


Damar langsung berlari mengikuti asal suara teriakan tersebut dan meninggalkan Alena. Dan benar saja, Damar melihat seorang pria yang tengah mencoba merampas tas milik seorang wanita di area tersebut. Pria jahat itu berlari ke arah nya, namun Damar menghalangi jalan pria jahat itu.


"Eh mau kemana lu? balikin gak tas nya?" pekik Damar


"Lu berani sama gue?" pria jahat itu langsung mengeluarkan senjata tajam di kantung celana nya lalu mengarahkan benda tajam itu ke arah Damar.



Perkelahian pun tak dapat di hindarkan, pria jahat itu langsung menyerang Damar dengan sebilah pisau kecil di tangan nya. Damar pun mencoba untuk menghindari sabetan pisau yang di arahkan ke arah nya.


Lalu Alena datang dan melihat perkelahian pria jahat itu dengan Damar, Alena melihat Damar di cekik oleh pria jahat itu.



"Damar!" pekik Alena


Lalu Alena mencoba untuk membantu Damar dengan cara memukul pria jahat itu dengan tas milik nya hingga membuat pria itu melepaskan cekikan nya pada Damar. Namun perhatian pria itu langsung mengarah ke arah Alena, pria itu malah ingin menyerang Alena.


Saat ingin menyerang Alena, Damar langsung memukul pria jahat itu hingga pria jahat itu jatuh tersungkur. Lalu Damar memperhatikan Alena dengan tatapan panik.


"Alena, kamu gak apa apa?" tanya Damar


Alena pun menggeleng. "Aku gak apa apa!"

__ADS_1


Namun tiba tiba saja pria jahat itu bangun dari jatuh nya dan kembali menyerang Damar. Pria jahat itu langsung menyabetkan pisau ke arah lengan kanan Damar hingga membuat Damar meringis kesakitan. Lengan Damar langsung mengeluarkan darah.


Saat pria jahat itu ingin menyerang Damar lagi, tiba tiba saja datang beberapa orang ke area parkiran tersebut sembari berteriak. Beberapa orang juga mengejar pria tersebut. Pria jahat itu pun langsung kabur meninggalkan tas nya.


Alena mengambil tas itu lalu memberikan nya pada pemilik asli nya. wanita itu pun berterima kasih pada Alena dan juga Damar karena telah menolong nya. Setelah itu, wanita itu di tanyai oleh beberapa orang di sana.



Lalu Alena menoleh ke arah Damar, Ia melihat Damar tengah duduk sendirian seraya meringis kesakitan akibat sabetan pisau.



Alena menghampiri Damar lalu melihat luka di lengan kanan nya. "Luka nya parah, mendingan kita pergi ke rumah sakit sekarang buat obatin luka kamu!" ucap Alena



"Gak usah, ntar juga sembuh, aku gak perlu di bantu, aku bisa kok sendiri!" ucap Damar lalu kembali melihat ke arah luka nya.


Lalu Alena memperhatikan luka Damar yang terus mengeluarkan darah. "Tapi itu luka nya parah Damar, jangan di diemin aja, biar aku bantu kamu!" ucap Alena



Alena pun mengeluarkan sapu tangan nya lalu mengarahkan nya ke arah Damar, rupa nya Ia berniat ingin menutup luka Damar.



"Kalo kamu marah sama aku, yaudah marahin aku aja gak apa apa, tapi tolong jangan nyiksa diri kamu sendiri kek gini!" ucap Alena seraya ikut meringis juga ketika menutup luka Damar. "Aku gak tau salah aku apa, kalo aku salah aku minta maaf, tapi tolong tegor aku salah nya di mana, jangan cuekin aku!" sambung nya.



Damar hanya terdiam seraya menatap Alena, Ia malah memperhatikan bibir Alena saat Alena berbicara dari jarak dekat. Saat itu Alena belum menyadari kalau Damar sedang menatap diri nya.




Lalu Alena melihat ke arah Damar saat Damar menatap diri nya. "Kenapa kamu malah liatin aku? sebener nya kamu dengerin aku ngomong gak sih?" oceh Alena seraya menatap Damar, namun Damar menghindari tatapan mata Alena.


"Luka ini gak sesakit luka di hati ku Na!" batin Damar


"Damar, kamu dengerin aku gak?" tanya Alena lagi.



"Iya, aku denger!" sahut Damar. "Udah, biarin aku sendiri!" sambung nya.


Namun sikap dan cara Damar berbicara malah membuat Alena kesal. "Yaudah, kalo gitu aku masuk duluan!" Alena langsung pergi. Damar pun hanya terdiam memperhatikan Alena.



.....


Di dalam kantor.


Beberapa karyawan datang menghampiri meja kerja Damar saat mengetahui kalau Damar mengalami luka sobek di lengan karena telah menolong seseorang.


Alena hanya memperhatikan Damar dari arah kejauhan saat di kerubungi oleh karyawan di kantor nya. Lalu Tiara datang ke meja kerja Alena seraya memperhatikan Alena. Tiara pun mengikuti arah pandangan Alena memandang.


"Woy Alena!" Tiara langsung membuyarkan pandangan mata Alena lalu duduk di samping Alena. "Lu kenapa si bengong?" sambung nya


"Gue gak kenapa napa kok!"


"Eh Na, kata nya tadi Damar abis di serang ya sama orang gila? emang bener?"

__ADS_1


"Iya!" Alena mulai melanjutkan pekerjaan nya dan fokus di depan komputer.


"Ya Allah parah banget sampe luka begitu, lu kenapa gak bawa dia ke rumah sakit si, coeg?"


"Orang dia nya gak mau, yaudah!"


"Eh Na, kok lu gitu si respon nya? kasian tau!" ucap Tiara. "Apa jangan jangan lu lagi berantem ya sama Damar? ngaku lu!" sambung nya. Namun Alena tidak menjawab apapun, Ia hanya diam saja dan fokus dengan pekerjaan nya. "Wah... bener si tebakan gue, lu pasti lagi berantem sama Damar!"


Lalu Riska datang ke meja kerja Alena, Riska membawa beberapa lembaran pekerjaan untuk Alena cek kembali. "Alena, ini ya tolong di cek lagi!"


"Iya Ris, taro aja di situ!" jawab Alena. "Oh iya Ris, Daffa mana ya? kok Dia gak keliatan si?" sambung Alena


"Lu gak tau Na? kemaren kan Damar berantem tau sama Daffa di kantor sampe bikin Daffa luka trus sekarang lagi sakit!" jelas Riska


Sontak saja perkataan Riska membuat Alena dan Tiara terkejut. Pasal nya saat kejadian, Alena dan Tiara tidak berada di kantor, mereka sedang libur kerja.


"Apa? berantem?" ucap Alena


"Gila, gue baru tau loh Na kalo Damar berantem sama Daffa di kantor!" ucap Tiara. "Tapi kenapa mereka bisa sampe berantem, Ris?" sambung Tiara


"Ya gak tau masalah nya apa, poko nya sampe bikin gaduh deh. Untung gue buru buru bilang sama Rayhan buat misahin mereka berdua, coba kalo gak? gak tau dah!" ucap Riska lalu pergi meninggalkan ruangan Alena.


"Ya ampun Na, kemaren pak Fandi ada di sini kagak? kalo sampe pak Fandi tau, bahaya!" ucap Tiara


"Gue gak tau Ra, gue juga baru tau. Damar gak cerita apa apa sama gue, tapi kemaren dia luka luka gitu si muka nya, agak lebam juga!" ucap Alena


"Ya mungkin itu Na, abis berantem kali sama Daffa, wah... lu harus lurusin masalah ini Na, kenapa mereka bisa berantem? masalah apa si?" ucap Tiara


"Gue juga gak tau Ra, dari kemaren juga Damar udah diemin gue pas pulang kerja, gue beneran gak tau masalah nya apa!"


"Ntar pulang kerja jenguk Daffa yuk, lu mau gak?" ajak Tiara


"Iya deh boleh, gue juga pengen tau kabar nya Daffa gimana? gue jadi gak enak sama Daffa Ra, dia kan udah banyak nolong gue!"


"Yaudah kita jenguk dia nanti, ajakin Damar sekalian biar dia gak salah paham lagi sama lu!"


"Tapi Ra-"


"Sssssttt udah deh, ajak aja!" tukas Tiara.


"Oke!"


Jam istirahat tiba, Alena datang menghampiri meja kerja Damar seraya membawa kotak obat milik kantor. Damar pun menatap Alena lalu kembali mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


Namun Alena tidak mempedulikan sikap dingin Damar terhadap diri nya, Alena duduk di dekat Damar lalu memegang tangan Damar. Damar pun hanya terdiam menatap Alena.


Alena mulai mengobati luka Damar dengan obat yang Ia bawa. Alena mengobati luka Damar dengan perlahan agar Damar tidak merasa kesakitan. Namun tiba tiba Damar meringis kesakitan hingga membuat Alena sedikit terkejut lalu melihat ke arah Damar.


"Maaf!" Alena kembali mengobati luka Damar. Ia meniup luka nya Damar, Damar hanya diam menatap Alena.


Selesai mengobati, Alena pun beranjak pergi namun langkah kaki nya tiba tiba saja terhenti ketika mengingat sesuatu. "Oh iya, aku mau tanya sama kamu, apa bener kemaren kamu berantem sama Daffa?" tanya Alena


Sontak saja pertanyaan Alena membuat Damar kesal, Damar langsung bangun dari duduk nya lalu menatap Alena. "Kalo iya, kenapa?" ucap Damar kesal


"Damar, kenapa si kamu harus berantem? salah Daffa apa sama kamu?" tanya Alena


Damar langsung menarik tangan Alena hingga membuat Alena terkejut. Damar pun menatap Alena. "Karna aku cemburu!"


"Ya Allah Damar, kenapa harus cemburu? Daffa kan temen sekolah aku dulu!"


"Jelas aku cemburu, karna kamu lebih terbuka sama dia di banding sama aku Na, kamu lebih suka cerita sama dia daripada sama aku, dia tau segala nya tentang kamu, kamu juga selalu main rahasiaan sama aku, tanpa kamu sadarin kamu lebih nyaman sama dia, dan satu hal lagi, kemaren kamu diem diem ketemuan kan sama dia di Restoran? iya kan? trus sekarang fungsi nya aku apa di mata kamu, Na?"


Kedua mata Alena mulai berkaca kaca. "Gak gitu Damar, aku bisa jelasin!"

__ADS_1


"Gak usah kamu jelasin Na, sekarang terserah kamu, aku capek!" Damar langsung pergi.


__ADS_2