Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Kejutan


__ADS_3

Damar pulang ke rumah, namun rumah nya terlihat gelap gulita, tak ada cahaya lampu yang menyala di rumah nya. Damar melihat ke arah kanan dan kiri nya, melihat rumah milik tetangga di samping rumah nya.


"Kok lampu tetangga gue pada nyala semua ya, kenapa rumah gue doang yang gelap? apa token di rumah gue abis?" ucap Damar keheranan.


Damar pun masuk ke dalam rumah untuk memastikan keadaan rumah nya. Dan saat masuk ke dalam rumah, ruangan di dalam ternyata gelap juga. Ia pun mencari ponsel nya untuk menghidupkan cahaya senter di ponsel nya. Namun tiba tiba saja lampu di rumah nya menyala di selingi dengan suara terompet.


"Kejutan!"


Damar pun terkejut dengan cahaya lampu dan suara terompet tersebut. Di sana sudah ada Alena, Tiara, dan Rifki. Rupa nya mereka bertiga yang telah menyiapkan acara pesta kejutan untuk nya. Damar pun tampak kebingungan dengan kejutan tersebut.


"Tiara? Rifki? kalian ada di sini?" tanya Damar lalu menoleh ke arah Alena. "Na, ini ada acara apa si? kamu ultah? perasaan udah lewat!" Damar mengingat ulang tahun Alena.


Alena tersenyum seraya mendekati Damar, lalu Alena menatap Damar. "Dam, coba tebak ini acara apa?"


Damar menggeleng bingung. "Enggak tau! aku gak tau seriusan!" Damar menoleh ke arah Tiara dan Rifki. "Guys, ini kejutan apa si? kok lu pada gak ngasih tau gue?" sambung nya.


"Dam, ini kejutan khusus buat lu! ya kali lu di kasih tau, bukan kejutan dong nama nya!" sahut Rifki seraya merangkul Tiara.


"Iya Dam, ini kejutan di siapin Alena khusus buat lu!" sambung Tiara.


Lalu Alena membawa sebuah kotak, di dalam kotak itu ada sebuah kertas berwarna putih. Damar harus mengambil kertas putih itu lalu membaca isi nya. Dengan ragu, Damar pun mengambil kertas putih di dalam kotak.


Setelah berhasil di ambil, Damar langsung membuka lipatan kertas putih tersebut lalu membaca nya.


...Hai, calon Ayah...


Damar terdiam sejenak lalu menatap Alena dan teman teman nya. "Ini... maksud nya? calon ayah?" Damar masih belum mengerti dengan maksud tulisan di kertas itu karena Ia baru membuka setengah nya saja.


"Ya ampun, Damar! coba di buka lagi yang bener napah! itu belom semua nya ke buka, kocak! ah... bikin gemes aja lu!" cerocos Tiara, hal itu tentu saja membuat Rifki cemburu, Rifki pun menatap Tiara hingga membuat Tiara salah tingkah di buat nya. Lalu Tiara tersenyum ke arah Rifki seraya mengusap wajah nya. "Maaf sayang! kamu kok yang paling gemes" Tiara terkekeh.


"Dam, buka semua lipatan kertas nya, pasti kamu bakal ngerti!" ucap Alena. Damar pun terdiam seraya membuka lipatan kertas nya dengan sempurna.

__ADS_1


Selain tulisan, rupa nya di dalam kertas itu juga ada sebuah alat tes kehamilan milik Alena yang menunjukan garis merah dua. Damar begitu terkejut ketika melihat alat tes kehamilan tersebut. Damar pun menatap Alena dengan tatapan penuh haru.


"Kamu beneran positif hamil, Na?" Damar terlihat tak kuasa menahan tangis nya.


Alena pun menganggukan kepala seraya tersenyum pada Damar. "Iya, aku positif hamil, Dam!"


Damar langsung memeluk dan mencium seluruh wajah Alena karena senang dengan kabar kehamilan Alena. Rifki dan Tiara pun ikut senang dengan kabar kehamilan Alena. Bagaimana tidak? sudah hampir satu tahun lebih Damar dan Alena menunggu moment ini. Kini Damar dan Alena di beri kepercayaan lagi oleh sang pencipta. Damar dan Alena tak bisa menyembunyikan rasa senang nya.


Wajar jika Damar dan Alena begitu senang, karena Alena pernah mengalami keguguran pada satu tahun yang lalu hingga membuat nya kehilangan calon anak nya itu. Kejadian itu sempat membuat Alena sedih dan stres. Bahkan yang lebih parah nya lagi, Alena di vonis oleh dokter kalau diri nya tidak akan bisa hamil lagi karena mengalami masalah pada rahim nya. Kabar itu makin membuat Alena putus asa, cemoohan dari ibu mertua nya juga sempat membuat nya frustasi.


Namun semua kesabaran Alena di balas oleh Tuhan, Alena di beri kesempatan untuk bisa hamil lagi. Damar dan Alena tak henti henti nya mengucap rasa syukur. Lalu Damar menatap Alena seraya mengusap lembut perut Alena.


"Alhamdulilah ya Allah!" ucap Damar


Setelah itu, mereka makan malam bersama di ruang tamu. Mereka ingin merayakan nya sebagai bentuk rasa syukur mereka kepada sang pencipta. Sudah lama juga mereka tak seperti ini, berkumpul dan berbincang.


************


Alena membuka perlahan kedua mata nya, lalu Ia melihat Damar di samping nya. Rupa nya Damar masih berada di rumah. Damar tengah memandangi wajah Alena, Alena pun sedikit terkejut dengan keberadaan Damar.


"Damar? dari kapan kamu liatin aku tidur?" Alena terlihat malu karena wajah bantal nya yang menurut nya memalukan.


Damar tersenyum. "Dari tadi!"


"Apa? dari tadi? kamu udah mandi?"


"Iya, aku udah mandi!"


Lalu Alena memperhatikan pakaian Damar, pakaian nya bukan pakaian kerja. "Kamu gak berangkat kerja?"


"Enggak, hari ini aku udah minta ijin libur sama pak Fandi, aku mau nemenin kamu di rumah!"

__ADS_1


"Kenapa? aku baik baik aja kok!" ucap Alena seraya memperhatikan wajah Damar, karena Damar menatap nya lekat seraya tersenyum manis. "Em... kenapa kamu liatin aku begitu banget? ada sesuatu ya di muka aku?" Alena terlihat panik dengan wajah bantal nya.


Alena pun langsung memutar tubuh nya ke arah lain karena merasa malu dengan suami nya itu. Wajah bantal nya pasti memalukan, Alena tidak tahu bagaimana keadaan wajah nya saat ini. Pasal nya saat Alena bangun, Damar sudah berada di depan nya seraya menatap nya. Lalu Alena bersembunyi di balik selimut nya, Damar pun mendekat ke arah Alena lalu berbisik di telinga Alena.


"Aku udah liat semua nya kali Na, walaupun kamu belom mandi, kamu tetep cantik kok!" bisikan Damar membuat wajah Alena makin memerah, Alena merasa malu dengan suami sendiri.


Patut di akui, mereka memang sudah bukan pengantin baru lagi. Namun entah mengapa masih ada sedikit rasa canggung dan malu di diri Alena, padahal mereka menikah sudah cukup lama, seharus nya sudah terbiasa bukan?


Lalu Damar bangun dari rebahan nya, Ia keluar dari kamar nya. Alena pun bangun dari rebahan nya seraya memperhatikan punggung belakang Damar. "Damar mau kemana?" gumam nya.


Hal tak mengenakan pun terjadi, perut Alena tiba tiba saja terasa mual, Ia pun langsung berlari menuju ke arah kamar mandi. Disana Alena mengeluarkan semua isi perut nya. Apakah orang hamil akan selalu merasakan morning sick seperti itu? sejujurnya Alena sangat tersiksa dengan hal itu. Namun itu semua adalah hal biasa di kehamilan tahap awal.


Tak lama kemudian, Damar datang seraya membawa sarapan pagi serta potongan buah untuk Alena. Namun saat masuk ke dalam kamar, Alena tidak ada di sana. Lalu Damar mendengar suara Alena di balik kamar mandi. Damar pun menghampiri Alena untuk melihat keadaan Alena.


"Sayang, kamu kenapa? kok muntah muntah gini si?" tanya Damar seraya memijat tekuk leher Alena.


"Aku gak apa apa, perut aku tiba tiba aja mual, mungkin bawaan bayi!"


"Kita ke dokter yuk, Na! periksain kandungan kamu!" ajak Damar


"Kan kemaren udah, Dam! aku cuma butuh istirahat sama minum vitamin yang di kasih sama dokter kemaren!"


"Kamu yakin Na kamu gak apa apa? aku khawatir loh!"


Alena tersenyum. "Iya aku gak apa apa, Dam. ini tuh emang dasar nya bawaan dari bayi nya aja kayak gini!"


Lalu Damar membantu Alena untuk bangun, Damar memapah tubuh lemas Alena. Damar meminta Alena untuk sarapan, namun Alena menolak.


"Kalo kamu gak mau sarapan, aku juga gak mau sarapan!"


"Dih! jangan gitu lah, perut aku masih mual Dam, kamu sarapan gih!"

__ADS_1


"Iya, ntar gampang!" Lalu Damar mencium perut Alena. "Kalo nanti kamu lahir, yang nurut ya sama Mamah dan Papah, liat tuh perjuangan Mamah kamu, pagi pagi udah mual aja!" sambung nya lagi lalu mengusap perut Alena.


__ADS_2