Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Mencoba Bertahan


__ADS_3

"Alena, kamu gak apa apa?" tanya Damar


Tatapan mata Alena langsung membuyar, Ia menarik tangan nya dari genggaman tangan Damar. "Aku gak apa apa!" jawab Alena seraya mengalihkan pandangan mata nya ke arah lain.


Saat Alena ingin pergi, tiba tiba saja Damar menarik tangan Alena hingga membuat Alena terkejut. Kini jarak wajah dari kedua nya sangat dekat.



"Damar, kamu mau ngapain? jangan macem macem ya kamu sama aku, lepasin gak!" ucap Alena


Damar hanya tersenyum mendengar perkataan Alena, Ia mulai mendekatkan wajah nya ke arah wajah Alena.



"Damar, aku peringatin ya sama kamu!" ucap Alena panik seraya berusaha menjauhi wajah nya dari wajah Damar yang makin dekat jarak nya.


Damar menatap Alena. "Alena, kenapa kamu takut sama suami kamu sendiri? padahal kan aku gak ngelakuin tindakan kriminal apapun di sini!" ucap Damar


"Iya, sekarang ini kamu emang suami aku, tapi mungkin sebentar lagi bukan!" ancam Alena kesal. "Denger ya, aku tetep sama keputusan aku. Aku mau kita pisah, aku gak mau hidup sama laki laki yang gak tau malu kayak kamu, Dam!" sambung Alena.


Damar tersenyum mendengar perkataan pedas Alena, namun perkataan Alena tidak membuat Damar patah arang. Jika Alena memutuskan untuk menjauhi diri nya, maka Damar juga akan berusaha keras untuk terus mendekati Alena.



"Apa kamu yakin sama keputusan kamu ini?" tanya Damar


"Iya!"


"Aku tanya sekali lagi, apa kamu bener bener yakin mau pisah sama aku?"


"Iya Dam, aku yakin!" ucap Alena dengan tegas seraya menatap Damar. "Mendingan sekarang kamu pergi karna aku gak mau ngeliat kamu!" sambung nya.



Damar hanya terdiam menatap Alena, Ia pun langsung memegang leher belakang Alena lalu menarik nya ke arah depan. Seketika kepala dan tubuh Alena maju ke arah Damar.



Damar menatap Alena. "Alena, jujur aku sayang banget sama kamu, aku juga tau kalo kamu tuh sayang sama aku!" ucap Damar.


"Na, aku gak mau kita pisah, tapi kalo emang pisah adalah keputusan yang baik buat kamu, aku terima. Kalo emang kamu pengen aku pergi, oke aku bakal pergi!" sambung Damar.


Perkataan Damar membuat Alena terdiam, tiba tiba saja muncul sekilas di dalam pikiran Alena soal kejadian yang tengah terjadi hari itu juga. Seperti Dejavu, Ia merasa pernah mengalami kejadian hari itu dengan Damar.


"Perasaan apa nih? kenapa suasana kayak gini kek pernah terjadi sebelum nya? tapi dimana? kapan gue ngalamin kejadian kayak gini?" batin Alena yang terus bertanya tanya.


Rupa nya kejadian yang sedang terjadi saat itu adalah mimpi buruk Alena terdahulu. Alena baru menyadari kalau mimpi buruk nya itu jadi kenyataan. Saat di dalam mimpi Damar pergi meninggalkan nya.


Saat tengah bertatapan mata, tiba tiba saja lampu rumah menyala. Rupa nya mati lampu telah selesai, sekarang semua lampu kembali menyala. Lalu Damar melepaskan genggaman tangan nya pada Alena.


"Aku minta maaf sama kamu, Na. Aku bener bener minta maaf!" ucap Damar


Damar berjalan pergi, Ia menaiki motor nya lalu melaju perlahan menghampiri Alena yang kala itu masih berdiri di dekat gerbang rumah nya. Damar membuka kaca helm nya lalu menatap Alena.


"Aku pergi ya, Na. Jaga diri kamu baik baik, aku sayang sama kamu!" ucap Damar lalu menarik gas motor nya. Damar pun pergi mengendarai motor nya.


Alena hanya terdiam memperhatikan Damar yang kala itu sudah pergi dengan motor nya. Lalu tiba tiba saja terdengar suara ibu Retno.


"Alena!"

__ADS_1


Alena terkejut lalu menoleh ke arah belakang nya. "Mamah!" ucap Alena lalu menghampiri ibu Retno. "Kenapa Mah?"


"Kamu lagi berantem ya sama Damar?" tanya ibu Retno


"Gak kok Mah!"


"Alena, jangan bohong. Kenapa kamu minta pisah sama Damar? sebener nya apa salah Damar?" tanya ibu Retno


Dengan berat hati Alena menceritakan semua kejadian yang sebenar nya terjadi di antara diri nya dengan Damar pada ibu Retno. Alena juga mengakui kalau diri nya dan Damar tengah bertengkar.


Setelah mengetahui semua nya, ibu Retno pun terkejut. Beliau tidak percaya kalau Damar tega melakukan itu semua, beliau tahu kalau Damar sangat mencintai putri nya. Maka dari itu ibu Retno tidak mempercayai kejadian yang Alena ceritakan.


"Alena, harus nya kamu dengerin Damar dulu, jangan langsung marah begitu sama Dia, karna belom tentu ini kesalahan Damar, kamu harus percaya sama suami kamu sendiri!" ucap ibu Retno.


"Zaman sekarang orang bisa melakukan apa aja demi kepentingan pribadi, ibu gak percaya kalo Damar ngelakuin hal itu, Ndok!" sambung nya


"Mah, tapi Alena udah liat sendiri kalo Damar tidur di ranjang perempuan itu!" ucap Alena seraya menangis. "Hati Alena rasa nya sakit banget Mah, pokok nya Alena mau pisah sama Damar!" sambung nya.


"Jangan gegabah kalo ngambil keputusan, kamu gak boleh ngomong begitu, gak baik!"


"Mah, Alena cuma mau nenangin hati dan pikiran Alena dulu!"


"Apa semua keluarga Damar udah tau masalah ini, Ndok?"


Alena mengangguk. "Iya Mah, semua nya udah pada tau masalah ini, termasuk Mamah!" ucap Alena. "Mah, ijinin Alena ya tinggal di sini buat sementara aja sampe Alena bener bener tenang!" sambung nya.


Ibu Retno tersenyum lalu memeluk Alena. "Iya Ndok, rumah Mamah selalu terbuka lebar buat kamu, semoga aja masalah kamu sama Damar cepet nemu titik terang nya ya, amin!"


"Amin, makasih Mah!"


....


Hari begitu cepat berlalu, sedikit demi sedikit masalah yang tengah terjadi di antara Damar dan Alena mulai memudar. Rasa sakit yang Alena rasakan juga sudah mulai menghilang.


Sudah lama sejak Damar pergi, Damar tidak pernah menemui Alena lagi. Bukan karena Damar tidak mencintai Alena lagi, melainkan itu adalah permintaan dari Alena sendiri.


Damar membiarkan Alena untuk menenangkan hati dan pikiran nya sendiri. Namun hubungan pernikahan Damar dan Alena masih terjalin, hanya saja mereka sedang pisah rumah untuk sementara waktu.


Pagi itu Alena berangkat seorang diri karena kebetulan Tiara sedang cuti. Kehamilan Tiara yang makin membesar membuat Tiara harus mengambil cuti secepat nya. Alhasil Alena lah yang harus menggantikan tugas Tiara.


Alena terlihat kurang bersemangat melakukan pekerjaan nya. Bukan karena tugas yang di berikan oleh atasan nya. Melainkan tidak ada Tiara, sahabat nya yang selalu mengajak nya mengobrol dan juga bercanda.


Tak lama kemudian, Alena di panggil oleh pak Fandi selaku Manager di tempat nya bekerja. Alena merasa heran karena tiba tiba saja pak Fandi memanggil diri nya.


"Kenapa pak Fandi manggil gue ya? apa kerjaan gue ada yang salah? coba deh gue samperin aja!" ucap Alena lalu bergegas masuk ke dalam ruangan.


Saat masuk ke dalam ruangan, Alena sedikit terkejut karena melihat ada seorang pria yang tengah duduk di depan pak Fandi. Sosok pria itu sedang duduk membelakangi Alena, entah mengapa Alena merasa tidak asing dengan sosok pria yang duduk di depan nya itu.


Pandangan mata Alena langsung beralih ke arah pak Fandi. "Bapak manggil saya?" tanya Alena


"Iya Alena, sini duduk!" perintah pak Fandi.


Alena pun menuruti perintah Manager nya itu, Ia langsung duduk di samping pria itu. Namun saat Alena menoleh ke arah samping, Ia begitu terkejut dengan sosok pria berbaju biru yang duduk di samping nya itu.


"Damar!" ucap Alena


Damar hanya tersenyum seraya menyodorkan tangan kanan nya pada Alena, rupa nya Damar ingin berjabat tangan dengan Alena.


Namun Alena enggan menjabat tangan Damar, rupa nya Alena masih marah dengan Damar. Akhir nya Damar pun langsung meraih tangan Alena untuk berjabat tangan.

__ADS_1


Setelah itu, Alena melepas tangan Damar lalu melihat ke arah pak Fandi. "Pak, kenapa Damar ada di sini?"


"Iya Alena, saya lagi butuhin karyawan buat bagian mekanik mesin di sini, nah kebetulan suami kamu ini punya pengalaman kerja di bagian mekanik mesin, jadi ya saya kasih Dia kesempatan buat kerja di sini, gak apa apa kan gabung sama kamu? biar kamu bisa kerja bareng juga sama suami kamu!" jelas pak Fandi.


"Em... iya pak gak apa apa, kalo gitu saya permisi!" ucap Alena lalu bergegas pergi dari ruangan pak Fandi.


Alena benar benar tidak menyangka kalau Ia akan bertemu dengan Damar di tempat kerja nya. Lalu Alena berjalan ke arah toilet wanita, Ia ingin membasuh wajah nya dengan air.


Cukup lama Alena berada di dalam toilet, Ia pun bercermin di cermin besar yang berada di dinding toilet kantor nya. Alena masih tidak percaya kalau Ia akan melihat Damar lagi.


"Ya Allah, kenapa bisa kayak gini sih? kenapa gue harus ketemu sama Damar di sini, padahal gue udah berusaha buat ngejauhin Damar, gue tau status gue masih istri sah nya Dia, tapi kan gue masih kesel sama Dia!" oceh Alena sendiri di depan cermin.


Lalu Alena membasuh wajah nya lagi sebelum akhir nya Ia keluar dari dalam toilet. Saat baru keluar dari toilet, tiba tiba saja tangan Alena di tarik oleh seseorang dari arah samping hingga membuat nya terkejut.



"Damar!" ucap Alena


Damar menatap Alena seraya mengunci tubuh nya hingga membuat Alena tidak bisa berkutik. Lalu Alena menoleh ke arah kanan dan kiri nya untuk memastikan kalau suasana di sana sepi dari pantauan rekan kerja nya.


"Kamu lagi ngapain si Dam di sini? ntar kalo ada yang ngeliat kita gimana?" ucap Alena dengan nada pelan


Damar tersenyum. "Ya gak apa apa lah, biarin aja kalo ada yang ngeliat kita, aku gak peduli Na!" jawab Damar.


Lalu Alena berupaya mendorong tubuh Damar agar Damar melepaskan kuncian nya. Namun Damar enggan melepaskan Alena, Damar tak mau beranjak pergi dari hadapan Alena.


Lalu Damar memperhatikan wajah Alena yang terlihat cantik. "Udah lama banget ya Na aku gak ketemu sama kamu, istri aku makin cantik aja!"


"Gak usah gombal deh, gombalan kamu tuh gak mempan buat aku, lepas!" Alena berupaya menepis tangan Damar, namun lagi lagi Damar menggagalkan nya.


"Kamu tau gak? aku tuh kangen banget sama kamu, tiap hari aku cuma bisa mandangin foto kamu doang Na, aku tahan diri aku buat gak ketemu sama kamu, tapi itu susah banget!" ucap Damar


Alena langsung mengalihkan pandangan nya ke arah lain. "Gombal!"


"Aku gak gombal Na, aku serius. Aku kayak ngerasa tersiksa aja gitu jauh dari kamu, aku gak bisa kalo tanpa kamu, aku sayang sama kamu, Alena. Sesayang itu aku sama kamu!" ucap Damar seraya menatap Alena.


"Aku gak peduli kamu ngomong apa, sekarang aku minta kamu pergi dari hadapan aku, Dam!"


"Alena, aku udah nurutin kata kata kamu, kamu mau aku pergi? aku udah pergi kemaren. Trus sekarang aku dateng lagi buat ngeliat keadaan kamu, tapi kamu malah nyuruh aku pergi. Kalo misal nya aku bener bener pergi dari dunia ini, mungkin kamu seneng kali ya?" ucap Damar


Sontak saja perkataan Damar membuat Alena terkejut, Ia langsung menatap Damar. Sebenar nya hati Alena rasa nya sakit saat mendengar ucapan Damar.



๐Ÿ“ฃ"Panggilan untuk karyawan atas nama Alena Diningtyas harap segera datang ke bagian staff kantor, terima kasih!"



"Damar, aku harus pergi sekarang!" ucap Alena seraya menepis tangan Damar. Namun Damar kembali menarik tangan Alena seraya menatap nya. "Damar, lepasin tangan aku!" pinta Alena yang masih berupaya melepaskan genggaman tangan Damar.


"Alena, apa kamu masih mau aku pergi? jawab!" tanya Damar


"Damar, aku gak punya banyak waktu buat denger omong kosong kamu ini, aku udah di panggil!"


"Kalo kamu gak jawab, kamu gak bakal pernah ngeliat aku lagi, Na. Aku serius!" ucap Damar dengan tatapan serius


Alena pun terdiam sebentar seraya menatap kedua mata Damar. "Tolong, lepasin tangan aku!" pinta Alena.


Akhir nya Damar pun melepaskan genggaman tangan nya. Lalu Alena langsung pergi begitu saja meninggalkan Damar.

__ADS_1


__ADS_2