Cinta Untuk Alena

Cinta Untuk Alena
Sebuah Keputusan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Saat itu, Alena dan Tiara tengah fokus melakukan pekerjaan mereka seperti biasa nya. Namun tiba tiba saja Alena dan Riska di panggil oleh atasan mereka untuk masuk ke dalam ruangan HRD. Alena dan Riska pun akhir nya masuk ke dalam ruangan.


Setelah itu, Alena dan Riska duduk bersampingan seraya menghadap ke arah Manager kantor. Rupa nya pak Fandi ingin menaikan jabatan Riska. Dari posisi Asisten Staff kantor kini menjadi Staff kantor tetap.


Pak Fandi juga memutuskan untuk memasukan Riska ke dalam tim Alena. Kini tugas Riska akan di gantikan oleh karyawan baru, kebetulan karyawan baru itu masih bersaudara dengan pak Fandi.


Sontak keputusan tersebut membuat Riska senang, namun tidak untuk Alena. Ia begitu terkejut ketika mendengar keputusan Manager kantor nya. Pasalnya, Ia tidak pernah menyukai Riska sama sekali semenjak kejadian dulu.


"Apa apa'an si, pak Fandi? kenapa Riska di masukin ke tim gue si? kan masih banyak tim lain yang kosong. Kenapa harus tim gue?" (batin Alena).


Alena pun hanya bisa terdiam seraya memasang raut wajah kesal nya. Lalu pak Fandi menyuruh Alena dan Riska untuk keluar dari ruangan nya. Riska pun keluar dari ruangan Manager, namun Alena masih duduk terdiam di depan Manager nya.


"Alena, kenapa kamu masih ada di sini?" tanya pak Fandi


"Pak, kenapa bapak masukin Riska ke dalam tim saya? padahal kan masih banyak tim lain yang kosong, pak!" ucap Alena


"Karena saya liat performa kerja kamu bagus dalam memimpin, lagian juga kan tim kamu masih kurang satu orang lagi kan? jadi ya... saya putuskan untuk masukin Riska ke dalam tim kamu!"


"Tapi pak, saya..."


"Ini udah jadi keputusan saya!" tukas pak Fandi. "Kalo kamu udah gak ada urusan lagi, kamu boleh keluar sekarang!"


"Iya pak, maaf!" ucap Alena lalu bergegas pergi dari ruangan Manager nya, Ia tak percaya kalau diri nya akan satu tim dengan Riska. Ia begitu kesal dengan keputusan Manager kantor nya itu.


Setelah itu, Alena kembali duduk di tempat nya. Ia pun mulai melakukan pekerjaan nya kembali. Lalu Tiara memperhatikan raut wajah Alena yang terlihat kesal.


"Na, lu kenapa? kok muka lu keliatan kesel gitu si?" tanya Tiara


"Pak Fandi naikin jabatan nya si Riska, trus sekarang si Riska mau di gabungin ke tim kita, gila kan!"


"Hah? serius lu? kan banyak tim lain yang kosong, kenapa harus di masukin ke tim kita si?"


"Gak tau tuh pak Fandi, gak jelas banget!"


"Yaudah lah, biarin aja Dia masuk ke tim kita. Lagian juga kerjaan kita udah di kasih masing masing ini Na sama pak Fandi!"


"Iya si emang, tapi gue kesel ajah!" ucap Alena lalu menatap ke layar komputer nya untuk melanjutkan kembali pekerjaan nya.


....


Hari mulai sore, Alena dan Tiara langsung merapihkan meja kerja mereka masing masing. Lalu Alena dan Tiara duduk di kursi depan kantor nya. Tiara di jemput oleh Rifki, mereka berdua pun langsung pulang ke rumah. Sementara Alena, Ia duduk menunggu mobil transportasi umum di sebuah halte.


Namun tiba tiba saja, Damar datang dengan menaiki motor sport nya. Ia langsung turun dari atas motor nya lalu menghampiri Alena.

__ADS_1


"Loh, Damar? kamu kok ada di sini?" tanya Alena yang terkejut ketika melihat Damar sudah berada di halte.


"Iya, kan aku mau jemput kamu sekalian mau ketemu sama ibu kamu di rumah!"


"Ngapain di jemput? orang aku mau pergi ke rumah sakit sekarang!"


"Lah emang nya kamu sakit, Na?" Damar mulai khawatir


"Enggak Damar, aku mau jenguk bapak ku di rumah sakit!"


"Oh... yaudah, ayo aku temenin!"


"Emang nya kamu gak capek, Dam?"


"Capek apa'an si? udah ayo naik, buru!" Damar mulai menaiki motor sport nya. Lalu Alena pun naik ke atas motor Damar. "Udah?" Damar ingin memastikan kalau Alena sudah benar benar naik ke atas motor nya.


"Iya Damar, udah!"


"Pegangan ya Na, soal nya aku mau terbang nih!" ucap Damar lalu tertawa


Alena pun ikut tertawa juga. "Apa'an si, gak jelas!"


Setiba nya di rumah sakit, Damar dan Alena langsung masuk ke dalam ruangan pak Ari. Rupa nya kondisi pak Ari sudah membaik, kini tinggal pemulihan nya saja. Lalu Alena di berikan sebuah surat oleh petugas Sipir yang bertugas untuk menjaga tahanan.


"Alhamdulilah ya Allah, akhir nya bapak udah di bebasin juga dari penjara!" ucap Alena senang lalu melihat ke arah Damar.


"Hah? seriusan kamu, Na? coba aku liat!" ucap Damar lalu membaca surat tersebut, Ia pun ikut senang setelah membaca surat tersebut. "Alhamdulilah ya Allah..."


Setelah itu, Damar dan Alena masuk ke dalam ruangan pak Ari. Lalu mereka melihat pak Ari sedang duduk di atas kasur seraya tersenyum pada mereka berdua.


"Bapak!" panggil Alena lalu berjalan menghampiri pak Ari. Damar pun mengikuti Alena dari belakang.


"Alena? kamu ada di sini, Nak?" tanya pak Ari


"Iya pak, gimana keadaan bapak sekarang?"


"Alhamdulilah bapak udah sehat!" jawab pak Ari. "Nak, bapak mau minta maaf ya sama kamu karna dulu bapak udah pernah jahat sama kamu dan ibu kamu. Sekarang bapak nyesel, bapak janji sama kamu kalo bapak gak akan ngulangin kesalahan yang sama lagi!"


"Pak, Alena udah lupain semua kejadian waktu dulu. Alena udah maafin bapak, maafin Alena juga ya pak karna Alena baru bisa dateng sekarang!" ucap Alena lalu menangis di depan pak Ari.


Pak Ari langsung mengusap lembut air mata putri nya itu, lalu pak Ari pun ikut menangis juga ketika melihat Alena di depan nya. Lalu Alena memeluk pak Ari, begitu juga dengan pak Ari. Sudah bertahun tahun Alena dan pak Ari tidak bertemu dan bertegur sapa.


Damar pun hanya terdiam melihat pemandangan haru itu. Lalu Alena melepaskan pelukan nya pada pak Ari, Ia begitu senang ketika melihat kondisi ayah nya kini sudah membaik, di tambah lagi sekarang pak Ari sudah di bebaskan juga dari penjara.


Lalu pak Ari melihat ke arah Damar, Ia bingung dengan pria yang berada di samping putri nya itu. "Ini siapa, Nak? kok bapak baru liat?" tanya pak Ari

__ADS_1


Damar pun langsung mencium punggung tangan pak Ari lalu tersenyum. "Nama saya Damar, pak. Dan insha allah saya akan jadi calon suami nya putri bapak!" ucap Damar dengan penuh percaya diri.


Lalu pak Ari tersenyum ketika mendengar perkataan Damar, Ia tidak percaya kalau saat ini putri nya itu sudah memiliki calon. "Oh... jadi kamu ini calon nya Alena?"


"Iya pak, dan kedatangan saya ke sini karna saya mau minta izin juga sama bapak untuk melamar Alena!" ucap Damar dengan jelas


Pak Ari pun tersenyum seraya menganggukan kepala nya, lalu pandangan nya beralih ke arah Alena. "Alena, gimana? kamu mau menerima lamaran nya Damar?" tanya pak Ari


Lalu Alena tersenyum malu pada pak Ari. "Iya pak, Alena mau!" ucap Alena lalu pandangan mata nya langsung melihat ke arah Damar. Begitu pun dengan Damar, Ia menatap Alena lalu tersenyum.


"Ya kalo kalian berdua saling mencintai, bapak cuma bisa mendoakan yang terbaik dan memberikan restu bapak buat kalian berdua, semoga hubungan kalian langgeng ya sampe maut memisahkan, amin!" ucap pak Ari pada mereka berdua


"Amin!" saut Damar dan Alena


"Emm... oh iya, bapak mau kan jadi wali nikah nya Alena nanti?" tanya Alena


Lalu pak Ari tersenyum. "Iya, insha allah bapak akan jadi wali nikah kamu, Nak. Ya... walaupun sekarang ini bapak bukan suami mamah kamu lagi, tapi bapak akan tetep jadi bapak kandung kamu, Nak!"


"Iya pak, Alena tau kok!"


...


Lalu Damar mengantar Alena pulang. Ia pun bertamu sebentar di rumah Alena. Ia duduk bersama dengan ibu Retno di ruang tamu, karena Alena tengah mandi dan bersiap siap di dalam kamar. Lalu Damar menceritakan soal kondisi pak Ari di rumah sakit.


"Ya alhamdulilah kalo kalo bapak nya Alena udah sehat, ibu ikut seneng!" ucap ibu Retno


"Iya bu, alhamdulilah. Dan beliau juga mau jadi wali nikah nya Alena nanti!"


"Syukur deh kalo gitu, ibu ikut seneng!"


Tak lama kemudian, Alena datang menghampiri ibu nya dan juga Damar di ruang tamu. "Yuk Damar, aku udah selesai nih!"


Lalu Damar dan Alena mencium punggung tangan ibu Retno seraya meminta izin pada nya untuk pergi. Ibu Retno pun mengizinkan mereka untuk pergi, namun dengan catatan kalau Alena tidak boleh pulang terlalu malam, setelah itu mereka berdua pun pergi.


Namun saat sedang berjalan berdua, tiba tiba saja turun hujan di tempat tersebut. Semakin lama hujan nya semakin deras, hingga akhir nya Damar membuka jaket nya lalu segera menutupi kepala nya serta kepala Alena agar tidak terkena air hujan.


"Kamu mau ngapain, Damar?" tanya Alena


"Ya mau nutupin kepala kita berdua lah biar gak basah, Alena sayang!"



"Iya sih, tapi kan baju kamu jadi basah tuh!" ucap Alena seraya memperhatikan lengan kanan Damar yang mulai basah terkena kucuran dari atas jaket nya.


"Yaudah lah gak apa apa basah, kan kena air ujan inih bukan air Aki motor, ya kan?" ucap Damar terkekeh seraya berjalan bersama Alena menuju ke tempat peneduhan. Alena pun tersenyum ketika mendengar lelucon Damar.

__ADS_1


__ADS_2