
Hari begitu cerah
langit berwarna biru dan dipenuhi awan cumulonimbus, yang menandakan akan hujan setelah ini.
Bapak pergi ke pasar untuk membeli peralatan cat perkakas kayu yang dibuatnya
Saat perjalanan pulang, tiba-tiba hujan turun, bapak berlari berteduh di sebuah rumah besar yang kebetulan gerbangnya terbuka, di komplek perumahan xxx.
Didepan teras ada seorang yang gagah, wajah berwibawa, kumis tebal, sorot mata tajam
berumur sekitar 60 tahunan sedang duduk dan memandang turunnya hujan ditemani sebuah kopi dan rokok di meja depannya.
Bapak merasa tidak enak tiba-tiba masuk ke dalam gerbang rumah beliau untuk berteduh
"Punten bapak saya numpang berteduh sebentar disini nunggu hujan redah" sambil tersenyum ragu dan mengangguk anggukan kepalanya merasa tidak enak
"Oww ya silahkan kesini saja pak, duduk kemari" jawab orang itu sambil melambaikan tangannya menyuruh bapak mendekat
Bapak mendekat dan duduk persis disebelah beliau
Seketika mata bapak membulat, karena tidak percaya apa yang beliau lihat.
"Komandan Dadang ??.." bapak kaget tidak mengira bahwa orang yang dihadapannya adalah orang yang paling beliau rindukan
__ADS_1
"Iya bapak kenal saya" jawab komandan dan masih bingung siapakah gerangan orang didepannya
Tanpa aba-aba bapak memegang tangan komandan dengan kedua tangannya dan...
"Saya pak Slamet komandan, 16 tahun yang lalu panjenengan menolong saya di surau dekat Koramil xx" tambah erat bapak memegang tangan beliau
Beliau mengingatkan ingat
"ya Tuhan, pak Slamet dari Jawa??"" senyum mengembang di wajah beliau mungkin marasa tidak percaya sudah 16 tahun tanpa kabar bisa bertemu kembali
"Ya Allah saya bersyukur, sebelum saya mati bisa bertemu panjenengan pak" kata bapak sambil menahan air mata di ujung matanya karena terharu dan bahagia bertemu dengan orang yang dianggapnya menyelamatkan hidupnya
"Mari pak, mari duduk" komandan
"Sekarang gimana kabar anak bapak yang nangisan itu?? " tanya komandan
"Nila sekarang baru lulus SMA," bapak dengan senyum yang masih mengembang seperti seorang yang sudah lama tidak bertemu dengan kekasihnya
"Anaknya sekarang berapa, pak Slamet?" komandan sambil menyeruput kopi dan melanjutkan menghisap rokok ditangannya
"Dua Pak, adiknya Nila baru SMA kelas 1"jawab bapak sambil meminum kopi yang disuguhkan komandan
"Kabar istri dan anak komandan bagaimana" tanya bapak
__ADS_1
Lalu komandan menceritakan bahwa istrinya saat hamil anak kedua mengalami pendarahan, bayi mereka tidak selamat.
Tak lama kemudian kondisi fisik istrinya lemah, dua bulan kemudian beliau meninggal dunia.
Sekarang tinggal komandan dan anak laki-lakinya yang menjadi perwira yang masih ditugaskan di kepulauan Maluku.
Bapak merasa sedih mendengar kisah hidup komandan
Seperti nya beliau menyadari kesedihan bapak atas kisah hidupnya
"Sudah takdir pak..sekarang saya sudah purna dan berharap anak saya satu-satunya bisa menikah dan memberi saya cucu yang banyak biar tidak kesepian" komandan senyum.
"Gimana kalau anak bapak yang Nila itu saya minta buat jadi istri anak saya?" Komandan sambil mengisap rokoknya dalam-dalam.
Bapak mendengar kan itu seperti mendapat jackpot yang tidak terduga.
Komandan yang dulu menolongnya malah meminta anak gadisnya menjadi menantu dari orang baik seperti beliau...
Tanpa ragu bapak mengiyakan permintaan komandan.. mereka tersenyum bahagia
Dan bapak melupakan keinginan anaknya untuk kuliah dan mewujudkan mimpinya
Mereka masih bercerita dan tidak ingat waktu sudah hampir gelap, bapak pamit pulang
__ADS_1
Mereka berjanji akan bertemu lagi, untuk mempertemukan dan menentukan hari pernikahan Nila dan anak komandan