
Malam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Nila merasakan perutnya tidak bisa dikondisikan lagi.
Aku harus segera makan, sebaiknya aku turun.
Aduh..
Perutku....
Dia bangun, memposisikan badannya duduk di sofa.
Menguatkan diri agar bisa berdiri.
Berjalan tertatih-tatih membuka pintu kamar.
Crekkk....
Pintu kamar terbuka.
Melangkah keluar dan berusaha menjaga badannya yang diajak jalan mulai condong karena tekanan nyeri perut yang semakin besar.
Tahap demi tahap dia jalan, berpegangan tembok. Keringat semakin bercucuran.
Sesekali tangan kiri mengusap dahinya yang penuh air keringat, sedang tangan kanannya memegang perut erat.
Ada apa dengan perut ku...
Kenapa nyerinya semakin menjadi
Keringatan...
Hah...
Kepalaku mulai berat.
Hufff...
Berjalan pelan-pelan...
Tangannya menyusuri tembok. Berpegangan erat menopang badannya.
Menuruni tangga....
Kaki terasa berat untuk melangkah kebawah, tangan kiri memegang pegangan tangga sangat erat.
Tangan kanannya semakin menekan perut karena perihnya tidak bisa tertahan lagi.
Sambil manahan nyeri perut,
Nila masih bisa berpikir.
Pelan-pelan jangan sampai jatuh.
Padahal pandangan mulai kabur.
Tolong kuat sedikit tubuhku...
Tinggal beberapa langkah
Aku harus kuat...
Harus kuat...
Hufff...
Ingin aku berteriak minta tolong...
Tapi....
susah sekali mulut ini bersuara.
Ibu...
Bapak...
Ayah...
Vina....
Aduh....
Biyannnnn...
Biyannnn....hiks
__ADS_1
Biyannnn...hiks
Tolong aku...
Tak terasa air mata mengalir. Badannya semakin menunduk menekan perut. Tapi masih berusaha melangkahkan kaki turun.
Tinggal tiga baris tangga sampai ke lantai dasar.
Matanya sudah berkunang-kunang, kepalanya berat. Napasnya tersengal-sengal.
Dan akhirnya....
Brukkkkk..... jatuh tersungkur. Pelipisnya berdarah membentur lantai.
Vina yang masih lembur di ruang kerja mendengar suara seperti benda besar jatuh.
Langsung keluar dan melihat Nila jatuh tersungkur..
Seketika lari...dan berteriak
"Komandan....komandan...Nila komandan". berlari menuju Nila
Komandan yang baru berbaring di dalam kamar. Masih lelap tertidur tidak terusik dengan teriakan Vina.
Vina membangunkan badan Nila dan menaruh kepala di pangkuannya.
Nila sudah tidak sadarkan diri,
ia pingsan.
Vina melihat pelipis yang berdarah.
Berteriak lagi...
"Tolong komandan... komandan" suaranya sekeras mungkin berteriak.
Pak Mir yang tidur di kamar belakang malahan terbangun dulu mendengar teriakan Vina.
"Nona..." Pak Mir yang langsung menuju arah suara dan melihat Vina duduk dilantai dan Nila tidur di pangkuannya.
"Pak Mir tolong bangunkan komandan...cepat tolong pak Mir" Vina menyingkirkan uraian rambut Nila yang mulai bercampur darah yang keluar dari pelipisnya.
Pak Mir lari terburu-buru, menabrak meja kecil didekat kamar komandan dan menjatuhkan vas bunga diatasnya.
Vas kaca itu jatuh, pecahan beling berserakan kemana-mana.
Suara itu membangunkan beliau.
Segera membuka kamar dan dilihatnya pak Mir yang berdiri sedikit gemetar.
"Ada apa ini pak Mir..." suaranya sedikit meninggi dan mata menyusuri pecahan vas yang berserakan
"Anu...tuan besar...itu...nona ....nona..." terbatah-batah
"Nona siapa? coba tenang dulu" nada suaranya mulai turun melihat Pak Mir gemetar
Mengatur napas dan..
"Nona Nila pingsan...dahinya berdarah" napasnya tersengal-sengal lagi.
"Jatuh dimana?" nada tinggi
"Bawah tangga tuan besar" jari-jarinya terkait karena panik.
Komandan langsung berlari menuju bawah tangga.
Pecahan kaca beliau lalui begitu saja, untungnya memakai sandal rumah sehingga tidak melukai kaki beliau.
Komandan melihat Vina memangku kepala Nila.
Dan menyibakkan rambut Nila yang terkena darah.
Melihat pelipis Nila darahnya mengalir. Komandan mengambil kain bersih di dapur dan menekankan kain itu didahi, agar menyumbat aliran darah, biar bisa berhenti.
"Kenapa bisa begini Vina" komandan tangan masih menekan kain. Dan mata sedikit melotot.
"Saya tidak tahu komandan, Nila sudah jatuh tersungkur" wajahnya semakin panik
"Pak Mir siapkan mobil kita harus membawa Nila langsung ke rumah sakit" komandan melihat wajah pucat Nila
Pak Mir lari terbirit-birit keluar menyiapkan mobil.
Komandan menggendong Nila. Walaupun beliau sudah tidak muda lagi. Tapi badannya masih kuat mengangkat beban berat. Mungkin purnawirawan TNI, badan masih terbentuk bagus dan kuat kondisinya.
Komandan sambil menggendong Nila yang sudah terkulai tak berdaya menuju mobil yang sudah terparkir didepan gerbang.
__ADS_1
Vina masuk di kursi belakang. Nila diletakkan berbaring, kepala dipangkuan Vina.
Vina menekan kain di dahi.
Komandan di kursi depan.
Pak Mir menutup gerbang. Masuk kedalam mobil. Melajukan mobil cepat menuju rumah sakit.
***
Sampailah mereka di IGD.
Dengan sigap, komandan penuh dengan kasih sayang sebagai ayah kepada anak. Menggendong Nila didepan dan membawanya masuk IGD.
Petugas rumah sakit dari perawat dan dokter jaga langsung melakukan tindakan pertolongan kepada Nila.
Vina langsung menuju tempat administrasi mengurus ruang rawat inap untuk Nila. Padahal masih ada bekas darah yang menempel ditangan dan bajunya.
Komandan sedih melihat Nila yang masih dalam pemeriksaan dokter.
Selang infus mulai dipasang. Dahinya dibersihkan dari darah.
Dokter melihat apakah lukanya dalam atau tidak. Perlu dijahit apa tidak.
Pelipisnya robek tapi tidak dalam hanya di berikan obat luka dan di tempelkan perbak kecil menutupi luka.
Komandan dimintai keterangan salah satu dokter laki-laki saat kejadian,
"Waktu itu saya sudah melihat anak saya ini sudah jatuh dan pelipisnya berdarah. Kemungkinan jatuh dari tangga dan kepalanya terbentur lantai"
"Jadi anda tidak melihatnya. kira-kira jatuhnya begitu tinggi atau tidak?"
"Maaf saya tidak tahu dokter" komandan menunduk
Lalu Vina datang...
"Vina kamu lihat saat Nila jatuh?" komandan
"Saya tidak melihatnya, tapi dari suara jatuh yang saya dengar, seperti tidak langsung jatuh dari atas, mungkin beberapa baris tangga kebawa" Vina menjelaskan karena mendengar pertanyaan dokter ke pada komandan
"Baik sambil menunggu pemeriksaan selanjutnya, anda sudah mengisi admistrasi rawat inap?" dokter wanita lain ikut nimbrung
Komandan memandang Vina.
"Sudah dok, katanya di ruang akasia lantai dua kelas satu" Vina menyerahkan kertas ijin rawat inap
"Soalnya saya melihat ada yang tidak beres dengan perutnya. Tapi harus menunggu diagnosis lebih lanjut. Kami akan memeriksa dulu gejala-gejala apa saja biar bisa melakukan tindakan lanjutan" dokter wanita yang terlihat lebih berpengalaman dari dokter lelaki itu.
Akhirnya Nila dipindahkan ke ruang inap.
Bajunya sudah berganti dengan pakaian rumah sakit.
Dia masih belum sadarkan diri.
Vina meminta tolong pak Mir untuk membelikan teh hangat dan beberapa cemilan untuk komandan.
Lalu dia masuk kamar mandi yang tersedia di dalam kamar inap itu.
Membersihkan sisa-sisa darah yang menempel di tangan dan baju yang dikenakannya.
Komandan masih duduk memandang lekat Nila yang wajahnya masih pucat keringat terus bercucuran.
"Vina, Nila masih terus berkeringat!!" komandan nada sedikit panik
Vina yang masih didalam kamar mandi mendengar komandan, buru-buru keluar.
Memandang Nila..
"Apa saya panggilkan dokter lagi untuk memeriksa lebih lanjut komandan?" bajunya masih basah
"Sebaiknya ia, kamu panggilkan segera!"
Vina menekan tombol yang disediakan rumah sakit untuk meminta bantuan.
Tidak lama dokter wanita itu datang dan memeriksa lebih lanjut.
Dia menekan bagian perut Nila. seketika wajah menyerengai sakit padahal ia belum sadar dari pingsannya.
Dokter melakukan pemeriksaan lain.
"Seperti ini radang usus buntu pak tapi saya belum yakin harus ada pemeriksaan lanjutan"
memasukan tangan ke saku jas putihnya
"Usus buntu ?" Vina dan komandan kompak.
__ADS_1