
Semalam Nila hanya didalam kamar.
Pagi harinya dia bangun dengan mata yang semakin sembab seperti orang yang baru ditonjok.
"Gila mataku gini amat, malu aku kalau turun dengan mata seperti ini. Ayah pasti akan ikut sedih kalau melihatnya" sambil menyentuh kedua matanya yang membesar di bagian atas dan bawah kelopak.
Lalu dia mengompres dengan handuk basah. Padahal itu tidak begitu efektif tapi dia berusaha agar tidak begitu sembab. Ia malu jika harus turun dengan mata seperti itu.
Nila merasakan perih di ujung-ujung matanya.
Sembab matanya mulai berkurang. Untuk lebih menutupinya Nila memoles sedikit wajahnya dengan bedak agar menutupi mata yang sembab.
***
Pukul tujuh pagi Nila turun.
Rumah terlihat sangat sepi karena Bu fat ikut dengan Gisela ke Surabaya.
Dilihatnya sekeliling belum terlihat komandan, Vina ataupun pak Mir.
Dia berjalan menuju teras belakang. Teh Rini tukang cuci sudah sibuk menjemur pakaian disana.
"Teteh Rini, lihat ayah atau Vina?"
Dia terkejut dengar panggilan Nila, pakaian yang pegangannya hampir jatuh. Tapi dapat dia tangkap lagi.
"Hehee.. maaf teh, kaget ya" Nila yang merasa tidak enak mengangetkan teh Rini
"Hehehe...tidak apa-apa Non. Emm...Komandan tadi sudah bangun, mungkin sekarang te masih diruang kerja, kalau teteh Vina pagi-pagi keluar joging." menjelaskan
"Oh" Nila mengangguk-angguk.
"Nona mau saya masak buat sarapan?"
"Tidak usah teh, biar saya yang masak sendiri. Teteh lanjutan saja nanti ikut sarapan ya aku masak banyak"
"Waduh,,jadi tidak enak ihh...nona baik pisan eui." senyum sumringah
"Teteh bisa saja, lagian saya lihat teteh kalau kesini nyuci setelah beres pergi gitu saja"
"Lah tidak ada yang ngajak gabung sarapan eui. Kadang komandan sering ngajak saya, tapi takut pisan sama Bu fat. lagian masakan Bu fat saya te tidak doyan" jelas Rini jujur
"Hahaha....sama teh." Nila tertawa
"Lagian masak pagi-pagi buat sarapan te roti, telur ceplok, sayuran mentah, terus bubur apa itu out...out apa yang kadang dicampur buah-buahan"
"outmeal teh"
"Lah ituh...duh Gusti kok bisa ya dimakan" sambil merinding-merinding badannya membayangkan.
"Hahaha bisalah teh, sehat juga buat jantung. Mungkin dibuat buat ayah biar sehat"
"Tapikan ada yang lain atuh selain makanan seperti itu, kaya sayur asem, urapan, sayuran yang dimasak kan masih banyak iih makanan sehat buat komandan" teh Rini geleng kepala
"Ternyata teteh cerewet juga ya, saya kira pendiam"
"Pendiam mah kalau ada Bu fat, takut iih dari pada di marahi terus lebih baik diam, hehe" menutup mulutnya sambil tertawa
"Teteh bisa saja, awas loh nanti Vina dengar dikasi tahu deh teteh menjelekkan Bu fat, hehe" Nila menggoda
"Teh Vina mah baik Pisan orangnya tidak seperti ibunya,"
"Hayo lagi ngomongin Bu fat ya" Vina tiba-tiba datang mengagetkan
"Eh teh Vina" Rini celingukan
"Hehehe...hayo teh.." Nila menggoda lagi
"Wah nona jangan gitu aaah," garuk-garuk kepala
"Hahaha... tenang teh, saya buka pengadu kok, paling kalau ibu tanya saya jawab jujur" Vina yang selalu berbicara formal
"Aah teteh sama saja atuh, hampura nyak. Saya teh suka keceplosan" menangkupkan kedua tangannya.
"Hahha...saya becanda teh. Memang ibu saya seperti itu suka marah " Vina
"Hehe" Rini senyum kikuk
"Teteh... teteh...ada-ada saja, " Nila tertawa
__ADS_1
Vina melihat Nila yang bisa tertawa,
"Kayaknya Tete Rini harus sering kesini, biar ada yang bisa buat Nila ketawa."
"Hah..??.hahaha...Vina bisa saja, habis joging?" Nila
"Iya mumpung libur"
"Oh"
"Hari ini kamu ada acara tidak?"
"Emm" menggeleng
" Bagaimana kalau ikut saya lihat-lihat kampus barumu?"
"Hari ini?"
"Bisa?"
"Hemm...bisa"
"Oke jam sepuluhan kita pergi ya"
"Oke"
"Baik, aku mandi dulu ya."
Vina menuju kamarnya.
"Teh aku masak ya, nanti jangan pulang dulu. Kita sarapan bareng"
Rini mengacungkan jempolnya
***
Nila menuju dapur siap berkutit memasak sarapan.
Hari ini dia rencananya buat nasi dengan lauk telur, ikan goreng dan oseng wortel kacang polong dan lainnya.
Dia mulai asik memasak.
Nila menengok ke meja makan. Dan kursi yang biasa Biyan duduk.
Dia melihat bayangan Biyan sedang makan dengan lahap nasi goreng buatannya.
Melihat senyumnya yang sumpringah , lesung pipit yang terpampang di pipinya.
Tak terasa Nila tersenyum dalam lamunannya.
Biyan seperti mengajaknya bicara, menggodanya dan datang mendekati Nila. Dia benar-benar hanyut dalam lamunan bersama Biyan.
Ikan yang digorengnya mulai gosong dan membuat kepulan asap yang besar dan menyusuri tiap ruangan di rumah besar itu.
Namun dia masih belum sadar dalam lamunannya.
Semua penghuni rumah, Komandan, Vina dan Rini berlari menuju sumber asap itu.
Mereka melihat Nila yang sedang melamun membelakangi kompor jauh sambil pegang spatula, melamun tidak menyadari keadaan.
Dengan sigap Vina mematikan kompor, mengambil kain dibasahi dengan air dan di taruh di atas penggorengannya.
Komandan datang mendekati Nila
"Nila" digoyangkan badannya
"Eh" Nila tersentak sadar seperti orang linglung. Dan sadar dengan ikan yang digorengnya.
Dia memandang penggorengan yang tertutup kain basah dengan asap yang masih sedikit mengepul, ada Vina di sebelahnya.
"Ada apa ini?" masih bingung.
Vina menghela napas melihatnya.
"Sudah kamu duduk dulu" Komandan menuntun Nila duduk didepan meja makan.
"Teh tolong bereskan ya" Vina menyuruh Rini
Dengan segera Rini membersihkannya.
__ADS_1
"Kamu melamun?" komandan bertanya
"Hah?" Nila yang masih belum mencerna keadaan yang dibuat dirinya.
"Nila...Nila" Vina duduk disebelahnya
Komandan ikut duduk, dan mengelusnya tangan Nila yang masih mencerna keadaan.
"Besok lagi kamu tidak perlu memasak ya" Komandan
"Ikannya gosong?" Nila
"Humm...iya" Vina
Nila mulai sadar.
"Maafkan aku ayah, Vina " menunduk
Aku benar-benar sudah gila.
Melamun melihat Biyan
sampai membuat kekacauan seperti ini.
Biyan kenapa kau menghantuiku terus..
Kapan kabar darimu datang?.
Aku benar-benar sudah sangat....sangat merindukanmu.
Haaaa...haaaa...
menangis dalam hati
"Sudah..kamu jangan sedih, kami tahu apa yang sedang kamu rasakan" Vina menyentuh pundak Nila menguatkan
"Ayo kita sarapan, sepertinya lauk yang lain aman. Rini siapkan semuanya sekalian panggil pak Mir" komandan
Dengan cekatan Rini menyajikan semuanya.
Nila masih menunduk malu dan heran dengan dirinya begitu terlena dengan semua bayangan Biyan.
Aku memang sudah gila
Terlalu merindukanmu Biyan.
Tapi aku tidak boleh seperti ini terus.
Kasihan ayah dan Vina harus melihatku seperti ini.
Hummm...
Ayo Nila kuatkan hatimu.
Fokus jalani hidup tanpa Biyan.
Karena sampai tua nanti aku juga akan terus melewati saat-saat seperti ini lagi.
Emmm...
Sebentar lagi aku juga harus kuliah.
Aku harus belajar yang tekun sambil menunggu kepulangamu Biyan.
Semangat Nila...
Akhirnya mereka semua sarapan dengan lauk seadanya.
Nila mulai menegarkan hati dan pikirannya.
Dia akan fokus belajar agar lulus bisa masuk universitas yang ditunjukkan komandan untuknya.
Dan kesempatan mengejar impiannya.
*****
Terimakasih
Silahkan beri saran dan komentar ya....
__ADS_1