Cinta Untuk Janda Kembangku

Cinta Untuk Janda Kembangku
Teman Lama (Part 2)


__ADS_3

Suara deru mobil Biyan terdengar . Dia memarkirkan mobilnya di samping rumah Nila.


Dalam Mobil.


"Siapa sih laki-laki yang jalan bareng Nila. Lihat dari spion mereka asik sekali becanda. Hem." geram


Biyan masih duduk menunggu Nila dan lelaki itu sampai ke rumah.


"Ck. lama sekali jalannya, sepertinya sengaja jalan lama" jari-jarinya tidak bisa diam mengetuk terus di kemudi mobil.


Ditengoknya lagi Nila dan laki-laki itu di spion mobil.


"Huh...keong apa manusia sih, jalan Lambat banget, Hem" menghela napas panjang...


kakinya ikut gerak-gerak tidak tenang.


"Hah...aku samperin aja kali ya. jangan aaa, ntar mereka mikir apa. serba salah." Biyan semakin kencang menggerakkan kakinya.


Jari-jarinya tidak henti-hentinya memukul kemudi mobil.


Raut wajahnya terlihat antara penasaran dengan lelaki itu, kesal, geram dan cemburu.


"Aaa...bodoh amat ,aku keluar samperin mereka"


Turun dari mobil dan jalan menuju Nila yang hanya berjarak kurang lebih 5 meter.


Biyan mengondisikan wajahnya agar tidak terlihat kesal dan cemburu.


"Dari mana?" Senyum sebaik mungkin menyembunyikan kekesalannya.


"Biyan, habis dari warung" Nila santai


"Ooh...beli sesuatu?"


"Sabun disuruh ibu, tapi ikal yang bayar tadi. aku bilang jangan tetap saja dibayarin." senyum memperlihatkan dua gigi gingsulnya


Melihat Nila tersenyum ceria kepada lelaki itu. Jantung Biyan benar-benar seperti dipompa dengan cepat. Tekanan darahnya naik, otot-otot mulai menegang menahan amarah.


Tapi dia berusaha menahanya.


Huffff...


Menghembuskan napas panjang.


"Diganti doank Nila, " mengambil dompet dan mengeluarkan uang kertas warna mearah satu lembar disodorkan ke ikal.


"Gak usah a'... saya biasa begitu sama Nila,"


Apa dia bilang biasa?


sedekat apa mereka...


"Ambil saja, sekarang Nila tanggung jawab saya." menaruh paksa uang kedalam sakunya.


"Tanggung jawab?" Ikal bingung


"Hehe..kenalin Ini Biyan" Nila


"Biyan, suami Nila" Biyan memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan


Ikal wajahnya kaget dan tidak percaya dengan kata 'suami Nila'.


tapi kesadarannya cepat kembali.


" Ikal, eeh Febi" membalas uluran tangan Biyan dengan wajah bertanya-tanya.


"Ikal ? Febi? yang benar mana nie" Biyan senyum sedikit mengejek.


" Nama aslinya Febi, cuman Ikal nama panggilan kesayangan, hehehe" Nila menjawabnya dengan santai


Panggilan kesayangan, cihh


aku suruh dia panggil aku sayang, slalu menolak katanya malu.

__ADS_1


coba lihat dengan santainya di bilang ikal panggilan kesayangan...


eeerrrtttt


Raut wajah yang tidak bisa dikendalikan lagi.


"Ooh" jawab datar


"Kamu baru pulang? " Nila santai tidak menyadari raut wajah Biyan yang sudah mulai kusut seperti kain Kumal.


"Iya.., kamu sudah selesai kan, ayo masuk" wajah muram.


"Kamu masuk dulu ya, aku lagi pingin ngobrol sama bang ikal" Nila meraih lengan Biyan


ABANG??????


huffffffff.....


Menarik napas panjang dan mengeluarkannya dengan kasar.


"Hem..ya sudah aku masuk dulu. oke bro jaga istriku baik-baik."


Biyan memukul pelan tapi berat tangannya ke bahu Ikal yang kurus sambil senyum terpaksa.


"hehe" ikal cengengesan


Biyan masuk rumah dengan langkah cepat tangan kanannya mengepal dan memukul-mukulnya di tangan kiri. Dia kesal dengan sikap Nila yang menurutnya cukup manja dengan ikal.


**


Nila dan ikal duduk di kursi bawah pohon mangga depan rumah Nila.


"Emm...kamu sudah Menikah?" ikal ragu


" he'em" mengangguk pelan senyum tipis


" kok bisa?" ikal semakin penasaran


"Kok kamu mau?" mengambil kripik di dalam toples padahal nila belum menawarkan nya.


"Mau gimana lagi, takdir Abang ikal.!" ikut ngemil kripik


"Kamu kan bisa nolak?" ambil lagi kripik lebih banyak ditangannya


" Gimana mau nolak, permintaan bapak" Nila menguyah kripik pelan


" Bapakmu yang meminta kamu nikah sama dia?" semakin penasaran


"he'em" memasukkan lagi kripik di mulutnya


"kamu, hebat anak Sholehah" mengacungkan jempol


makan kripik lagi lebih rakus.


"Laper apa emang iya?" Nila mengejek melihat ikal makan kripik terus menerus.


"Antara lapar dan iya ,hahaha" tertawa renyah seperti kripik yang dimakannya


"Kamu.. benar-benar Abang ikal yang aku kenal dengan versi badan kurus , kulit lusuh rambut gak ke urus..hahaha"


Suara renyah tertawa Mereka terdengar sampai di dalam kamar Biyan berada.


**


Dalam kamar


Biyan duduk di atas ranjang dengan gusar mendengar Nila dan ikal ngobrol dan tertawa bersama.


"Sialan,, ngobrolnya asik banget tawa mereka sampai ke kamar.


Sedekat apa si mereka, sampai Nila acuh dengan ku dan memilih ngobrol sama orang-orang sawah itu.


Lihat badan kerempengnya, apalagi rambutnya gak tau mau arahnya kemana.

__ADS_1


Sudah aku gundul kalau dia salah satu pasukan ku


cihh...


gumam lirih sendiri


***


Bawah pohon mangga


"Kenapa bang ikal gak kuliah,?"


"pertanyaan yang sama aku ajukan sama kau, boleh rokok lagi?"


Nila mengangguk agak sungkan sebenarnya. Tapi mau gimana lagi


"Kalau aku kan, Abang udah tahu, sekarang aku sudah menikah"


"Tapi menikah tidak menutup kemungkinan untuk seorang gadis pandai sepertimu yang slalu ikut tiga besar, tidak kuliah kan?" menyulut rokok dengan korek


"iya.." mengangguk pelan


"Lalu?" mengepulkan asap rokok


**


Didalam kamar ternyata Biyan mengintip mereka di balik jendela,


"Brengsek, manusia kerempeng itu mengepulkan asap rokok dekat istriku." tangannya mencengkram erat pegangan jendela.


Nila,


"Mungkin tahun depan aku baru memikirkannya "


Padahal tidak dipungkiri Nila ingin secepat mungkin kuliah seperti para sahabatnya.


"Semangat," mengepalkan tangan ke arah Nila.


"Semangat, eh bentar Abang belum menjawab pertanyaan "


"aku kira kamu lupa, hee" garuk rambut ikalnya


"Ayo jawab!" Nila menatap lekat ikal.


*


Didalam kamar semakin gusar,


"Sial, Nila kenapa kamu malah menatapnya seperti itu...??


eerrrrttt.....awas kamu Nila ya, tunggu hukuman yang nanti akan ku beri" memukul tembok dengan kepalan tangannya.


" Sebaiknya aku ceritakan dari awal ya..." ikal menata rambut semprawut nya.


Nila memandang dengan seksama


"Setelah lulus SMP, kami pindah di Jakarta karena ayah dimutasi untuk mengajar di SMP Bina karya , mau gak mau aku dan ibu ikut. Lalu kami berencana menjual rumahku yang disini"


Nila mulai menyerap cerita ikal.


" Satu tahun di SMA, ayah terkena skandal perselingkuhan dengan teman sekantor, yang ternyata dulu mantan pacarnya" mulai serius


Nila semakin lekat mendengarkan cerita ikal.


Beda halnya sosok manusia yang masih mengintip di jendela. Wajahnya mulai memerah, tekanan darahnya mulai naik dan napasnya menderu-deru menahan amarah. Melihat istrinya memandang lekat kepada lelaki lain didepan rumah.


kembali ke ikal dan Nila.


"Awalnya ibu bersabar, dan positif bahwa ayah sedang khilaf dan pasti akan kembali kepada kami,"


menghisap rokoknya lagi.


"Lalu..pak Samsul kembali lagi dengan kalian" Nila penasaran

__ADS_1


__ADS_2