
Sudah Dua bulan Nila lewati hari-hari tanpa Biyan.
Selama itu belum ada kabar apapun darinya.
Namun doa tidak luput ia lantunkan tiap saat, agar diberikan keselamatan, kesehatan untuk Biyan dan diberi kemudahan dalam tugas serta secepat mungkin mengabarkan keadaannya kepada Nila.
Dia tetap sabar walaupun rasa rindunya kadang seperti candu yang susah dikendalikan.
**
Setiap pagi dia berangkat kuliah kadang diantar pak Mir, kadang Vina atau komandan sendiri.
Padahal dia sering meminta ijin ke komandan agar bisa pergi kuliah sendiri naik sepeda motor, karena jarak rumah komandan dengan kampus hanya memakan waktu tiga puluh menit.
Dari pada naik mobil lebih memakan waktu dan Nila juga merasa malu dikira orang kaya. Itu membuatnya tidak leluasa dalam bergaul dengan mahasiswa lainnya.
Namun dengan alasan keselamatan, komandan tidak mengijinkan.
Tapi Nila tidak pantang menyerah, terus memohon kepada mertuanya agar di ijinkan berangkat kuliah naik sepeda motor sendiri.
Walaupun sampai sekarang belum di ijinkan.
Pak Mir selalu setia menunggu Nila selesai kuliah, walaupun berangkat pagi pulang sore. Sesuai perintah komandan, pak Mir tidak boleh pergi meninggalkan Nila.
Hal itu yang membuat Nila merasa enggan karena merepotkan dan juga pandangan aneh dari teman-teman kuliahnya akhir-akhir ini.
Karena Nila selalu berusaha mencari beasiswa agar bisa kuliah gratis tapi pulang pergi kampus diantar jemput sopir pribadi dengan mobil mewah.
Hal inilah yang membuat Nila lebih menutup diri dilingkungan kampus.
Apa lagi banyak dari teman-temannya yang tahu status Nila yang sudah menikah.
Dan gosip yang paling kejam, saat Nila pulang kuliah dijemput komandan, semua teman sekelas mengira itu sugar Daddy nya.
Nila tidak peduli semua itu. Dia mengikuti saran dari Vina bahwa hanya perlu fokus, yakin dan percaya diri jangan pedulikan omongan miring orang lain tentangnya.
Makanya Nila selama kuliah semester awal ini, sudah menambahkan jam SKS saat weekend.
Dalam hati hanya ada satu tujuan yaitu agar bisa dibanggakan oleh Biyan kelak.
Baginya, Biyan adalah penyemangat hidup yang membuat Nila mampu bertahan atas sindiran dan pandangan sinis teman kuliahnya. Nila tidak peduli karena semua cemoohan untuknya itu tidak benar. Mereka tidak mengetahui kisah sebenarnya.
***
Nila sering membayangkan ketika wisuda kelulusan strata satunya nanti dia bisa foto menggunakan toga bersama Biyan yang memakai seragam perwiranya.
Setiap malam hal itu yang dia bayangkan sebelum mimpi merasuk dalam tidurnya.
Dia belajar dengan sangat giat. Berharap cepat lulus dan Biyan bisa cepat kembali bersamanya.
***
Saat sore Nila selalu menatap jendela kamar dengan ponsel yg tidak jenuh dilihatnya. Menunggu adanya pesan masuk atau apalah tentang keadaan suaminya.
Ia selalu membiarkan tirai jendelanya terbuka memperlihatkan langit yang terus berganti warna dari putih, biru, orange kemerahan dan menjadi gelap karena mentari mulai surup meninggalkan peraduannya.
Nila menikmati momen itu yang menjadi kenangan indah dengan Biyan. Dimana langit senja yang menjadi saksi bisu cerita cinta diantara mereka mulai bersemi.
__ADS_1
**
Saking sibuk kuliah, kegiatan mengurus rumah, komandan sampai mencegah Nila untuk melakukannya. Padahal Nila selalu menyempatkan bangun lebih pagi, membereskan rumah, memasak dan sebagainya.
Komandan merasa kasihan melihat Nila, akhirnya menambah asisten rumah tangga yang masih saudara dengan Rini untuk bantu-bantu bersih rumah dan masak.
Awalnya komandan menghubungi Bu fat terlebih dulu . Namun Bu fat enggan untuk di rumah komandan lagi, dengan alasan kerasan ikut Gisela.
Mendengar itu, Nila paham betul kalau Bu fat benar-benar tidak mau melayani nya karena dia bukan wanita yang pantas untuk Biyan.
Bu fat masih bersikukuh Gisela yang pantas dengan Biyan.
Nila hanya tersenyum dengan semua yang dia lalui.
***
Setiap malam Vina akan secara khusus mengajari Nila belajar bahasa Inggris dan Mandarin yang dia kuasai. Itu juga permintaan Nila karena dari pada setiap malam dia hanya melamun merindukan Biyan. Dan dia juga ingin lama-lama diruang kerja agar saat ada pesan atau kabar dari Biyan melewati email, dia sudah ada di sana.
Komandan sebagai mertua selalu ingin tahu suasana hati menantu kesayangan.
Beliau meminta Vina agar slalu dekat dengan Nila dan menjadi tempat bercerita atau apapun agar mengetahui isi hati Nila.
Komandan juga selalu memantau berita terbaru pasukan yang Biyan ikut didalamnya, baik lewat koneksi yang beliau kenal ataupun lewat berita televisi internasional.
Tapi memang saat ini belum ada akses untuk mengetahui keadaan secara langsung karena terjadi banyak konflik yang menyebabkan rakyat berbondong-bondong mengungsi di perbatasan Libanon.
Jadi pasukan pembantu sibuk memberikan keselamatan untuk mereka.
Hanya itu yang komandan dapat kabarkan keberadaan Biyan ke Nila.
***
Tapi Nila terlihat tidak memperdulikan itu walaupun raut wajahnya tidak bisa ditutupi itu cukup menyedihkan baginya.
Vina merasa kasihan, dan menceritakan semua apa yang dikeluhkan kesahkan Nila kepada komandan.
Waktu malam adalah waktu yang menyedihkan bagi Nila.
Karena setiap akan tidur dia akan teringat dan merindukan setiap belai kasih sayang Biyan.
Ia sering melihat bayangan Biyan yang menyapanya, menggodanya tapi akan hilang dengan seketika.
Untuk mengobati rindunya, biasanya Nila sengaja memakai baju Biyan, untuk menemaninya tidur.
Karena dari baju tersebut masih tercium aroma tubuh Biyan yang melekat dan sedikit mengobati rasa rindunya.
Nila juga memasang Boneka Teddy beer besar yang didapatkan saat bermain di mal dengan gambar poster wajah Biyan.
Dia selalu memeluk erat boneka itu.
Saat mengalami hal-hal berat dia akan bercerita dengan boneka itu.
Bernyanyi lagu aku jatuh cinta dari ROULLET. Karena lagu itu terakhir yang Biyan nyanyikan dan dipersembahkan untuk Nila.
Yang akhirnya malah membuat Nila menangis semalaman karena dia benar-benar tidak bisa membendung rindunya lagi.
***
__ADS_1
Komandan dan Vina selalu diam-diam melihat Nila ditengah malam.
Diruang kerja....
Komandan.
"Saya sebagai orang tua benar-benar merasa tidak berdaya kalau melihat Nila menangis dan memeluk erat boneka itu." menyulut rokoknya.
"Sebaiknya komandan membiarkan Nila untuk berangkat kuliah dengan sepeda motor. Mungkin itu bisa menjadi sedikit kesenangan untuknya." Vina meminum kopi didepannya.
Komandan memandang Vina meminta penjelasan lebih.
"Mungkin dengan pulang pergi dengan sepeda motor dia lebih leluasa untuk mencari hiburan diluar, misalnya pulang ke rumah orangtuanya, ke taman hiburan atau pergi bersama teman-temannya." Vina menjelaskan
"Itukan bisa minta tolong pak Mir" menghisap rokok dalam
"Komandan tahukan bahwa Nila tidak enakan. Dia tidak pernah merepotkan pak Mir untuk mengantar ke sana ke mari. Apalagi sudah menunggunya dari pagi sampai sore."
"Jadi menurut mu apakah membiarkan Nila naik sepeda motor sendiri itu bisa membuatnya sedikit melupakan kesedihannya?"
"Saya harap itu sedikit mengobati nya komandan."
Hening...
Komandan masih asik menghisap rokoknya, Vina terdiam menunduk menunggu ultimatum apa yang akan komandan perintah kan untuk nya.
Sekitar sepuluh menit rokok ditangan komandan habis.
Dan komandan menyetujui Nila bisa pulang pergi naik sepeda motor untuk kuliah.
Komandan menyuruh Vina membeli sepeda Motor baru. Tapi Vina menyarankan agar sepeda motor yang ada saja biar Nila tidak merasa sungkan mengendarainya.
Komandan menyetujui semua saran Vina.
***
Ke esokan paginya
dimeja makan saat sarapan
"Nila kamu masih ingin naik motor untuk kuliah"
Nila sedikit tersedak menatap lekat komandan yang masih asik makan sarapa nya.
Nila juga memandang Vina, meminta penjelasan dari perkataan komandan tadi. Karena selama ini beliau terus menolak kalau dia ingin kuliah naik motor.
Vina hanya mengangkat bahunya dan meneruskan sarapan.
"Masih ingin naik motor tidak?" komandan bertanya lagi
"Iya ayah" secepat kilat Nila menjawabnya.
"Baik ayah ijinkan,"
Dia mengepalkan telapak tangan dalam hati bersorak hore...
dengan wajah sumringah.
__ADS_1
Vina dan komandan saling pandang dan tersenyum.