Cinta Untuk Janda Kembangku

Cinta Untuk Janda Kembangku
Teman Lama (part 1)


__ADS_3

Biyan mengantar Tika ke sekolah dengan mobil. Tika sangat antusias.


Bapak aktivitas seperti bisa membuat perkakas kayu. di samping rumah.


**


Didalam Rumah


"Nila duduk,bantu ibu kupas kentang?" sibuk memilah cabe di depan televisi


Dengan sigap mengambil pisau dan mengupas hati-hati.


" Kemarin ibu ketemu Lilis sama ibunya, di toko baju sebelah pasar" ibu memulai obrolan


" Beli baju?" masih sibuk mengupas


"Borong baju malahan, buat perlengkapan kuliah katanya" menjelaskan


Berhenti mengupas,


Bagus sekali nasib Lilis bisa lanjut kuliah.


Ibu melihat raut muka Nila yang berubah. Beliau merasa kasihan sama anak gadisnya. Baru beranjak dewasa harus menikah dan melupakan impiannya.


Mata ibu sedikit berkaca-kaca.


" Kamu pasti ingin juga kuliah ya?" tangan mengusap hidung untuk menahan air mata


Dia hanya tersenyum lalu menggeleng.


Ibu tahu Nila berbohong.


"Kamu coba bilang saja sama Biyan, ingin melanjutkan kuliah " melanjutkan kembali aktivitasnya


Seandainya Biyan tidak segera bertugas, mungkin aku akan cari cara minta ijin untuk melanjutkan studi ku.


Tapi...


Hem..masih ada tahun, menunggu dia selesai tugas.


" Tidak enak Bu, lagian Nila tidak ingin merepotkan"


" kamu kan pintar, cari beasiswa saja itu tidak terlalu merepotkan" pikir ibu


"Hummm...iya nanti Nila coba"


selesai mengupas kentang.


Dalam pikiran, Nila membayangkan sahabatnya Lilis memakai jas almamater, Hesti berseragam Taruni. Dia tersenyum, namun ia membayangkan dirinya duduk sendiri didepan rumah komandan menunggu kabar.


Dalam bayangan nya, ia menjadi semakin tua masih menunggu dan duduk sendiri.


"Nila...Nila?.."


Pisau yang dipegang jatuh.


"kamu melamun?" Ibu menyadarkan


"Eh...gak Bu" badannya membungkuk mengambil pisau.


Apa nasibku akan seperti bayanganku, menunggu sampai tua?. Tidak..tidak...jangan paranoid, buang jauh-jauh.


menggeleng, pisau sudah dipegang.


"Dari tadi ibu perhatikan kamu banyak melamun, sudah sana belikan ibu sabun di toko depan " menyodorkan uang


"Kamu tidak mau ganti baju?" ibu memandang aneh Nila


Dia hanya tersenyum dan berlalu pergi keluar rumah.


**


Depan toko,


Mengantri sesuai urutan siapa yang datang duluan secara otomatis berjalan maju.


Giliran Nila, dia maju namun ada orang yang menyerobot barisannya.


Siapa si ni orang, main crobot depan wanita.

__ADS_1


Cowok gak ada akhlak.


"Eh a', jangan main crobot ya.."


"Sorry teh,... loh Nila?" menengok kebelakang.


Siapa Dia ?


kenal aku?


siapa ya?


kepala miring memandang lekat.


"Kamu Nila kan?" cowok dengan perawakan tinggi kurus, berkulit agak hitam, rambutannya ikal.


Nila masih mengingat-ingat.


Siapa ya, temen SMA?


Bukan .


SMP? kayanya gak ada orang seperti ini.


tanya saja lah.


"Maaf siapa ya?" sedikit ragu


"Pasti lupa...Febi.?" senyum menampilkan deretan giginya yang agak kekuningan .


"Febi??...Febi mana ya?" menggaruk kepala padahal tidak gatal


"Hahaha kamu lupa teman lama,..." geleng kepala


Aku benar-benar gak ingat,


teman lama...?


Febi siapa si..


Tersenyum canggung, mata nya lari ke kanan ke kiri memikirkan sosok manusia didepannya.


Teman lama


"Febi, SMP Nusa jaya" masih cengengesan


"Teman SMP? iya aku SMP di Nusa jaya, tapi Febi mana ya?" menggigit jari


"Hadehh,,, si ikal...kamu sering panggil bang Ikal, "


"Bang ikal, SMP Nusa jaya?" menggaruk rambutnya lebih


"Hahaha...dasar pelupa..bang ikal anak pak Samsul guru agama Nusa jaya" masih cengengesan


"Ya Tuhan, bang ikal....loh aku pangling, benar-benar beda banget..."


"Beda ya..hehehe" tetap cengengesan


"Dulu Abang badan gak kurus gini, kulit juga gak gelap amat kayaknya, sekarang?" memandang aneh


"hahaha....hitam lungsuh, kurus kaya gak ke urus ya, hehe"


"Tapi lihat cengengesan nya, ini benar bang ikal, gimana bang sehat?" mengulurkan tangan


"Sehat...kamu?" membalas


" Sehat bang, wal Afiat...hahaha..lama gak ketemu ya bang" Nila senang bertemu dengan teman lama yang dulu menjadi panutannya.


"Aku gak nyangka kita bisa ketemu lagi, "


" Iya bang aku juga gak nyangka, aku kira setelah kelulusan kita bakalan berpisah selamanya."


" bisa saja bahasanya, berpisah selamanya, "


"Abang slalu meledek gak berubah..haha"


Mereka tertawa bersama


"Ehem...jadi beli gak teh" suara ketus pemilik tokoh

__ADS_1


"hahahaha" tertawa bersama


"Jadi, Wak sabun cuci piring sama deterjen" Nila


"Sekalian rokok dua dus, hitung itu sekalian" Febi memberikan uang empat lembar.


"Gak usah bang, "


"Udah, sudah jadi hobby kali ya..kalau beli bareng kamu pinginya bayarin, " cengengesan


"Hahaha" Tertawa lepas


Selesai belanja mereka berjalan beriringan ke arah rumah Nila,


"Mau antar aku juga seperti dulu?"


"Boleh kan?...Lama gak nganter kamu juga" cengengesan


"Bang ikal bisa saja, kalau lihat wajah penuh cengengesan, mau bahagia, sedih, dirampok atau dipukul tetep cengengesan seperti ini, siapa lagi kalau bukan bang ikal...hehe"


memukul bahu Febi


"Au...kamu juga masih sama, masih suka mukul." mengelus bahunya


Mereka berjalan sambil bercanda mengenang masa lalu...


"Kok bisa kesini lagi, bukannya rumahnya sudah dijual?" Nila menghentikan langkahnya penasaran


"Hehe...belum laku." garuk-garuk rambut ikalnya yang benar-benar lusuh tidak terurus.


"Ooh.." melanjutkan langkahnya


"Kabar Tom and Jerry bagaimana?"


"Tom and Jerry,, Hesti sama Lilis?...bang ikal bisa saja, hahaha" menutup mulutnya karena tertawa terlalu lepas.


"Bagaimana gak Tom and Jerry, tiap hari berantem, gak tau apa yang di berantemin ada saja, aku sama kamu yang akhirnya melerai mereka" Febi membuka bungkus rokoknya


"Boleh ngerokok?"


"Boleh" Nila tapi dengan pandangan beda.


"Kenapa lihatnya gitu," siap menyulut rokoknya


"Aneh saja...dulu Abang...."


"Anti bau rokok, hahaha" masih sempat-sempatnya tertawa


Nila mengangguk, merasa ada yang aneh dengan kebiasaan ikal selama dia kenal saat SMP dulu..


Febi alias ikal, sebenarnya kakak kelas Nila di SMP. Dia harus tinggal kelas karena memilih menyalurkan hobinya bermain bulu tangkis. Ikut turnamen kesana-kemari, sampai tertinggal pelajaran dan ujian di kelas dua.


Ikal, Nila, Hesti dan Lilis masuk dalam satu kelas. Akhirnya mereka bersahabat karena mereka slalu nyambung dan klik dalam berbagai hal.


Dulu orangnya pecinta kebersihan, berpenampilan rapih, rambut selalu pakai pomet biar bisa diatur ikalnya.


Dan dia paling anti bau rokok, comberan dan bau-bauan menyengat lainnya..


Entah kenapa selama tiga tahun mereka berpisah banyak sekali perubahan yang Nila lihat sekarang.


"Emm...bang ikal sekarang sibuk apa?, kuliah?" tanya ragu


Menggeleng tetap dengan wajah tersenyum cengengesan.


"Lalu?" Menghentikan langkahnya lagi


"Kerja" jawab enteng dan menghisap rokok


" kayaknya kita harus ngobrol panjang ni" Nila melangkah lagi menuju rumahnya.


"rumahmu masih utuh kan belum pindah?"


" masih bang, mau pindah kemana lagi, hee"


Dalam perjalanan mereka, lewat sebuah mobil silver merek brand kenamaan melewati mereka dengan pelan dan Nila tau siapa yang mengemudikan nya. Siapa lagi kalau bukan suaminya Abiyan Suprayogi.


Spontan Nila tersenyum melihat bayangan pengemudi didalamnya.


Ikal dengan rokok ditangan,

__ADS_1


"Siapa? kenal dengan yang punya mobil?"


"He'eh...kenal " melanjutkan jalannya menuju rumah Nila.


__ADS_2