
Nila habis-habisan dipermainkan Biyan.
Dia hanya bisa pasrah.
Biarkan lah dia bermain sesukanya.
sambil menggigit bibirnya.
Selesai dengan urusan, Biyan
"Sayang, hari ini kamu punya rencana apa" menempel dipelukan Nila.
"Emm...tidak ada". Menggeser badannya sedikit menjauh, namun Biyan makin menempel
Aduhhh...
tanganku kebas,
Dia nempel terus sampai Limas.
ah...
Mata sedikit menyerengai.
"Hemmm..Kita bisa main sepuasnya dong?" tertawa jahat
Heh...mulai deh otaknya
apa masih kurang.?
Dasar maniak
Aku capek...
Hemmm...
Oh ya aku punya ide
"Biyan, bagaimana kalau kita main ke rumah sahabat-sahabatku?"
Terlihat mikir,
"Emm....... menurut ku...lebih baik dikamar sampai sore!!" memiringkan badan menghadap Nila dan mengedipkan satu mata
Hah...
Nila lemas.
"Sayang?" Mendesul dalam pelukan Nila
"Hemm" jawab malas
"Main lagi yuk?" masih berusaha mengendus seperti anak kucing di balik ketiak
Hadehh...
Tuhan...lihat mahluk ciptaan Mu ini, seorang tuan perwira terhormat. Berpangkat kapten, berbadan tegak gagah tapi kelakuannya seperti anak kucing yang manja sama induk semangnya.Huh...
sambil memutar bola mata dengar permintaan Biyan.
"Benar-benar diluar dugaan" bisik lirih pada diri sendiri.
"Kamu bilang apa?" mendesul lagi.
"Tidak...aku bilang aku haus"
untung tidak dengar
hugff
Ditengoknya gelas dimeja kosong
"Aku juga haus..ambilkan sana " duduk dan mengambil ponselnya, melihat pesan masuk, yang sebenarnya sudah berdering dari tadi.
Ck..aku kira dia yang mau ambil kan, melayaniku bak ratu...
Ehh dasar lelaki.
Turun dengan muka cemberut.
**
Dapur
"Rumah kok sepi, ibu mana ya, ?" gumam sendiri.
Mengambil air dalam teko.
Nila masih penasaran
"coba aku tanya bapak , sekarang hampir makan siang tapi kok ibu belum siap-siap masak."
menuju samping rumah tempat bapak membuat perkakas kayu.
__ADS_1
*
Sampai ditempat tujuan.
"Loh...bapak juga gak ada!!??, kemana ya mereka?"
celingukan melihat ke kanan dan ke kiri.
Sedikit berlari menghampiri Biyan.
*
Masuk kamar
"Biyan, bapak dan ibu kok tidak di rumah?" "Biyan?"
yang diajak bicara masih sibuk dengan ponselnya.
Huh..sedang apa sie...
kelihatannya sangat serius
sampai aku panggil ,
pandangannya tidak sedikitpun lepas dari ponsel.
Biarlah sekalian aku istirahat,
capek, otot terasa tegang semua.
Sambil merentangkan kedua tangan dan kepala yang di gerakan kanan kiri. Lalu berbaring di ranjang dengan sangat pelan agar manusia disebelahnya tidak terusik.
Matanya mulai mulai berat. Dibaringkan nya badan membelakangi Biyan. Tangan memeluk guling dan suara hembusan napas yang panjang membawanya kedalam alam mimpi.
Biyan masih serius membalas setiap pesan yang masuk ( alur cerita terjadi tahun 2010, jadi ponsel saat itu orang lebih sering menggunakan pesan dan panggilan )
Biyan,
Bagaimana ini keberangkatan pasukan akan dimajukan.ck
Mereka akan terbang dari Jakarta.
Emm...Kalau aku berangkat sendiri ke Jakarta tidak ikut rombongan, mungkin aku masih punya waktu senggang satu hari menghabiskan waktu dengan Nila.
Oh ya Nila mana.?
Matanya mencari kearah pintu, tidak ada. Lalu memandang disampingnya ternyata Nila sudah tertidur lelap.
lihat mulutnya ini benar-benar bikin candu. Saat menciumnya pertama kali ketika dia tidur tidur rasanya masih aku ingat sampai sekarang
dan buat ketagihan.
menyusuri pelan bibir Nila dengan ujung jari.
Aroma tubuhnya, membuatku gila, begitu harum lembut dan ingin menempel terus di pelukannya. Lihat kulit mulus dan tubuh yang menggemaskan ini, buatku ingin peluk dan jamah tanpa henti.
hahaha...mungkin aku sudah kecanduan dengannya.
Tangannya ikut menyusuri lekukan badan Nila.
Saking lelahnya, Nila tidur tanpa terusik dengan kegiatan Biyan pada tubuhnya.
Nila hanya menggeliat sedikit ketika Biyan mencium bibir lebih dalam.
Biyan terkekeh melihat Nila yang tetap asik terlelap tanpa peduli apa yang dilakukannya.
Akhirnya mereka malah terlelap bersama.
Rumah semakin sepi karena penghuni lain pergi entah kemana.
**
Pukul satu siang
Nila menggeliat pegal karena tangannya terasa kebas seperti ada batu besar yang menindihnya.
Pantesan kebas, dia dengan asiknya tidur bantalan tanganku dan sembunyi dibalik ketiak.
Dasar...
Biasanya cewek yang diposisi ini, kenapa ini kebalik?...
Tidak habis pikir...
Huhffff...
menghela napas panjang sambil berusaha melepaskan tangannya dari kepala Biyan.
Akhirnya berhasil lepas dari Biyan. Berjalan keluar kamar sambil meregangkan otot-otot nya.
Rumah masih sepi. Bapak, ibu dan Tika tidak terlihat batang hidungnya.
"Kemana ya mereka.. ? padahal tadi aku duduk diluar bersama bang ikal, tapi mereka keluar pergi kok aku tidak melihatnya?" gumam sendiri
__ADS_1
"Tika lagi, jam segini belum pulang".
menuju dapur
Mengelus perut,
"Laper" sambil membuka Magicom ternyata masih kosong
"Ibu sepertinya benar-benar sibuk sama bapak, sampai nasi lupa masak lagi tidak seperti biasanya..ada apa ya?" bertanya dengan diri sendiri.
"Lebih baik aku masak saja, takut nanti Biyan bangun langsung minta makan."
Nila mulai berkutik di dapur memasak nasi, dan lauk pauk yang ada.
**
Didalam kamar
Masih di alam mimpi sebenarnya, tapi mencium bau harum sayur asam, ikan goreng dan bau sambal terasi membuat terperanjat bangun seketika.
Masih dalam posisi duduk di atas ranjang.
"Waktunya makan siang."
Lalu berdiri, sedikit berlari menuju meja makan.
"Dimana Nila dan lainnya ?"
jalan menuju dapur. Dilihatnya hanya ada Nila yang masih mengaduk-aduk sayur.
Dalam bayangan Biyan,
Uap sayur yang mengenai wajah Nila dengan rambut yang terikat sembarangan, bibir yang sedikit menahan gerakan tangannya mengaduk sayur serta biasan cahaya yang menerobos masuk dari jendela membuat Nila terlihat begitu menawan.
"Beautiful" kata yang terucap dari mulutnya
ia melangkahkan kaki kearah Nila dan memeluknya dari belakang.
Tapi...
Nila malah kaget dan refleks memukul kepala Biyan dengan centong sayur panas yang dipegangnya.
tung...
"Aduh" seketika Biyan berteriak dan mengusap-usap kepalanya.
"Biyan!!"
"Aduh...bukanya romantis malahan anarkis" gumamnya sambil mengelus kepala lebih karena cukup keras Nila mengetok kepala Biyan.
"Hahaha...kamu si...buat aku kaget, hahaha" ikut mengelus kepala Biyan
"Aduh...kamu cukup kuat ya, sampai benjol kepalaku"
"Hahaha....mana yang benjol, tidak ada" memilah rambut Biyan.
Biyan malahan tersenyum, menikmati Nila memilah dan membelai rambutnya.
"Hem...enak?" melihat Biyan yang senyum-senyum.
"Hehe..., lagi!!" menarik tangan Nila ke kepalanya.
Aduh...Ini mahluk tidak ada henti-hentinya manja.
menarik tangannya.
"Nanti ya...mau makan tidak?"
Mengangguk dengan cepat.
"Kamu duduk dulu ya." mendorong Biyan keluar dapur.
Nila meneruskan mengaduk sayur asemnya.
Tiba-tiba sebuah beban jatuh dipundak nya.
Ditengoknya ternyata kepala Biyan dengan tangan yang merangkul pinggang Nila .
"Kenapa kamu belum duduk.?" suara sedikit melengking
"Hem...aku lagi pingin seperti ini!" bicara manja.
"tapi akunya susah Biyan ?" merendahkan suaranya
"Tapi masih pingin!"
Huffg ...
Ini mah bukan bayi kucing lagi tapi bayi Kuala.
Tuhannnnn....
menjerit dalam hati.
__ADS_1