Cinta Untuk Janda Kembangku

Cinta Untuk Janda Kembangku
Kecupan Terakhir


__ADS_3

Sinar mentari pagi mulai menerobos masuk dalam jendela kamar, menyinari dua sejoli yang masih berpelukan erat.


Hembusan angin pagi, membuat keduanya menambah enggan untuk beranjak dari ranjang.


Suara Koko ayam saling saut bersautan, tidak mereka hiraukan. Padahal mata tidak bisa di pejamkan lagi.


Keduanya masih meringkuk dan memadu kasih dalam dekapan.


Biyan tidak henti-hentinya mencium kening istrinya. Mata yang sayu, pelukan yang semakin erat dan mulut yang terkunci rapat, tidak tahu dia harus berkata atau berjanji apa lagi selain kesetiaan dan segera pulang yang dia ukir dalam hati dan jiwanya.


Denting jam dinding menyadarkan mereka bahwa ini jalan yang harus dilewati.


Nila bangun terasa berat, karena sepanjang malam terus meneteskan air mata sehingga matanya sembab.


Dia duduk, dan berusaha menegarkan hatinya.


"Ayo sayang, siap-siap sore harus take off kan" Senyum sebaik mungkin.


Biyan mengangguk, matanya masih sayu antara belum siap meninggalkan Nila tapi harus menjalankan tugasnya.


Akhirnya Biyan mulai siap-siap, dan dia akan pulang dulu ke rumah komandan untuk mengambil semua perlengkapan tugasnya.


Sarapan yang biasanya disertai canda tawa, hari ini penghuni rumah tidak banyak bicara.


Bapak mencoba menenangkan hati menantunya,


" Nak Biyan, hati-hati jangan lupa untuk slalu ingat Tuhan dalam keadaan apapun. Jangan khawatir kan Nila, dia disini banyak yang jaga. Yang terpenting Biyan bisa pulang ke tanah air dengan sehat dan selamat." Bapak menepuk pundak Biyan yang saat itu duduk bersebelahan di meja makan.


"Iya, terimakasih pak dan mohon doanya. Serta mohon maaf tidak bisa menjaga Nila dengan baik" Biyan dengan wajah yang masih sendu.


"Sudah lah Biyan, kamu tenang saja, yang terpenting kamu hati-hati disana, aku akan slalu menunggu kabar darimu" Nila mengelus tangan suaminya dengan lembut.


Ibu dan Tika hanya memandang penuh haru.


Baru kemarin lihat Nila begitu bahagia dengan Biyan, tiba-tiba harus berpisah sementara waktu.


Mereka berpamitan dengan keluarga Nila.


Mobil melaju ke rumah komandan.


**


Sampai di rumah komandan


Hanya ada Vina dan komandan.


Nila langsung naik ke lantai dua menuju kamarnya untuk membereskan semua barang yang perlu Biyan bawa sesuai arahannya.


Singkat cerita Biyan langsung memberitahu komandan akan keberangkatan nya yang mendadak.


"Ayah..aku titip Nila ya. Jangan buat dia kesepian ataupun sedih " Biyan didepan meja kerja ayahnya.


"Kamu fokuslah dalam tugasmu, masalah Nila, ayah sudah memikirkan rencana untuk masa depannya. Jika kamu setuju ayah akan menyuruh dia melanjutkan studinya." Komandan memandang lekat pada anak satu-satunya


Biyan diam sejenak,

__ADS_1


"Baik ayah lakukanlah apa saja asal Nila bisa bahagia menunggu kepulangan ku, terima kasih ayah. Aku titip Nila ya" Mata hampir berkaca-kaca.


Komandan melihatnya namun dia merasa lebih baik tidak melihatnya karena dia juga pasti akan merasakan hal yang sama dengan Biyan.


***


Perjalanan menuju bandara, mereka diantar sopir dan Vina.


Biyan memakai atribut lengkapnya sangat gagah dan tampan. Nila memakai seragam kebanggan para nyonya Persit hijau toska muda. Dengan rambut di kucir tinggi, make up senatural mungkin dengan sepatu pantofel hitam berhak sedang.


Sepanjang perjalanan tangan Biyan tidak lepas menggenggam tangan Nila. Mereka mencoba untuk selalu tersenyum padahal dalam hati ingin rasanya menjerit dan menangis bahwa mereka belum siap untuk melepas satu sama lain.


**


Sampailah mereka di bandara yang sudah dipenuhi dengan para prajurit pilihan serta keluarga yang datang untuk melepas mereka.


Apel serta sambutan dari Mentri luar negeri dan para jenderal melepas keberangkatan pasukan pilihan negeri mengemban misi kemanusiaan dan perdamaian.


Ditutup dengan doa bersama dan menyalami satu persatu pasukan yang akan diterbangkan.


Nila dan semua ibu-ibu Persit lainya sudah menunggu ditempat yang disiapkan.


Acara selesai para tentara menuju kepada keluarga mereka untuk terakhir kalinya sebelum berangkat.


Banyak sekali pemandangan haru biru di hari itu. Ada yang istrinya masih hamil muda, ada yang tinggal beberapa hari akan lahiran.


Ada yang diantar oleh ketiga anak-anak nya yang masih kecil-kecil, yang gantian minta gendong kepada ayahnya, mereka tidak paham akan arti perpisahan itu, sang ibu menahan tangisnya padahal dalam hatinya dia berharap dan berdoa agar suami bisa pulang dengan selamat kembali ketanah air agar anak-anaknya tidak menjadi menjadi yatim.


Ada yang diantar oleh ibunya yang tidak lepas memeluk anak kebangganya, mulut yang tidak berhenti berdoa untuk keselamatan anaknya.


Ada yang berusaha tegar melepas suaminya.


Biyan mencium dan meminum tiap air mata Nila yang mengalir di pipi.


"Aku akan membayar semua air mata yang kamu keluarkan hari ini, maka tunggulah aku pulang" Biyan dengan suara yang mulai parau menahan tangis.


Nila hanya mengangguk pelan dengan wajah yang terus tersenyum sebaik mungkin.


"Aku akan selalu kirim kabar jika ada waktu senggang di sana, kamu jangan nangis lagi" Biyan menyeka sisa air mata di pelupuk istrinya.


"Aku akan selalu berdoa kepada Tuhan agar menjagamu dan mengembalikan lagi kepadaku, hiks..hiks" air mata yang tadi bisa di seka malah keluar dengan deras.


Hari itu benar-benar seperti lautan tangis melepas anggota keluarganya untuk bertugas demi negara dan tanah air.


Satu persatu pasukan mulai memasuki pesawat


Semua orang tidak lepas dari lambaian tangan dan air mata yang bercucuran.


Biyan yang melihat Nila tidak terasa matanya terus meneteskan air mata.


Tunggulah aku sayang


Tetaplah setia menunggu kepulangan ku.


Semoga jodoh kita tidak bisa terputus walau apapun yang terjadi.

__ADS_1


Aku akan membayar semua air matamu hari ini.


Tunggulah dan doakan agar aku cepat pulang.


I Love You Nila Ningtiyas.


Batin Biyan


Nila dengan mata yang tidak bisa dikondisikan, air matanya terus mengalir, dalam hatinya.


Aku akan setia menunggu kepulangan mu


Sebenarnya aku tidak tahu maksud Tuhan,


Tentang bagaimana kamu bisa hadir dalam hidupku, dan apa tujuan Tuhan membawamu padaku.


Aku hanya yakin ada jawaban akan semua ini, hanya saja hingga detik ini aku masih diminta untuk menunggu.


Terimakasih atas cintamu yang kau beri.


I Love you Abiyan Suprayogi.


Akhirnya pesawat terbang semakin tinggi, yang membuat Nila mulai kangen dengan suaranya, badan yang selalu dia peluk saat tidur, aroma tubuhnya yang membuat ketagihan. Dan cumbu mesra yang selalu terngiang dalam ingatan.


****


Nila dan Vina pulang menuju rumah komandan. Sepanjang perjalanan Nila hanya diam dan sesekali menyeka air mata yang terus mengalir.


Vina memegang tangan Nila memberikan support, hal itu malah membuat Nila tidak kuat menahan suara tangisnya.


Dalam mobil Nila menangis sejadi-jadinya.


Vina "Keluarkan saja jika itu bisa membuat hatimu lega" sambil memeluk erat Nila


"Vina, haaaaaa. haaaa..haaa" Tangisnya benar-benar pecah, dia tidak peduli dengan pandangan supir baru komandan.


Dia hanya ingin melepaskan semua beban di dalam hati, melepas kepergian suaminya.


Biyan, aku akan setia


Dan akan selalu merindukanmu.


Tuhan jagalah dia dan kembalikan lagi padaku.


Akan ku jaga dia sebaik yang aku bisa.


Love you and i miss you.


Batin Nila.


*******


Mohon maaf update agak telat karena kemarin ada masukan. Jadi saya revisi sedikit demi sedikit.


Terima kasih bagi pembaca yang sudah menikmati tulisan saya. Dan mohon maaf jika ada yang kurang puas.

__ADS_1


Masih dalam tahap belajar.


🙏☺️☺️😊


__ADS_2