
Mendengar jeritan Nila, ibu panik
"Pak..Nila kenapa?"
"Iya Bu, mba Nila kenapa?" Tika
"Sudah jangan dengarkan, kalian makan saja dulu..dari tadi ribut, bapak sampai tidak bisa menikmati rokok" menghisap lagi
"Tapi Nila menjerit pak?" ibu cemas
"Sudah, paling lihat kecoak" Jawab bapak santai
"Tapi mba Nila tidak takut kecoak pak," Tika polos
"Berarti lihat hantu" bapak lebih santai
" Hantu pagi-pagi, bapak ngawur" ibu kesal
"Lah emang hantu keluarnya malam saja, ya terserah mereka mau malam, pagi atau siang. Lagian bapak juga belum pernah lihat hantu" sambil menahan tawa
" Hem...jangan dengarkan bapakmu.."
"Hehehe" Tika mengacungkan jempol ke arah bapaknya
**
Dalam kamar
"Gimana cara ngilanginnya Biyan," sambil mengusap usap pakai tisu basah
"Hahaha ...ya gak bisa ilang sayang, nunggu dua, tiga hari baru hilang". Tangannya malahan mengambil kesempatan menyusuri leher Nila
"Biyan hentikan, bukanya bantu malah memperlambat"
"Sudah biarkan saja, lagian kita sudah menikah"
"Tapi malu Biyan, apa nanti kata ibu sama Bapak" masih mengusap lehernya sedikit keras
"Mereka pasti memakluminya, mereka sudah dewasa, dan mungkin juga pernah seperti itu, hehe"
"Kamu". Memukul dada Biyan kesal
"Au...." Mengelus dadanya
"Nanti kalau Tika lihat dan tanya aku harus jawab apa?" cemas
"Jawab saja di gigit nyamuk" tetap mencuri menciumi rambut Nila
"Iya nyamuknya kepala plontos" Nila ketus
" Hahaha, gemes" Biyan memeluk Nila dari belakang
"Lepasin "..meronta
"iya..iya.." mundur dan duduk di ranjang
"Kamu ngapain duduk, pakai baju sana!" Nila sedikit melengking
"Ambilkan" manja
"Dasar"
Tuhan, aku harus bagaimana..
jika bapak dan ibu lihat aku akan benar-benar malu sampai tua.
Biyan lagi malah cengengesan, bukanya menenangkan ku dan Carikan solusi malahan ketawa bahagia.
Bilang tanda cinta lagi.cihh
Nila dalam hati
"Ini" memberi kaos warna biru laut dan celana kain coklat tua.
Biyan dengan seketika membuka celana pendeknya yang dikenakan saat ini...
"Kamu mau ngapain?" Nila
"Ganti celana?"
"Disini?"
__ADS_1
"Lah terus kenapa?"
"Malu tau" menutup wajah dengan kedua tangan
"Ngapain malau tadi malam saja kamu sudah menyentuh seluruh badanku, tidak ingat?"
"Biyan..." wajah memerah
Akhirnya tanpa ragu Biyan menggantinya pakaian didepan Nila.
Nila melihat badan Biyan hanya dapat menelan saliva nya.
***
Di meja makan
"Bu Tika makan dulu lah, nunggu mba Nila sama kak Biyan lama, keburu lapar" mengangkat sendok dan menyantap makanannya dengan lahap
" Ini sama sayur, biar sehat" ibu menaruh oseng wortel dan buncis ke piring Tika.
"Jangan banyak-banyak Bu, Tika gak suka buncis" ngomong dengan makanan yang masih di mulutnya.
"Tika tidak sopan makan sambil bicara seperti itu,." bapak
Tika mengangguk..
"Bu, bapak buatkan kopi saja dulu sambil nunggu mereka keluar" bapak mengambil tempe goreng dan memakannya
"Iya pak...bapak makan aja dulu sekalian, biarkan mereka makan sendiri saja"
berlalu masuk dapur membuat kopi
"Pak... mereka sedang apa ya.." Tika, nasi masih dalam mulut
"Makan dulu nasinya, nanti kamu terdesak" belum bapak habis ngomong
"Huk..Hulk.huk.." Tika tersedak dengan segera minum air didepannya
"Bapak baru ngomong, sudah terjadi..makan pelan-pelan dan jangan bicara sambil makan"
Ibu datang membawa kopi yang masih mengebul.
**
"Emmm...tapi apa kamu tidak merasa gerah dan panas"
"Enggak lah, ini masih pagi"
"Tapi ini termasuk musim panas loh"
"kalau panas nanti aku kipas saja, yang penting tanda cintamu itu bisa aku tutupi" bicara sambil menekan
"Ya terserah kamu, sini aku pakaikan," membuka kancing piyama Nila
"Apaan sih Biyan,"
"Sudah aku lepasin, kamu kelamaan, itu bapak sama ibu sudah nunggu" masih berusaha.
"Aku saja, malu Biyan" menarik bajunya
"Malu....tadi malam aku sudah lihat semua" meraih kembali baju Nila
" Tapi Biyan malu.." memegang tangan Biyan agar berhenti.
"Gak usah malu, letak tahi lalat mupun aku ingat.
Di bagian perut ada tiga, besar satu. Bagian paha ada dua, kanan dan kiri. Bagian betis ada satu disebelah kanan. Di bawah kaki ada dua, pas ditengah semua. Di wajahmu, aku paling hafal. Di tulang pipi satu bawah ujung mata sebelah kiri. Hidung sebelah Kanan. Dahi agak ke kanan ada satu. Bagian dagu ada satu sebelah kiri dan bagian leher ada satu pas ditengah-tengah leher agak besar dan hitam" Biyan mengedipkan satu matanya
Nila terperangah mendengar penjelasan Biyan yang hafal letak tahi lalat nya walaupun baru semalam mereka saling terbuka..
"Hebat, kok bisa hafal dalam satu malam?" Nila masih heran
"Kamu lupa, suamimu ini anggota pasukan khusus berpangkat kapten. Jadi masalah memperhatikan letak suatu benda dengan cepat kami sudah dilatih dengan khusus". Menaikkan kedua alisnya kearah Nila
"Hebat..."
"kalau aku hebat hadiahnya mana?"
"ummmuach, ini hadiahnya" mencium pipi
"Masih kurang" manja sambil menggoyang badannya seperti anak kecil merengek.
__ADS_1
Mulai deh...keluar manjanya
Kalau seperti itu aku tidak percaya kalau dia tentara pasukan khusus,
jabatan kapten gak mungkin.
batin Nila
"Iyaa" mencium lembut Biyan.
Biyan menarik Nila mendekatb dengan lekat dan tangan nya sibuk membuka kancing dan melepaskan.
Nila kaget bajunya sudah lepas,
reflek menutup dengan kedua lengannya.
" heh..ini pakai." Biyan memakaikan switer itu ke Nila..
Nila merapikan pakaian dan menyisir rambut
"sudah tidak kelihatan" tersenyum manis
"Ayo buruan keluar aku sudah lapar" memegang perut
***
Akhirnya mereka menuju meja makan
"Maaf bapak ibu kami bangun terlambat" Biyan
" Tidak apa-apa, ayo silakan makan, Nila layani suamimu" perintah bapak
Nila bergegas mengambil piring Biyan dan mengambil nasi serta lauk pauk diatasnya.
"Ini, kalau mau nambah bilang nanti tak ambilkan" Nila sambil tersenyum
Semua orang menahan tawa.
Mengingat kejadian makan malam, Biyan makan nambah nambah-nambah terus.
"Nila, kamu pakai switer?" Ibu memandang heran
"Iya...apa gak panas mba? Switer leher panjang lagi" Tika nimbrung
"Heeee.." Nila hanya tersenyum canggung
"Iya..ganti baju sana yang nyaman, ibu lihat nya saja sudah gerah"
"Iya mba Nila, pakai switer di musim panas..., hadeh".Tika nimbrung lagi
Nila hanya menahan malu mendengar ledekan Tika.
Biyan tidak peduli karena sibuk makanan yang dia santap.
Dasar sial,
kamu yang bikin aku memakai switer ini malahan asik makan,
diledek adik sendiri lagi.
Aduh...mulai gerah, panas.
Harus tahan, jangan sampai ada yang tahu
Nila sambil makan..
Mereka semua makan pagi dengan lahap. Apa lagi Biyan, nambah sampai tiga kali.
Ibu begitu bahagia melihat menantunya sangat menyukai masakan nya.
Bapak tertawa ketika Biyan menjahili Nila dan Tika di meja makan.
"Kak Biyan, antar Tika berangkat sekolah ya..." memakai tas gendongnya
"Ayo.." Biyan sambil menunjuk kan kunci mobilnya
******
Terimakasih pembaca yang Budiman
Silakan kasih saran dan kritik ya agar ceritanya lebih baik.
__ADS_1