
Sementara seluruh keluarga menunggu Nila siuman.
Di belahan benua lain, Biyan masih bercengkrama dengan Markus.
Pukul lima pagi waktu setempat. Sinar fajar mulai terpancar dari ujung langit timur.
Mata Biyan mulai berat, Markus melihat kaptennya mengantuk dia berdiri siap berjaga. Membiarkan Biyan tidur sebentar.
Belum ada sepuluh menit.
Tiba-tiba ada suara ledakan...
Buuummmmm....
Dari arah selatan sebelah pemukiman warga.
Biyan bangun tersentak, dilihatnya Markus sudah berlari menuju arah ledakan.
Gemuruh ledakan itu, di iringi dengan suara teriakan warga dengan bahasa yang Biyan sama sekali tidak tahu.
Suara tangisan anak-anak dan bayi ikut bersaut- saut membuat sinar fajar yang mulai merekah, terlihat begitu tragis dan mengenaskan.
Biyan ikut lari menuju arah ledakan, di ikuti dengan personil lain yang baru keluar dalam camp.
"Markus langsung cari warga sipil, anak-anak selamat dulu" mengarahkan sambil berlari di reruntuhan bangunan yang porak-poranda.
Satu persatu warga sipil di arahkan menuju camp tentara bantu, ada anak kecil yang terpisah dengan ibunya terus menangis di gendongan Biyan.
"Ummi...ummi..umiii" rengek anak tersebut
"Cup..cup...sudah ya...nanti dicari ibumu" Biyan menenangkan padahal anak itu tidak paham dengan omongan yang Biyan ucapkan.
Tapi karena belai lembut tangan Biyan yang mampu menenangkan anak perempuan itu.
Sampai di camp PMI satu persatu korban luka di rawat, anak perempuan itu di serahkan kepada perawat karena dahinya sedikit tergores oleh runtuhan bangunan rumahnya.
Markus datang dengan seorang lelaki tua rentan yang digendongnya. Kedua kakinya patah karena tertimpa atap rumah yang roboh.
Dengan bahasa mereka, dia meronta-ronta sambil menangis meminta tolong dan sesekali terdengar nama Tuhan yang dia lantunkan.
Kejadian itu benar-benar serangan yang cukup dahsyat untuk pertama kali Biyan tugas di sana.
Pukul Dua belas siang waktu setempat.
Biyan dan pasukan sudah selesai menyusuri semua lokasi ledakan. Korban selamat dan luka-luka sudah di urus.
Sedang korban jiwa sudah mulai dikubur dengan prosesi mati syahit tanpa kafan dan bunga.
Dikubur bersama, waktu itu juga dan disholatkan oleh warga dan tentara yang seagama.
Wilayah itu mulai tenang.
Biyan, Markus dan pasukan lain beristirahat. Mereka semua langsung menuju tempat air minum. Kerongkongan mereka baru sempat dibasahi dari pagi buta sampai sekarang.
Saking banyaknya korban yang harus diselamatkan
Dapur umum sudah menyediakan makan ala kadarnya, ada roti khas sana dan sayur kol yang dimasak sebisanya.
Pasukan mengantri mengambil jatah makan.
__ADS_1
Saat giliran Biyan dan Markus tepat dibelakangnya. Ada segerombol anak-anak yang dengan pakaian penuh debu, wajah yang tidak terawat. Menggigit jari melihat makanan yang hanya roti dan sayur biasa itu.
Padahal mereka sudah mendapatkan jatah. Tapi karena anak-anak mereka masih dalam proses pertumbuhan jadi merasa ingin apa yang dimakan oleh orang lain.
Biyan meminta roti dan sayur lebih, di ikuti Markus yang juga meminta lebih.
Mereka memanggil segerombolan anak tersebut
"Come here....come here" Biyan melambaikan tangan
Tanpa malu mereka langsung datang mengerubung.
"Eat,,eat.." Biyan dan Markus menyerahkan jatah makan mereka.
segerombolan anak-anak itu, terlihat begitu rakus memakannya dan saling berbagi.
Biyan dan Markus tersenyum bahagia melihat mereka.
"Sa di rumah dulu susah makan, tapi Tuhan baik sa bisa makan umbi tanpa sa tanam. Disini sa rasa lebih menyedihkan kapten" Markus memilih duduk jongkok melihat mereka makan dan tertawa bahagia
"Makanya kita harus pandai bersyukur. Lihat wajah tanpa dosa mereka seharusnya diusianya sekarang mereka masih asik belajar dan bermain. Hummm" merangkul Markus dan jongkok bersama.
"Kalian makan apa coba sekarang?" suara datang dari arah belakang
Biyan dan Markus menengok seketika.
" Bella?" Biyan kaget
"ko... kapten kenal?" Markus
Biyan mengangguk
"Terimakasih" Markus yang memang sudah lapar langsung meminum susu kotak itu dan memakan biskuit.
Biyan hanya meminum susu.
"Kapan ditugaskan kemari?" meminum susu pelan-pelan
"Baru transit kemarin, tapi berhubung di sini ada ledakan, tim kami langsung dibawa kesini. Dan melihat kamu juga tugas disini. Apa kabar?" wanita dengan berperawakan cantik, rambut pendek sebahu badan tinggi, kulit putih.
Biyan terlihat cuek. Markus yang masih penasaran bertanya
"Kapten ...ko kenal dokter ni?" mulut masih mengunyah
" Emmm...dia dokter Bella dulu dokter di Akmil Yoxxxx " Biyan menghabiskan susunya.
Markus mengangguk paham.
"Kamu masih cuek dan dingin kepada ku seperti dulu ya, tidak berubah. Aku makin suka"
Biyan tersentak apalagi Markus lebih tersentak sampai tersedak biskuit yang di makannya.
Biyan berdiri menyerahkan biskuit ke Markus.
"Markus aku harus ke markas menunggu perintah selanjutnya." berlalu meninggalkan Bella dan Markus.
***
Di rumah sakit
__ADS_1
Nila mulai menggerakkan tangan. Ibu histeris bahagia melihatnya
Bapak, komandan, Vina dan Tika mengerubung.
Matanya mulai membuka pelan-pelan. Kerongkongannya terasa sangat kering. Nila mengisyaratkan ingin minum.
Tapi dokter belum mengizinkanya.
Nila hanya diberikan tiga tetes air, sedikit membasahi kerongkongan.
"Yang sakit mana Nila, bilang sama ibu" masih menggenggam erat tangan anak sulungnya
Nila menggeleng.
"Vina panggil dokter " perintah komandan
Vina langsung keluar dengan segera.
"Kalau ada yang sakit bilang ya Nila" bapak mengelus lembut rambutnya
Tika hanya tersenyum bahagia melihat kakaknya bisa kembali bangun.
"Emmm... maafkan ayah Nila, tidak bisa menjaga mu dengan baik" komandan dengan mata berkaca-kaca
Nila mengajukan tangan kirinya ingin meraih tangan komandan, mulutnya masih kering sulit untuk bicara.
Komandan meraih tangan Nila.
Nila tersenyum dan menggeleng, mengisyaratkan 'komandan jangan menangis bukan beliau yang salah. Mungkin bisa diartikan seperti itu.
"Maaf kan saya pak Slamet dan Bu Slamet." pandangan mata beliau menunduk tapi tangan masih menggenggam Nila.
"Sudahlah komandan, ini memang yang harus dijalani Nila, yang penting dia bisa sehat kembali" bapak menyentuh pundak komandan.
" Maafkan saya" komandan masih menunduk
Tidak lama dokter datang dan memeriksa Nila.
"Kondisi pasien sudah stabil, sebaiknya jangan makan dan minum sebelum buang angin. Dan disarankan makan yang lunak dulu jika pasien setelah buang angin ingin makan" dokter menjelaskan
Semua yang menunggu Nila mengangguk paham.
"Baik saya permisi dulu jika ada hal lain, bisa panggil saya kembali. permisi" dokter dan satu perawat yang mengikuti nya keluar
"Komandan dan Mba Vina sebaiknya kalian pulang dulu istirahat, biar Nila kami yang jaga, dan terimakasih telah menjaga Nila semalam" ibu
"Iya sebaiknya komandan tidur dan istirahat nanti sore bisa kemari lagi" bapak
"Sebaiknya komandan istirahat, benar kata ibu dan bapak Nila" Vina menambahi
Nila dengan isyarat mata dan anggukkan ikut menyuruh komandan untuk pulang dan istirahat.
Dan dengan bahasa bibir, ia berkata 'terimakasih ayah'
Komandan merasa haru. Langsung berpamitan keluar kamar.
Didalam lift beliau menyeka air mata yang tak terasa mengalir begitu saja.
Vina berusaha membelakangi beliau padahal ia tahu komandan menangis.
__ADS_1