
Waktu terasa cepat berlalu. Memasuki tiga bulan, Nila belum juga mendapatkan kabar dari Biyan.
Dia hanya bisa mencari informasi dari internet tentang kondisi daerah konflik dimana Biyan di tugaskan.
Ketika mendengar ada kejadian bom bunuh diri dekat camp penampungan pasukan pembantu.
Hati Nila terasa berdebar-debar tidak karuan, khawatir jika terjadi sesuatu pada Biyan di sana.
Dia berlari terburu-buru turun dari lantai dua ke lantai dasar langsung menuju ruang kerja dimana Vina sedang lembur kerja.
Wajahnya panik dengan napas yang tersengal-sengal.
Vina melihat Nila, wajahnya bertanya-tanya apa yang terjadi.
Dengan segera Nila menyalakan televisi yang juga ada di ruang kerja dimana berita bom bunuh diri itu masih disiarkan.
Nila tegang, tangannya gemetaran, kakinya tidak bisa diam ketika Vina meminta ia untuk duduk.
Vina berusaha untuk tenang dan mencarikan informasi yang lebih akurat keberadaan dan kondisi pasukan Biyan.
"Bagaimana Vina, keadaannya di sana ada korban dari pasukan pembantu?" Nila cemas menggigit bibir bawahnya, dia berdiri dan mondar-mandir dibelakang Vina yang duduk di depan meja kerja fokus menghadap laptop.
Vina membuka artikel berbahasa Inggris langsung dari wartawan asing disana, yang menjelaskan tidak ada korban, hanya tubuh pelaku yang hancur lebur tak tersisah.
"Hufff.." Nila merasa lega tapi matanya tidak luput dari air mata yang mulai mengalir.
"Hum" Vina hanya menghela napasnya melihat kondisi Nila saat ini.
Nila duduk didepan Vina dan menutup wajahnya dengan lengah, dia menunduk diatas meja, suara isakan tangis mulai terdengar.
Vina mendekat dan memeluk erat Nila memberi semangat.
Komandan yang hanya mengintip mereka dari celah pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.
"Sudah... Biyan tidak apa-apa, kamu tenang ya." mengelus lembut kepala Nila
"Apakah aku harus selalu merasakan hal ini, was-was, bagaimana dia di sana, amankah dia...aku...aku...hiks... hiks...hiks" masih dalam posisi menunduk badannya goncang karena tangisnya mulai pecah'.
"Hem...kamu harus berusaha menenangkan hatimu dan selalu positif thinking bahwa Biyan akan selamat dan segera kembali" Mencoba membangunkan Nila
"Biyan" tanganya masih menutupi wajah.
"Sudah jangan nangis" Vina membuka tangan Nila yang menutupi wajahnya
"Aku belum siap kalau harus kehilangan dia" dengan air mata yang mengalir deras
"usttt...doa yang baik-baik...semoga Biyan selalu diberikan keselamatan" menyeka air mata
"Semoga"
Nila mulai menenangkan diri.
Komandan melihat Nila yang mulai membaik, beliau kembali ke kamarnya.
Beliau duduk diatas ranjang dan memegang erat sandaran ranjang.
Sepertinya saya salah menjodohkan Nila dengan Biyan.
Gadis sekecil itu harus menahan beban berat seperti itu.
Baru menikah harus ditinggal pergi suaminya melaksanakan tugas di daerah konflik dan hampir tiga bulan belum ada kabar apapun darinya.
__ADS_1
Hahhhh...
Tuhan ampunilah saya.
mungkin dulu saya juga menyiksa istri saya seperti ini, sampai dia meninggalkan dunia ini.
Tapi ...... ini adalah amanat yang harus kami pikul menjadi seorang prajurit pilihan, menjaga dan membela demi tanah air.
Hufff...
Tuhan semoga konflik ini cepat selesai agar Biyan bisa secepatnya pulang dan Nila bisa bahagia lagi.
Tak terasa air menetes diujung mata beliau.
***
Kembali keruang kerja
Nila mulai membaik, Vina dengan sabar menasehati dan menyemangati Nila.
Vina memang harus menjadi sosok kakak dimana Nila yang masih usia remaja harus menjadi istri seorang prajurit, dengan kondisi jiwa yang labil. Walaupun Nila selalu berusaha mendewasakan diri tapi tidak dapat dipungkiri ketika mendengar kabar buruk dia akan mudah panik.
"Sekarang kamu harus fokus kuliah agar cepat lulus kalau bisa 3 tahun sudah bisa wisuda, agar Biyan bangga"
menepuk pungguh Nila pelan setelah dia cukup tenang.
Nila mencoba tersenyum
Biyan aku mungkin masih suka merepotkan orang disekelilingku, karena tidak tahan menangis jika mendengar kekacauan ditempat kau ditugaskan.
Tapi aku akan mulai menata hatiku, bersikap lebih tenang, dan menggapai cita-citaku agar bisa kau banggakan ketika pulang nanti.
***
Dia mandi dan memakai kemeja Biyan yang berwarna putih dan Nila ingat betul kalau kemeja itu yang dia pakai saat pernikahan mereka.
Menatap diri didepan cermin dan memeluk diri sendiri memakai kemeja itu.
Hanya kemeja ini yang bisa menjadi pelipur rinduku Biyan.
Terasa hangat, sehangat saat kau memelukku.
Aromamu tubuhmu masih melekat
di sini.
Biarlah Tuhan melihatku gila seperti ini,
Tapi hanya ini yang menjadi obat saat aku benar-benar merindukanmu...
Dia berbaring di ranjang, boneka dengan wajah Biyan di belainya lembut.
"Sebenarnya aku sedikit marah kepadamu. Hampir tiga bulan tidak ada satu kabarpun darimu.
Sebenarnya ini permainanmu atau memang takdir Tuhan yang mempermainkan hatiku.
aku benci... benci..."
memukul-mukul boneka
Tapi dielusnya kembali boneka itu
__ADS_1
"Maafkan aku Biyan sudah meragukan mu lagi. Tuhan tolong jangan biar dia lupa padaku sedetikpun, hantui dia dengan wajahku. errtt...
Tapi kalau ingat aku terus dia akan dalam bahaya dalam tugasnya karena tidak bisa fokus.
Hah... aku bingung.
Tapi aku tetap benci kamu, apa gunanya ponsel yang kau belikan sampai sekarang masih kosong tidak ada satu pesanpun darimu hanya potret mu yang memenuhi memori ponsel.
Biyan aku rindu..haaaa..haaa"
Menangis memeluk erat boneka
Masih berbaring, Nila menciumi Kemeja Biyan yang dikenakannya.
Hanya aroma baju ini yang bisa membuatku sedikit mengobati rasa rindu akan belai kasihmu Biyan.
Cepatlah pulang sayang....aku benar-benar sudah gila tidak bisa membendung rasa rindu ini lagi.
Nila mengoceh lagi sepanjang malam dengan boneka yang dia anggap sebagai Biyan, sampai tertidur lelap.
Hal itu sering dia lakukan jika rasa rindunya sudah berat .
***
Keesokan paginya.
Walaupun kepalanya agak berat dia berusaha bersikap baik-baik saja dihadapan komandan.
Tapi beda jika dia bersama Vina dia tanpa rasa malu menceritakan semua beban berat karena terlalu rindu dengan Biyan.
Nila sudah berangkat kuliah sendiri naik sepeda motor. Dia terlihat enjoy di pagi hari tapi merana saat malam.
Sekarang pak Mir bertugas mengantar Vina dan komandan di perusahaan baru beliau yang dibangun disekitar daerah dekat rumah. Beliau membuka jasa ekspedisi kargo lintas provinsi.
Dengan kepandaian Vina, dia benar-benar mengembangkan sayap perusahaan komandan kesektor lain.
Dari setiap perusahan yang dijalankan Vina selalu mendapatkan jatah saham yang pantas dari komandan. Beliau sangat percaya dan mengandalkan Vina, ini dianggap sebagai reward untuknya. Walaupun tidak sebesar saham yang diberikan atas nama Nila dan Biyan. Tapi Nila tidak mengetahui hal itu.
**
Nila sangat gila belajar dikampus sampai dia sering lupa makan siang. Kadang makan sembarang, seringnya makan makanan pedas yang menurutnya membuat semangat.
Saat malam dia begadang belajar dan tetap merindui Biyan.
Hal itu mulai membuat Nila sedikit kurus. Apa lagi ini ujian tengah semester pertama nya dia tidak ingin hasilnya mengecewakan.
Usai jam kuliah habis dia akan banyak berada di perpustakaan kampus atau perpustakaan kota, memperdalam pengetahuannya.
Menjelang sore Nila pulang kerumah, kadang sampai gelap dia baru pulang.
Dia menyibukkan diri dengan belajar, belajar dan belajar.
Hanya dengan itu dia sedikit melupakan kerinduannya terhadap Biyan.
Walaupun dalam belajar sedikit-sedikit menatap ponsel yang wallpaper nya potret Biyan.
*****
Terima kasih pembaca
Silakan berikan saran dan masukan agar novel ini bisa berkembang dengan baik.
__ADS_1