Cinta Untuk Janda Kembangku

Cinta Untuk Janda Kembangku
Hari-hari Tanpa dia (part 1)


__ADS_3

Setelah sampai di rumah komandan, Nila menjadi lebih pendiam.


Kedatangannya disambut oleh komandan.


"Sudah pulang Nila,? kamu langsung istirahat saja"


"Saya masak dulu yah, lagian tidak ada Bu fat, ayah belum makan kan?" Nila berusaha terlihat baik-baik saja.


"Sudah kamu istirahat, biar nanti ayah suruh pak Mir sopir baru, yang beli makanan"


"Oh...baik ayah" Nila beranjak ke kamarnya.


"Sebentar, Kamu mau makan apa ?, sekalian ayah pesankan" Komandan menghentikan langkah Nila


"Nanti saja yah, Nila belum lapar" berlalu kekamar nya.


Komandan masih memandangi anak mantunya yang terlihat jalan sangat gontai tidak bersemangat.


"Kasihan, mungkin dulu bunda Biyan juga seperti itu" komandan gumam pada diri sendiri. Membayangkan dulu istrinya mungkin seperti Nila saat ditinggal tugas demi negara.


Komandan masih berdiri mematung di bawah tangga.


Vina dan pak Mir datang mendekati komandan, Setelah merapikan barang bawaan di mobil bersama pak Mir.


"Komandan" Vina


"Iya...ada apa?" komandan masih melihat kearah tangga


"Berkas untuk pendaftaran kuliah Nila, sudah saya siapkan. Tinggal Nila mengikuti tes tertulis " Vina


"Secepat itu,?...hemm... tapi melihat kondisi Nila sekarang apakah itu akan berpengaruh dengan tes yang akan dikerjakan nanti?". komandan belum berpaling pandangannya dari tangga.


"Saya rasa, harus secepat mungkin agar Nila tidak berlarut-larut dalam kesedihan ditinggal Biyan." Vina


"Baiklah, kamu persiapkan semuanya dengan baik, ayo pak Mir antar ke supermarket" Komandan berjalan keluar rumah.


Pak Mir hanya mengangguk dan mengikuti komandan.


Vina pergi menuju ruang kerja, menyelesaikan urusannya.


***


Di dalam kamar,


Nila duduk meringkuk di sofa dengan telivisi yang menyala memandangi dirinya.


Matanya terlihat kosong, entah apa yang dipikirkannya.


Tangannya memeluk erat kedua lutut.


Hemmmm...dia menghela nafas.


Lalu dibenamkannya wajah dalam pelukannya.


Suara Isak tangis terdengar lagi.


Kemarin kau masih disini,


menjahili ku, menggoda ku,


membuatku marah, menangis dan tertawa.


Hiks...hiks..


Nila semakin terpuruk, karena bayangan Biyan selalu terbesik dalam ingatan.


Dia melihat bayangan Biyan yang berbaring di ranjang sedang mengamati diam-diam.


Seketika, Nila melihat itu seperti kenyataan.

__ADS_1


"Kamu disini?" Nila


Namun Biyan menghilang.


"Hanya bayangan, heh...aku sudah gila" Nila menyadari itu hanya halusinasinya.


Di setiap sudut kamar dia seperti melihat Biyan dimana-mana.


Senyum dengan lesung Pipit di depan pintu, suaranya yang sedikit berat memanggil namanya.


Semua halusinasi itu mulai mengganggu Nila.


Namun dia sadar kalau itu hanya ilusi.


Huffff....menghela napas panjang...


"Mungkin aku benar-benar jatuh cinta padamu. Tuhan kenapa saat kami saling memahami, dan aku merasakan bahwa dia tempat yang tepat aku menggantungkan cinta, kau menjauhkan lagi dariku. Jujur cukup berat cobaan yang kau berikan. Apakah aku bisa bertahan dalam kerinduan ini. Padahal baru sehari dia jauh dariku. Tolong aku Tuhan. Tolong aku, hiks" guman lirih pada diri sendiri.


Selama satu jam Nila benar-benar larut dalam kesedihan.


Matanya mulai berat akhirnya dia membaringkan badannya dan tidur di sofa, dengan televisi yang terus memandangi dirinya.


***


Komandan baru pulang ke rumah dengan membawa banyak sekali makanan dan cemilan ringan yang dibawa pak Mir. Beliau membeli itu semua dengan harapan bisa sedikit membuat Nila bahagia. Karena beliau tahu Nila suka ngemil.


"Pak Mir, biar saya bawa sendiri saja. kamu istirahat." meraih dua kantong besar di tangan pak Mir


"Terimakasih tuan" Pak Mir diam dibawa tangga.


Komandan langsung naik membawa semua makanan itu ke kamar Nila.


Diketoknya pintu.


Tok tok tok


"Nila ini ayah,"


Ketukan kedua kalinya membangunkan Nila.


"Ayah?" sambil mengucek kedua matanya.


Beranjak membukakan pintu kamar, komandan lihat Nila masih lengkap memakai baju Persit, rambut yang sedikit acak-acakan serta matanya sembab dan merah seperti habis nangis dibawa tidur.


Nila kelihatannya sangat menyedihkan


Semoga kamu bisa sabar Nila


Komandan


"Ayah, ada apa, oh ya silakan masuk?"


"Tidak perlu, ayah cuma mau memberi ini" diserahkan nya dua kantong besar yang berisi macam-macam cemilan ringan itu.


Cemilan?


Banyak sekali


Batin Nila sambil menengok kantong besar yang dibawa komandan.


"Ini" komandan menyerahkan


Nila masih bingung namun dia tetap mengambil apa yang diberikan komandan.


"Sekalian ayah mau bilang, kalau ayah sudah mendaftarkan mu untuk kuliah disalah satu universitas di dekat sini. Nanti seminggu lagi kamu harus ikut tes tertulis, ayah harap kamu harus mulai mempelajari kembali materi yang diterima di SMA."


"Kuliah?" Nila kaget


"Biyan sudah menyetujui agar kamu bisa melanjutkan studi sambil menunggu kepulangan nya." memasukan tangannya kedalam saku celana.

__ADS_1


Nila masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan komandan tapi dia mengangguk mulai mencerna maksud dari komandan.


"Ya sudah kamu istirahat lagi." Beranjak meninggalkan kamar


"Oh ya ayah, terimakasih" tersenyum


Komandan meninggalkan Nila.


Nila meletakkan semua cemilan itu di atas meja depan sofa.


Dia mandi dan mengganti baju dengan piyama.


Selesai dengan urusannya dikamar mandi. Ia duduk di sofa dengan televisi yang masih menyala dari tadi, tidak tahu sudah berganti berapa acara.


Dia mengambil coklat didalam salah satu kantong.


Ia menikmati sambil menonton realiti show kehidupan artis-artis.


***


Komandan menemui Vina yang masih sibuk berkutik didepan laptop


" Vina, kamu belum istirahat?" komandan duduk didepan Vina dan membuka koran dimeja kerja.


"Sebentar lagi komandan, tinggal sedikit lagi laporan keuangan pabrik bulan ini" Masih sibuk mengetik


"Sudah tinggalkan saja, kamu istirahat lah dari tadi setelah pulang mengantar Nila kamu belum istirahat" Matanya masih asik membaca koran ditangannya


"Baik komandan, ini sudah selesai. Emm... keadaan Nila bagaimana komandan?" Sambil mematikan laptop


Komandan menutup koran yang dibacanya.


Hummmm... menghela nafas panjang.


" Kelihatan sangat sedih, dia belum mengganti pakaiannya dan matanya merah sembab" mata menerawang membayangkan Nila.


"Nangis lagi sepertinya. Dia juga tadi sepanjang perjalanan pulang menangis tidak henti-hentinya. Saat memeluk dia erat mencoba untuk menguatkan, ia malah semakin histeris. Saya rasa dia benar-benar belum rela ditinggal Biyan." mengaitkan kedua tangannya dan duduk bersandar di kursi.


"Saya senang sepertinya mereka mulai saling mencintai. Dan merasa sedih harus melihat kondisi dia seperti ini."


"Tapi setelah dia sibuk kuliah, saya rasa dia akan mulai terbiasa dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan"


"Semoga, dan jangan lupa jaringan internet harus selalu aktif, biarkan mail aktif terus. Kalau ada panggilan luar negeri kamu harus segera memberitahu, mungkin saja Biyan yang memanggil." komandan membuka koran lagi


"Baik komandan, saya permisi untuk istirahat" Vina berdiri


"Oh ya,,, terimakasih untuk semua yang telah kamu lakukan untuk Nila" memandang Vina


"Sama-sama komandan" Vina berlalu keluar ruang kerja.


***


Kamar Nila


Dia memakan coklat sampai habis sambil melihat televisi.


Karena perutnya mulai lapar. Ia melihat satu persatu cemilan yang ada di kantok itu.


Wajahnya mulai sedih, ketika melihat keripik yang sama saat dia makan di room karaoke pertama kali dia kencan dengan Biyan.


"Keripik ini saksi bisu first kiss kita, hiks.hiks" menyeka air mata yang mulai keluar


Dia tidak tega memakan keripik itu, dan dilihatnya lagi sebuah kantong kecil yang berisi makaroni.


"Kenapa ada makaroni ini juga sie...aku jadi ingat kamu terus haaaa.haaa.. Biyan aku kangen kamu...haaaa.haaa" merengek menangis sendirian .


******


Terimakasih pembaca yang Budiman.

__ADS_1


Jangan sungkan untuk memberikan saran agar cerita semakin menarik.


__ADS_2