
Pertarungan adu basket dimenangkan oleh Biyan.
Koin yang dikumpulkan ditukar dengan boneka Doraemon besar.
Sedangkan poin yang dimenangkan ikal dibagi rata kepada Tika, Lilis dan Hesti mereka menukarnya dengan kipas lucu bergambar karakter hello Kitty..
"Laper Ni," Tika sambil pegang perutnya erat.
"Kalian mau makan apa hari ini, aku traktir kalian sampai puas" Biyan menawarkan
" Hore" mereka semua menuju resto makanan Cina
"Ihhh gila kalian., jangan makanan China mahal tau?" ikal merasa tidak enak dengan Biyan
"Udah suami Nila kan sudah bilang kalau dia yang mau traktir, udah manfaatin aja rejeki anak Sholehah" Hesti santai
" siapa ?" ikal
" Nila lah, masak aku, hahaha" Hesti terbahak-bahak
" Iya, kalau Nila emang anak Sholehah nurut sama orangtuanya, gak kaya kamu bengal" menyenggol Hesti.
Namun Hesti tidak sakit hati malahan semakin kencang tertawanya .
Seorang pelayan mengarahkan mereka ke sebuah meja besar yang bisa diputar yang jadi ciri khas restoran China.
semua duduk sesuai keinginan.
" kamu tidak apa-apa, Ini restoran China loh, lihat harga menunya?" Nila menunjukan daftar menu yang tergeletak di meja.
"Sudah, tenang saja."
"Ayo kalian bebas mau pesan apa saja, anggap sebagai kado pernikahan dari kami buat sahabat-sahabat Nila" Biyan sambil tersenyum bahagia
Semua terburu-buru memesan menu padahal menu yang mereka pesan tidak tahu apa yang akan disajikan.
Nila masih merasa tidak enak dengan Biyan karena dia sudah keluar uang banyak pikirannya.
Biyan menyadari kekhawatiran istrinya.
"Sudah lah Nila jangan dipikirkan masalah uang, itu bisa dicari lagi. Tapi kebahagiaan mu itu yang paling penting" Biyan sambil membelai lembut rambut Nila yang sedikit berantakan.
"Ehem....jangan bikin kami ngiri Napa, sweet-sweetanya di rumah saja, disini kami mau numpang makan gratisan dulu,hehe " Hesti tanpa tau malu.
"Dasar lu, muka-muka gratisan" Nila melempar tempat siput di depanya ke araha Hesti. Tapi karena keahlian Hesti barang sekecil itu dapat mudah ditangkisnya.
Biyan merasa takjub dengan kemampuan Hesti
"wah good, kamu bagus jadi seorang Taruni angkatan darat." Biyan sambil bertepuk tangan.
"Siap kapten!" Hesti sambil hormat
"loh kok tahu?" Biyan kaget karena Hesti tahu dengan jabatan nya.
"Tahulah, kemarin pas orientasi di batalyon xxx kami diperkenalkan dengan anggota pasukan khusus, dan anda kapten Abiyan Suprayogi terpampang nyata dilayar proyektor diperkenalkan sebagai seorang kapten yang kompeten" mengacungkan jempol duanya.
__ADS_1
"wah kamu bisa saja, kapan berangkat ke Magelang."
"Siap kapten, seminggu lagi" Hesti yang memberi hormat lagi kepada Biyan
" Bagus-bagus, semangat jangan pantang menyerah" Biyan memberikan support.
"Nila Suami mu kapten, wah ikal kamu tidak ada harapan" celetuk Lilis yang membuat suasana menjadi hening.
ikal melihat semua mata yang memburu kepada-nya.
"Loh..loh kok aku...eehh kalian jangan salah paham..Lilis kamu ngomong apa si" ikal celingukan sambil menggaruk-garuk rambut ikalnya yang tidak beraturan.
Dibilang krebo ya tidak, gimbal ya enggak tidak tahu apa maksud dari rambutnya benar-benar merusak pemandangan.
"Lah kemarin kamu bilang sendiri, seandainya Nila belum menikah kamu akan bersiap akan menjaga Nila, ya kan" Lilis membuka aib sahabatnya di hadapan Biyan yang membuatnya terlihat masam.
Sial,
menjaga...aku tahu kerempeng ini memang ada rasa dengan istri ku,
sialan...
aku harus jauhkan dia dari Nila.
Batin Biyan.
Ikal dan Nila melihat wajah Biyan yang tadi senyum-senyum bahagia sekarang menjadi masam dan matanya tidak lepas memandang lekat ke arah ikal.
"Hahaha...Lilis emang suka becanda kapten, " Hesti mengusir keheningan yang sedang terjadi
" Lah iya si...kamu juga dengarkan Hesti" Lilis masih saja tidak bisa baca situasi.
"ha'?" Lilis yang tidak paham maksud dari Hesti.
"Hehehe maaf kan saudara saya ini, dia memang mulutnya tidak ada saringannya, kadang otak dan mulut tidak bisa berjalan dengan selaras, hehe" tertawa garing.
Nila memegang erat tangan Biyan.
Dan melemparkannya senyum secantik mungkin.
Hanya Tika yang masih sibuk bermain ponsel baru kakaknya.
Akhirnya pesan mereka datang.
"Sebelumnya saya berterima kasih sekali dengan kebaikan suami Nila karena sudah mentraktir kami, dan mohon maaf atas ketidak nyamanan tadi. Saya yakinkan diri bahwa saya tidak ada perasaan pada Nila, walaupun tidak dipungkiri dulu pernah ada. Jadi Biyan kamu jangan khawatir sekarang hubungan kami hanya sebatas teman dan sahabat,
terimakasih" mengarahkan gelasnya yang berisi jus jeruk kearah Biyan dan meminumnya.
Biyan yang sudah mengendalikan raut wajahnya membalas sulangan dari ikal.
"Oke akhirnya kita bisa makan" Hesti meramaikan suasana.
Biyan mengambil kan beberapa olahan sea food di piring Nila, dan Nila membalas Biyan dengan menyuapinya dengan daging bebek Peking kemulut nya.
Keromantisan mereka benar-benar membuat ikal membatin.
__ADS_1
Syukurlah Nila bisa menemukan suami yang begitu sayang padanya.
aku harap kalian bisa bahagia sampai tua.
dan semoga hatiku yang sedikit terluka karena cinta yang tidak bisa aku nyatakan ini bisa cepat terganti dengan sosok lain.
"Hesti ini makanan apa, kok keluarnya seperti sayur ingus..tapi enak segar" Lilis sambil memakannya
"Ihhh jorok, lagi makan loh teh" Tika yang sekita menghentikan makanya mendengar kata ingus dari mulut Lilis
"jorok" Nila dan Hesti kompak.
Biyan dan ikal masih asik makan dengan menu pesanan mereka
"Kamu tidak jijik?" Nila bertanya kepada Biyan
tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Tentara pasti sudah terlatih" ikal yang tetap asik dengan makanannya
Biyan membalas omongan ikal dengan menaikkan kedua kedua alisnya.
"Coba kamu cerita, " Hesti penasaran
Biyan menghentikan makannya
"Tapi kalian jangan menyesal ya kalau aku sudah cerita." meyakinkan tidak ada yang muntah ditempat
semua mengangguk dan siap-siap mendengarkan
"saat latihan awal, kami digojlok dengan masuk hutan selama seminggu tanpa bekal makanan dan hanya sebotol air mineral." Biyan masih meneruskan makannya
"Lalu buat makan selama seminggu kamu makan apa?" Nila penasaran
"Hari pertama kami masih menemukan sungai, kami berburu ikan, katak atau apa saja yang tidak beracun yang bisa dimakan" menatap lekat pada semua
"Katak?" Tika sambil menyeringai kan bibir
"Iya.. hari kedua masuk lebih dalam ke hutan, kami melihat gerak-gerik binatang saat itu memakan apa, misal monyet mengambil buah dan memakannya habis, berarti kami bisa memakannya.
Hari ketiga, kamu mulai memasuki hutan yang penuh dengan tanaman beracun, kami hati-hati dalam mencari makanan. Hari keempat benar-benar tidak ada makan yang bisa dimakan lalu kami berburu ular"
"Ular??" kompak lantang mereka semua
"Hem..." Biyan sambil melanjutkan makannya
"Lalu kami mendapatkan ular, memotong kepalanya, menguliti kulitnya dan memasak dagingnya"
"Enak?" Nila penasaran
"Hem...lebih enak dari daging kodok"
muka Lilis, Tika dan Nila seperti geli dan akan muntah.
"Hari berikutnya kami bisa keluar dari hutan dan meminta makan nasi kepada para penduduk setempat. kami benar-benar makan nasi dengan lahan padahal waktu itu hanya lauk daun singkong dan sambal. Saat itu aku benar-benar bisa merasakan anugrah Tuhan." Biyan senyum secerah mentari.
__ADS_1
"Maaf aku ke toilet dulu," sambil menutup mulutnya karena jijik ingin muntah
semua tertawa.