
Deg.deg.deg....
Suara jantung Biyan menderu-deru.
Padahal dari tadi malam, dia sudah bulatkan tekat untuk menerima gadis ini...
Namun, dia takut tidak bisa mencintai dan tidak berlaku baik sebagai suami..
Komandan Dadang melihat Biyan gelisah...
Menepuk-tepuk pundak anaknya agar rileks
Perjalanan ke rumah Nila tidak begitu lama.
Tamu undangan dan penghulu sudah duduk diruang tamu
Di dalam kamar...
Nila bersama Kartika, ibu dan kedua sahabatnya...
Dia sudah berdandan cantik, berbalut kebaya putih, rambut bersanggul sederhana, make-up natural dengan bibir merah ranum menggoda...
Terduduk didepan lemari nakas memandangi dirinya,
yang sebentar lagi akan menjadi istri orang, dimana mereka belum saling mengenal hati Budi masing-masing.
Ibu..memegang tangan Nila dan mengusap nya
"Semoga kamu bahagia nak..
ibu akan slalu ada untukmu.." dengan suara yang sedikit bergetar menahan tangis
"Jika kamu tidak bahagia kembalilah pada ibu"...air mata akhirnya menetes membasahi pipi ibu
Nila menyeka air mata ibu
"Ibu....doanya yang baik-baik ya...Nila pasti bahagia.." senyum dibuat sebaik mungkin agar ibu tidak khawatir...
Padahal tidak dipungkirinya kegelisahan ibu sama dengan yang ada dibenak nya..
"Mba Nilaaaa" Kartika memeluk dan menangis tersedu-sedu..
"Jangan nangis dek...entar mba ikut nangis loh...luntur deh makeup-nya" Nila mencoba menahan air matanya..
Kartika melepas pelukan...
"Aku bakalan jadi dosen seperti impian mba...aku janji" dengan dua jari yang mengacung
"Good job Tika"...Hesti menepuk pundak Kartika menyemangati..
"Sudah... jangan sedih-sedih lagi, ini hari pernikahan ku loh..Ayo bahagia, tidak ada yang melow nangis-nangis" senyum indah menonjolkan dua gigi gingsul nya...
Hemhemhemhem .....
suara tangis diujung ranjang...
ternyata Lilis menangis tersedu-sedu...
Semua mata memandangnya...
"Ya Tuhan anak cengeng ini...buat kaget saja, aku kira suara Mbak Kunti nangis" Hesti geram melirik tajam
"Resek banget mah kamu ihh...aku lagi sedih gini dibilang MBAK Kunti" sambil lempar bantal kearah wajah Hesti
Dengan sigap bantal di tangkisnya..
"Hupp..enggak kena weeee." Hesti menjulurkan lidahnya.
Kelakuan mereka selalu buat Nila tertawa.
Acara dimulai
penghulu dan bapak duduk berhadapan dengan Biyan...
Dengan sekali tarikan napas Biyan melantunkan ijab kobul dengan khidmat...membuat seisi ruangan haru biru...
Terlihat bapak dan komandan tersenyum bahagia..
Komandan menepuk pundak Biyan merasa bangga.
Didalam kamar semua orang menangis bahagia, tidak luput Nila yang tidak bisa menahan air matanya jatuh...antara bahagia dan juga khawatir kehidupannya setelah ini...
Maskawin yang diberikan, cincin emas putih seberat 4gr yang dikelilingi intan putih, begitu simpel namun elegan...
Akhirnya kedua mempelai dipertemukan pertama kalinya...
Biyan dengan setelan jas dongker dan peci hitam, terlihat gagah masuk kedalam kamar Nila..
Untuk permata kalinya mata mereka beradu pandang dan saling mengagumi sekilas
Giiiila manis sekali dia... bibirnya yang ranum matanya yang indah
Dalam hati Biyan...
Nila,
Dia Tampan sekali, ups...
Tuhan tolong jaga hatiku, jangan sampai terlalu berharap padanya, aku takut kecewa
Nila maju mendekati suaminya..
Dia diarahkan oleh fotografer untuk mencium tangan suaminya ...
Dengan malu-malu meraih dan mencium punggung tangan Biyan
Biyan sedikit bergetar ketika kecupan Nila jatuh dipunggung tangannya...
Kumohon hati...jangan begini...
Biyan menegang
Biyan diarahkan untuk mencium ujung kelapa Nila seraya berdoa kebaikan untuk pernikahan mereka...
Nila,
Tuhan, semoga dia memang yang engkau ciptakan menjadi jodohku...
Biyan,
Semoga aku bisa menjadi suami yang baik
Fotografer menyuruh Biyan mencium kening Nila guna dokumentasi...
Mereka merasa enggan dan canggung.
__ADS_1
Ketika kening tersentuh dengan bibir Biyan ...
Wuuussstt..
Angin kecil membawa rasa desiran aneh, geli merajai tubuh Nila...
Bayangan melayang...
Nila merasa bagaikan jatuh di tumpukan kelopak bunga mawar, dan bunga-bunga bertaburan menimpa dirinya..
Nila,
Hati..oh hati..sadarlah jangan mudah jatuh cinta...
Namun, semerbak aroma tubuh Biyan meracuni hidung dan pikiran Nila yang meronta-ronta, berpikir yang tidak-tidak, membuat jantungnya berdegup kencang..dug.dug.dug.dug
Tuhan apakah aku sudah tidak waras, hanya bau aroma tubuhnya saja buat aku merinding, berfantasi gila ....
mungkinkah ini yang dinamakan jatuh cinta pandangan pertama...
gumam Nila dalam hati
Hendri masuk membawa cincin kawin mereka...
"Silahkan dipasangkan mempelai pria cincin nya kepada istrinya, " fotografer
Biyan sedikit melamun
"Bro...buruan" Hendri menyadarkan Biyan
Dengan terpasang nya cincin ini tanda bahwa aku harus baik kepadanya...
Setelah bertukar cincin...
Mereka keluar dan menyapa para tamu...
Suasana bahagia terasa...senyum tidak lepas dari bapak dan komandan
Perjamuan pun selesai...
Didalam kamar, Nila dibantu adik dan kedua sahabatnya mengemas pakaian yang akan dibawa ke rumah Biyan..
"Aduhhh...wiihhh ganteng pisan suami mu...mau atuh" Lilis menggoda
"Ambil aja gih"...sambil tertawa kecil
"Dasar..." Hesti melempar pakaian yang dipegangnya kemuka Lilis
Lilis hanya melongo dan memungut pakaian itu...
"Emm kalau aku lihat kayaknya tadi kalian sedikit mulai ada getaran-getaran cinta ya...?" goda Hesti
Glek Nila terdiam..
Waduh....Hesti kok bisa tahu si, kalau aku agak ada rasa sama Biyan
"Kenapa diem?.. berarti aku benar ya"....Hesti menowel pinggang Nila
"Apaan si geli tau."...
"Mba Nila kalau Kakak ipar jahat atau neko-neko bilang Tika...nanti Tika belain sekuat tenaga" Kartika mengepalkan tangannya didepan wajahnya
"Emang kamu bisa berkelahi?.. buat lawan suami Nila...pakai sekuat tenaga lagi...dia mah TNI iiihh...kamu enggak bakalan kuat"..
Lilis polos sambil memasukan alat make-up Nila yang tidak banyak hanya ada bedak, facial wash, toner serum dan lipstick kedalam tas kecil.
Semua mata memburu Lilis..
Yang diburu merasakan bulu kuduk merinding, tapi acuh tanpa melihat disekelilingnya
"Yaaaaahhh" jwb mereka kompak tidak menduga yg dipikirkan Lilis...
"Jangkrik bos jangkrik" Hesti kesal
"Mana? ...mana?" Lilis sambil lompat geli..
Hesti menghela napas..hufff
"Sudah biari dia, ngomong apa aja jangan peduli...percuma otaknya enggak mampu" mengepalkan tangan seperti pingin nonjok...geram
"Kamu mah ngina aku ya?..iiih siapa bilang otak aku gak mampu, sekarang aku diterima di UIN Bandung...kamu mah aya-aya wae" Lilis tanpa dosa menggeleng kan kepala seperti mengejek Hesti
Nila dan Kartika terkekeh kecil...
"Kamu itu pinter Lis cuman!!"...Nila
"TELMI.." Nila dan Kartika kompak sambil cekikikan
"Telmi?...apaan atuh?" ...bingung
"Itu, makanan kaya moci, ditaburi parutan kelapa, ditengahnya ada gula aren meleleh"..
Hesti
"Itu mah klepon...klepon buatan ibu Nila raos pisan iihh...tadi mah diluar aku makan 15"...Lilis dengan wajah innocent..
"Hadehhhh...aku yang gerah kalau ni bocah ngomong!!"... Hesti menyisingkan lengan bajunya seperti akan menjitak kepala Lilis ..
Dihalau Nila
"Sudah-sudah kalian ini...bikin kangen aja nanti"...
Semua terdiam...Nila masih sibuk menata barang yang akan dibawanya..
***
Diruang tamu
Suara tawa bahagia menyeruak...
Komandan tak henti-hentinya membanggakan anak satu-satunya
Ayah bahagia sekali...
Biyan dalam hati
Tangan bapak menyentuh bahu Biyan yang duduk disebelah nya
"Nak Biyan...bapak nitip Nila ya...dia masih muda mungkin dalam melayani suami belum begitu baik..bapak mohon kamu mau membimbingnya.."
mata bapak menatap Biyan lekat
Biyan hanya tersenyum tanpa suara
Dalam hati...
__ADS_1
Tuhan apakah aku bisa bahagiakan istriku..atau hanya akan menyakitinya...
menggenggam erat tangan nya yg sudah terkait...
****
Akhirnya Nila dibawa rombongan komandan dan Biyan ke rumah mereka
Didalam rumah Nila, ibu menangis didalam kamar.
Kartika mengunci diri dikamarnya biar bapaknya tidak tahu dia sedang menangis meratapi nasip kakaknya...
Kedua sahabat Nila pulang ke rumahnya masing-masing.
Bapak duduk diruang tamu dengan mata berkaca-kaca antara bahagia dan tidak dipungkiri juga ada rasa kasian kepada Nila...
Namun, dia merasa ini pilihan yang tepat untuk hidup Nila..
Bapak,
ya Tuhan tolong berikan kebahagiaan untuk anak hamba karena baktinya kepada saya...
mengusap ujung matanya
****
Di rumah komandan Nila disambut ramah asisten pribadi komandan. Vina, seorang wanita berusia sekitar 35 tahunan berambut pendek sebahu, badannya tegap dan proporsional dan mereka sudah akrab karena saat tes ijin Nikah dia menemani Nila dengan setia.
Vina membawa bawaan Nila...
Naik lantai dua...
"Mari nona..disini kamarnya"
"Eeehh iya terimakasih mba Vina, panggil Nila saja seperti biasa?"...
Vina tersenyum mengangguk
Mereka bertiga masuk ke kamar utama, cukup luas dan nyaman.
Dengan nuansa warna abu soft,
ditengah ada ranjang big singgel.
Sebelah jendela besar ada sofa panjang yang nyaman untuk bersantai dan menikmati pemandangan diluar jendela..
Diujung kamar ada kamar mandi dan ruang ganti.
Nila masih memandangi tiap sudut kamar,..
"Nona kalau ada perlu apa-apa silakan tekan tombol satu di telpon ini" menunjukan telpon rumah yang tergantung di dinding
Nila hanya mengangguk...
Biyan setelah masuk kamar, langsung menuju kamar mandi tanpa bertanya ataupun menyapa Nila...
Hampir setengah jam Biyan belum keluar...
Hal ini yang membuat Nila sedikit merasa keberadaanya tidak dianggap..
Aku bingung mau ngapain ya..
Sedikit membuka tirai jendela..
Dia memutuskan untuk duduk di sofa dan melamun
Nila menunggu sesosok badan yang terlihat dikaca buram pintu kamar mandi sedang berdiri tegak...menunggu gerangan dia keluar dan berharap disapa atau dia akan meyapanya...
Saat di tengah perjamuan, dia kelihatan tertawa bahagia,,
tapi... setelah sampai dirumahnya diam seribu bahasa.. menyapa ku pun sepertinya enggan...
huuuffft
menghela napas panjang
Apakah tadi dia hanya pura-pura... sekarang berada di sarangnya dia menunjukan sifat aslinya..
Nila merinding.
Eererrrr tenang Nila, tenang!.
Kamu hanya perlu tersenyum dan terima nasib.
Menghela napas panjang ...dan meremas ujung bajunya.
Nila merasa mengantuk, akhirnya dia berbaring di sofa dan tidak lama dia terlelap..
Biyan keluar kamar mandi dengan handuk di kepala.
Melihat Nila sedang terlelap..
Manisnya...
gumam dalam hati
Baju kemeja yang dikenakannya Nila bagian atasnya sedikit terkoyak... menunjukan sedikit bagian da**nya yang putih...
Dengan sigap Biyan memalingkan wajahnya membelakangi..
Bergumam lirih
"Tuhan indah sekali...putt...ih..."
belum selesai ucapannya..
"Sadar Biyan..sadar.!!!..sabar...tahan...kamu jangan sembrono...hilangkan otak kotor mu"...huffff...sambil mengacak-acak rambut basah nya
Tapi masih penasaran di menengok lagi...tapi balik lagi
"Sadar Biyan sadar..."
****
Monolog...
Hendri melongo melihat gadis berambut panjang ter kucir tinggi, dengan balutan kemeja putih celana jins agak longgar..
Sedang menggandeng mempelai wanita... senyumannya indah, tawanya dan suaranya membekas di ingatan nya.
Gerakannya yang lincah seperti Chita... siapakah gadis ini??
gumam Hendri dalam hati mengagumi sosok Hesti yang dimatanya terlihat seperti Chita macan tutul Afrika..
terimakasih pembaca telah membaca karya saya...
__ADS_1
kalau ada masukan silakan komen ya...