
Komandan sering sekali bertamu ke rumah Nila disela-sela kesibukannya. Walaupun hanya sekedar untuk mengobrol dengan bapak
Beliau kelihatan lebih gembira setelah bertemu dengan bapak...
Kadang komandan membantu bapak bekerja membuat perkakas kayu.
Tawa khas beliau sampai hafal di luar kepala bagi keluarga Nila
Bapak dan komandan selalu duduk di bangku taman bawah pohon mangga depan rumah Nila
"Terimakasih pak Slamet, sudah membuat masa pensiun saya menjadi sedikit cerah..." komandan dengan rokok mengebul ditangannya
"Bisa saja komandan ini..." bapak sambil menikmati singkong rebus
Pandangan komandan menerawang jauh
"Saat saya akan Purna, slalu terbesit bayangan, saya harus melewati masa tua saya dengan kesendirian tanpa istri ataupun anak menemani hari-hari yang akan saya lalui"
sesekali menghisap rokok dan mengeluarkan asapnya terbang jauh seperti melepaskan beban kesendirian yang beliau lalui.
Bapak Hanya diam mendengarkan curahan hati komandan
Di dalam rumah
Aaah kasian sekali komandan begitu kesepian,
kemana saja itu anak., apa tidak pernah pulang menemani ayahnya
Huffff
gumam Nila dalam hati
"Bagaimana nanti kalau aku kesepian setelah menikah dengan nya....Errrrtttt tau aaah biarkan takdir berjalan apa adanya..." sambil mengacak acak rambutnya
*
Diluar rumah....
__ADS_1
Komandan masih menerawang jauh...entah apa yang ada di otak dan hatinya...
digantinya rokok yang sudah habis ditangan...
"Komandan tidak meminta nak Biyan untuk bertugas dibandung saja,, biar bisa jaga komandan.." bapak yang ikut menyulut rokok di tangannya...
Komandan hanya diam dan menghela napasnya panjang...
Bapak melihat itu, bergumam dalam hati...
"diamnya anda terasa begitu menyakitkan komandan"
mereka berdua terus terdiam dan menghabiskan rokok yang dipegangnya...
"Kasian ya mba Nila komandan Dadang, " celetuk Kartika mengagetkan Nila yang sedang memperhatikan bapak dan komandan dari dalam rumah
Nila hanya tersenyum
Padahal dalam hatinya bergumam
Apakah aku akan bahagia,
apakah aku mundur saja, tidak jadi menikahinya...
Tuhan tunjukkan lah jalan yang baik untuk ku...
Nila dilema di dalam diamnya...
Sepanjang malam dia tidak bisa tidur...
Memikirkan masa depannya harus dipertaruhkan dengan menikahi lelaki yang tidak tau bagaimana sikap dan perilakunya
Dan dia juga harus melupakan cita-cita nya...menguburnya dalam ke lubuk hati...
Sampai jam tiga pagi Nila masih terjaga..
Ternyata bapak tidak sengaja melihat Nila didalam kamar yang terlihat gusar
__ADS_1
Bapak mendekat
"Kenapa nak,,kamu takut ya...?" bapak menyentuh lembut rambut Nila yang hitam lekat bergelombang dan halus
Nila hanya tersenyum menutupi rasa gelisah nya, agar bapak tidak mengkhawatirkan anak gadisnya
yang dua minggu lagi akan dipersunting seorang perwira sebagai alat balas budi bapaknya.
"Yakin saja kamu pasti bahagia" bapak mencium kening nila. Lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Nila
Dalam hati
Tuhan buatlah aku bahagia, agar bapak tidak khawatir dengan ku...
aku tidak peduli lelaki itu mencintaiku atau tidak setelah kami menikah
Nila menguatkan diri dengan menepuk-nepuk pundaknya sendiri.
Akhirnya dia pun terlelap
**
Dikamar lain
ibu sedang menangis dalam diamnya dibalik selimut
Dia mengkhawatirkan nasib Nila...
Yernyata ibu menguping percakapan komandan dan suaminya
Ibu mengira bahwa lelaki yang akan menikahi anak gadisnya...bukanlah pria yang berhati hangat seperti Komandan.
"Semoga Nila bisa menghadapinya dengan baik" gumam ibu dalam kesedihannya dibalik selimut
Kartika pun sama memikirkan kakaknya...
Dia rela melepas cita-cita yang jelas terbuka lebar dihadapannya..
__ADS_1
Namun kakaknya lepaskan begitu saja demi patuhi permintaan bapak.
"Sedih sekali aku"...Kartika terus memeluk guling dan hanyut dalam mimpi.