Cinta Untuk Janda Kembangku

Cinta Untuk Janda Kembangku
Liontin


__ADS_3

Mereka semua bernyanyi tidak henti-hentinya, sampai lupa waktu.


Tika yang mulia mengantuk, menengok jam tangan yang diberikan Biyan sudah menunjukkan waktu sebelas malam.


"Mba Nila udah jam sebelas, pulang yuk besok aku harus sekolah" menarik tangan Nila yang sedang bersandar di pundak Biyan, sambil menguap panjang.


"Oww ya besok masih hari Jum'at, sayang... yuk pulang Tika masih harus sekolah besok" berbicara tepat di telinga Biyan karena ruangan dipenuhi suara Hesti dan Ikal sedang duet lagu lawas jangan ada dusta.


"Iya..tunggu lagu selesai ya," Biyan masih asik mendengar


Akhirnya mereka keluar room dan lagi-lagi tagihan Biyan yang bayar.


" Gila mahal amat dua juta lebih ini?" Nila kaget dengan tagihan yang dipegang Biyan.


"Sudah...kamu itu lucu, mata sampai melotot awas jangan sampai jatuh, hehehe"


Nila masih saja tidak menyangka tagihan begitu banyaknya.


Seperti nya makanan dan cemilan yang harganya mahal.


"Gesek kartu bisa kan?" Biyan


sambil mengeluarkan kartu gold punyanya


" Bisa a'" pelayan kasir mengambil kartu itu dan mulai menggesek di mesin yang sudah tersedia.


Ikal dan Hesti masih terbawa suasana lanjut nyanyi lagi.


Nyanyikan lagu lawas, cinta Vina panduwinata


" Bergetar hati..


saat ku berkenalan dengannya, ku kenal dia menyebutkan nama dirinya, hahahaha" sambil berangkulan.


Saat Lilis akan ikut nyanyi


" Dan bawalah...dakuuuu..." belum selesai Nyanyi Hesti sudah membekap mulut Lilis


"Sudah malam, lanjut kapan-kapan lagi ya..kamu nyanyinya"


"Tapi tadi kalian nyanyi masa aku gak boleh" masih mulut dalam bekapan Hesti


"sekarang udah gak lagi kan?" masih membekap


" Ya udah lepasin "


"Iya aku lepasin tapi jangan nyanyi ya"


Ikal tertawa terbahak-bahak melihat Hesti dan Lilis.


Nila dan Biyan hanya menggelengkan kepala.


"Pantesan kamu kadang suka bar-bar, lihat semua temanmu bar-bar semua"


"Kamu.." memukul manja


"hehehe, gak bercanda," memeluk


Tika yang terlihat sudah ngantuk hanya duduk jongkok


dan melihat pemandangan Nila yang sedang asik bermadu mesra dengan Biyan, satu sisi pemandangan tiga orang sedang asik tertawa terbahak-bahak saling bully.


"Ck" sambil geleng-geleng kepala dan menunduk karena ngantuk.


Akhirnya mereka keluar pintu mall.


"Kalian aku antar .." Biyan menawarkan tapi melihat mobilnya hanya empat kursi mengurungkan maksudnya karena tidak mungkin berdesak-desakan..

__ADS_1


"sudah Biyan, kami naik taksi saja" ikal.


Mereka berpamitan, Tika sudah masuk mobil dan sudah mulai meringkuk tidur.


Saat Nila mau masuk mobil, Biyan menarik tangan Nila menuju depan mobil.


" Aku mau masuk, kenapa ditarik kesini" Nila mencoba melepaskan tangannya dari Biyan.


"Sebentar saja ada yang Ingin aku kasi ke kamu" Biyan memasukan tangannya kedalam saku celana, dirogohnya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan berwarna biru dongker berbahan bludru.


Nila,


itu apa?


kotak perhiasan?


Biyan membuka kotak itu dan didalamnya terdapat sebuah kalung emas putih dengan rantai kecil serta liontin bermodel belah ketupat yang ditengahnya ada satu berlian pink muda yang sedikit menonjol.


Nila melongo melihat itu.


"Buat aku?" bertanya ragu


Biyan mengangguk dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya.


"Boleh aku memakainya?"


Nila mengangguk mengiyakan


Biyan memakaikan kalung liontin itu dengan posisi seperti berpelukan, mengaitkan dengan lembut.


Akhirnya kalung liontin itu melingkar di leher Nila, terlihat begitu cantik.


"Ini beneran buat aku? " belum percaya dan memegangi kalung liontin itu.


"iya buat kamu, suka?" Biyan yang tersenyum bahagia karena liontin yang dipilihnya bagus dileher Nila.


"Suka,,,bagus sekali...kamu kasi hadiah ini dalam rangka apa?" Nila masih asik memegang liontin itu dan mengelus-elus berlian ditengahnya.


Nila hanya tersipu malu.


dalam hati,


Biyan terimakasih atas hadiah yang kau berikan apa lagi mendengar bahwa kalung ini kau beli dari jerih payah mu.


Aku benar-benar merasa cintamu mulai tulus kepadaku.


Dan sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan kalung ini apapun yang terjadi.


"Aku harap dengan kalung ini, kamu akan slalu terikat denganku dan kita berjodoh sampai maut memisahkan." mengangkat tangan Nila dan menciumnya lembut.


"Terimakasih Biyan atas seluruh cinta yang kau berikan" Nila tersenyum dengan sangat bahagia


Mereka terbawa suasana


Biyan menarik tangan Nila, dan mendekat dalam pelukannya. mereka saling memandang dengan lekat dan kedua bibir mereka menyatu beradu dalam kelembutan.


Suasana begitu syahdu, namun tiba-tiba..


klomprang...


suara drum sampah yang jatuh mengagetkan mereka.


Biyan dan Nila menengok arah suara itu,


Ternyata ada Lilis, Hesti dan Biyan yang jatuh bertindihan tidak jauh dari drum sampah itu.


"Hehe...sorry brow, bukan maksud mengintip tapi karena ajakan dua betina ini" ikal sambil cengengesan padahal badannya jelas-jelas ditindih oleh Hesti dan Lilis.

__ADS_1


Nila melotot kearah Hesti dan Lilis mencari penjelasan.


"Sebenarnya dompet si cengeng jatuh tidak jauh dari mobil Biyan, itu" menunjuk dengan mata dompet itu memang jatuh di sebelah mobil Biyan.


"hehehe" Lilis hanya tertawa garing.


"Kalian masih mau seperti itu sampai kapan?" Nila ketus, sebenarnya dia merasa malu karena para sahabatnya pasti melihat waktu dia berciuman dengan Biyan.


Akhirnya mereka bangun dan mendekat kearah Biyan dan Nila.


"Maafkan kami ya, tidak bermaksud melihat kalian kiss" Hesti sambil menahan tawa.


Tu kan mereka melihatnya


Haaaaaaa....


Tuhan aku malu...


Batin Nila,


"Lagian kalian sweet banget, coba lihat kalung liontinya Nila" Lilis dengan wajah innocent maju melihat kalung liontin itu.


"Bagus.." masih belum peka kalau wajah Nila sudah memerah antara malu dan marah.


Hesti datang dan menyeret paksa Lilis agar menjauh.


"Sorry kapten, saudara saya ini memang tidak punya otak,"


Mereka bertiga siap untuk pergi, tiba-tiba


" Tunggu?!" suara Biyan yang terdengar menggelegar menggema di area parkir bawah tanah itu.


"Mati kita, suaranya horor" Hesti paranoid.


"aku gak ikut-ikutan ya" ikal membela diri


"Apa gara-gara aku?" Lilis belum paham dengan situasi


Biyan datang mendekat, mereka bertiga membalikan badan dengan wajah tegang.


Saat Biyan dan mereka jarak hanya tiga meter, reflek mata Hesti dan Lilis menutup, ikal hanya menatap lekat pada Biyan.


"Heh...kalian ngapain merem?" Biyan memandang aneh


"Tolong jangan pukul kapten" Hesti yang biasanya tidak pernah takut dia merasakan aura beda dari suara Biyan yang membuatnya sedikit merinding takut.


"Siapa yang mau mukul, ini ....kenapa dompetnya tidak dibawa?" sambil menyodorkan dompet Lilis ke mereka.


"Hehehe" mereka cengengesan ternyata salah paham terhadap Biyan.


"Kalian sudah dapat taksi?" Biyan bertanya dengan wajah santai.


Tidak seperti Nila yang masih malu.


semua menggelengkan kepala.


"Kalau aku antar pulang tapi berdesak bagaimana?" Biyan akhirnya menawarkan karena malam semakin larut.


*****


Saat Nila dan Tika sibuk melihat baju. Biyan datang ke sebuah gerai perhiasan.


Saat pertama masuk hatinya sudah terpaut dengan kalung emas putih berantai kecil dengan liontin yang menurutnya sangat simpel namun menawan yang pantas dipakai oleh Nila.


"Teh, bungkus ini ya "


menyodorkan sebuah kartu yang dimiliki yang digunakan untuk menyaluran dana bulan sebagai anggota TNI.

__ADS_1


" Sekalian kotak perhiasan tidak a'?"


"Iya, yang dongker itu bagus"


__ADS_2