
Setelah diopname selama dua hari.
Nila akhirnya bisa diijinkan pulang.
Tapi masih harus berobat jalan sesuai jadwal yang diberikan dokter
Sampailah di rumah komandan.
Nila sudah berbaring di kamarnya karena masih merasakan sakit luka bekas operasinya. Jadi memutuskan untuk langsung istirahat.
Vina mulai bergelut dengan tugas yang menumpuk diruang kerja.
**
" Pak sebaiknya kalau ibu menginap di rumah komandan gimana ?" ibu berbisik ke bapak yang saat itu masih duduk berhadapan dengan komandan diruang tamu.
"Jangan Bu ngerepotin!" bapak balas berbisik
Komandan masih asik meminum kopi yang asapnya masih mengepul.
" Kalau gitu minta ijin saja sama komandan Nila suruh menginap di rumah kita sementara waktu" ibu masih bisik-bisik
" jangan lah bu..nanti dikira gimana sama komandan"
"Tapi tidak tega saya pak ninggalin Nila" sambil tarik ujung kemeja bapak
" hemmm....Percaya saja sama komandan" menepuk tangan ibu yang masih menarik kemejanya untuk menenangkan istrinya.
Mereka masih berbisik-bisik
"Tenang saja Bapak dan Ibu Nila, kami pasti menjaga Nila lebih baik lagi" ternyata komandan mendengar semua pembicaraan mereka.
Ibu kaget, sedikit terperanjat mendengar suara berat cukup lantang dari komandan.
Beliau merasa Malu.
Bapak lebih malu lagi...
mereka berdua menunduk saling melirik.
"Bagaimana kalau kalian menginap disini?...biar bisa merawat Nila sama-sama" celetuk komandan yang membuat ibu dan bapak lebih kaget lagi.
Mereka saling memandang, bingung harus jawab apa...
Bapak memandang ibu dengan tatapan yang sepertinya sedikit menyalahkan.
Ibu menyadari tatapan bapak dan lebih menunduk.
"Tidak usah komandan, kami pulang saja dan percaya kalau Nila akan dijaga baik sama komandan" bapak buka suara.
Ibu masih menunduk
"Tidak apa-apa pak Slamet, saya malah merasa senang rumah ini lebih terasa rame dengan adanya kalian menginap disini" menyandarkan punggungnya di shofa mewah beliau
Bapak melihat ibu yang masih menunduk dengan tangan menarik kain bajunya.
Bapak tahu kekhawatirannya kepada Nila tapi merasa tidak enak dengan komandan.
__ADS_1
lalu...
"Emm...bagaimana kalau istri saya saja komandan yang menginap, kebetulan saya harus di rumah karena anak saya yang bungsu harus sekolah besoknya, kasihan kalau sendirian" Bapak sekuat tenaga bicara setenang mungkin...padahal nyalinya sedikit menciut mungkin yang diajak bicara sangat beliau hormati.
"Tidak masalah, saya senang dengarnya" Komandan tersenyum.
Melirik memandang wajah komandan, ibu yang tadi hanya menunduk sekarang tersenyum sumringah karena bisa menjaga anak sulungnya lebih.
Setelah pembicaraan panjang.
Ibu dipersilakan masuk ke kamar Nila diantar oleh komandan sendiri.
Bapak sudah pulang ke
rumah untuk mengambil baju dan keperluan ibu.
**
"Terimakasih komandan sudah baik ke anak saya, Nila" depan pintu kamar Nila
"jangan begitu buk. Nila juga sudah jadi anak saya, bagian dari keluarga ini. Dan Biyan juga menyuruh saya untuk menjaganya dengan baik. sebenarnya saya yang merasa malu. Karena saya bisa kecolongan dengan kejadian ini. Saya kira saya sudah menjaganya dengan baik tapi...." komandan menunduk sedih dengan kedua tangan masuk kesaku celana.
"sudahlah komandan kami tidak menyalakan anda. memang Nila itu bandel, dia suka sekali makan makanan pedas. dan mungkin karena sibuk kuliah jadi suka telat makan." ibu
Komandan masih merasa tidak enak.
"Kabar nak Biyan gimana komandan" celetuk ibu mengalihkan pembicaraan
"kemarin Biyan kasih kabar kalau dia baik-baik saja," komandan mengeluarkan tangan kanan dari saku celana
"syukurlah...kadang saya suka deg.degan kalau lihat berita tentang tentang timur tengah.." ibu memegang dadanya menenangkan
Ternyata keluarga Nila begitu mengkhawatirkan Biyan.
Semoga Biyan selalu sehat dan selamat dalam tugasnya.
Jika terjadi sesuatu kepada Biyan mungkin mereka akan lebih kecewa.
Kasihan mereka telah menyerahkan Nila sepenuh hati kepada kami...
Semoga Tuhan memanjangkan jodoh mereka.
Melihat komandan yang malah termenung dengan tatapan mata sayu sedih, ibu merasa tidak tega
"Emm...ehem...boleh saya masuk komandan?" ibu memecahkan lamunan komandan yang memikirkan nasib Nila dan Biyan
"oww ya silakan...jika ada perlu apa-apa itu disebelah tembok ada telpon tekan saja nomer satu " komandan membuka pintu kamar Nila dan menunjukkan telepon yang tergantung di tembok
"Ya..ya komandan" ibu sebenarnya tidak paham apa yang dimaksud komandan.
Komandan meninggalkan Ibu Nila.
Didalam kamar Ibu melihat lekat setiap sudut kamar
Begitu besar dan luas...
Tapi terlihat hampa
__ADS_1
wajah ibu terlihat cukup sedih
Kasihan...
Nila pasti sangat kesepian
Di ruangan yang begitu besar ini
Ranjang begitu lebar dan luas...
Tapi...
Dia tidur sendirian
Tanpa suami yang seharusnya bisa berbagi keluh kesah bersama
Saya begitu merasa berdosa membuatnya harus hidup seperti ini
Mata ibu sedikit basah, terdengar sedikit Isak tangis yang membuat Nila terbangun.
Nila melihat raut wajah ibu terlihat sedih. Awalnya dia bingung tapi badannya masih sakit terlalu sulit untuk dirinya mencari penyebab ibu sedih.
"Bu...sini sudah lama tidak tidur sama ibu...kangen" tersenyum sebaik mungkin yang bisa Nila ekspresikan
Ibu tersadar dan berusaha menghapus air mata yang hampir jatuh di pelupuk matanya dan menyembunyikan kesedihannya di hadapan Nila.
Beliau tidak ingin menambah beban pikiran anak Sulungnya itu.
Malam pun berjalan cukup singkat karena Nila benar-benar dimanja ibunya semalaman.
Ibu tidak henti-hentinya memijat seluruh bagian tubuh Nila dan membuatnya sedikit rileks dan tidur nyenyak.
Tapi beda dengan ibu, beliau semalam suntuk meratapi nasib anaknya, merasa kasihan dan tidak henti-hentinya menghujat dirinya sendiri.
Mengamati badan anaknya dari atas sampai bawah tak terasa air mata selalu jatuh tapi dengan cepat diusapnya. Menahan Isak tangisnya agar tidak keluar dan membangunkan Nila.
Begitu pilunya hati ibu dengan semua pemikiran beliau tentang kehidupan Nila yang sekarang sedang jalani.
**
Pagi sekali ibu sudah turun dan memasak menu kesukaan Nila.
dalam semalam ibu berjanji pada diri sendiri tidak akan menunjukan kesedihan dihadapan Nila.
Bagaimana pun nasib Nila nanti.
Beliau akan selalu berdoa dan selalu ada untuk anak sulungnya itu.
Hari ini Beliau masak sayur sop daging dan bubur halus.
Tidak lupa memasak makanan berat lainya untuk penghuni rumah lain.
Bau wangi masakan ibu membuat Vina, komandan dan Nila bangun dan ingin segera turun untuk sarapan.
Berhubung Nila masih kesulitan untuk berjalan dan naik turun tangga. Dia dengan terpaksa menghubungi Vina meminta bantuan agar dia bisa turun dan ingin sarapan di ruang makan.
Sebelum Vina sampai dikamar Nila.
__ADS_1
Ternyata Komandan sudah datang dulu didepan pintu kamar Nila. Beliau berinisiatif untuk memapah Nila turun agar sarapan bersama.
Diketoklah pintu kamar dan komandan dengan sigap membangunkan Nila di atas ranjangnya yang sudah terbangun dengan senyum sumringah.