
Hari pernikahan tinggal sepuluh hari lagi.
Komandan Dadang dari pagi sampai siang masih duduk didepan teras
Beliau terlihat sedikit resah,
lagi-lagi menyulut rokok, padahal dia hanya menghisap nya dua kali dan dibiarkan saja rokok habis terbakar.
Tepat pukul 13.00 wib
suara deru mobil parkir depan teras rumah
Senyum tersungging di wajah komandan Dadang..
Dari dalam mobil keluarlah
seorang dengan tinggi sekitar 180cm, memakai kaos oblong agak ketat lengan pendek berwarna abu-abu, celana jins biru Dongker, dengan sepatu Ket putih dan berkacamata hitam, kasual sekali.
Tubuhnya kekar, otot-otot lengan terlihat menonjol, membuat kesan menawan.
kulit kuning Langsat yang sedikit gelap, hidung mancung, bibir yang berisi bagian bawah dan ketika tersenyum akan muncul lesung Pipit dikedua pipinya...
"Ayah sehat" lelaki itu sambil mencium tangan komandan Dadang
"Sehat Biyan,,,kamu gimana semuanya lancar?" komandan Dadang sambil mengelus kepala anaknya dan senyum yang tak hilang dari wajahnya
"Lancar ayah sesuai dengan target Biyan, " tersenyum tampan
Saat malam hari komandan Dadang terlihat serius berbicara dengan Biyan..
***
Malam harinya.
Biyan hanya menunduk tanpa menyela sedikitpun semua omongan komandan
__ADS_1
Sesekali Biyan menghela napas panjang...
Tapi dia benar-benar hanya mendengarkan omongan ayahnya.
"Ayah mohon kamu bisa menerima perjodohan ini, dia gadis yang manis dan patuh kepada orang tua...ayah rasa dia sangat cocok denganmu dan akan jadi istri baik" jelas komandan tanpa melihat wajah Biyan yang dari tadi hanya menunduk
Karena yang diajak bicara tidak ada respon komandan bertanya dan melihat anaknya
"Bagaimana Biyan?"
Biyan menghela napas panjang lagi dan meremas tangannya yang sudah terpaut...
"Ayah...dari kecil sampai sekarang saya tidak pernah menolak ataupun tidak menuruti perintah ayah.." menatap dalam ke wajah komandan
Huufff....
Terdengar lagi helaan napas Biyan
"Tapi ayah, melihat kondisi dunia sekarang seperti nya saya akan dipindah tugaskan ke Suriah karena konflik Arab spring, saya sudah menjadi pasukan khusus yang mengikuti perintah PBB, saya bisa diberangkatkan kapan saja" Biyan menunduk
Komandan terdiam sebentar...
"Tidak semudah itu ayah!!!" Suara Biyan sedikit meninggi, tangan semakin mengepal
Komandan menghisap rokoknya acuh dengan sedikit lengkingan suara Biyan
Hemmm....******* keluar dari mulut Biyan,
"Ayah saya mohon, tunda lah pernikahan ini sampai saya kembali bertugas dari Suriah, " Biyan dengan mata nanar
Meletakkan puntung rokok nya di asbak
"apakah kepulangan mu nanti bisa diprediksi kapan bulan dan tahunnya?...
Tidak Biyan...
__ADS_1
Ayah tau, seorang TNI ketika ditugaskan,
kembali hanya ada tiga harapan bagi keluarganya,
kembali dengan selamat,,
dengan keadaan cacat atau kembali dengan mendali karena gugur di medan perang..." komandan menatap Biyan dengan mata sedikit berkaca-kaca
Mereka terdiam...
Aura dingin menyeruak, menyadarkan keheningan diantara mereka
Biyan meluruskan punggung nya dengan bersandar di kursi
"Apakah ayah tega melihat, menantu ayah nanti, baru menikah harus tinggal jauh dari suaminya, yang kadang dalam sebulan tidak dapat memberinya kabar apakah dia hidup atau mati...
seperti halnya bunda dulu...
harus berjuang sendirian merasakan kehilangan bayi yang dikandungnya,
tapi ayah tidak dapat mendampingi ataupun meringankan kesedihan bunda...
bunda hanya menahan sampai merusak tubuhnya sendiri kesedihan yang harus dilalui nya,, yang akhirnya ayah bisa datang ketika bunda sudah terkubur selama tiga hari.." mata nanar Biyan menahan air yang hampir jatuh di pelupuk matanya
Pandangan komandan menerawang jauh seperti mengingat kembali kenangan sedih itu
Mereka kembali diam dalam keheningan
Akhirnya keheningan itu pecah dengan kalimat ultimatum komandan Dadang yang mengharuskan Biyan menikah sepuluh hari lagi...tidak ada penolakan..
Biyan hanya menunduk dan jalan menuju kamarnya
Direbahkan nya tubuh kekar itu dan menutup matanya yang sedikit basah dengan lengan tangannya
Biyan anak yang patuh, karena dia slalu diajarkan bundanya untuk tidak melawan atau menentang perintah ayahnya walaupun itu sulit
__ADS_1
Tapi gejolak hati ingin berontak tetep mengebu-gebu di dalam hati
Lalu dia terbangun dan seperti menekat kan diri untuk....tidak tau apa yang sedang Biyan rencanakan