Cinta Untuk Janda Kembangku

Cinta Untuk Janda Kembangku
Telepon dari Jendral


__ADS_3

Tika, Lilis , Hesti dan Ikal di bangku belakang. Mereka berempat saling berdesakan.


"Aduh Hesti jangan injak kaki " ikal yang berada dekat pintu sebelah dengan tangan yang badannya menghadap jendela kaca mobil karena terdorong dengan dua wanita bar-bar yang slalu bertengkar.


"Itu si Lilis yang main geser lagi geser lagi, diem Napa" dengan badan yang menyenggol balik Lilis


Lilis hanya cengengesan.


"Kak Biyan jalan yang ngebut, tolong aku... biar cepat sampai rumah" Tika mewek.


Nila yang duduk di depan, sedikit-sedikit menoleh kebelakang antara merasa kasian dan lucu melihat tingkah para sahabatnya.


Biyan asik mengendari mobil tidak memperdulikan betapa berisiknya penumpang dibelakang.


Tangan kiri mengendalikan kemudi mobil, sedangkan tangan kanan memegang erat tangan Nila.


Biyan menikmati setiap moments dengan Nila, dalam hatinya,


Nila....


Semua yang kita lalui akan aku simpan dalam memori ku, sebagai pengobat rindu ketika aku harus jauh darimu saat bertugas nanti.


Mobil berjalan dengan sedang.


Tangan Biyan masih menggenggam erat tangan Nila.


Hesti dan Lilis melihat itu mereka saling berbisik.


" Coba lihat kalau dua anak manusia yang masih kasmaran, apalagi pengantin baru... benar-benar tidak ingat tempat dan tidak peduli dengan sekitarnya.


Aku lihat, dari tadi tangan kapten pegang terus tangan Nila, apa gak pegal atau gerah" Hesti


"Kamu ngiri paling, iya kan" Lilis cekikikan


"Jelas irilah, siapa yang gak mau coba?" Hesti masih berbisik


"Kalau aku gak mau pacaran didepan kalian, ntar dikomentari terus kaya komentator bola" Ikal nimbrung.


"Awas kalian bisik-bisiknya cukup kenceng loh jangan sampai kak Biyan dengar" Tika juga Nimbrung...


"sudah dengar dari tadi" kompak Biyan dan Nila.


Mereka berempat saling memandang dan celingukan.


Dan cekikikan bersama di bangku belakang


kring...kring..kring..


Dering ponsel Biyan


Dilepaskannya tangan Nila dan meraih ponsel di bagian dasbor depan.


"Jendral?, semalam ini pasti penting" lirih. Dan saat ini waktu sudah jam dua belas kurang sepuluh menit.


Biyan memarkirkan mobil di tepi jalan mendadak.


sitttt...suara decitan roda mobil.


Penumpang bagian belakang otomatis jatuh kearah depan semua.


Nila pun kaget, saat semua akan berisik dan protes. Biyan mengangkat tangan kanannya dan mengepal tanda bahwa harap diam sebentar.


"Siap jenderal, ada yang bisa saya bantu?" Dengan badan tegap dan suara yang tegas

__ADS_1


"ya..kapten...saya baru dikabari bahwa besok pasukan akan segera dibawa ke Jakarta dan diberangkatkan ke Suria, karena kondisi di sana sudah sangat memperihatinkan." suara jenderal di ujung panggilan


"Siapa jendral, maaf kalau saya besok langsung ke Jakarta bagaimana, tidak ikut pasukan, langsung bertemu dibandara?" dengan mata yang menerawang jauh.


"Boleh kapten, yang penting sebelum keberangkatan kamu sudah berada di di sana dan jangan lupa untuk mempersiapkan semua surat-surat penting yang harus dibawa " jendral tegaskan.


"Siap jenderal, siap laksanakan" Biyan dan mengakhiri panggilan tersebut.


Suasana hening terasa di dalam mobil.


Biyan diam hanya jari-jari tangannya yang mengetuk-ngetuk pelan di kemudi mobil.


Nila memandang lekat dan membaca air muka Biyan, sedang bagian belakang saling memandang satu persatu.


Hesti,


"kenapa" bertanya tanpa suara kepada Nila saat memandang ke belakang.


Nila yang menggelengkan kepalanya pelan.


Semua tidak ada yang berani bertanya atau pun menyapa Biyan.


Keheningan berjalan tidak lama,


"Ayo pulang, " Biyan mulai menstater dan melajukan mobilnya sedikit kencang.


Nila,


Tadi dia bilang, jenderal?


Apakah Biyan harus berangkat secepatnya?


Lihat wajahnya yang mulai pias


Aku pasti akan merindukanmu


Biyan mengantar satu persatu sahabat Nila sampai ke rumah masing-masing.


Semua mengucapkan terimakasih tapi Biyan hanya mengangguk.


Tangan Biyan yang dari tadi tidak melepaskan genggamannya dari tangan Nila, setelah mendapat telpon dari jendral, tangan itu beralih memegang kemudi dengan rekat, dan wajah tegang.


Akhirnya mobil sudah terparkir didepan rumah Nila.


Selama perjalanan Biyan masih diam.


Tapi tidak lupa Biyan membukakan pintu mobil untuk Nila tanpa kata hanya tersenyum.


Mereka masuk rumah, Tika langsung menuju kamar, yang memang matanya sudah mengantuk berat.


Biyan juga langsung masuk kamar. Nila mengikuti langkah Biyan, benar-benar tidak berani bertanya mengapa dan kenapa.


Biyan menjatuhkan badan di ranjang, memejamkan mata dan sepatu yang dipakainya tidak dilepas.


Nila melihat itu dengan pelan, duduk di samping kaki Biyan dan melepaskan sepatunya perlahan-lahan.


Biyan kaget dan beranjak bangun, memandang Nila dengan mata yang sendu dan wajah pias.


Nila hanya melemparkan senyum terbaiknya.


Sebaiknya aku tetap tersenyum


jangan tanyakan apa-apa

__ADS_1


Biyan pasti akan yang bercerita.


setelah hatinya merasa baikan.


Batin Nila


Biyan memeluk Nila dengan erat dan terdengar suara isakan tangis lirih namun Nila masih bisa mendengarkannya.


"Biarkan aku memelukmu sepuasnya.


karena besok adalah hari terakhir kita bersama" kata-kata yang akhirnya keluar dari mulut Biyan.


masih memeluk erat Nila


Nila


Besok hari terakhir kita bersama?


berarti Biyan besok betul-betul harus pergi bertugas dan meninggalkan ku.


Aku harus tabah dan tegar.


Mengelus pelan punggung Biyan.


Berusaha menenangkan.


Saat Biyan mulai tenang.


Nila melepaskan pelukannya dan memandang lekat Biyan.


Dielusnya pipi Biyan serta menyeka air mata yang mengalir.


"Sayangnya, aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan, tapi hanya ingin kamu tahu bahwa aku akan slalu setia menunggumu."


Menghela nafas panjang, dan mengendalikan dirinya.


"Iya sayang terimakasih, tadi jenderal bilang, kalau besok kami akan segera diberangkatkan ke Suria. Jadwalnya maju tiga hari dari rencana awal." Biyan menunduk


Nila mengangguk-angguk kepala pelan, dalam hati:


Benar,


Besok dia akan segera berangkat bertugas ke Suriah.


Ohh Tuhan.... tegar kan hatiku


Haaaaaa


"Maafkan aku yang belum bisa memberikan cinta dan perhatian lebih kepadamu." memeluk lagi Nila.


" Sudahlah sayang, itu juga bukan kemauan dan diluar kendali mu.


Aku akan slalu berdoa semoga, kamu slalu diberi keselamatan dan bisa kembali dengan sehat tanpa ada yang kurang. Dan aku akan setia menunggumu kembali. I love you Biyan" sambil mencium leher .


"Love you too, sayang" Biyan membalas dengan mencium Nila di leher, pipi, mata, telinga, kening semua benar-benar Biyan cium. Saking tidak relanya Biyan harus meninggalkan Nila secepat ini.


Mereka berbaring bersama, Nila memeluk lekat di dada Biyan,.


Tidak henti-hentinya Biyan mencium dan membelai rambut Nila.


"Malam ini, malam terakhir kita bisa seperti ini" Biyan


"Sabarlah sayang, aku akan setia menunggumu kembali agar kita bisa berbaring bersama seperti ini lagi." Nila menenangkan.

__ADS_1


"Terimakasih sayang" Biyan memeluk erat Nila dan akhirnya mereka terlelap bersama.


__ADS_2