Cinta Untuk Janda Kembangku

Cinta Untuk Janda Kembangku
Operasi


__ADS_3

Vina dan Komandan masih belum percaya dengan apa yang dikatakan dokter


"Usus buntu dok?" komandan wajah masih penuh tanya


"Saya belum yakin, tapi melihat reflek dari tekanan nyeri perut bagian kanan, itu seperti radang usus buntu. Tapi harus ada beberapa pemeriksaan lanjutan. Nanti kami akan lakukan pemeriksaan mengambil sempel darah, dan gejala pendukung lainnya agar bisa diambil tindakan pengobatan biasa atau perlu operasi." dokter mengambil map yang dipegang perawat, tidak tahu apa yang ditulisnya


"Operasi?" Vina sedikit kaget


"Apakah harus dioperasi?"


"Mudah-mudahan tidak, makanya perlu tes lanjutan" dokter menutup map dipegangnya


"Tolong bantu anak saya dokter, lakukan apapun agar dia kembali sehat" komandan dengan wajah memelas berdiri mendekati dokter itu.


"Iya pak, saya bantu sebaik mungkin dan ini juga kewajiban saya sebagai dokter untuk membantu pasien"


lalu dokter itu memerintah perawat untuk keluar.


Tidak lama datang perawat lain dengan pakaian khusus mengambil sampel darah dan tindakan lain untuk mengetahui lebih lanjut penyakit yang diderita Nila.


Komandan duduk tenang di sofa yang sudah tersedia. Walaupun berusaha tenang, tapi dahi yang berkerut, tangan yang mengepal, menunjukan kekhawatiran yang dalam terhadap Nila.


Vina turun mengikuti dokter dan berusaha mendapatkan secepat mungkin tindakan terbaik untuk Nila.


***


Diruang dokter setelah hasil tes keluar.


"Emmm...seperti nya ini benar-benar usus buntu, bukan hanya radang lagi tapi ada sedikit robekan. Sebentar saya akan menghubungi dokter bedah untuk menanyakan tindak lebih lanjut"


Dokter itu mengambil telpon dan tidak lama mereka berbincang dengan serius


"Baik dok...iya baik" serius


Vina mencoba tenang dan memperhatikan dokter tersebut


Menutup telepon....


"Kata dokter bedah, besok pukul 7 pagi akan dilaksanakan operasi kecil untuk usus buntu Pasien. Apakah keluarga menyetujui?... kalau iya... saya akan memberikan lembar ijin operasi silakan diisi oleh wali dan ditanda tangani segera mungkin"


Vina masih tenang tidak menjawab dia hanya memandang kosong meja dokter tersebut.


Dokter mengambil telpon lagi dan menghubungi perawat.


Tidak lama datang membawa map biru yang berisi persetujuan melakukan operasi.


Vina meminta waktu untuk menemui komandan.


***


Diruang inap


Nila masih belum sadarkah diri dengan tangan yang masih terpasang selang infus..


Wajah pucat, bibir kering dan lingkar mata yang terlihat sedikit cekung.


Komandan sudah bersama pak Mir sedang menyeruput kopi bersama.


"Bagaimana Vina?" komandan meletakkan gelas kopinya


Vina duduk di kursi sebelah pak Mir, di hadapan komandan. Meletak kan map yang dipegangnya di atas meja.


Melihat itu, komandan mengambilnya, membuka dan membaca.

__ADS_1


"Harus Operasi?" wajah datar masih menatap map.


Vina hanya mengangguk


" Apakah harus?" masih menatap lekat map biru itu.


"Kata dokter hanya operasi kecil memotong bagian yang berbahaya" Vina mengaitkan jari-jari tangan di pangkuannya.


"Jika itu yang terbaik. Mana yang harus saya tanda tangan?"


Komandan meraih bolpoin yang sudah disematkan di bagian atas map


" Disini komandan" Vina mengarahkan


"Operasinya besok jam tujuh pagi, apakah kita harus memberitahu keluarga Nila?"


Menghentikan gerakan tangannya padahal belum selesai tanda tangan.


Beliau diam sejenak. Meneruskan tanda tangan, Meletakkan bolpoin dan duduk bersandar menegakkan punggungnya.


Vina hanya melirik kearah komandan, kepalanya masih menunduk.


Pak Mir yang dari tadi tetap menunduk karena tidak ingin ikut campur dan juga bukan urusannya mencampuri urusan tuan besarnya.


"Hummmummm" komandan menghela napas.


Hening....


"Besok jam 5 pagi kau datang lah bersama pak Mir, jemput orang tua Nila dan beritahu sebaik mungkin agar mereka tidak panik" komandan buka suara


"Baik komandan" Vina mengangguk


" Pak Mir istirahatlah diluar, dan kau Vina gunakan sofa panjang ini untuk berbaring sebentar, biar Nila saya yang jaga" komandan beranjak duduk di sebelah ranjang, dimana Nila masih berbaring lemas, belum sadarkan diri. Beliau membuka sebuah majalah yang sudah tersedia.


Vina berbaring di sofa panjang dan menarik selimut yang ia minta ke perawat jaga.


****


Dibelahan benua lain


Saat ini masih pukul empat pagi...


Biyan masih terjaga belum bisa memejamkan matanya sehabis pulang mengirim surel untuk Nila dan keluarganya.


Dengan pakaian lengkap serta senjata yang tidak lepas dari pelukanya. Dia asik menerawang langit gelap yang masih di isi dengan rasi bintang yang terlihat jelas.


Tubuhnya sedikit menggigil,


mulutnya mengeluarkan uap, saking dinginnya udara disana saat malam hari.


"Kenapa hati merasakan hal yang tidak karuan seperti ini


Seperti ada yang tidak beres


Hah


mungkin aku yang terlalu memikirkan mereka" memeluk erat Laras panjang yang dipegangnya


"Kapten...jangan ko suka ngomong sendiri nanti dikira ko orang gila" logat orang timur Indonesia dia adalah bawahan Biyan Markus.


Duduk mendekati Biyan di sebuah bukit kecil dekat camp pasukan bantu.


"Kau belum tidur?" Biyan dengan mulut mengeluarkan uap

__ADS_1


"Sa tidak bisa tidur kapten, malam dingin, siang panas kangen kampung halaman" Ikut memeluk senja Laras panjangnya.


"Haaaaaahhhh" Biyan menghembuskan napas


"Ko kapten lagi pikirkan?, cerita sa siap dengarkan?" Markus


"Hanya kepikiran keluarga di tanah air, "


"Sa juga rindu mama," berbaring ditanah pasir


Biyan ikut berbaring dengan lengan sebagai bantalan menatap langit gelap penuh bintang.


"Adik kau ada berapa banyak?"


"Dua belas kapten, sa bingung punya mama papa, tiap tahun da kabar sa punya adik lagi...ckckck"


"Hahaha...giliran kau kapan punya anak?"


"Sa punya istri ka belum, punya anak "


"Hahaha" Biyan sedikit melepaskan rasa galau dihatinya.


***


Rumah sakit


Pukul tujuh tepat Nila sudah dibawa kedalam ruang operasi.


Sudah ada bapak, ibu Nila dan juga Kartika yang duduk berhadapan dengan komanda dan Vina.


Lampu merah menyala di atas pintu ruang operasi.


Wajah-wajah penuh cemas tersirat di semua orang yang menunggu.


Ibu yang dari rumah sampai sekarang tidak lepas mulutnya komat-kamit membacakan doa untuk keberhasilan operasi anaknya.


Bapak Nila matanya tidak lepas dari pintu operasi.


Komandan sesekali memandang keluarga Nila penuh rasa malu, lalu menunduk. Karena beliau merasa gagal merawat menantunya.


Dari awal keluarga Nila datang kerumah sakit hanya Vina yang terus menjelaskan kondisi Nila.


Komandan seperti kehilangan muka dihadapan besannya.


Padahal bapak dan ibu Nila tidak sedikitpun mengatakan kekecewaan terhadap komandan.


*


Setelah satu jam lampu operasi mati. Menandakan operasi berhasil


Semua ora terlihat sedikit lega.


Nila keluar ruang operasi masih dalam kondisi belum sadarkan diri.


Dia langsung dibawa keruang rawat inap. Seluruh keluarga mengikuti dari belakang.


Dalam ruangan VVIP itu, suasana begitu hening.


Tidak ada yang berani memulai pembicaraan.


Ibu Nila duduk disebelah ranjang pasien, tangannya tak lepas menggenggam tangan Nila.


Vina dan Tika berada disisi ranjang lain berhadapan denga ibu.

__ADS_1


Bapak dan Komandan duduk di sofa berhadapan saling menunduk.


__ADS_2