
Vina sudah menunggu Nila di dalam mobil.
"Maaf Vin, nunggunya lama ya?" Nila buru-buru masuk mobil
"Santai" langsung mestater mobil dan melaju dengan kecepatan sedang.
Nila melihat gaya busana Vina yang sangat elegan wanita karier, kemeja warna Salem muda, celana kain Salem tua dengan jas simpel berwarna hitam. Sepatu hak tinggi hitam, rambut rapi tergerai dan gerakan yang cekatan saat mengemudi.
Wanita Idaman sekali
Kalau aku jadi Biyan
mungkin aku sudah pilih Vina
smart iya,
Serba bisa? iya
supel iya
sukses jelas
asisten pribadi komandan
good people pasti.
batin Nila
"Ngapain lihatin terus?" Vina yang menyadari diamati oleh Nila
"He.. enggak cuma you look so beautiful kata orang Inggris. Body ok, gaya cakep, smart iya, wanita karir sudah terbukti. rahasianya apa ?"
"Fokus, yakin dan percaya diri" jawab Vina padat dan jelas
Nila geleng-geleng terhadap jawaban Vina yang lugas
"Kenapa geleng-geleng, tidak percaya?...haha" tertawa
"Percaya, benar-benar wanita idaman. Kalau aku jadi Biyan, lama aku sudah minta kamu jadi istri."
"Boleh kalau Biyan buat saya?"
"Hah... "
Aku yang salah ngomong.
Pertanyaan dia, seperti bermain catur baru langkahin pionir maju , langsung kena skak mat.
Toh... aku tidak punya apa-apa buat bersaing dengan Vina.
Tapi gak mau kehilangan Biyan..
Bodoh...
"Haha...tenang!! saya sudah ada tambatan hati, Biyan itu hanya tuan muda yang harus saya bantu dan bimbing." Vina melihat mimik wajah Nila berubah
"Huh... tidak bisa berkata-kata, kalau sama orang smart sepertimu"
"Emm...kampus yang mau kita tuju dekat sini, kalau tidak suka bilang saja, nanti ganti yang kamu suka"
Vina fokus mengemudi
"Memang kita mau kampus mana?" Nila memandang lekat
"Universitas Padjxxxxx"
"Yang benar?" tidak percaya
"Bener!"
"Aku pingin di sana, Kok bisa ya?" masih belum percaya
"Ya bisa...tadinya kamu dapat beasiswa kan di sana?, sebelum memutuskan menikah!" menengok sebentar ke arah Nila
"Iya...kok tahu?"
"Hee...rahasia" Vina menggoda
"Hebat...nanti daftar jalur apa?"
"Non reguler, soalnya gelombang dua"
"Apa tidak mahal?, "
"Yang penting kamu fokus, yakin dan percaya diri."
Nila mengepalkan telapak tangannya memberikan semangat pada diri sendiri.
"Semangat" Vina juga menyemangati
"Siap" sambil hormat dengan tangan terangkat bak pasukan paskibraka
"Hahaha...kalau gini memang kamu yang pantas jadi istri kapten Abiyan Suprayogi"
"Vina!! jadi ingat dia." wajah sedih
"Sudah, jangan sedih. Hanya enam bulan. Sebentar itu Nila"
__ADS_1
"Emm.. iya hanya Enam bulan. Tapi kok sudah tiga hari ini dia belum beri kabar ya.. ?" sambil lihat ponsel yang diberikan Biyan
"Setahu saya, disana jaringan internet sangat minim apa lagi di daerah konflik, pasti ada blokade jaringan keluar. Biasanya mereka harus ketempat yang daerah khusus lindungan PBB untuk memberikan informasi keluar. Kalau para wartawan punya aksesnya cuma untuk tentara pembantu perdamaian itu harus ada waktu dimana mereka diijinkan untuk istirahat tugas dulu."
"Hemm...Sabar" Nila sambil melihat foto Biyan saat di mall.
"Kamu tenang saja, jaringan di rumah komandan oke kok...email juga on. Saya juga akan banyak stay di rumah komandan. Kalau ada panggilan luar negeri aku pasti kasih tahu kamu"
"Usaha ayah bagaimana? kalau kamu stay di rumah?"
"Sudah ada yang mengurus mereka tinggal kirim surel ke email laporannya." Vina masih fokus mengemudi
Aku tidak tahu perbuatan apa yang orang tuaku perbuat.
sampai aku bisa bertemu komandan, Vina, dan Biyan...
Mereka benar-benar orang baik.
Terima kasih buat kasih sayang yang kalian berikan.
Aku pasti akan menggantinya suatu saat nanti.
Nila.
***
Perjalanan mereka memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Sampailah di kampus idaman Nila.
Dia terlihat sangat antusias.
Wajahnya begitu bahagia, melihat koridor kampus.
Vina secara sembunyi-sembunyi, mencuri foto-foto Nila yang begitu antusias. Lalu langsung dikirimkan kepada bos besar, siapa lagi kalau bukan komandan.
Matanya tidak henti-hentinya melihat papan pengumuman daftar fakultas dan kuota yang sudah ada.
"Jadi hari ini sekalian daftar?"
Nila sambil menunjuk papan pengumuman bahwa pendaftar terakhir gelombang dua hari ini.
"He'em, ayo" mengandeng Nila ke ruang pendaftaran
**
Vina sudah membawa selembar kertas dan sebuah bolpoin
"Kamu ambil fakultas apa?"
"Emmm....dari dulu aku suka matematika dan IPA"
dan setelah ini, fokus, yakin dan percaya diri pasti sukses, semangat" tersenyum
"Semangat" meraih kertas dan bolpoin
Nila mengisi semuanya dengan detail tidak terkecuali statusnya yang sudah menikah dan dengan bangga menulis nama suami Abiyan Suprayogi dengan titik di atas huruf I di gambar hati.
Vina melihat itu hanya tertawa geli dan batin.
Dasar gadis remaja kalau jatuh cinta.
***
Vina mengajak Nila untuk melihat tiap sudut kampus.
Nila, matanya terlihat berbinar-binar melihat tiap hal baru yang dia lihat.
Seperti saat melewati fakultas teknik begitu banyak robot buatan mahasiswa yang dipajang di sepanjang koridor.
Nila seperti anak kecil yang baru diajak ke mall. Dia lari sana, lari sini dan girang lompat jika melihat hal yang menurutnya unik dan baru.
Vina benar-benar seperti kakak perempuan yang membuat adik kecilnya bahagia dan lupa kekasihnya.
***
Mereka makan di kantin kampus.
Vina memesan batagor dan air putih sedang Nila bakso pedas dengan es teh manis kesukaannya.
Juga pesan tempe goreng sebagai pelengkap.
Sedang asik makan, tiba-tiba ada seorang lelaki berwajah oriental menyapa Vina
"Vina"
mereka berdua menengok kearah lelaki itu.
Awalnya Vina ragu, lalu
"Fendy Lim?"
"Wah... ternyata lu masih ingat ai" berlari dan tanpa permisi duduk di meja mereka makan.
"Kamu disini?" Vina cuek sambil makan batagor
"Iya... sekarang ai jadi dosen sastra Tiongkok." mengambil tempe goreng dan memakannya
__ADS_1
"Sesuailah dengan jurusan kamu dulu"
"Kamu ngajar Disini?" tanya sambil mulut penuh gorengan
Nila yang masih kepedasan,
Dia dosen?
Aku gak percaya
Lihat bicara sambil makan,
Lagian itu gorengan siapa?
Main ambil saja.
permisi kek atau bilang minta
hemmm...
Vina,
"Tidak,ngantar adik saya kuliah" minum air dalam botol
"Lu ada adik? ambil fakultas apa?" dengan logat kental orang Tionghoa dan memandang Nila
"Ehem.FMIPA.." sedikit tersedak karena kepedasan
"Wah berat itu" ambil lagi gorengan di meja
Vina dan Nila saling pandang dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan dosen teman Vina.
"Kalian kok bisa kenal?" Nila menyudahi makannya.
"Emm... dulu teman kampus paska sarjana di Cina." meneruskan sisa batagornya yang masih sedikit
"Jadi kamu S2 dicina?" Nila terperangah
"Hem..." menyelesaikan makannya
"Cuma beda jurusan kita" dosen itu nimbrung
Nila dan Vina saling pandang lagi.
"Kamu masih ikut komandan itu?"
dosen itu tanya dan tangannya mulai ambil gorengan lagi
"Hem" Vina
"Singel?" menggigit gorengan
"Hem"
"Oe malah sudah cerai dua kali, tapi belum ada anak" mulut mulai penuh gorengan
Vina dan Nila saling pandang lagi. Keduanya mengangkat kedua bahu mereka dan tertawa kecil
Nila
Siapa yang nanya?
Ini dosen kayaknya ada hati sama Vina.
tapi di cuekin
Aku jadi kasihan
hihihi
"Kamu sudah Selesai makan?" Vina bertanya ke Nila
" Sudah"
"Ayo pulang"
Mereka berdua berdiri meninggalkan dosen sastra Tionghoa tersebut.
Dari kejauhan
"Gorengannya masih ada, oe habiskan ya" berteriak
Vina hanya melambaikan tangan mempersilahkan.
Nila kekikikan lucu melihatnya.
"Aneh?" Vina sambil jalan menuju tempat parkir
"Iya...hihihi" menutup mulutnya
"Itu belum seberapa" masih cool berjalan
" Cerita dong"
"Nanti saja"
Vina berjalan dengan elegan dan Nila sedikit meniru gaya Vina.
__ADS_1
*****