
Dimas memacu mobilnya kencang, matanya dengan liar melihat sekeliling jalan yang di tunjukkan oleh Laras.
dia melihat dari jauh seorang perempuan berjalan mundur dan agak pincang.
" Apa itu Laras??"
dia langsung mendekati perempuan itu dan dari mobilnya.
Laras menoleh ke belakang dan melihat Dimas sudah ada disitu.
" Daddy!!!" Laras dengan sigap langsung memeluk Dimas, ketakutan nya hilang ketika Dimas memeluk nya.
" Masuk ke mobil, apapun yang terjadi jangan keluar dari sini, berjanji lah laras" Kata Dimas menuntun nya.
Kakinya terluka karena terjatuh di kejar preman itu.
" Siapa kau, jangan ikut campur!!" Kata preman itu mengeluarkan celurit dari saku jaketnya.
" Kenapa kau mengganggu nya? siapa yang menyuruh mu??" Tanya Dimas.
" Itu bukan urusan mu, yang pasti aku harus membawa Laras pulang kerumahnya".
Louise mencari Laras sepanjang jalan, dia tak menemukan gadis itu dimana pun.
" Dimana Laras?? apa dia udah di culik??" Louise menghapus darah yang keluar dari bibirnya, dia khawatir jika nanti dirinya lah akan disalahkan oleh keluarga Laras.
Mendengar perkataan preman itu, Dimas mengerti bahwa keluarga Laras lah yang telah menyuruh mereka untuk menculik Laras dan dibawa pulang ke rumah nya.
Dimas lalu menghajar preman itu hingga tak bisa untuk bicara, amarahnya seperi badai yang menyapu bersih seluruh negeri, hingga Laras melotot melihat Dimas membabi buta memukul nya.
Dimas pun meninggal kan preman itu lalu masuk kedalam mobilnya, di sana Laras terus menangis ketakutan.
" Jangan menangis, Daddy disini" Kali ini Dimas lah yang memeluk Laras dengan sangat erat.
Dimas memutar mobil nya ke rumah, dia tak lagi balik ke kantor.
" Sampai kapan ayahku akan menakuti ku??" Kata Laras terisak.
Dimas tak menjawab nya, meski diam dia tak tinggal diam.
Louise ingin melaporkan penculikan itu pada polisi, tapi dia masih ragu untuk melakukan nya
karena dia belum minta izin pada Daddy nya Laras terlebih dulu, dia mencoba menunggu Laras di depan rumahnya.
tak lama kemudian, dia melihat mobil Dimas tiba di rumah itu.
" Om Dimas??" Jantung Louise berdebar seakan tubuhnya di timpa gunung es tak berdaya.
Dimas masuk dan memarkirkan mobilnya, Louise melihat Laras turun pelan-pelan dari mobil.
" Laras?? Syukurlah dia ga papa!!" Louise pun berlari untuk mendekati Laras.
Dimas memapah nya pelan-pelan, lutut nya terluka karena terjatuh ke aspal yang tajam.
" Om, Laras" Louise memanggil mereka.
Laras dan Dimas menoleh ke belakang.
__ADS_1
" Louise??" Gumam Laras.
" Louise??" Sapa Dimas.
" Maafkan Louise om, Louise ga bisa menjaga Laras dari preman itu".
Setelah di dalam rumah Louise menjelaskan kejadian itu.
" Om sudah tau siapa yang melakukan itu" Kata Dimas lalu membalut luka di lutut Laras dengan perban.
Laras tak sanggup bicara, karena semua ini adalah ulah ayahnya sendiri.
" Louise terimakasih telah menjaga Laras, om harap kamu menjadi teman yang baik bagi Laras!!" Kata Dimas tanpa melihat Louise
amarah di matanya masih terpendam
Louise bisa mengerti itu.
" Louise pulang dulu ya om,,!! Laras semoga cepat sembuh" Dia tersenyum dan pergi.
setelah Louise pergi, Laras masuk ke kamar nya dan ganti baju.
Tak lama dia pun turun kebawah, Di sana Dimas sudah menunggu nya, kali ini Dimas tak banyak bicara.
" Laras, ayo ikut Daddy".
" Kemana dad, nanti jika Tante Marissa pulang gimana??" tanya Laras.
" Marissa ga akan pulang hari ini".
Dimas menggendong nya ke mobil
mata mereka beradu ketika Laras di pelukan Dimas.
" Kita kemana dad??".
" Kita ga kemana-mana!!" Sedikit pun senyuman tak ada di bibir Dimas.
ternyata Dimas memacu mobilnya ke rumah orang tua Laras
melihat rumah nya sendiri, Laras sudah histeris dan ga mau turun.
" Kita pulang dad, Laras ga mau kesini!!" Kata menangis terus menerus.
" Daddy akan menjaga mu, Daddy ga akan ninggalin kamu!! Kamu harus percaya!!" Kata Dimas meyakinkan nya.
Laras pun mengikuti Dimas turun dan berjalan ke dalam.
Ketika yang lain berada di dalam, bi Inah ternyata ada di luar membersihkan halaman dan taman bunga di dekat pagar depan.
" Nona Laras???" Mata bi Inah membesar melihat kedatangan Laras, air matanya menetes tanpa dia sadari.
" Bi Inah??" Laras memeluk Inah seperi ibu kandung nya sendiri.
" Nona kenapa pulang?? Bibi takut tuan akan menyakiti nona Laras!!".
" Laras aman bersama ku Bu Inah" Kata Dimas
__ADS_1
Inah memperhatikan Dimas baik-baik
Seorang pria tampan dan gagah berdiri di depan nya sebagai penjaga Laras, dia pun tersenyum.
" Terimakasih telah menjaga nona Laras, jangan pernah biarkan nona Laras menangis" Kata bi Inah sambil menangis.
Mendengar omongan Inah, Laras menetes kan air matanya.
Mereka berdua pun berjalan untuk masuk ke rumah itu, sedangkan bi Inah tetap membersihkan taman, walau pun dia ga fokus karena dia tau akan ada keributan di dalam rumah itu.
Laras dan Dimas tiba di dalam, Laras memegang tangan Dimas dengan kuat
Dimas menatap nya, kepala Laras menggeleng seakan mengatakan ' jangan tinggalkan aku'
Dimas mengangguk melihat Laras.
" Selamat datang di rumah ku tuan Dimas yang terhormat??!!" Kata ayahnya Laras memberikan pelukan.
Dimas mengacuhkan basa basi keluarga Laras.
" Kurang ajar" Gumam ayah nya Laras.
" Orang tua macam apa kau ini, tega-teganya kau menyakiti putri mu sendiri" Kata Dimas menatap tajam ayah Laras.
Ayahnya Laras tak mau berdebat dengan Dimas, karena dia tau Dimas punya relasi yang banyak dan dia juga mengerti hukum
jika dia sedikit saja salah bicara maka Dimas akan melanjutkan nya ke jalur hukum.
" Bagaimana mungkin aku menyakiti Putri ku sendiri" Kata nya bersandiwara.
Di sana sudah ada Roy dan ibunya
sementara Laras tak berani melepaskan tangannya dari Dimas.
" Jika sekali lagi aku mendengar kan Laras mengatakan kau menyakiti nya, ku pastikan kau dan semua orang yang ada disini akan menyesalinya" Kata Dimas lalu pergi meninggalkan rumah Laras.
Laras sebenarnya ingin memeluk ibunya, tapi ayahnya memegangi erat tangan ibunya.
Ibunya juga tak berani untuk melawan suaminya itu.
Laras merasakan kepahitan sepanjang jalan menuju mobil Dimas.
Dengan tertatih dan di bantu oleh Dimas dia bisa berjalan pelan-pelan.
" Kurang ajar" Ayahnya memukul meja yang ada di depan nya.
Roy dan semua orang di sana tak ada yang berani bicara.
" Mengapa bukan damar yang datang kemari?? rencana ku gagal" Ayahnya merusak semua barang-barang yang ada di sekitarnya.
" Maafkan Laras dad, Laras adalah pembawa sial bagi siapapun" Kata nya tertunduk.
" Daddy tak suka Laras bicara seperi itu, ini pertama dan terakhir Daddy mendengar Laras mengatakan itu, mengeri!????!!".
Dimas menyetir mobilnya pelan-pelan dan membiarkan Laras tidur di bahunya.
" Bermimpi indah lah Laras, jangan pernah menangis" Gumam Dimas memejamkan matanya lalu menghela nafasnya kuat-kuat.
__ADS_1