
Dimas masih terkurung di dalam kamar terkutuk itu sendirian, duduk tertunduk dan harapan nya seakan sirna.
biasanya di pagi hari saat dia terbangun, ia akan langsung menghirup udara segar dan penuh kebebasan untuk melakukan aktivitas nya, tapi untuk saat ini dirinya bahkan tak bisa tidur apa lagi untuk sekedar menghirup udara
Menunggu pengacara yang selama ini selalu ia andalkan tak kunjung tiba hingga pukul 8 pagi, dia masih terus bersabar untuk menunggu, rasanya dia sudah tidak tahan lagi ada di dalam kamar terkutuk itu, dia berdiri melirik ke pintu masuk untuk memastikan pengacara nya telah tiba, namun hingga pukul 9 masih juga belum tiba
" Dimana pak Rudi, biasanya dia sudah tiba jam segini" dia melihat jam yang melingkar di tangan nya itu seperti tak bergerak, dia mulai resah berjalan sana sini sambil melihat ke pintu masuk
" Dimas Wijaya dimana pengacara anda??" tanya polisi yang kemarin mengurung nya di dalam, dia hanya terdiam mendengar polisi itu bicara, polisi itu pun menggeleng lalu meninggalkan nya seperti orang yang tak percaya kalau pria sebaik Dimas Wijaya bisa masuk ke dalam penjara
Dimas gusar dalam hati, dia duduk lalu merenung kembali di dalam tahanan, lamunan nya terhenti karena mendengar langkah kaki seseorang, matanya berbinar ada setitik senyuman di bibirnya
" Mungkin pak Rudi sudah tiba" gumamnya menunggu didepan besi berwarna hitam itu
ternyata dia salah besar, yang datang bukanlah pengacara nya melainkan Lion dengan senyuman penghinaan untuk nya
" Selamat pagi tuan Dimas Wijaya, bagaimana malam anda?? ku harap sangat menyenangkan!!" ucap Lion dengan tertawa puas, sorot matanya dipenuhi kebahagiaan melihat ketidakberdayaan Dimas di depannya
" Dimana Laras???" bukannya memikirkan dirinya sendiri, malah dia memikirkan Laras
Mata tajam Lion tertuju lurus padanya tanpa berkedip, Dimas menyadari dia telah salah bertanya pada pria yang masih berkuasa itu sekarang
" Jangan salah paham Lion, maafkan aku" Dimas mencoba merendahkan hatinya agar Laras tidak dalam bahaya, bagaimana pun juga Laras juga sangat berarti baginya saat ini
" Dimas Wijaya aku datang kesini untuk mengatakan hal penting padamu, aku harap kau tidak akan serangan jantung saat aku memberitahu nanti"
Pikiran Dimas menjadi kacau, apakah yang sedang terjadi pada Laras?? apakah Lion telah...??? ah semoga aja Laras tidak apa-apa
" Katakan saja Lion, aku masih sangat sehat kalau hanya mendengar omongan kosong mu"
" Hahaha" Lion tertawa lalu membulatkan matanya, Dimas tak merasa takut sedikitpun
" Dengarkan aku Dimas, kau akan selamanya berada disini karena pengacara mu telah tiada" Lion tertawa begitu puas
Dimas kaget mendengar apa yang di katakan oleh Lion, tangan nya bergetar, rahangnya merekat dan nafasnya tak beraturan, dia memegang besi berwarna hitam sangat kuat, dia tak menyangka kalau Rudi telah dihabisi oleh suruhan Lion, pantas saja dia tak kunjung tiba di kantor polisi
" Kurang ajar kau Lion, pembunuh!!" jari telunjuk Dimas mengarah pada Lion
__ADS_1
" Cih, masih berani kau menunjukkan jari-jari mu itu padaku Dimas, jangan sampai kau kehilangan semua jarimu itu atau sekaligus dengan tangan mu!!" Lion masih terus bersenang-senang melihat penderitaan Dimas
Bi Inah yang sedari tadi menunggu Laras di ruang makan belum juga datang hingga jam 9 pagi, bi Inah selalu menatap ke tangga lantai 2 untuk melihat majikan nya itu turun
tapi karena tak kunjung turun, dia memberanikan diri untuk masuk ke kamar Laras di temani Ujang si pembersih taman milik Lion selama 7 tahun terakhir
" Ujang, ayok keatas aku khawatir pada nya" kata wanita paruh baya itu, dia juga sudah 10 tahunan bekerja di keluarga Lion
" Aku takut bi, nanti tuan marah besar!!" Ujang sebenarnya juga tak tega pada Laras
" Kalo ga mau ya sudah, nanti ku bilang sama tuan besar kau tidak mengurus Laras dengan benar" bi Inah mengada-ngada
" Hikss, aku takut!!" Ujang menjulurkan bibirnya sambil menatap bi Inah kesal
Bi Inah mengetuk pintu kamar Laras setelah tiba di atas, meski berkali-kali di ketuk Laras belum juga membuka pintu nya
" Ujang, Laras kenapa yah!!??" tanya bi Inah bingung
Ujang hanya mengedikan bahunya tanpa menjawab pertanyaan wanita tua itu
tok...tok...tok...
" Ah, aku takut bi!!" kata Ujang lalu menjauh dari kamar itu
" Sini, sini kamu cepat dobrak pintu nya!!" bi Inah menarik baju Ujang agar mau menuruti perintah bi Inah
saat pintu telah terbuka, mereka kaget bukan main melihat Laras tergeletak di atas lantai, bi Inah langsung mendekati nya
" Ya ampun nyonya, tubuh mu panas sekali!!"
" Jangan pedulikan aku bi?? apa om Dimas udah bebas??"
Mereka berdua saling menatap bingung, entah apa yang sebenarnya terjadi pada Laras, tapi yang paling penting bagi mereka membawa Laras ke rumah sakit
" Tuan Roy" Ujang memanggil tergesa-gesa mengejar Roy yang baru saja mau pergi ke kantor
" Ada apa??" wajah Roy fokus menatap pak Ujang
__ADS_1
" Begini tuan, nyonya Laras!!" dia gak berani untuk melanjutkan nya
" Laras??? ada apa???" wajah Roy sudah gelisah
" Nyonya Laras demam tinggi, badannya sangat panas sekali" Ujang langsung menunduk
" Pergilah ke atas, aku akan menyiapkan mobil"
Ujang dan bi Inah sudah khawatir melihat Laras tak berdaya, setelah Laras di gendong oleh Roy ke mobil kemudian dia menelepon ayahnya, dengan cepat tangannya mengambil ponsel yang ada di saku celana
Lion masih di kantor polisi untuk membuat Dimas frustasi, saat dia akan terus mengoceh disana ponselnya bergetar di saku celananya
" Roy???" keningnya berkerut melihat di layar ponselnya nama Roy, dia langsung menekan warna hijau
" Iya Roy, Apa???? Laras dilarikan ke rumah sakit??? baiklah ayah akan segera tiba di sana" Lion langsung bergegas pergi, Dimas yang mendengar kan itu langsung khawatir tentang keadaan Laras
" Lion tunggu, apa yang terjadi pada Laras?? Dimas teriak dari dalam kamar terkutuk itu, tapi Lion tak menghiraukan panggilan nya
Dimas tak berdaya, dia duduk di lantai sambil menarik rambut nya dengan kedua tangan nya
" Kenapa aku tak berdaya?? apa yang akan terjadi jika Laras sendirian??" pikiran nya sangat kacau saat ini
akhirnya, dari pada harus di kurung dalam penjara Dimas berusaha menelepon mantan istrinya itu untuk meminta bantuan nya
Dimas mengatakan pada Murni, jangan sampai Damar mengetahui semua ini sebelum dia keluar dari penjara, karena dengan liciknya Lion telah mengakhiri hidup pengacara nya
untung saja Murni bersedia menolong nya, karena bagaimanapun Murni masih mencintai mantan suaminya itu
" Mas, kenapa sampai di penjara???" tanya murni dengan kening berkerut, dia gak percaya Dimas akan terjebak dalam masalah Lion
" Jika aku sudah keluar, nanti semuanya akan ku ceritakan padamu Murni"
" Baiklah mas, kita akan bicara di rumah mu nanti jangan sampai Damar tau" Murni menghela nafasnya
" Terimakasih telah bersedia menolong ku Murni, aku tak tau pada siapa aku harus meminta bantuan lagi" murni yang mendengar itu seakan hatinya tersayat, Dimas tak pernah serapuh ini dan bisa lemah begini
Murni tau, biasanya Dimas bisa mengatasi masalah sendiri tanpa bantuan siapapun
__ADS_1
" Apa yang sebenarnya terjadi mas??" gumam Murni penasaran