
Dimas dan Laras mengambil mobil mereka yang telah mogok di temani sahabat lama Dimas
sepanjang jalan Laras tidak mengatakan apapun, dia merasa sangat malu telah diperlakukan seperti itu oleh orang terdekat nya
sampai hari ini, dia tak pernah tau alasan Lion melakukan itu pada dirinya
" Laras?? apa kau terluka??" Tanya Dimas yang duduk di sebelah nya
Laras menyeka air matanya dan mencoba tersenyum
" Laras baik-baik saja dad"
tapi mereka mengerti ada penderitaan di hidup nya
" Kenapa kalian di kejar preman itu Dimas?? karena yang aku tau dari dulu kau tak pernah melakukan kejahatan" kata sahabatnya itu
" Bukan aku yang melakukan nya Noval" Noval adalah sahabat nya yang sudah menjadi abdi negara
" Jadi siapa??" Noval mengangkat kedua alisnya
" Lion, oran tua kandung Laras"
Sekejap mata Noval membesar, dan mulutnya terbuka
lalu dia memandang Laras dengan penuh iba, gadis remaja berusia 15 tahun harus sudah mengerti kepahitan
" Lalu apa selanjutnya??, aku bisa membantu kalian menangani Lion" Kata noval menawarkan bantuan
" Bukannya aku menolak bantuan mu Noval, tapi kau tidak boleh masuk ke dalam masalah yang begitu rumit ini" Jawab Dimas menghela nafasnya
Bahkan Dimas berpikir, masalah ini sudah terjadi sebelum damar menjalin hubungan dengan Laras
" Tapi masalah apa?? kenapa sampai ada yang merasa ditindas dan penuh tekanan batin???"
Setelah tiba di tempat mobil yang mereka tinggal kan, bensin sudah di isi
lalu Noval pergi meninggalkan mereka
" Jika kau perlu bantuan, jangan sungkan padaku Dimas!!"
" Kau orang pertama yang akan ku beri tau jika aku dalam masalah" Jawab Dimas menepuk pundak sahabat nya itu
" Dad, kita akan kemana sekarang??" Tanya rasa bingung
" Memangnya mau kemana??"
" Ga tau dad, rasanya dunia ini seperti duri yang perlahan membunuh ku, sampai kapan ini terjadi??" Laras mulai meneteskan air matanya
meski tak ada suara yang terdengar dari mulut nya, mungkin karena terlalu terluka sehingga dia memilih diam
" Kita akan pulang ke rumah, mandi, lalu istirahat!!"
Mereka pun pulang ke rumah, sepanjang jalan tak ada hambatan hingga tiba dirumah
Dimas merasa sedikit lega, setidaknya untuk saat ini Laras masih ada di dekat nya
" Kita harus memberi pelajaran pada Dimas Wijaya, atau dia akan menghancurkan semua rencana yang telah ku susuan sejak lama" kata Lion yang duduk di kursi nya sambil menatap satu benda dengan tatapan tajam
__ADS_1
" Ayah, apakah kita sudah sangat menyakiti Laras?? ini sudah sangat keterlaluan" Ucap Roy yang tak setuju dengan ayahnya, bagaimana pun selama 15 tahun ini dia menyayangi adiknya itu
" Roy, kenapa kau membela Laras, dia sudah membuat malu keluarga Anjas Nevi Lion" Kata ayah nya dingin
" Memalukan apa??"
" Cukup Roy!!, jangan pernah kau mengatakan apapun lagi" Bentak ayah nya
Saat Dimas dan Laras makan malam berdua, rasanya berbeda
tidak seperti biasa masih ada candaan, tapi untung saja Marissa sudah pergi untuk waktu yang lama, pekerjaan Marissa sangat membuat nya sibuk sehingga tidak bisa bolak balik ke rumah Dimas
Setelah makan malam, Laras meninggalkan Dimas tanpa bicara
Dimas tak bertanya kenapa
Dimas hanya memikirkan bagaimana masa depan Laras jika Lion terus mengusik nya hingga trauma
" Bagaimana nasib Laras nanti, aku khawatir jika masa depan nya hancur karena ulah orang tuanya sendiri" Gumam Dimas
Di atas, saat Laras sendirian timbul di benak nya untuk pulang ke rumah nya diam-diam tanpa sepengetahuan Dimas
Rencana itu dia laksanakan setelah Dimas tidur nanti
Dia melihat Dimas ke bawah, langkah kaki nya pelan-pelan sehingga tak terdengar jika dia berjalan-jalan di atas
Dan benar, ketika dimas masuk kamar, Laras menunggu setengah jam untuk bisa keluar dari rumah itu
dia ke garasi untuk mengambil mobil
Laras pun menyetir mobil itu pelan-pelan sampai keluar dari pagar rumah mewah itu
maaf kan aku dad!!"
Ketika tiba dirumah nya, dia sengaja lewat dari belakang sehingga gak ada yang tau kedatangan nya
dia memarkirkan mobil nya di samping rimbunan bunga raya
" Rumah penderitaan" Gumamnya
wajah nya menahan emosi dan tangan nya mengepal
" Anjas Nevi Lion pembunuh, kau seperti bukan orang tua ku!!" Gumam nya sambil mengendap ngendap masuk ke dalam
Dia bisa masuk tanpa ada yang tau tau
dia sengaja lewat dari ruangan pribadi ayahnya itu untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi
" Ayah, bagaimana jika kita membawa Laras pulang, aku tak tega melihat nya menderita ayah" Kata Roy pada ayahnya
mendengar itu, Laras menetes kan air mata, dia tau kakak nya itu masih memiliki rasa kasihan padanya
" Tidak!!!"
Roy hanya terdiam, Laras yang sedari tadi mengumpat di belakang guci kesayangan ibunya
tidak ada yang tau dia ke rumah itu
__ADS_1
" Katakan padaku ayah, rahasia apa yang ayah sembunyikan dari kami semua??" Roy memaksa ayah nya untuk bicara
" Tidak sekarang anakku, nanti ada waktu nya ayah akan menceritakan itu pada mu!!" Jawab ayah nya memegang pundak anaknya itu
" Tapi ayah???"
" Diam!!!!" Kata ayah nya lalu meninggalkan Roy
Laras yang terus menutup mulutnya takut ketahuan jika dirinya bersuara
Dia keluar pelan-pelan hingga tiba di gerbang belakang
" Sialan, rahasia apa yang mereka sembunyikan, aku harus segera mengetahui itu"
Laras pun pulang ke rumah Dimas dengan rasa kecewa
Ketika di jalan, dia tak sengaja melihat pria mirip Louise duduk di cafe berduaan
" Hah??? apa itu Louise???" Laras pun memarkirkan mobil nya lalu mendekati pria itu
benar saja pria itu adalah Louise
" Louise???" Sapa Laras
Louise kaget melihat kedatangan Laras
" Laras??? kamu ngapain disini??" Tanya Louise gugup
" Aku lewat dari sini mau ke rumah Daddy!!"
Belum sempat Laras selesai bicara, gadis yang bersama Louise itu langsung menggandeng tangan Louise
" Sayang, dia siapa???"
Laras kaget mendengar gadis itu memanggil Louise dengan " sayang"
" Vani, lepaskan tangan ku!!" kata Louise menyingkirkan tangan Vani
" Louise dia siapa???" tanya Laras
" Aku adalah tunangan Louise, kami di jodohkan ketika kami masih berusia 5 tahun!!" Jawab Vani mengangkat bibit kirinya
Louise tak bisa berkata apapun lagi, dia hanya menatap Laras dengan ketidakberdayaan
" Vani, tunggulah disini aku akan bicara sebentar dengan Laras!!" Kata Louise lalu membawa Laras ke parkiran
" Maafkan aku Laras, perjodohan yang tak ku inginkan terjadi padaku, aku tak menyukai Vani sedikit pun di hatiku, percayalah padaku Laras" Mata Louise berkaca-kaca saat bicara dengan Laras
" Ga papa Louise, ini takdir!!" Kata Laras menyeka air matanya, dia mencoba tegar agar tidak menangis untuk saat ini saja
" Laras, aku akan berusaha untuk menjelaskan pada orang tuaku bahwa perjodohan sejak dini itu tidak benar!" Louise terus berusaha menjelaskan pada Laras, namun Vani langsung menemui mereka di parkiran
" Aku pulang dulu Louise, sampai jumpa" Kata Laras lalu meninggalkan Louise
Air matanya terus menetes di pipinya, seakan dunia ini tak adil bagi kehidupan nya
Kehidupan yang memberi nya penderitaan, dia memacu mobilnya dengan sangat kencang karena telah kecewa pada keadaan
__ADS_1
tak ada lagi gairah hidup nya, bahkan dia hampir saja menabrak seorang yang mendorong gerobak bakso karena tidak fokus
" Tuhan ambil saja nyawaku ini jika kau hanya ingin melihat ku tersiksa" Teriaknya di dalam mobil