
Dimas dan Laras dibawa ke kantor polisi untuk di mintai keterangan tentang semua tuduhan Anjas Nevi Lion terhadap mereka
Saat tiba di kantor polisi, Lion sebagai pelapor duduk mendengarkan apa saja yang dikatakan oleh Dimas dan Laras pada polisi itu, pikiran nya memang sudah terusik karena sikap dingin Dimas terhadap nya di rumah sakit
" Jangan sampai Dimas membalikkan fakta, bisa-bisa semua rencana ku selama bertahun-tahun ini akan sia-sia" Memikirkan hal itu lama-lama pandangan nya kosong dan raut wajahnya berubah menjadi gelisah
" Silahkan duduk" polisi itu akan mulai mengintrogasi mereka berdua, saat Laras menarik kursi untuk duduk di samping Dimas polisi memandang Laras seperti orang yang penuh nafsu, Laras mulai risih dan jijik melihatnya
mata polisi itu tak lepas dari dadanya, seperti anjing yang menetes air liur begitu lah dia menatap Laras
" Dad, ada garpu ga disini???" tanya Laras sambil menatap setiap sudut ruangan itu dengan jijik
" Mana ada garpu disini Laras!! untuk apa garpu???" Dimas menaikkan alisnya mendengar perkataan Laras
" Untuk mencolok mata polisi sialan ini" Laras berdiri dan menggebrak meja sekuat-kuatnya
polisi itu pun sadar dari tatapan nya pada gadis yang sedang murka itu
" Apa yang kau lakukan???" Dimas menatap polisi dengan amarah, entah kenapa dia sangat tidak suka melihat gadis itu terhina
" Maafkan saya pak" polisi itu menghela nafa, dia terlihat marah karena keberanian gadis itu, selama ini belum ada satupun orang yang berani bicara dengan nada keras padanya
" Apakah benar yang di katakan Tuan Lion itu nona Laras??? apakah Dimas memang mencukil nona???" seorang polisi yang lain mulai mengintrogasi
" Maaf pak polisi yang terhormat, saya tidak pernah di culik siapapun apalagi Dimas Wijaya, selama aku pergi dari rumah, dialah orang yang peduli padaku lebih dari Tuan Lion!!" mata Laras langsung memandang Lion tanpa rasa takut
__ADS_1
Lion langsung memotong pembicaraan saat polisi itu akan bertanya lagi
" Bagaimana mungkin ayah tega menyakiti mu nak, apakah masih kurang kasih sayang yang berikan selama ini padamu???" Lion mulai membual di depan semua orang, mata licik nya melirik kearah Dimas dan memberi senyuman penghinaan, tapi itu tak berarti apa-apa bagi Dimas Wijaya
" Cukup Lion, jika kau memang menyayangi ku selama ini, lalu kenapa kau selalu menyiksa dan memukuli ku saat kau marah pada orang-orang, kau melampiaskan semua amarah mu padaku seperti seekor binatang hina" air matanya tak terbendung saat mengatakan kata-kata pahit itu dari mulut nya, tangan dan tubuhnya gemetar tak kuasa menahan rasa sakit yang selama ini ia pendam, lalu ruangan itu hening seakan tak ada penghuni di dalam nya
Mata Lion membesar melihat Laras, dia tak percaya gadis yang selama ini bungkam akhirnya bicara dihadapan semua orang, Lion merasa posisinya dalam bahaya saat ini
tapi dia tak mau tinggal diam
" Pak polisi, Dimas telah memperdayai putri ku untuk mengatakan hal yang tidak benar tentang aku, selama 2 bulan ini rasa aku ingin mati karena jauh dari Laras putri kesayangan kami semua dirumah, Dimas telah mencuci otaknya supaya dia melawan padaku pak" Lion mulai menghembuskan nafas nya kasar, menatap dengan sinis pada Laras seakan itu adalah ancaman baginya nanti, rahang nya mulai mengerat seperti ingin membunuh seekor rusa di hutan
Polisi masih menyelidiki mereka, apakah Dimas membawa Laras kabur atau memang Laras yang lari karena disiksa oleh Lion
" Dengarkan aku pak polisi, Dimas yang terhormat ini telah menikahkan Laras dengan putranya Damar Wijaya, anda tau saat ini Laras masih anak remaja berusia 15 tahun, belum pantas melakukan pernikahan di usia muda seperti ini" Lion terus memberikan pernyataan palsu supaya Dimas segera di penjara
" Tuan Lion, apakah anda memiliki bukti jika Damar dan Laras telah melangsungkan pernikahan???" tanya Dimas sembari menahan tawa, sedangkan Laras terkejut mendengar berita itu, dia ingin sekali menangis saat harapan nya menikah dengan Damar sudah sirna
Lion mengepalkan tangannya kuat-kuat, lagi-lagi tatapan sinis itu diberikan pada Dimas yang seperti tidak merasa takut melawan nya
mereka pun sama-sama memojokkan satu sama lain, suara gebrakan meja pun terdengar sangat kuat
" Diam kalian!!!" Polisi itu menatap mereka dengan amarah " Disini bukan tempat untuk bertengkar, jika tak ada laporan penting silahkan keluar, buang-buang waktu saja!"
" Maaf pak, aku mengajukan laporan untuk menuntut Dimas karena telah menculik dan membawa lari putri ku Laras!!"
__ADS_1
" Saya tidak menculik Laras pak! biar saya jelaskan!"
Lion langsung memotong pembicaraan Dimas, sampai akhirnya Dimas tak bisa untuk menjelaskan nya dengan baik
" Maafkan saya tuan Dimas, tapi tindakan anda membawa anak dibawah umur itu sangat salah, apalagi anak perempuan yang masih berusia 15 tahun dan anda juga telah menikahkan nya dengan putra anda tanpa sepengetahuan orangtuanya!!"
Lion merasa dia akan menang, dia tersenyum dan menatap Laras dengan tajam
" Maaf pak polisi, saya tidak pernah di culik oleh Dimas Wijaya apa lagi dinikahkan dengan putra nya Damar, saya bersumpah tidak pernah melakukan pernikahan dengan Damar Wijaya!!" seperti di sambar petir, Lion langsung berdiri dari kursinya dengan matanya yang sudah melotot, nafasnya tak beraturan menahan amarah yang terus-menerus di nyalakan oleh Laras
Kebencian nya terhadap Lion mulai membara saat dirinya di siksa secara fisik, dia sudah mulai berani melawan karena dukungan dari Dimas yang selama ini menjaganya, meskipun Dimas tak pernah sekalipun mengajarkan nya untuk balas dendam
" Bisakah kalian diam sekarang?? aku sudah muak dengan ocehan kalian!!" polisi itu marah, lagi-lagi mereka membuat drama disana
" Tuan Dimas Wijaya, apakah anda pernah menikah kan Laras Nevi Lion pada putra anda???"
" Saya bersumpah pak, tidak pernah melakukan itu!!" mana mungkin Dimas menikah kan Laras dengan Damar, sedangkan yang menikahi Laras adalah dirinya
Mendengar itu, Lion menendang kursi yang di sampingnya sangat kuat, sampai polisi itu marah dan mengancam akan memberi hukuman pada Lion
" Laras sendiri yang mengatakan dia telah menikah, Nadia yang menunjukkan pesan itu pada anakku Roy" kata Lion mengepalkan tangannya, beruntung polisi itu tegas, dia tak berpihak pada siapapun, bahkan bodyguard Lion tidak berani bicara apapun disana
" Tuan Dimas, saat Laras ada bersama mu, mengapa kau tidak menyuruh nya pulang ke rumah nya??"
" Jika rumah sudah tak bisa jadi pelindung untuk diri nya, untuk apa saya mengantarkan nya ke sana, itu hanya akan menyakiti nya pak???"
__ADS_1
Polisi itu terdiam, Lion pun sudah risau memikirkan omongan Dimas
" Kurang ajar!!, Kau mencoba menjebak ku Dimas!!" kemarahan Lion semakin membara, apalagi Laras juga ikut menyudutkan nya